ORANG TUA JAMAN SEKARANG NYINYIR

Jaman dulu ada pemahaman bahwa semakin tua, orang akan semakin bijak. Mungkin karena di usia lanjut tidak banyak lagi yang dikerjakan maka kita jadi punya waktu untuk merenung, me-review jalan hidup yang telah dijalani. Kita akhirnya menemukan hikmah dan menemukan hakikat hidup bahwa harta dan kekuasaan adalah semu. Karena sumber kebahagiaan bermuara pada hati.
Tokoh Kakek dan Nenek biasanya menjadi simbol kesabaran, keramahan dan kebijaksanaan. Dalam pertemuan keluarga mereka biasanya diminta memberikan wejangan pada keluarga besar. Mereka adalah tokoh idola para cucunya. Betapa senangnya para cucu ketika orang tuanya mengajak liburan ke rumah kakek dan neneknya.
Namun seiring dengan munculnya era digital, godaan baru muncul. Godaan itu adalah tersedianya corong di social media. Di social media semua orang punya corong untuk berbicara sesukanya. Orang-orang tua kesepian dan mengidap post power syndrom merasa mendapat berkah. Tidak menyadari bahwa berkah itu bisa menjelma menjadi bencana. Dan ini berbahaya. Jika tidak hati-hati kita berpotensi jadi nyinyir. Kita jadi punya corong untuk mengeluh, melampiaskan kekesalan bahkan marah di ruang publik tersebut.
Di social media ada banyak iblis yang menggoda. Bentuknya berupa hoax dan fitnah. Iblis-iblis ini pun sangat cerdas. Mereka menyamar sebagai ustad, politisi, pengacara, pendeta, artis dan pejabat publik. Kita jadi sulit membedakan mereka. Dan akhirnya kita terlena. Kita ikut terbawa arus dalam peperangan perebutan kekuasaan.
Saking sibuknya dengan corong di social media, kita jadi tidak punya waktu untuk merenung. Lupa untuk me-review jalan hidup yang telah dijalani. Image kita pun berubah. Kalau sebelumnya kita tokoh bijaksana, sekarang menjelma menjadi orang tua yang nyinyir. Ngomong tanpa tata krama. Memfitnah orang lain seenaknya. Kita tidak menyadari bahwa kita telah mendegradasi diri kita sendiri. Personal branding yang sudah kita bangun menjulang tinggi, ambruk sehancur-hancurnya.
Godaan iblis memang luar biasa. Semua orang bisa kena. Di ujung usia kita akan bertanya-tanya, kenapa sekarang jarang sekali ada pertemuan keluarga? Kenapa cucu-cukuku tidak pernah datang lagi? Kenapa orang-orang menjauh? Kenapa banyak orang yang tidak suka sama kita? Dan banyak lagi ‘kenapa’ yang bergejolak di benak kita.
“Man rabbuka? Ma dinuka? Man nabiyyuka?”Tiba-tiba malaikat Munkar dan Nakir bertanya.
Jangan sampai kita tidak siap menjawabnya. Astaghfirullah.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.