Apakah Anda Malaikat?

Apakah Anda Malaikat?
Sumber imej: pixabay.com

 

Pada hari ketujuh, wanita itu bangun dari koma. Pertama-tama, ia menggerakkan jari tangannya, lalu dahinya mulai mengernyit, hidungnya mengembang-kempis seperti mencoba mengenali aroma yang masuk ke hidungnya, bibirnya bergerak-gerak seperti hendak melakukan ciuman pertama yang malu-malu, lalu matanya perlahan terbuka.

Seorang perawat menekan bel yang berada di samping ranjang. Tak berapa lama, dokter datang. Ia memeriksa wanita itu dengan cekatan. Wanita itu masih belum tahu apa yang telah dan sedang terjadi.

Welcome back!” sapa dokter itu, seorang pria muda, tampan, berkacamata, dan berambut ikal.

Dokter itu tersenyum, namun wanita itu masih bingung, bahkan untuk memutuskan membalas atau tidak senyuman itu.

“Sungguh, sebuah mukjizat,” ucap dokter seraya memandang lekat-lekat pasiennya.

Pasien wanita itu mencoba memahami ucapan dokter. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan-kiri. Bibirnya gemetar seperti ingin melontarkan sejuta pertanyaan, namun hanya satu yang mampu ia sampaikan, itu pun dengan suara yang lemah, “Apa yang terjadi?”

“Kamu beruntung memiliki seorang Ibu yang setiap saat mendoakanmu. Lihatlah, Ibumu bahkan rajin mengganti bunga di vas itu. Bunga kesukaanmu.”

Pasien wanita itu melirik sebuah vas di atas meja. Matanya berlinang ketika melihat mawar merah di sana.

“Apakah Anda malaikat? Apakah saya sudah mati?”

Dokter itu terperanjat mendengar pertanyaan pasiennya, “Kenapa?”

Wanita itu tak menjawab. Dia memalingkan mukanya, kembali melihat vas di atas meja di mana mawar merah berada di sana. Air matanya belum berhenti menetes. Sesekali, ia mencoba menghentikannya dengan memejamkan mata sejenak.

Dia bukanlah pecinta mawar sampai ketika ibunya terbaring sakit. Ibu selalu memintanya untuk menyunting mawar di dalam vas lalu diletakkan di meja sebelah tempat tidurnya.

“Kau tahu, kenapa Ibu menyukai mawar?” Ibu bertanya, “Mawar adalah keindahan, dan keindahan adalah karya kehidupan yang saripatinya adalah cinta,”

“Cinta tanpa keindahan hanya akan menjadi mahluk yang kesepian. Dia terpenjara dalam jiwamu. Jika itu yang terjadi, cinta harus dibangkitkan dari kesunyian. Tahukah kau cara membangkitkannya? Ungkapkanlah, Nak!”

“Ingat pesan Ibu, pengungkapan cinta terbaik adalah berkasih dalam kehidupan dan berdoa dalam kesunyian. Jika kau dapat melakukannya, maka cinta yang ada dalam jiwamu akan bangkit dan menciptakan keindahan. Bukankah Tuhan menyukai keindahan?”

“Ibu mencium aroma Tuhan dari wangi mawar, dan Ibu melihat keindahan Tuhan dari kecantikannya,” Ibu tersenyum sembari menarik nafas dalam-dalam seolah sedang menarik seluruh aroma mawar ke dalam jiwanya.

“Dan setiap itu pula, Ibu menderas doa buatmu karena engkau adalah keindahan, engkau adalah cinta Ibu yang terungkap,”

Sejak itu, wanita itu menjadi pecinta mawar seperti Ibunya. Ia selalu menyunting mawar setiap hari. Selain karena menyukai, hal itu dilakukannya untuk memenuhi permintaan Ibunya sebelum meninggal, tiga tahun lalu, “Lakukanlah itu untuk mengenang Ibu.”

Air mata wanita itu makin deras menetes. Isaknya tak lagi dapat disembunyikan. Dengan lembut, dokter itu mengusap air mata pasiennya itu.

“Apakah Anda malaikat?”

Mendengar pertanyaan itu lagi, giliran dokter itu yang tak mampu membendung air matanya. Ia meraih tangan pasiennya dengan lembut, mencium punggung tangannya, kemudian mendaratkan kecupan di kening wanita itu. “Aku bukan malaikat, aku adalah jawaban doa Ibumu. Untuk menjaga dan merawatmu.”

Wanita itu mulai dapat mengenali pria berkacamata dan berambut ikal itu. Bukan dari wajahnya, namun dari cara dia mengecup keningnya. Meski demikian, wanita itu belum berani menduga, apalagi menyimpulkan, bahwa lelaki itu adalah kekasih hatinya.

***

Bintaro, 29 Maret 2020.