Rahasia Soto Betawi

"Enaaak, Mak," jawabku sambil mengunyah potongan daging sapi yang bumbunya begitu merasuk sukma.

Rahasia Soto Betawi
Foto: Meta Tangkudung

"Tadi seberapa banyak santannya?"

"Waduh. Seberapa, ya?" batinku langsung panik.

Sepertinya Mak Rawit  mo mastiin kerjaanku beres. Rasanya langsung kena serangan jantung mendengar pertanyaan itu.

Mak Rawit, juru masak restoran, berdiri di sebelahku. Aku membantunya memasak, alias belajar jadi asistennya. Dia yang mengolah daging dengan bumbu-bumbu. 

Rawit bukan nama aslinya. Hanya karena perawakannya mungil dan dia suka nyeplus cabe rawit, maka orang memanggilnya Mak Rawit. Jangan sampai bikin salah ke Mak Rawit, karena omelannya bakalan bikin pedas telinga. Aku belum pernah diomelin, sih. Amit-amit jabang bayi!

Aku membantunya menyiapkan bumbu sesuai takaran yang dia katakan. Aku memukul kulit pala yang keras dan mengambil bagian dalamnya. Aku mengiris tipis bawang merah. Bumbu-bumbu yang lain kumemarkan dengan ulegan.

Ini minggu ketiga aku bekerja di sebuah rumah makan besar di tengah kota. Rempah Nusantara, begitu namanya. Menunya adalah aneka masakan Indonesia.

Awalnya aku kerja di situ sebagai pencuci piring. Karena kerjaku selalu beres, Bu Kana, pemilik restoran, menawariku untuk belajar memasak. Dia mencoba meyakinkanku, bahwa tidak ada orang yang lahir langsung jago masak, tapi dari belajar. Dia bilang itu kata-katanya Julia siapa gitu. Orang bule, katanya. Wis, mbuhlah, aku ora ngerti. Tapi aku manut Bu Kana untuk belajar.

"Nggg .... Seperti yang Mak ajarin," jawabku lirih sambil mengingat-ingat instruksi Mak Rawit pas ngajarin masak soto Betawi. Ini menu andalan restoran, jadi aku wajib belajar. 

Parahnya, ingatanku seakan sudah kabur lewat pintu belakang dapur restoran ini. Lari tunggang-langgang keluar ke perempatan jalan di seberang. Ada banyak tukang ojek berjaket hijau yang berkerumun di perempatan. Setahuku sih, tukang ojek berseragam itu harusnya ga punya pangkalan, wong orang pesen pake hape. Entahlah. Yang jelas, pikiranku melesat ke sana dan pengen naik ojek langsung pulang ke kampung. Aku takuuut dimarahin Mak Rawit.

"Santannya 500 mili," jelas Mak Rawit.

Nada suara Mak Rawit terdengar biasa saja. Tidak ada kesan marah. Cenderung agak bersahabat malah. Mendapati Mak Rawit tidak memarahiku, pikiranku langsung balik ke tempurung kepalaku. Untung belum jadi naik ojek dia.

Untungnya lagi, aku belum mencampur santan dengan beberapa bahan lain. Santan kental itu kukerjakan sendiri dari awal. Aku yang memarut kelapa dan memerasnya menjadi santan. Aku selesai menuangnya ke panci, ketika Mak Rawit menanyakan ukurannya.

Mak Rawit menyuruhku menuang santan dari panci kembali ke pitcher. Itu ... teko plastik yang ada angkanya. Mak Rawit ngasi tau suruh di angka 500 ml. Ternyata aku sudah bener. Fiuh!

Sebelum aku meneruskan mengolah santan, Mak Rawit menunjukkan satu cara lain untuk memastikan takaran santan. Dia menyuruhku mengambil timbangan. Timbangan digital, begitu namanya. Bentuknya kotak dan ada angkanya. Usai menunjukkan cara memakai timbangan itu, Mak Rawit berpesan supaya kali berikutnya aku memakai timbangan saja, 500 gram, supaya lebih pasti. Katanya, asistennya yang dulu sering ngawur lihat angka di pitcher. Memang sih, angka di pitcher tidak terlalu jelas, karena angka dan huruf digoreskan di plastik.

Setelah ukuran santan aman, aku melanjutkan tahapan berikutnya. Kertas catatanku ternyata ada di saku kanan kulotku, bukan di kantong celemek. Pantes mau tak goleki ora ketemu. Jadi aku sempat baca sekilas demi memastikan resep soto Betawi yang diajarkan Mak Rawit.

Mengolah santan ternyata ada triknya. Mak Rawit memberiku instruksi dan aku patuh mengikutinya. Aku langsung terampil mengaduk santan. 

Sempat kulirik ada senyum tipis menghiasi wajah Mak Rawit. Aku senang. Sepertinya aku mengerjakan tugas cukup baik.

Soto Betawi akhirnya selesai. Mak Rawit menunjukkan cara menyajikan di mangkok. Aku melihat dan mencatat di kepala urutan bahan yang ditata di mangkok, sebelum diguyur kuah santan. Urutannya adalah potongan daging, kentang, tomat, daun bawang, bawang merah goreng, garam, merica, dan kecap manis.

"Ngasi kuah caranya gini," Mak Rawit memberi contoh.

Wuih! Cantiiik .... Tanpa sadar aku langsung bertepuk tangan dan terseyum lebar.

"Sekarang kita cicip, ya?" ujar Mak Rawit.

Aku mengkeret! Kembali grogi tak karuan. Meskipun sebagian besar Mak Rawit yang memasak, tak urung aku kembali panik. Gimana kalo gara-gara aku sotonya jadi ga enak? 

"Coba kamu cicip," suruh Mak Rawit menyodorkan mangkok berisi soto Betawi yang penampilannya bikin air liurku langsung banjir memenuhi mulut.

"Enak?" tanya Mak Rawit sambil menyendok kuah soto dari mangkok yang kupegang. Ia menyeruput kuah secara perlahan sambil memejamkan mata.

Begitu kuah masuk mulut dan membasahi lidahku, rasanya aku ingin melonjak kegirangan. Tentu saja kutahan keinginan itu! Tangan kiriku memegang mangkok dan tangan kananku memegang sendok untuk mencicip soto. Tidak mungkin aku melompat tanpa membuat soto tumpah berantakan. Mak Rawit bakalan marah besar jika itu kulakukan.

"Enaaak, Mak," jawabku sambil mengunyah potongan daging sapi yang bumbunya begitu merasuk sukma.

"Ya, Tuhan, terima kasih banyak. Untung banget aku tidak merusak rasa soto ini," sambungku.

"Kamu harus selalu pastikan bumbu dan kuahnya seperti yang kita kerjakan tadi. Itu rahasianya." Mak Rawit berpesan kepadaku sambil tersenyum tipis.

Senyumnya menghilang ketika dia kemudian berkata dengan serius, yang sangat mengejutkanku.

"Kamu punya bakat masak, dan kamu mau belajar. Mak harap kamu mau terus bantu Mak masak di sini. Tiap Mak lihat wajahmu, Mak inget anak perempuan Mak yang mati muda."


(rase)

---

Tulisan ini terinspirasi dari sesi memasak yang diadakan oleh Ibu Lily dari restoran Rempah Kita untuk komunitas The Writers. Sesi dilakukan via zoom pada hari Sabtu kemaren, pukul 15.30 sampai sekitar pukul 17.

Terima kasih banyaaak Bu Lily dan The Writers.

Terima kasih juga buat Meta yang telah mengizinkan foto hasil praktek memasaknya dipakai di sini. Keren dia, ya?