Film Nuremberg: Perihal Penyakit Manusia

Film Nuremberg menawarkan angle lain dari pengadilan bersejarah di kota Nuremberg pasca-Perang Dunia II. Film ini berfokus pada sosok yang ada di latar belakang, yang mungkin tidak diketahui atau sudah dilupakan banyak orang. Konteks tersebut membuat film berbasis sejarah ini memiliki relevansi dengan masa kini. (Catatan: ini bukan reviu film).

Film Nuremberg: Perihal Penyakit Manusia

 

Sudah nonton film apa tahun 2026? Saya sebenarnya sudah jarang sekali nonton film, tetapi sejak akhir tahun lalu saya niat benar mencari film Nuremberg yang tayang di Amerika Serikat November tahun lalu. Saya tertarik karena film ini menawarkan angle lain dari pengadilan bersejarah terhadap para pejabat Nazi di kota Nuremberg antara November 1945 dan 1 Oktober 1946. Berbeda dari film-film (nondokumenter) tentang pengadilan ini sebelumnya, film ini berfokus pada sosok yang ada di latar belakang, yang mungkin tidak diketahui atau sudah dilupakan banyak orang. Justru hal ini, setidaknya menurut saya, yang membuat film berbasis sejarah ini jadi memiliki relevansi dengan masa kini.

Mungkin belakangan ini Anda sering mendengar slogan “Never Again”, slogan lama yang sering digaungkan kembali sejak terjadinya genosida di Gaza. Slogan tersebut muncul pasca-Perang Dunia II sebagai simbol komitmen universial untuk mencegah fasisme dan berulangnya kejahatan terhadap kemanusiaan. “So that it would never happen again,” begitu pun dialog dalam film Nuremberg menjelaskan mengapa pengadilan perlu diselenggarakan. Slogan ini adalah pengingat bahwa moral kemanusiaan—yang mencakup harkat, martabat, dan hak asasi manusia, serta keadilan dan empati—harus terus dijaga.

Masalah moral kemanusiaan inilah yang diusik dalam film Nuremberg yang baru ini, film yang didasarkan pada buku Jack El-Hai, The Nazi and the Psychiatrist (2013). Film ini tentunya jadi enak ditonton karena didukung oleh aktor-aktor papan atas Hollywood. Rami Malek, yang sebelumnya menghidupkan kembali Freddie Mercury dalam film Bohemian Rhapsody (2018), dan bintang veteran Russell Crowe merupakan pemeran-pemeran utama.

Pertemanan Sang Dokter dengan Sang Nazi

Seorang psikiater dalam militer Amerika, Letnan Kolonel Douglas Kelley (Rami Malek), ditugaskan untuk menilai kondisi kejiwaan 22 pejabat Nazi yang ditahan pihak Sekutu usai Perang Dunia II. Melalui seorang tentara Amerika yang berperan menjadi penerjemah, Dr. Kelly mewawancarai para pejabat Nazi tersebut di Penjara Nuremberg. Ia mengadakan tes-tes psikologi dan mengevaluasi kondisi kejiwaan mereka. Menurutnya, “We must learn the why of the Nazi success so we can take steps to prevent the recurrence of such evil.”

Selain menghasilkan profil psikologis para tersangka perancang Holocaust, pihak negara-negara Sekutu juga berkepentingan untuk memastikan para tersangka cukup sehat untuk menjalani sidang, dan yang tak kalah penting, tidak ada yang melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, pengawasan dilakukan dengan sangat ketat. Selain ada pemeriksaan sel secara terjadwal oleh petugas penjara, juga dilakukan peninjauan kondisi kejiwaan tahanan oleh Dr. Kelly.

 

Dr. Douglas Kelly/Rami Malek memerankan Dr.Kelly

Tahanan yang paling penting dan menjadi “bintang” dalam Penjara Nuremberg adalah pemimpin militer tertinggi, Hermann Göring, orang kedua The Third Reich yang menjelang kejatuhan Jerman dianggap penghianat oleh Hitler. Pemimpin besar Nazi ini sangat dinantikan kehadirannya pada tiang gantungan oleh pihak Sekutu dan masyarakat Eropa dan Amerika pada umumnya. Inilah yang menjadi dinamika film ini. Dalam usahanya menciptakan kedekatan dengan Göring dan membaca pikirannya, Dr. Kelly membangun sebuah hubungan pertemanan dengan sang tokoh Nazi paling disegani setelah Hitler.

Göring kerap digambarkan sebagai seorang monster karena keterlibatannya dalam kebijakan pemusnahan etnis Yahudi menjelang kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, yang disebut the final solution. Dr. Kelly menilai Göring sebagai seorang narsis, tetapi ia menemukan sosok manusia pada diri Göring yang berbeda dari persepsi umum. Meski pertemanan kedua laki-laki tersebut tidak lepas dari unsur-unsur manipulasi dan kecurigaan, rasa saling menghargai dan keterbukaan kian tumbuh.

Keakraban kedua lelaki tersebut bahkan berkembang makin erat hingga Dr. Kelly bersedia menjadi perantara yang menghubungkan Göring dengan istri dan anak perempuannya. Ia diam-diam menyampaikan surat-surat yang ditulis Göring untuk keluarganya dan sebaliknya, menyampaikan surat-surat yang dituliskan istri dan anaknya kepada Göring. Tak terelakkan, rasa simpati Dr. Kelly pun tumbuh terhadap kedua perempuan itu.

Keduanya Berakhir dengan Sianida

Dr. Kelly terus mempertahankan kedekatannya dengan Göring, tetapi ia tampak bergelut dengan nuraninya seiring berjalannya sidang dan hal-hal yang terungkap tentang kamp-kamp konsentrasi Yahudi hingga akhirnya memengaruhi kondisi mentalnya sendiri. Kegelisahannya, ditambah kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, membuat Dr. Kelly membeberkan terlalu banyak informasi kepada seorang wartawan yang kemudian mempublikasikannya.

Sebenarnya, sebelum sidang pertama berlangsung, Dr. Kelly sudah gagal mengantisipasi tindakan bunuh diri yang dilakukan salah satu tahanan, Robert Ley, Kepala Labor Front Nazi—hal yang mengakibatkan kompetensinya diragukan. Namun, kejadian kedua dengan wartawan itulah yang membuat Dr. Kelly akhirnya diberhentikan dari tugasnya di Penjara Nuremberg—Göring pun merasa kehilangan.

 

Hermann Göring saat diadili/Russell Crowe memerankan Göring

Klimaks dari kisah ini, baik pada kejadian sebenarnya maupun pada filmnya, adalah hari pelaksanaan hukuman mati yang sudah dinantikan banyak orang. Sebelas tahanan Nazi akan dihukum gantung pada 16 Oktober 1946. Sorotan utama peristiwa yang bakal bersejarah ini adalah pada sang pemimpin militer tertinggi Nazi Jerman, Hermann Göring. Namun, semuanya menjadi antiklimaks ketika Göring ditemukan sudah tak bernyawa di dalam selnya—ia melakukan bunuh diri dengan menelan sianida. Dari mana ia mendapatkan sianidanya masih menjadi perdebatan para sejarawan, ada beberapa teori. Yang pasti, ini menjadi skandal memalukan bagi Sekutu.

Dua belas tahun kemudian Dr. Kelly pun menyusul, mengambil nyawanya—ironisnya, ia memilih cara yang sama—dengan sianida. Informasi ini hanya ditulis pada layar mengikuti adegan terakhir, yaitu keberadaan Dr. Kelly dalam sebuah acara radio dalam rangka mempromisikan bukunya—promosi yang gagal.

Siapa pun Dapat Melakukan Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Hasil evaluasi Dr. Kelly terhadap para tahanan Nazi di Penjara Nuremberg telah terus mengganggu pikirannya. Asesmennya terhadap para tersangka menunjukkan bahwa tidak ada yang membedakan mereka dari individu-individu “biasa” lainnya. Berbeda dari prasangka umum, Dr. Kelly menilai ke-22 tahanan Nazi itu waras dan tidak memiliki kelainan klinis, serta cerdas dan tidak memiliki moralitas rendah.

Temuan tersebut di luar harapan karena tidak bisa menjelaskan apa yang ada dalam alam pikiran manusia yang berbuat keji, seperti merancang genosida. Sebaliknya, Dr. Kelly malah menyimpulkan bahwa setiap orang pun, dalam situasi yang memungkinkan, dapat melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

 

Nazism was a disease of the human spirit, not of the German spirit alone.”

Dr. Douglas Kelly

 

Berdasarkan kesimpulannya itu, dalam bukunya 22 Cells in Nuremberg (1947), Dr. Kelly menyampaikan imbauannya bahwa siapa pun bisa saja melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk masyarakat Amerika yang masih dihinggapi rasisme. Ia bahkan menyamakan penganut supremasi kulit putih Amerika dengan pengikut Hitler yang keduanya menggunakan rasisme sebagai metode untuk memperoleh kekuasaan, meningkatkan pengaruh politik, atau mendapatkan kekayaan pribadi. Menurut Dr. Kelley, “Nazism was a disease of the human spirit, not of the German spirit alone.”

Buku Dr. Kelly tidak menawarkan narasi yang diharapkan masyarakat Amerika yang belum lepas dari trauma perang dan, apalagi, tidak berkenan disamakan dengan Nazi Jerman. Bukunya tidak laku. Namun, yang membuat Dr. Kelly makin frustrasi, bukan saja ketidaksuksesan karyanya, tetapi bahwa ia tidak bisa menyakinkan masyarakat akan konsekuensi dari temuannya.

Keadilan dan Perdamaian Versi Pemenang

Selain angle yang psikologis, film ini juga, meski implisit, menggambarkan kritik terhadap Pengadilan Nuremberg yang sudah banyak diangkat, yakni sebagai wujud keadilan yang timpang. Bagaimana tidak, semua hakimnya mewakili negara-negara Sekutu pemenang perang (AS, Inggris, Perancis, dan Uni Soviet) dan mereka mengadili tindakan-tindakan pelanggaran yang sebelumnya belum ada aturannya. Memang Pengadilan Nuremberg dikenal dengan julukan victors’ justice.

 

The same seeds of authoritarianism lie dormant in every nation, including our own.”

Dr. Douglas Kelly

 

Dengan segala kritik yang dituai Pengadilan Nuremberg, bagaimanapun juga, pengadilan dengan arisitek pihak Sekutu ini adalah sebuah terobosan dalam hukum internasional. Pengadilannya pun menjadi preseden untuk pengadilan-pengadilan internasional sesudahnya, khususnya Pengadilan Tokyo, serta lainnya seperti ICTY (eks-Yugoslavia) dan ICTR (Rwanda), yang memungkinkan individu pelaku dihukum atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dengan adanya berbagai kasus kejahatan terhadap kemanusiaan pasca-Perang Dunia II dan kini genosida di Gaza, slogan “Never Again” menjadi kian tak bermakna. Sementara dengan keberadaan kepemimpinan otoritarian di berbagai negara, pengadilan internasional pun tampak tak bergigi. Dalam kaitan ini, menarik bahwa Dewan Perdamaian yang baru dibentuk Presiden Amerika Serikat memiliki keanggotaan yang kebanyakan adalah negara-negara pendukung kebijakan-kebijakan A.S, yang artinya cenderung memperhatikan kepentingan Israel, sementara suara masyarakat Palestina tidak terwakilkan. Tak salah apa yang dikatakan Dr. Kelly: “The same seeds of authoritarianism lie dormant in every nation, including our own.”

 

Gambar: IMDb.com, All That's Interesting, voxcinemasegypt, DW documentary, The Guardian

Sumber:

DW (2025) The First Nuremberg Trial. DW Documentary. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=cCEX7jV2cx8 [26 December 2025].

Harvey, Austin (2025) ‘Inside the Life of U.S. Army Psychiatrist Douglas Kelley and His Soul-Crushing Work at Nuremberg Prison.’ All That's Interesting. https://allthatsinteresting.com/douglas-kelley [30 Januari 2026].

Solly, Meilan (2025) ‘The True Story Behind “Nuremberg,” a WWII Drama About Hermann Göring’s Cat-and-Mouse Game with an American Psychiatrist.’ Smithsonian Magazine. https://www.smithsonianmag.com/history/the-true-story-behind-nuremberg-a-wwii-drama-about-hermann-gorings-cat-and-mouse-game-with-an-american-psychiatrist-180987621/ [30 Januari 2026].

Wikipedia (2025) Nuremberg Trials. https://en.wikipedia.org/wiki/Nuremberg_trials [26 December 2025].

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.