[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #20

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #20

 

Dua Puluh

Mentari Jingga

di

Dunia Teduh

 

 

Alma dan Kresna menghela napas lega setelah seluruh rangkaian acara pernikahan mereka usai diselenggarakan. Dua bulan setelah Kresna berhak mencantumkan gelar doktor di depan namanya, Kresna dan Alma pun sah menyandang status sebagai pasangan suami-istri.

 

Keluarga Taruno Purbowiyakso menyelenggarakan acara mantu secara besar-besaran. Sebagai pengusaha properti yang cukup besar skalanya, relasinya tentu sangat banyak. Acara resepsinya saja sampai dilakukan dalam tiga sesi karena terlalu banyak tamu yang harus diundang. Sabtu sore, Minggu siang, dan Minggu sore.

 

Tak cukup hanya sampai di situ. Akhir pekan berikutnya, giliran keluarga Mahesa Prabangkara yang mengangkat hajat ngundhuh mantu. Itu pun dilakukan dalam dua sesi. Sabtu sore dan Minggu siang. Tamunya pun tak kalah banyak. Hanya karena gedung yang mereka gunakan lebih besar daripada di Margiageng, maka resepsi bisa diadakan hanya dua kali saja.

 

Dua seri acara besar itu tentu saja sangat menguras tenaga sepasang pengantin baru. Tapi, keduanya sudah mengumpulkan cadangan energi untuk menikmati hari-hari madu.

 

Siapa yang bisa menolak paket premium liburan ke Maladewa yang diberikan sebagai kado pernikahan oleh Taruno dan Misty, berlanjut dengan paket yang sama ke Yunani yang diberikan oleh Mahesa dan Wilujeng, masing-masing selama sepuluh hari? Tentu saja Alma dan Kresna menerimanya dengan senang hati. Tapi ada yang jauh lebih menyenangkan daripada itu.

 

Melalui Saijan, Bawono Kinayung dan Bawono Sayekti berkenan menyampaikan undangan resmi bagi sang pengantin baru, untuk selama satu minggu penuh mengenang kembali hari-hari mereka di Bawono Kinayung. Bahkan Sentono dan Winah sudah berencana untuk menggelar pesta di Bawono Sayekti dengan mengundang para penghuni bawono lainnya. Bagaimanapun, awal kehidupan jiwa Alma yang merupakan titisan dari Pinasti, berasal dari Bawono Sayekti, tempat ia diselamatkan dan diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup sebagai bayi Wilujeng.

 

“Aku nggak bisa membayangkan bagaimana perjalanan kita ke sana akan berlangsung,” bisik Alma, sekembalinya ia dan Kresna dari Yunani.

 

“Jangan dibayangkan.” Kresna balas berbisik. “Dijalani saja.”

 

Alma pun mengangguk seketika. Tak urung, jantungnya berdebar kencang. Ia memang belum mampu mengingat Bawono Kinayung secara utuh. Tapi ada sekilas-sekilas gambaran yang sesekali singgah dalam benaknya. Dan, gambaran-gambaran itu menimbulkan perasaan rindu tersendiri dalam hatinya.

 

Kepada seluruh keluarga besar, Alma dan Kresna mengatakan bahwa mereka menginginkan waktu pribadi selama kurang lebih sepuluh hari di apartemen Kresna, tanpa ingin diganggu. Tapi saat mengantarkan oleh-oleh dari Yunani pada suatu Sabtu pagi, Alma dan Kresna berterus terang pada Wilujeng bahwa mereka menerima undangan untuk berkunjung kembali ke Bawono Kinayung. Wilujeng menatap keduanya dengan mata berkaca.

 

“Jangan khawatir, Bu.” Alma menggenggam tangan Wilujeng. “Nanti coba kurayu Nini agar berkenan mengundang Ibu juga suatu saat nanti.”

 

Wilujeng hanya bisa menanggapi ucapan Alma dengan pelukan hangat dan juga harapan. Tentu saja ia juga merindukan Bawono Kinayung. Seandainya tahu tempatnya dan bisa datang berkunjung begitu saja, ia pasti akan sering-sering melakukannya.

 

“Lantas, bagaimana kalian nanti bisa sampai ke sana?” Dengan halus Wilujeng melepaskan pelukannya.

 

Alma dan Kresna saling menatap. Kresna kemudian mengalihkan arah pandangannya pada Wilujeng.

 

“Kami diminta datang ke rumah Pak Saijan, Bu.” Kresna menjelaskan. “Dari sana, entah bagaimana kami nanti bisa masuk ke Bawono Kinayung.”

 

Wilujeng manggut-manggut. Saijan adalah satu-satunya penghubung mereka dengan Bawono Kinayung. Ia sudah beberapa kali menitipkan barang-barang untuk para penghuni Bawono Kinayung pada Saijan. Biasanya berupa baju baru dan berbagai bahan makanan. Selalu diterima para penghuni Bawono Kinayung secara lengkap dan utuh. Dan, Paitun sendiri selalu menyelinap masuk ke dalam mimpi Wilujeng untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Atau kadang-kadang Wilujeng membuat janji untuk bertemu dengan Kriswo dan/atau Randu. Mereka akan bertemu di toko Saijan, dan diberi keleluasaan untuk sekadar mengobrol dan rujakan di pondok Saijan.

 

“Ibu mau menitipkan oleh-oleh?” tanya Kresna, membuat Wilujeng sedikit tersentak.

 

“Mau membawakan?” Ia balik bertanya.

 

“Ya, maulah,” senyum Kresna. “Asal nggak satu truk banyaknya.”

 

Wilujeng dan Alma tergelak. Sepasang pengantin baru itu kemudian berpamitan. Saat itu hari Sabtu, Wilujeng hanya sendirian saja di rumah, karena – seperti biasa – Mahesa pergi memancing bersama Pinasti, yang kini sudah tumbuh menjadi seorang perawan sunti cantik berusia menjelang dua belas tahun.

 

“Besok pagi-pagi Ibu antarkan barang-barangnya ke apartemen kalian,” ucap Wilujeng ketika Kresna dan Alma berpamitan.

 

“Maaf, Bu, kami nggak bisa temani Ibu belanja,” sesal Kresna.

 

“Nggak apa-apa.” Dengan ringan Wilujeng mengibaskan tangannya. “Kebetulan Ibu mau pergi belanja sama Erika. Nanti agak siang dia ke sini, jemput Ibu. Biar Seta jaga anak-anak sendirian.”

 

Kresna terkekeh ringan mendengar ucapan Wilujeng. Pasti Seta kerepotan sendiri menjaga sepasang balita berusia empat dan satu tahun yang sedang lasak-lasaknya. Wilujeng melambaikan tangan begitu Kresna meluncurkan mobilnya meninggalkan carport.

 

“Mau langsung pulang atau mampir ke mana dulu ini, Yang?” Sekilas Kresna menoleh ke kiri.

 

“Langsung pulang saja, ya? Aku tadi dibawain pakis segar sama Ibu. Biar cepat kumasak buat makan siang kita.”

 

“Nanti masak nasinya dibanyakin, ya?” Kresna nyengir sekilas.

 

Alma tergelak. Kresna memang mendadak jadi rakus kalau makan dengan tumis pakis, apa pun lauknya. Maka Alma pun mengangguk dengan ekspresi geli mewarnai wajahnya.

 

* * *

 

Dengan dibantu Randu, Paitun membenahi pondoknya, agar lebih layak digunakan oleh Alma dan Kresna nantinya. Dinding anyaman bambu yang sudah tua dan sedikit berantakan diganti dengan yang baru. Atap yang menaungi pondok itu diganti dengan jalinan daun kelapa kering yang baru pula. Pendeknya, bagaimanalah caranya agar pondok sederhana itu layak untuk dipakai beristirahat sepasang pengantin baru.

 

Sentini, dibantu Kriswo, juga merapikan salah satu bilik di pondoknya. Bilik itu nantinya akan digunakan oleh Paitun, yang memilih untuk ‘mengungsi’ sementara pondoknya dipakai oleh Alma dan Kresna.

 

Tirto sedang tak bisa diganggu gugat saat ini. Ia juga tengah sibuk membangun sebuah pondok baru di sebelah pondoknya. Pondok baru yang hanya tinggal dinaungi atap itu kecil saja. Asal cukup untuk Janggo, Pinasti, dan ketiga bayi mereka, supaya tak lagi berdesakan tidur di salah satu bilik kecil dalam pondok Tirto.

 

Tak ada gurat lelah dalam wajah mereka. Itu karena mereka terlalu bersemangat hendak bertemu lagi dengan dua orang yang hidupnya pernah disinggahkan selama beberapa saat di Bawono Kinayung.

 

“Alma nanti pasti senang sekali mendapat hadiah dari Paman Sentono dan Bibi Winah, Nyai,” celetuk Kriswo sambil mengibaskan selembar tikar pandan untuk melapisi balai-balai tempat Paitun akan tidur.

 

“Membayangkannya saja aku sudah merinding duluan,” timpal Sentini, tergelak ringan.

 

Mereka sudah tahu rencana Sentono dan Winah. Sebuah rencana yang membuat mereka makin bersemangat menyongsong kedatangan Alma dan Kresna. Terlebih soal ‘hadiah’ yang akan diberikan oleh Sentono dan Winah. ‘Hadiah’ khusus yang didatangkan dari Bawono Kecik.

 

Ketika urusan membereskan pondok sudah selesai, mereka yang ada di Bawono Kinayung tinggal menunggu bergulirnya detik demi detik menjelang pertemuan kembali dengan Alma dan Kresna. Pada saat yang tepat nanti, Sentini akan menjemput sendiri pasangan pengantin baru dari ‘atas’ itu.

 

* * *

 

Keesokan harinya, menjelang pukul sebelas siang, Alma dan Kresna sudah tiba di pondok Saijan. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu menyambut kedatangan keduanya dengan ramah. Ia kemudian membantu mengeluarkan barang-barang pasangan pengantin baru itu dari mobil. Semua ditata rapi di sudut beranda belakang. Setelah selesai, ia menatap Alma dan Kresna.

 

“Aku harus ke hutan untuk cari bahan obat,” ujarnya. “Ada pesanan dari orang di kecamatan sebelah. Kalian tunggu saja di sini. Sebentar lagi juga akan dijemput. Mobil kalian aman di sini. Ada ‘pagar’ khusus, kok,” senyum Saijan.

 

Alma dan Kresna sama-sama mengucapkan terima kasih. Setelah itu Saijan berpamitan, dan pergi dengan jeep-nya. Alma dan Kresna duduk manis di beranda. Keduanya bertatapan dan saling melempar senyum ketika mendapati bahwa mereka punya pikiran yang sama. Seperti apa bentuk jemputan yang akan membawa mereka pergi nanti?

 

Tapi mereka tak perlu menunggu lama. Beberapa menit kemudian, segumpal kabut tebal berwarna putih mendadak saja muncul di tengah pepohonan di kebun belakang pondok Saijan. Alma dan Kresna nyaris tak bisa mengedipkan mata ketika melihat kejadian itu. Perlahan, kabut itu menipis. Samar-samar terlihat sesosok manusia di tengah gulungan kabut yang terus memudar itu. Ketika kabut itu sudah benar-benar menghilang, barulah secara jelas Alma dan Kresna melihat siapa yang ‘datang’.

 

Keduanya segera berlari menghampiri Sentini. Dengan penuh hormat, mereka mencium punggung tangan kanan Sentini, yang dibalas dengan elusan lembut di kepala oleh perempuan sepuh itu.

 

“Nyai, apa kabar?” tanya Kresna dengan nada antusias. “Nyai sendirian? Mana yang lain?”

 

Alma segera menggandeng tangan Nyai Sentini. Mengajaknya duduk di salah satu kursi rotan di beranda. Kresna mengiringi keduanya.

 

“Iya, aku sendirian saja,” jawab Sentini. “Yang lain sedang bersiap-siap menyambut kalian di Bawono Kinayung. Dan, memang sudah jadi tugasku untuk menjemput kalian. Jadi, bagaimana? Kalian sudah siap?”

 

“Sudah.” Alma dan Kresna serempak mengangguk.

 

“Tapi bagaimana cara membawa barang sebanyak ini, Nyai?” sambung Kresna.

 

Sentini sempat tenganga sedikit melihat kardus-kardus yang bertumpuk rapi di sudut beranda.

 

“Banyak sekali bawaan kalian?” serunya.

 

Kresna menggaruk pelipis kanannya. “Titipan Ibu, Nyai. Oleh-oleh buat Bawono Kinayung.”

 

“Astaga....” Sentini menutup mulutnya dengan tangan. Tertawa geli. “Ibumu itu...,” ia menggelengkan kepala, “... murah hatinya nggak ketulungan.”

 

Kresna dan Alma terkekeh mendengar ucapan Sentini.

 

“Baiklah, serahkan saja padaku,” ucap Sentini lagi. “Jadi kita mulai saja di sini.” Ia merapat ke arah tumpukan kardus itu. “Ayo, kemarilah! Merapat padaku.”

 

Tanpa kata, Alma dan Kresna segera menghampiri Sentini dan berdiri di sisi kanan-kiri perempuan itu. Sentini segera mengangkat kedua tangannya lurus ke atas, dan membuat bentuk lingkaran besar menyerupai tornado. Perlahan, kabut berwarna putih membungkus mereka. Makin lama makin tebal, sehingga mereka tak lagi bisa melihat satu sama lain.

 

Baik Alma maupun Kresna sedikit demi sedikit merasa tubuh mereka melayang-layang dengan sangat ringan di ruang hampa berwarna putih selama beberapa detik lamanya. Bersamaan dengan mulai menipisnya kabut itu, keduanya merasakan bahwa bobot tubuh mereka kembali, dan kaki mereka pun terasa menginjak daratan lagi. Ketika kabut itu menghilang sempurna, keduanya ternganga.

 

“Selamat datang kembali!” Seruan serempak itu membuat Alma dan Kresna tersadar.

 

Mereka sudah sampai di Bawono Kinayung. Tepatnya, di dalam pondok Paitun. Mereka semua pun berpelukan dengan gembira. Tak lupa Alma memeluk erat Janggo. Ajak cokelat kemerahan itu mendengking riang.

 

‘Mana Pinasti?’ Alma mengelus tengkuk Janggo.

 

‘Sedang cari anak-anak di danau,’ jawab Janggo. ‘Tadi, sih, mereka sudah kumpul di sini. Tapi namanya juga anak-anak, inginnya main melulu.’

 

Alma terkikik geli. Ia sudah tahu dari Wilujeng – yang mendapat kabar dari Kriswo – bahwa Janggo dan Pinasti sekarang sudah memiliki tiga ekor anak. Tak lama kemudian Pinasti muncul dengan menggiring tiga ajak kecil gendut yang sungguh lucu dan menggemaskan rupanya. Satu berwarna cokelat kemerahan, satu berwarna putih bersih, dan satu lagi berwarna salem. Bila dilihat dengan saksama, maka tampaklah bahwa ajak kecil berwarna salem itu rambut tubuhnya merupakan perpaduan antara warna merah, cokelat, dan putih yang bercampur jadi satu.

 

“Awww.... Kalian lucu sekali!” Alma berseru sambil berlutut dan mengembangkan tangan, siap memeluk ketiga ajak kecil itu.

 

Ketiganya segera menyerbu Alma sambil mendengking-dengking dengan nada gembira.

 

’Aku Lopis, Bibi.’ Si kecil jantan berwarna cokelat kemerahan memperkenalkan diri dengan tegas.

 

‘Aku Klepon.’ Jantan imut berwarna putih tak mau ketinggalan.

 

‘Aku Cenil.’ Terakhir si salem yang memperkenalkan diri, dengan sikap malu-malu menggemaskan. Satu-satunya betina di antara ketiga ajak kecil itu.

 

‘Oh.... Semuanya nama makanan kesukaanku!’ Alma tertawa. Menoleh pada Pinasti. ‘Pasti kamu yang kasih mereka nama.’

 

Ajak putih itu menjawabnya dengan dengkingan dan goyangan ekor berkali-kali. Terlihat sangat riang.

 

Paitun kemudian menggiring semuanya ke bagian belakang pondok. Alma menatap berkeliling dengan penuh kerinduan. Bilik besar itu tetap sama. Dapur merangkap tempat untuk makan dengan berbagai peralatan tradisional. Terlihat masih sama dengan yang bisa diingatnya. Selalu terasa hangat di hati.

 

Di atas dua meja besar yang sudah digabung jadi satu, terhampar aneka makanan yang sungguh menggiurkan. Alma tertawa ketika melihat apa yang ada di sebuah nyiru beralaskan daun pisang. Jajanan berupa klepon, lopis, dan cenil kesukaannya. Ia tahu, semua itu dibuat sendiri oleh Paitun.

 

“Ayo, sekarang kita makan dulu!” Paitun bertepuk tangan.

 

Sementara yang lain mulai memindahkan makanan di piring masing-masing, Tirto sibuk menyiapkan makanan untuk Janggo, Pinasti, dan ketiga anak mereka. Keluarga ajak itu menempati sudut dekat pintu belakang yang terbuka lebar, mengalirkan udara segar. Bilik itu riuh rendah oleh aneka cerita dan tawa. Khas suasana sebuah keluarga besar yang sedang berkumpul untuk menikmati makan siang bersama.

 

“Ni,” celetuk Alma pada suatu ketika, “apakah Mas Kresna dan aku masih bisa ke padang bunga dan padang rumput dengan cara seperti dulu?”

 

“Tentu saja bisa,” angguk Paitun. “Lakukan saja apa yang biasa kamu lakukan dulu.”

 

Alma tersenyum lega. Semua tempat yang pernah akrab dengannya selama tiga belas tahun di Bawono Kinayung seolah berebutan memanggilnya.

 

“Tapi ingat,” lanjut Paitun, “tiga hari lagi ada acara untuk kalian di Bawono Sayekti. Sebaiknya kita semua berangkat ke sana lusa menjelang sore. Terserah kalian, mau lewat jalur biasa atau bersama kabut Nyai Sentini. Kami menurut saja.”

 

“Lewat jalan biasa saja, Nini,” ucap Alma. “Aku rindu suasana perjalanan di sini.”

 

“Baiklah,” senyum Paitun. “Apa pun yang kamu mau.”

 

Kresna menatap Alma dengan sorot mata jenaka. “Mm.... Apakah di sini kamu juga masih bisa menyetrumku, Al?”

 

Seketika Alma tergelak. “Mau coba?”

 

Kresna nyengir sambil mengulurkan tangan. Alma menyentuh tangan Kresna. Tidak terjadi apa-apa. Keduanya pun terbahak. Semua yang ada di ruangan itu pun turut tertawa.

 

“Ternyata kamu sudah tak seampuh dulu,” ujar Kresna di ujung tawanya.

 

“Itu karena jiwa kalian sudah lebur jadi satu kesatuan,” timpal Sentini.

 

“Yah.... Hilang sudah kesaktianku,” ucap Alma, berlagak menyesal.

 

“Tidak seluruhnya,” gumam Paitun.

 

“Benarkah?” Alma membelalakkan matanya yang indah.

 

Paitun tersenyum lebar. “Setidaknya, kamu dan Kresna bisa saling menyembuhkan. Kalian bisa berbagi dan menyeimbangkan energi satu sama lain.”

 

“Whoaaa....” Alma terlihat takjub mendengar ucapan Paitun. “Bagaimana caranya?”

 

“Kalian akan tahu sendiri, seperti kalian menemukan cara untuk berkomunikasi dalam hening,” jawab Paitun.

 

Alma dan Kresna kembali bertatapan. Saling menemukan pikiran yang sama.

 

‘Kapan-kapan kita coba!’

 

* * *

 

Seusai makan bersama, Alma dan Kresna bermaksud membantu membersihkan bilik luas itu dan perabot makan, tapi Randu ‘mengusir’ mereka.

 

“Sudahlah, ini urusanku dengan bibimu,” begitu ucap Randu. “Kalian ke danau saja. Sepertinya sudah ditunggu teman-teman lama kalian di sana.”

 

’Iya, Al,’ sahut Janggo. ‘Ayo, kita ke sana. Ini, anak-anak juga sudah ingin main air.’

 

Setelah berpamitan, Alma dan Kresna pun bergandengan tangan mengikuti Janggo dan Pinasti beserta anak-anak mereka. Janggo dan Pinasti sengaja berjalan pelan-pelan, memberi kesempatan pada Alma dan Kresna untuk menikmati suasana Bawono Kinayung. Sementara itu, trio Lopis-Klepon-Cenil sudah melesat lebih dulu dengan gembira.

 

‘Anak-anak tidak mengantuk?’ tanya Alma.

 

‘Semalam sudah kutidurkan secara paksa.’ Pinasti menjawab sambil tertawa ringan. ‘Jadi mereka sekarang belum mengantuk. Entah menjelang sore nanti.’

 

‘Ah, anak-anak kalian lucu sekali!’ Alma gemas sendiri.

 

“Jangan-jangan anak kita nanti juga kembar tiga, Al,” goda Kresna.

 

“Aduh....” Alma menepuk keningnya. “Bisa pusing aku!”

 

Kresna tergelak, sementara Janggo dan Pinasti mendengking dengan nada gembira.

 

Begitu mereka sampai di puncak jalan mendaki, tampaklah bahwa danau bening di lembah di depan mereka sudah penuh dengan para ajak beraneka warna dan ukuran. Kresna teringat pengalaman pertamanya di danau itu. Bila dulu ia sempat merinding ketakutan melihat para ajak itu, kini ia bisa menemukan kemegahannya. Apalagi ketika para ajak itu melolong bersahutan saat mereka menuruni bukit, mendekati danau. Menyambut mereka dengan paduan suara yang begitu menggetarkan hati.

 

Alma tentu saja bahagia sekali bertemu dengan Suket Teki, Bondet, Sumpil, dan ajak-ajak lainnya. Ada keriuhan dalam hening di sekitar danau itu. Alma sibuk menjawab berbagai pertanyaan para ajak dengan sabar, sementara Kresna duduk tak jauh darinya, ditemani Lopis, Klepon, dan Cenil. Tangan Kresna sibuk mengelus ketiga ajak kecil yang lucu dan menggemaskan itu. Kresna tertawa ketika suara kecil Cenil mendadak mampir ke benaknya. Seketika mengingatkannya pada kelakuan Pinasti kecil, adik kesayangannya.

 

‘Ikan, ikan, minggirlah sejenak ke sudut sana.’ Begitu ucap Cenil. ‘Aku mau nyemplung, dan tak mau menginjak kalian.’

 

Seketika gerombolan ikan kecil yang ada di danau itu berenang menjauh ke sudut lain yang terjauh. Menyelamatkan diri, sekaligus memberi ruang pada para ajak untuk bermain dalam danau. Segera saja ketiga ajak kecil itu, bersama para ajak kecil lain, menceburkan diri mereka ke danau. Mereka bermain dengan riang.

 

Para ajak dewasa pun menyusul masuk ke danau. Pun Janggo dan Pinasti. Sebagian lagi tetap bergerombol dalam kelompok masing-masing di tepiannya. Alma mendekati Kresna dan duduk di sebelahnya. Direbahkannya kepala di bahu Kresna. Laki-laki itu pun merengkuhnya dengan hangat.

 

”Seperti mimpi rasanya, bisa kembali lagi ke sini,” gumam Alma.

 

Kresna mengangguk. Dulu ia memang hanya beberapa hari saja berada di Bawono Kinayung. Tapi waktu sesingkat itu telah memberikan pengalaman-pengalaman menakjubkan, yang dengan rapi disimpannya pada lipatan-lipatan hati. Membuat kenangan itu hanya sekadar memudar dalam mimpi, tak bisa terhapus sepenuhnya.

 

“Aku tadi sempat bicara pada Nini dan Nyai soal foto,” gumam Alma lagi. “Mereka mengizinkan kita mengambil foto di bawono ini untuk kenang-kenangan. Tapi hanya kita berdua dan Ibu yang nanti bisa melihatnya.”

 

Kresna mengangguk-angguk. Ia sudah lama terbiasa dengan keajaiban-keajaiban yang terjadi di sekitarnya. Diingatnya betul ucapan Wilujeng, yang mengatakan bahwa barangkali memang benar ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

 

Keduanya pun kemudian asyik bercakap sambil menikmati pemandangan tak lazim yang terpampang begitu saja di depan mereka dengan begitu indahnya. Ketika tempat itu terasa makin teduh karena matahari di luar sana rupanya sudah mulai menggelincir ke arah barat, ketiga anak Janggo dan Pinasti keluar dari danau. Mereka menggoyangkan tubuh beberapa kali. Mengibaskan tetes-tetes air yang menempel pada lebatnya rambut yang menyelimuti tubuh mereka. Ketiganya kemudian menghampiri Alma dan Kresna, duduk manis di sekitar mereka.

 

Alma melihat Cenil mulai menguap. Diraihnya si kecil imut itu.

 

‘Kamu mengantuk, ya? Sini, Bibi peluk!’

 

Cenil bergelung nyaman di pangkuan Alma. Menguap sekali lagi sebelum mulai terlelap. Kedua saudaranya pun terlihat ingin mendapat perlakuan yang sama. Kresna meraih keduanya, mendudukkannya di pangkuan, dan mulai mengelus-elus tubuh keduanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sama seperti Cenil, Lopis dan Klepon pun segera memejamkan mata dan mendengkur lembut dalam lelap tidur mereka.

 

Tak lama kemudian, ‘pesta’ itu pun usai. Para ajak segera membubarkan diri dan pamit kepada Kresna dan Alma. Sebelum berpisah, Alma berpesan agar esok hari sebelum siang mereka bertemu lagi di tempat itu. Ia bermaksud mengambil foto bersama mereka semua untuk kenang-kenangan. Para ajak pun setuju, dan mereka pun segera mengundurkan diri, kembali ke tempat tugas masing-masing.

 

‘Letakkan Lopis di punggungku,’ ujar Janggo. ‘Dia yang paling besar dan berat.’

 

Dengan hati-hati, Kresna meletakkan Lopis yang masih terlelap di punggung Janggo. Ia sendiri kemudian menggendong Klepon, dan Alma menggendong Cenil. Mereka pun pulang ke pondok dengan perasaan senang tak terhingga.

 

* * *

 

“Aku ingin melihat matahari terbenam.” Alma menoleh ke arah Kresna sambil mereka berjalan kembali ke pondok, setelah membaringkan Klepon dan Cenil di pembaringan masing-masing.

 

“Pamit dulu pada Nini.” Kresna menanggapi dengan suara lembut. “Sekalian kita ambil kamera.”

 

Alma mengangguk dengan senyum manis mewarnai wajahnya. Ketika mereka sampai di depan pondok Paitun, terlihat perempuan itu keluar dari pondok sambil menenteng sebuah buntalan. Terkesan hendak pergi.

 

“Lho, Ni? Mau ke mana?” Alma mengerutkann kening.

 

Paitun terkekeh ringan sebelum memberi jawaban, “Hehehe.... Aku mau mengungsi sementara waktu ke pondok Nyai Sentini.”

 

“Kok, ngungsi, Ni?” timpal Kresna.

 

“Iya,” jawab Paitun, sabar. “Pengantin baru butuh ruang sendiri, kan? Jadi, pakailah pondokku sementara kalian di sini. Sebebas-bebasnya.”

 

Alma dan Kresna saling menatap. Saling menemukan perasaan tak enak di hati.

 

“Ayolah,” ujar Paitun lagi, dengan nada membujuk. “Kami yang mengundang kalian untuk datang ke sini. Sudah kami atur sedemikian rupa supaya kalian nyaman di sini. Nikmati saja semuanya. Seadanya.”

 

Alma dan Kresna berbarengan mengucapkan terima kasih. Mereka pun minta izin untuk menikmati matahari terbenam. Paitun mengangguk tanpa banyak komentar.

 

Sepeninggal Paitun, Alma dan Kresna masuk ke dalam pondok. Barang-barang pribadi mereka sudah disimpan dengan rapi oleh Tirto di bilik depan yang memang ukurannya paling besar. Sementara Kresna menyiapkan kamera beserta tripod, Alma menyingkir sejenak sedikit ke arah belakang.

 

Kedua pintu bilik yang mengapit lorong menuju ke dapur tertutup rapat. Pintu yang kiri adalah pintu bilik Paitun. Sedangkan yang kanan adalah pintu bilik yang pernah belasan tahun ditempatinya bersama Wilujeng. Pelan, tangan Alma terulur, menjangkau handel pintu dan memutarnya.

 

Pintu itu terbuka ketika Alma mendorongnya dengan halus. Ruang itu tampak begitu kosong ketika ia melongok ke dalam. Rak-rak berisi buku yang memenuhi sisi-sisi dinding sudah tak ada. Buku-buku itu sudah lama berpindah ke tangannya secara bertahap. Bilik itu kini hanya terisi sebuah balai-balai bambu dengan kasur tergulung rapi, sepasang meja-kursi, dan lemari kayu sederhana.

 

Pelan-pelan, mata Alma mengaca. Seandainya Wilujeng juga ada di sini bersamanya, tentu perempuan itu akan sangat bahagia. Bilik itu masih menyisakan kehangatan yang sama dengan yang bisa diingatnya. Samar, hidungnya masih bisa mencium aroma Wilujeng.

 

Buru-buru dihapusnya air mata yang menggenang ketika mendengar pintu bilik di depan terbuka dan tertutup kembali. Toh, kehidupannya kini di ‘atas’ sana tak pernah jauh lagi dari Wilujeng. Pun, ia juga masih punya seorang ibu dan ayah yang sangat menyayanginya, Ia menoleh dan mendapati Kresna sudah berdiri di belakangnya. Laki-laki itu meremas lembut bahu kanannya.

 

“Aku benar-benar berharap Ibu bisa sejenak kembali ke sini seperti kita,” gumam Kresna. “Mungkin hanya bersamamu.”

 

Alma mengangguk. “Coba nanti aku mintakan kesempatan itu pada Nini.”

 

Ia kemudian menutup pintu bilik itu. Bersama Kresna, ditinggalkannya pondok untuk menuju ke bukit di belakang pondok.

 

Seperti dulu, keduanya menyeberangi sungai kecil dibelakang pondok. Kresna menyibakkan dedaunan keladi seperti yang pernah dilakukan Alma. Sebuah jalan setapak yang sedikit menanjak menyambut mereka.

 

Mereka tiba di puncak bukit saat matahari masih beberapa derajat di atas titik terbenam. Kresna segera menyiapkan kamera dan tripodnya. Dengan latar belakang matahari jingga yang sedang bersiap untuk menyembunyikan diri di balik cakrawala, Alma dan Kresna mengabadikan kebersamaan mereka. Pun mengambil gambar pemandangan indah danau yang penuh dengan teratai mekar di bawah sana. Setelah merasa cukup, Kresna membenahi kembali perlengkapan memotretnya.

 

Di puncak bukit itu, tepat di depan dinding transparan yang membatasi dunia tempat mereka berada dengan dunia ‘luar’, keduanya pun duduk berdampingan, saling menggenggam tangan. Dalam hening menikmati detik demi detik matahari jingga terlelap meninggalkan remang.

 

“Persis seperti lukisanmu, Mas,” bisik Alma, merebahkan kepalanya di bahu kanan Kresna.

 

“Ya.” Kresna balas berbisik. “Seperti inilah salah satu mimpi yang pernah muncul membungai tidurku. Membuatku gatal untuk mengabadikannya jadi lukisan.”

 

Mentari jingga itu kini sudah seutuhnya menarik selimut di balik garis batas danau teratai dengan langit. Langit kian temaram. Alma dan Kresna pun berdiri bersamaan. Hendak kembali ke pondok Paitun.

 

Keduanya kemudian menyusuri jalan setapak. Menembus pekat yang mulai menyelimuti ruang di bawah naungan pepohohan besar di sisi kiri dan kanan, hingga sampai di tepi sungai. Suara dengking Janggo menyambut kehadiran keduanya begitu Kresna menyibakkan gerombolan daun keladi.

 

‘Ha! Aku baru saja mau menyusul kalian,’ ucap Janggo. ‘Sudah gelap begini.’

 

Alma tergelak ringan. Gelap tak pernah membuatnya takut. Apalagi gelap di sini. Gelap yang ada di bawah kuasa perlindungan para penghuni Bawono Kinayung.

 

‘Ada pesan dari Nini,’ ujar Janggo lagi. ‘Setelah mandi nanti, ditunggu di rumah Nyai untuk makan malam bersama.’

 

‘Baiklah, Janggo,’ senyum Alma. ‘Sampai ketemu nanti, ya.’

 

Sepeninggal Janggo, Alma dan Kresna bergegas masuk ke dalam pondok, yang ternyata sudah cukup terang dengan cahaya beberapa lentera minyak. Sebelum masuk ke dalam bilik yang gelap, Kresna mengambil salah satu lentera untuk menerangi bilik. Mereka butuh mengambil baju sebelum mandi.

 

Seusai mandi, mereka pun menuruti pesan Janggo agar ke rumah Sentini. Di pondok mungil itu, penghuni Bawono Kinayung lainnya sudah menunggu kedatangan mereka. Kehangatan serupa siang tadi saat makan bersama kini terulang lagi.

 

Di atas sebuah meja di dapur pondok Sentini sudah terhampar aneka jenis makanan. Tampak ada sebakul besar nasi merah yang masih mengepulkan asap tipis, satu nampan penuh berisi ikan bakar yang aromanya sungguh menggiurkan, secobek besar sambal, dan satu baskom bersisi sayuran rebus dan juga mentimun segar. Selain itu ada juga nyiru kecil yang penuh dengan potongan semangka kuning segar.

 

“Ini ikan bakarnya pasti Paman yang buat.” Alma menatap Tirto dengan mata berbinar.

 

Laki-laki tinggi besar yang tak pernah sedikit pun terlihat lebih tua itu tertawa lebar. Untuk urusan ikan bakar, memang ia jagonya di Bawono Kinayung. Racikannya selalu pas, menyelimuti daging ikan yang masih sangat segar ketika mulai diolah.

 

Sambil bercakap, mereka semua sibuk menikmati makanan. Kresna sudah tidak malu-malu lagi untuk menambah porsi makannya. Paitun terlihat senang sekali dengan ketidakcanggungan Kresna. Laki-laki itu memang tak terlalu banyak bicara. Tapi dilihat dari sikapnya, tampak sekali bahwa ia menikmati suasana Bawono Kinayung yang pernah singgah selama beberapa saat dalam hidupnya.

 

Janggo dan keluarganya tak terlihat. Membuat Kresna mempertanyakan keberadaan keluarga ajak itu pada Tirto.

 

“Janggo dan Pinasti sedang melatih anak-anak untuk mengenal lorong-lorong di sini,” jawab Tirto. “Tenang saja, mereka sudah makan kenyang sebelum berangkat.”

 

Seusai makan, mereka masih melanjutkan obrolan di beranda depan pondok Sentini. Paitun tertawa melihat beberapa kali Alma menguap.

 

“Kalau sudah mengantuk, istirahatlah dulu,” ucapnya. “Besok masih ada waktu untuk kembali menjelajahi tempat-tempat yang tersimpan dalam hati kalian. Abadikanlah sesuka kalian.”

 

Maka, Alma pun mengajak Kresna pulang ke pondok Paitun. Saat meninggalkan pondok tadi, keduanya sengaja tidak memakai alas kaki. Hendak membiarkan pasir halus di sepanjang jalan yang ada di Bawono Kinayung menyapa mereka.

 

“Aku beruntung sekali menjadi belahan jiwamu,” gumam Kresna, mengeratkan rengkuhan tangannya di sekeliling bahu Alma. “Bisa menikmati keindahan yang tak sembarang orang boleh mengalaminya.”

 

“Aku lebih beruntung lagi menjadi belahan jiwa Mas,” Alma menengok sekilas. “Karena itu artinya aku tidak akan kehilangan Ibu Wilujeng. Dan... juga pangeranku yang ahli membuat mahkota bunga.”

 

Kresna tergelak ringan. Lalu teringat sesuatu.

 

“Ah, sejak kembali dari Yunani aku belum membuatkanmu mahkota bunga lagi,” celetuk Kresna.

 

“Kan, sudah ada yang abadi?” Alma ikut tergelak. “Bisa gundul semua rumpun bunga kalau Mas buatkan mahkota untukku tiap hari.”

 

“Besok setelah dari danau, bagaimana kalau kita ke padang bunga?” Kresna membuka pintu pondok.

 

“Boleh....” Alma tersenyum lebar. “Dan, itu artinya aku akan mendapat mahkota bunga lagi?”

 

“Ya.” Kresna mengangguk tegas. “Seperti apa pun yang kamu mau.”

 

“Oh....” Alma memeluk pinggang Kresna sambil melangkah masuk ke pondok. “Terima kasih!”

 

* * *

 

(Bersambung)

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)