Distorsi Gravitasi
Aku tak berdaya bukan karena lemah. Aku tak berdaya karena kamu terlalu berat.
Ini adalah tentang bagaimana keberadaan sesuatu yang padat mampu mengubah bentuk kekosongan di sekitarnya.
Lalu kamu meletakkan dirimu di sana. Tepat di tengah hamparan kain itu. Kamu datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai massa. Sesuatu yang membawa bobot. Sebuah densitas eksistensi yang begitu berat dan pekat. Seketika kain datar itu menyerah. Ia melengkung ke bawah, menciptakan sebuah cekungan curam karena tak mampu menahan beratmu.
Di sinilah hukum fisika mengambil alih. Logikaku mati. Distorsi gravitasi bukanlah tentang magnet ajaib yang menarikku. Tak ada tali, tak ada rantai. Yang terjadi adalah kemiringan. Tiap kali aku mencoba berjalan lurus melewati hari, aku gagal. Bukan karena kakiku ringkih tapi karena pijakanku yang telah kau ubah.
Kamu tidak datang dengan ketukan pintu atau mengirim sinyal permisi. Kau datang sebagai massa yang hadir begitu saja di tengah radar kehidupanku. Membawa eksistensi yang begitu padat, begitu berat. Hingga merusak struktur ruang dan waktu di sekitarmu. Einstein benar. Gravitasi bukanlah tangan tak terlihat yang menarik dekat. Gravitasi adalah akibat kehadiranmu yang melengkungkan lantai realitasku.
Lantai realitasku kini miring ke arahmu. Aku bisa saja coba lari menjauh, tapi geometri ruang ini telah curang. Garis lurus di dekatmu bukan lagi garis lurus. Ia adalah garis lengkung yang memaksaku untuk mengitarimu. Semakin aku bergerak, semakin aku tergelincir masuk ke cekungan yang kau ciptakan.
Aku seperti kelereng yang dilempar ke dalam mangkuk. Berputar kencang, menolak untuk jatuh ke dasar. Namun tak punya cukup tenaga untuk melompat keluar. Terjebak dalam lingkaran yang melelahkan namun kadang candu.
Hal paling mengerikan dari lengkungan ini adalah dilatasi waktu. Di bibir cekunganmu, dunia luar bergerak cepat dan bising. Tapi di dekat pusatmu, di dekat gravitasi matamu, waktu melambat hingga nyaris berhenti. Satu detik bersamamu terasa baka dan abadi, seolah alam menahan napas hanya untuk memberi kita ruang.
Inilah aku, benda kecil yang kehilangan kedaulatannya. Pasrah mengikuti lengkungan ruang yang kau ciptakan. Jatuh perlahan menuju pusatmu, satu-satunya tempat di mana aku merasa beratku memiliki arti.
Mari kita bicara tentang struktur, bukan perasaan. Ini adalah pergeseran aksioma. Sebelum kehadiranmu, realitasku adalah sebuah bidang datar Euclidean. Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus. Aku bergerak dengan efisiensi logis dari A ke B, tanpa deviasi, tanpa friksi. Semuanya netral. Semuanya masuk akal.
Lalu kau letakkan massa-mu di sana. Kamu tidak menarikku. Kau tidak merayuku. Itu narasi yang terlalu klise dan murahan. Yang kamu lakukan jauh lebih fundamental: Kau menekuk ruang di mana aku berdiri. Sesuai hukum relativitas umum, kehadiran benda dengan densitas tinggi akan melengkungkan struktur ruang dan waktu di sekitarnya. Kamu adalah densitas itu. Kamu menciptakan kawah di tengah kain realitasku yang tadinya rata.
Akibatnya fatal bagi otonomiku. Aku masih merasa berjalan lurus, pun tidak merasa belok. Tapi karena lantai yang kupijak kini melengkung menuju pusatmu, garis lurus lintasan geodesikku kini secara matematis berujung padamu.
Orang bilang, bumi mengelilingi matahari. Tapi dalam kosmologi pribadiku teori heliosentris itu runtuh. Ada pilihan bebas menjadi ilusi optik. Aku bisa saja memilih untuk berjalan ke kiri, kanan, atau mundur. Namun karena kemiringan geometri ini begitu curam, semua vektor akhirnya tergelincir ke satu titik singuralitas yang sama. Kamu.
Hal-hal lain di hidupku, hobi, rutinitas, ambisi kecil mulai kehilangan rutenya. Mereka terlalu ringan. Mereka tak punya cukup massa untuk bertahan di lereng curam ini. Sehingga mereka menggelinding jatuh, tersisih. Menyisakan ruang hampa yang hanya diisi oleh gema gravitasimu.
Ini bukan jatuh cinta. Jatuh cinta itu kecelakaan emosional. Sedangkan ini adalah runtuhnya resistensi struktural. Aku tidak sedang memilihmu. Aku sedang mematuhi hukum alam yang baru, dimana menjauhimu membutuhkan energi selangit untuk melawan lengkungan ini. Escape velocity yang mustahil. Sementara mendekatimu hanyalah konsekuensi alami dari melepaskan rem dan membiarkan fisika bekerja. Aku tak berdaya bukan karena lemah. Aku tak berdaya karena kamu terlalu berat.
Dan mari bicara tentang cakrawala peristiwa, event horizon. Batas dimana cahaya, hal tercepat dan paling jujur di alam semesta tidak lagi sanggup melarikan diri. Di titik ini, komunikasiku dengan dunia luar terputus. Aku tak lagi bisa menjelaskan kepada orang lain mengapa aku ada di sini, atau apa yang kulihat dalam dirimu. Kata-kata, logika, dan rasionalitas masih terlalu ringan. Mereka tidak memiliki massa yang cukup untuk menembus tarikan ini. Mereka terhisap kembali ke dalam tenggorokan sebelum sempat terucap.
Bagi pengamat di luar sana, aku mungkin terlihat membeku. Terhenti dalam waktu. Mereka mengira aku terjebak, stagnan, atau bodoh. Namun dari kerangka acuanku sendiri, aku sedang bergerak dengan kecepatan terminal.
Dalam astrofisika, jika kau terlalu dekat dengan lubang hitam, kau akan mengalami spaghettification. Tubuhmu memanjang, tertarik gravitasi ekstrem sampai kau terberai. Itulah yang kurasakan. Semakin dekat aku dengan pusat gravitasimu, semakin kuat gaya pasang surut yang bekerja. Perbedaan tarikan antara apa yang diinginkan logika: Menjauh. Berlawanan dengan apa yang diinginkan insting: Mendekat. Begitu dahsyat hingga ia mulai merobek struktur atom diriku yang lama.
Ego terurai. Topeng-topeng sosial retak. Mekanisme pertahanan yang selama bertahun-tahun kokoh, kini melar dan putus satu persatu. Ini bukan proses yang lembut, ini adalah atomisasi. Kamu memaksaku menanggalkan segala atribut yang tidak esensial. Di hadapan massa sebesar ini, kepalsuan tidak bisa bertahan. Gravitasi tak bisa ditipu. Ia hanya menarik apa yang nyata dan menghancurkan apa yang kosong.

Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah singularitas. Sebuah titik dimana kepadatan jadi tak terhingga dan volume menjadi nol. Di pusatmu, hukum fisika yang kukenal runtuh total. Sebab akibat tak lagi berlaku. Masa lalu dan masa depan melebur jadi satu titik ‘sekarang’ yang padat.
Di sana tak ada lagi pertanyaan. Tidak juga keraguan. Tak ada kalkulasi untung rugi. Hanya ada keheningan absolut dari sebuah kepasrahan total. Aku tidak sedang jatuh. Aku telah jadi bagian dari medannya.
Dan mari kita bicara tentang waktu, variabel yang paling kau hancurkan. Di koordinat ini, di titik nadir lengkunganmu waktu mengalami dilatasi absolut. Bagi pengamat di luar sana dunia terus berputar. Musim berganti, dinasti runtuh, teknologi usang dan bintang-bintang meledak. Tapi di sini, dalam radius pengaruhmu, jarum jam seolah terpaku seperti dilem.
Ini bukan metafora tentang waktu berhenti saat kita bersama. Itu terlalu dangkal. Ini adalah fenomena relativistik yang brutal. Gravitasimu begitu masif hingga ia menahan laju detik itu sendiri. Kamu ciptakan sebuah kepompong temporal. Momen-momen kecil, cara matamu menyipit, jeda dalam napasmu, hening di antara dua kalimat, bukanlah kejadian sekilas. Mereka adalah dimensi yang memanjang. Satu menit di sisimu memuat informasi dan intensitas setara dengan satu dekade dunia luar yang gusar dan hambar.
Aku mengalami mabuk dekompresi tiap kali harus menjauh darimu. Kembali ke dunia normal terasa seperti dilempar ke dalam tayangan yang diputar fast-forward. Orang-orang bicara terlalu cepat, masalah datang silih berganti dengan kecepatan cahaya. Semua bising, semua kabur. Hanya di dekatmu ritme semesta kembali masuk akal. Lambat. Berat. Signifikan.
Pembangkangan entropi. Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa entropi atau kekacauan dalam sistem tertutup akan selalu meningkat. Segala sesuatu di alam semesta ini bergerak menuju kehancuran, pelapukan, dan ketidakteraturan. Kopi panas menjadi dingin. Bangunan jadi debu. Memori memudar. Tapi... kamu adalah anomali yang melawan arus itu.
Kehadiranmu memaksa partikel-partikel hidupku yang tadinya kacau dan acak berbaris rapi menuju satu vektor. Kamu adalah kristalisasi. Di bawah tekanan atmosfermu yang meremukkan tulang ini, tak ada ruang untuk kekacauan. Tak ada ruang untuk keraguan acak.
Karbon dalam diriku yang tadi hanya debu arang rapuh dan kotor dipaksa memadat. Panas dan tekanan dari gravitasimu mengubah struktur molekulku. Sakit? Tentu saja. Proses pemadatan ini menyiksa. Ini adalah kematian dari segala bentuk lamaku yang lembek dan mudah luka. Hasilnya adalah struktur transparan dan keras. Aku tak lagi arang yang mudah terbakar. Aku menjadi suatu yang dingin, diam. Dan memantulkan cahayamu sepenuhnya.
Maka jika suatu hari nanti kau bertanya mengapa aku tetap diam di sini, jawabnya bukan karena sentimen. Jawabannya adalah inersia. Objek yang diam akan tetap diam sampai ada gaya luar yang lebih besar yang memaksanya bergerak. Dan di seluruh semesta raya yang teramati ini, tak ada gaya lebih besar dari massa yang kau miliki.
Aku telah mencapai titik keseimbangan statis. Bukan tawanan, aku adalah satelit yang telah menemukan orbit geostasioner yang sempurna. Terkunci. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kekacauanku, aku tak ingin bergerak ke mana-mana lagi.
Dan mari kita bicara tentang lensa gravitasi. Ini adalah tentang bagaimana kamu merampas satu-satunya hal yang aku pikir masih milikku: Masa Depan.
Dalam astrofisika, benda masif sepertimu tidak hanya membelokkan ruang, tapi juga membelokkan cahaya yang datang dari belakangmu. Saat aku menatap ke depan coba melihat hari esok, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi, aku tak lagi melihat gambaran yang jernih.
Cahaya dari masa depanku harus melewati medan gravitasimu terlebih dulu sebelum sampai ke retinaku. Akibatnya semua terdistorsi. Aku tidak bisa lagi membayangkan sebuah skenario masa depan di mana kamu tidak ada di sana. Bayangan tentang nanti, melengkung memeluk kontur tubuhmu. Kamu menghalangi pandanganku akan segala kemungkinan lain.
Cita-cita? Rencana? Kota tempat tinggal? Semua spektrum cahaya itu terbiaskan. Bergeser merah, redshifted, dan terpecah belah mengikuti lengkungan eksistensimu. Aku buta terhadap dunia di mana kamu tidak menjadi porosnya. Kamu telah jadi filter absolut bagi realitasku.
Inilah bahaya yang paling sepi: Jarak. Ada sebuah batas matematis dimana sebuah satelit yang beredar terlalu dekat dengan benda induknya akan hancur berkeping-keping. Karena gaya pasang surut. Sisi yang menghadapmu ditarik lebih kuat daripada sisi yang membelakangimu. Batas Roche. Kita bermain-main di pinggiran batas ini.
Dorongan lampau dalam diriku berteriak ingin menyatu. Ingin meniadakan jarak. Ingin zero distance. Tapi hukum fisika ini kejam. Jika aku mendekat satu inci lagi melewati batas kritis, integritas strukturalku akan fatal. Aku akan robek. Bukan karena kamu jahat, tapi karena perbedaan gravitasi di antara inci-inci tubuhku akan begitu ekstrem. Kamu akan menghancurkanku menjadi cincin debu dan bebatuan yang hanya bisa mengelilingimu selamanya. Tanpa pernah bisa jadi aku yang utuh lagi.
Kita tertahan di sini. Dalam ketegangan yang menyayat. Cukup dekat, untuk merasakan panas permukaannmu. Tapi harus cukup jauh, untuk menjaga agar aku tak meledak jadi serpihan. Sebuah tarian menahan diri yang infinity.
Ketakutan terbesarku bukanlah jika kamu menghancurkanku. Ketakutan terbesarku adalah jika kamu hilang. Jika tiba-tiba massamu lenyap, jika kau pergi, atau memutuskan untuk berhenti menjadi pusat. Hukum kekekalan momentum akan jadi eksekutor hukuman mati bagiku.
Saat ini aku bergerak dengan kecepatan ribuan kilometer perjam untuk mengimbangimu. Aku berlari kencang hanya untuk tetap berada di tempat yang sama dalam lingkaran ini. Jika gravitasimu hilang mendadak, aku tidak akan berhenti. Aku tidak akan jatuh. Aku akan mengalami efek slingshot gravitasi.
Seluruh kecepatan yang kugunakan ini akan berubah menjadi vektor peluncuran. Aku akan terlempar keluar dari garis edar. Aku akan ditembakkan ke ruang angkasa yang dingin dan hampa dengan kecepatan ganda. Aku akan melesat menjauhi segala hal yang kukenal, menuju kegelapan antarbintang yang tak berujung. Dan dengan kecepatan setinggi itu, aku tahu satu hal pasti. Aku tidak akan bisa ditangkap oleh gravitasi bintang lain lagi.
Kalau itu terjadi, ada kemungkinan aku akan menjadi komet piatu. Terlempar ke ruang angkasa yang gelap, membeku dalam hening yang kini terasa jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Bergerak lurus. Sendirian. Membatu. Selamanya jauh dari titik di mana kamu dulu ada. Itulah pertaruhannya. Itulah harga dari fisika ini. Tapi aku tidak bertaruh.
Bukan karena bersinar paling terang, atau karena paling panas. Tapi kamu adalah benda terberat dalam hidupku saat ini. Begitu beratnya hingga semua prioritas lain, karir, egoku, dan jalan hidupku, kini hanyalah satelit-satelit kecil yang terpaksa tunduk pada porosmu. Aku tidak lagi menjadi pusat dari hidupku sendiri. Dan hal baru yang paling meresahkan adalah bahwa aku tidak keberatan.
Aku terjebak dalam dansa elips yang kekal. Merasakan pasang surut yang kamu ciptakan. Dan meyakini bahwa di tengah semesta yang luas, gelap dan acuh tak acuh ini aku terikat pada sesuatu. Bahwa aku tidak lagi melayang sendirian.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



