NOAM
Noam Bagian 13: Aku Tidak Takut
Cahaya keemasan seakan membelah langit kota London. Gelap dan terang berbentang, menyamarkan batas-batas. Aku peluk erat lengan Noam yang melingkari tubuhku dari belakang.
Gelap langit perlahan beralih menjadi lembayung. Kami terus berdiri menatap fajar dari balkon jendela apartemenku, seolah-olah dapat menerawang masa depan. Aku berbalik menghadap Noam. Matanya menatapku tajam. Dua bola mata coklat pekat itu berbicara begitu banyak. “Tak usah khawatir, aku tidak takut, Noam!” balasku tegas.
***
“Peace deal macam apa itu?” tanya Lara, tentunya secara retorik. “Tidak ada butir yang menyebut pengakuan terhadap negara Palestina,” kecam Lara terhadap perjanjian perdamaian yang diprakarsai Presiden Trump.
Kami bertiga—aku, Lara, dan Linh—sedang duduk di lantai ruang loker gym mengenakan sepatu kami. Sudah lama aku tidak ke gym ini, apalagi ke gym bersama Lara dan Linh, sejak aku pindah dari apartemen Lara. Lumayan, dapat dua jam nge-gym pagi ini. Tidak terasa memang, kalau bareng Lara dan Linh.
“Sebuah kesepakatan yang dirumuskan tanpa melibatkan Palestina!” sambung Linh, turut mengecam.
“Seperti perjanjian buatan kaum imperialis,” timpalku sambil bangkit dari dudukku.
Kami berjalan keluar gym menuju sebuah kedai yang menjual jus dan yogurt.
Kami melewati sebuah kedai kopi. Tampak sekelompok anak muda duduk pada salah satu meja di teras kedai, mereka sedang tertawa terbahak-bahak. Aku langsung mengenali salah satu dari mereka, satu-satunya laki-laki yang sedang dikelilingi tiga perempuan pada meja itu. Ia pun langsung menengok ke arah kami.
“Aku tahu, setiap kali aku menyentuhmu, pikiranmu ada di tempat lain … dan hatimu juga.”
“Hiya girls!” sapanya. “Hey … Layla …,” ia tersenyum lagi khusus kepadaku.
“Hiya Jimmy,” balasku dengan sebuah senyum. Lara dan Linh melambaikan tangan dan kami terus berjalan ke arah kedai jus tujuan kami.
“Aku tahu, setiap kali aku menyentuhmu, pikiranmu ada di tempat lain … dan hatimu juga.” Itulah kira-kira kata-kata terakhir yang diucapkan Jimmy kepadaku saat kami sepakat untuk berpisah.
Aku pikir, Jimmy gak sedih-sedih amat putus denganku. Seperti yang dikatakan banyak orang, banyak perempuan yang menyukainya. Aku tahu, ia tidak akan lama merindukanku.
Jimmy orangnya karismatik, cerdas, pintar bergaul, dan lucu lagi—selalu membuat suasana jadi riang … serta wajahnya cukup menarik.
Aku tahu kalau laki-laki dalam sepergaulan kami, termasuk Noam, menganggap bahwa latar belakang keluarga yang kaya yang membuat perempuan-perempuan jadi tertarik pada Jimmy—tetapi aku pikir gak juga. Karena Jimmy dalam kesehariannya cukup sederhana—pakaiannya tidak bermerek, hampir selalu menggunakan transportasi umum—hanya gayanya tidak dapat menyembunyikan bahwa ia dari kalangan berpendidikan. Aku bahkan tidak tahu banyak tentang keluarganya di India setelah berpacaran beberapa lama dengannya karena memang dia tidak mau menonjolkan asal-usulnya.
Anyway, setelah putus, Jimmy tetap baik terhadapku. Kami masih nge-chat kadang-kadang.
***
“Three ginger turmeric.” Linh langsung memesan minuman itu untuk kami saat tiba di sebuah juice and yoghurt bar. Linh selalu memaksa kami meminum ramuan itu setelah nge-gym atau sedang kurang sehat.
“Kamu memang kayak nenek-nenek Asia, Linh,” ledek Lara sambil tertawa.
“You can thank me later,” balas Linh yang sering berkata bahwa kita kelak akan merasakan manfaat dari minuman-minuman kesehatan seperti itu.
“Okay, Auntie,” jawabku, ikut meledek.
We’re Traaaaash … nada dering ponselku berbunyi. Mamaku menelepon
“Hi Ma … kenapa? … What?... Oh my God! … Papa sudah tahu?”
“Kenapa, Layla?” tanya Lara, melihat wajahku menjadi pucat pasi setelah mengakhiri percakapan.
“Kata ibuku, pada anak tangga di depan pintu rumah, ada coretan dengan cat semprotan warna merah bertuliskan ‘Jew lover’, ditimpa tanda X,” ceritaku.
“Papaku melapor kepada polisi dan polisi akan datang ke rumah orang tuaku ..."
“Oh my God! Siapa sih yang nguntitin kamu? Tau aja kamu sudah balik dengan Noam.” Linh langsung menanggapi.
Lara pun langsung menanggapi balik. “Aku justru berpikir itu orang tahu karena menguntit Noam. Aku yakin banyak yang gak suka sama sikap Noam yang vokal membela Palestina. Liat aja, dia sampai kena pecat oleh kampusnya. Apalagi dia pacaran dengan perempuan dari keluarga Muslim.”
Ponselku berdering lagi, kali ini Papa. “Okay Pa, aku segera ke sana ... bye.”
“Papaku melapor kepada polisi dan polisi akan datang ke rumah orang tuaku, aku disuruh segera ke sana,” ceritaku.
“Ya udah, tenang ya, Layla, maju terus!” kata Lara sambil mengepalkan tangannya, mencoba menguatkanku.
“We got your back, Layla,” Linh menyakinkanku.
“Thanks girls!” ucapku terharu. Aku langsung menenggak minuman turmeric-ku dan bergegas pulang duluan.
***
Dari jauh sudah tampak mobil polisi parkir di dekat rumah orang tuaku. Ketika berpijak di halaman depan rumah, langsung tampak …. coretan berwarna merah dengan huruf besar pada anak tangga kecil menuju pintu depan. Ternyata, melihatnya langsung dengan mata kepala berbeda dampaknya dengan sekadar mendengar ceritanya.
Jujur, aku sempat lemas juga … sejenak mentalku jatuh. Bukan karena takut, tetapi ngilu dadaku rasanya melihat apa yang harus dialami orang tuaku gara-gara pilihan hidupku. Di depan pintu, aku memperbaiki postur tubuhku agar tegak dan menarik napas terlebih dahulu. Aku mengucapkan “Om Mani Padme Hum”, lantas menekan bel.
Ibuku membuka pintu. Ia lega sekali sepertinya melihatku dan langsung memelukku kuat-kuat. “I’m so sorry, Mama,” ucapku dengan terbata-bata.
Mama mengambil jaketku dan matanya mengarahkanku agar ke ruang tamu. Di situ tampak Papa sedang berbincang dengan dua polisi.
Seperti surat kaleng yang dulu aku pernah terima, aku lupa persisnya kapan.
“Oh, here is my daughter, Layla,” Papa berhenti di tengah percakapannya ketika melihat aku memasuki ruangan.
Aku bersalaman dengan kedua polisi dan duduk di sebelah Papa.
Banyaknya detail yang ditanyakan polisi kepadaku membuat aku penat. Seperti surat kaleng yang dulu aku pernah terima, aku lupa persisnya kapan.
“Jadi Anda tidak melapor kepada polisi setelah menerima surat kaleng tersebut?”
“Tidak, Pak.”
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya membawa pada hubunganku dengan Noam. Jadi aku harus cerita tentang Noam di depan Papa—hal yang tidak mengenakkan sama sekali!
***
“Apa kamu tidak berpikir ketika memulai hubungan itu, Layla?” akhirnya Papa membuka pembicaraan tentang Noam. Kami kembali duduk di sofa beludru ruang tamu setelah kedua polisi pamit. Aku diam saja menatap pot bunga keramik biru yang sepertinya sudah ada sejak aku lahir. Aku tidak ingin memulai pertengkaran dengan Papa.
“Papa beberapa kali menyaksikan dia menganggumu. Kenapa kamu begitu mudah dipengaruhi?”
Terpaksalah aku menanggapi. “Kapan sih dia menggangguku, Pa?”
“Saat mengikuti protes di jalan saja, dia sempat-sempatnya mencari perhatianmu,” ucap Papa dengan nada tak suka.
“Gak seperti itu, Pa…” aku mau menjelaskan, tetapi tidak tahu bagaimana dan malas juga sebenarnya.
“Lantas laki-laki yang dulu ke sini itu—yang katanya orang India itu—mana dia sekarang?” tanya Papa dengan nada interogatif.
“Aku sudah putus dengannya Pa, aku sekarang sama Noam,” aku berusaha menjelaskan dengan tenang.
Suara Papa terdengar lebih kecewa daripada marah.
“Jadi kamu diam-diam berhubungan dengan seorang lelaki Yahudi, terus putus, lantas kamu diam-diam lagi kembali dengannya?” Suara Papa terdengar lebih kecewa daripada marah.
“Lihat bagaimana masyarakat begitu terpecah belah di kota ini, lanjut Papa. Kamu tahu, anak-anak di Gaza tinggal di tenda-tenda, kelaparan di tengah-tengah penyerangan yang masih terus terjadi. Konflik ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. Papa rasa kamu cukup cerdas untuk tahu bagaimana harus bersikap dan bertindak … Papa tidak bisa melindungimu kalau kamu sendiri tidak mau menggunakan akal sehat,” tegas Papa.
Papa beranjak dari sofa, meninggalkanku sendiri duduk menatap pot bunga tua itu.
***
Aduh, aku sudah terlambat! Pas aku sedang bersiap-siap di ruang depan, Noam meneleponku.
“Hey Layla …” suara Noam serasa tetesan air yang meneduhkan di gurun pasir. “Aku ke apartemenmu dulu atau kita ketemu di sana saja?” tanya Noam.
“Kita ketemu di sana saja karena aku di rumah orang tuaku, gak keburu kalau pulang ke apartemenku lagi, nanti kamu telat untuk sound check,” jawabku.
Aku janjian menonton gig Noam malam ini. Makanya, aku belum cerita ke Noam tentang kejadian di rumah orang tuaku. Aku takut Noam jadi gak fokus dan itu akan memengaruhi performance-nya nanti malam.
“See ya, Noam.” Aku langsung mengakhiri percakapanku dengan Noam ketika melihat Mama datang menghampiriku.
“Ma, aku pamit ya. Tolong pamitin ke Papa ya.”
“Kamu yakin tidak mau tinggal di rumah untuk sementara?” tanya Mama, sedikit berharap.
“Tidak perlu Ma, aku bisa menjaga diri,” jawabku tegas.
“Masih banyak laki-laki lain, Layla,” Mama langsung to the point. “Bagaimana pun juga, kamu dari keluarga Muslim, kamu boleh saja bilang kamu Budha, tetapi kamu tetap dari keluarga Muslim.”
“Mama harusnya paham,” kataku agak menyerang. “Mama dulu juga hubungannya dengan Papa tidak disetujui keluarga Mama, jadi tidak usahlah mengguruiku!” tangkisku dengan ketus.
Mama terdiam sejenak. “Berhati-hatilah, Layla,” ucapnya seraya berbalik dan meninggalkan ruangan.
Aduh, aku menyesal! … Kenapa aku harus berkata seperti itu kepada Mama? Aku menarik dan melepaskan napasku.
Aku ingat kata-kataku kepada Noam: “Aku tidak takut!”
Ketika membuka pintu rumah, ponselku berdering lagi.
“So Layla, gimana, polisi sudah datang ke rumah?” Suara kakakku, Aaliyah, terdengar khawatir.
“Sudah … lagi diproses,” jelasku.
“Jadi kamu balik lagi sama Noam? Jahat amat sih, Jimmy cuman dijadikan pelampiasan sesaat!” tuduhnya kepadaku.
Aku jadi naik pitam! “Eh, jangan sok tau! … Mind your own business … ini hidupku!” ucapku berang dan aku pun segera menekan end call.
Aku berjalan keluar, menginjak kata-kata teror itu pada anak tangga. Aku menarik dan melepaskan napasku.
Matahari mulai terbenam. Cahaya langit perlahan beralih menjadi lembayung. Aku ingat kata-kataku kepada Noam: “Aku tidak takut!”
Gambar: Daniel Novykov/Unsplash
-Bersambung-
Baca:
Noam: 12
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



