NGOPREK BUKU: PENJELAJAH MIMPI

NGOPREK BUKU: PENJELAJAH MIMPI

 

Judul: Penjelajah Mimpi

Penerbit: Bravebooks

Penulis: Budiman Hakim

Cetakan ke-1, 2021

330 halaman

 

Ini tipe buku yang kamu harus melepas semua kemampuan otak kiri. Nikmati saja isinya.

Di tengah membaca mungkin ada selip tanda baca, gaya bahasa, dan hal teknis lainnya yang biasa jadi ranahnya editor. Lupakan dulu itu, dan masuklah ke dalam cerita.

Isinya luar biasa. Penulisan novel ini memakan waktu tiga tahun. Tidak diniatkan menjadi sebuah novel, karena ini awalnya puzzle yang berserakan. Tapi Om Bud (Budiman Hakim), penulis novel ini, berhasil menjahitnya, dan menjadikannya cerita yang utuh. Bahkan, mempunyai twist, yang saya sampai kecele dibuatnya.

Membaca ceritanya mengingatkan saya pada film Inception, yang saya tonton berulang kali kalau tayang di televisi karena alurnya unik sekali. Bayangkan kalau kita bermimpi, itu biasanya hanya satu lapis. Inception bisa tujuh lapis mimpi. Jadi ada mimpi, dalam mimpi, dalam mimpi, begitu seterusnya sampai tujuh kali.

Novel Penjelajah Mimpi terbitan Bravebooks ini juga seputar mimpi. Menjelajah mimpi tepatnya. Bisa-bisanya Leon, tokoh utama, masuk ke mimpi sahabatnya, kekasihnya, bahkan masuk ke mimpi presiden Amerika!

Yang harus kita cerna dan tebak adalah, adegan tersebut mimpi atau nyata. Ini bagian yang menarik karena pembaca harus menerkanya sendiri.

Saya juga tertawa sendiri begitu Om Bud menceritakan bagaimana konyolnya bartender bisa menyimpulkan kalau seseorang tidak punya akuarium, berarti dia impoten!

Di situ juga ada ilmu marketing yang tersirat, bagaimana seorang bartender bisa tahu minuman yang paling tepat untuk perempuan karena perilakunya.

Dan bagian yang bikin baper adalah Leon yang tidak peka. Bagaimana bisa, ada teman kuliahnya, sudah 10 tahun pertemanan, yang punya perasaan khusus pada Leon, tapi dia tidak merasa! Bahkan dia cerita ke temannya itu, sedang suka sama seorang perempuan. Cinta segitiga sebenarnya biasa, tapi gaya Om Bud menyampaikannya tidak biasa. Pengalaman sebagai copywriter membuat gaya bercerita novel ini jadi berbeda.

Ada sedikit cacat cerita sebenarnya di halaman 146. Tertulis di baris paling bawah.

"Yes, Mam?" tanya Leon sambil menggandeng Olaf menghampiri Maria.

"Kamu jangan memegangi tangan Mark."

Di situlah cacatnya. Seharusnya menggandeng Mark, bukan menggandeng Olaf. Tapi sebagai pembaca, karena sejak awal sudah menahan dulu ruang editing, saya masih bisa memahami maksud cerita.

Novel ini terbit Juli lalu, setebal 330 halaman. Dan tidak akan terasa, novel setebal itu bisa tamat dalam sehari saja. Karena tiap bab membuat penasaran akan kelanjutannya. Lanjut dan terus terkejut.

Seperti terkejutnya saya begitu membaca dua bab awal yang menggunakan POV3. Lalu di Bab 3 tiba-tiba saja jadi POV1. Sampai tengah Bab 3, kembali ke POV3. Ah, tapi saya paham maksudnya.

Dari Penjelajah Mimpi saya belajar, menulislah yang kamu suka, kuasai, sesukamu. Berceritalah dengan pembaca. Mereka akan paham. 

Namanya juga menjelajahi mimpi, kita akan dibawa ke ruang imajinasi. Bukan ruang editing.