KITA

KITA
Image made by VianeSws

Dulu, waktu aku masih remaja, rumah orang tuaku bertetangga dengan berbagai macam suku, salah satunya Kutai. Tetangga Kutai ini rumahnya pas bersebelahan dengan rumah orang tuaku. Pada masa itu, tinggal di komplek perumahan sungguh menyenangkan, karena masing-masing tetangga suka bertegur sapa. Aku dan adik-adik juga suka bermain bersama anak-anak tetangga di depan rumah kami, yang kebetulan ada taman besar yang sering difungsikan sebagai lapangan bola.

Suatu hari, omaku dari Manado datang berlibur ke rumah kami. Kali ini liburannya agak lama, karena agak lama, dia bosan dan minta diajak jalan-jalan keliling kota. Orang tuaku mengiyakan karena hari itu akhir pekan. Jadi, sambil menunggu mamaku yang sedang bersiap-siap, omaku menunggu di luar. Papaku sedang sibuk kejar-kejaran di lapangan depan rumah menangkapi adik-adikku yang saat itu masih kecil untuk ganti baju supaya ikut jalan-jalan bersama kami. Tinggallah aku menemani omaku menunggu di depan rumah.

Tak lama kami dihampiri tetangga sebelah yang kebetulan seorang nenek juga. Terjadilah percakapan antara omaku dan nenek tetangga sebelah.

"Sore, Nek." sapa nenek tetangga dengan lembut.

"Sore." omaku menjawab. Akupun menjawab dengan senyuman.

"Hendak tamasya, kah?" lanjut nenek tetangga.

"Oh, iyo." ( artinya: oh, iya ) jawab omaku lagi dengan bahasa dan dialek Manado yang kental. Aku cuma bisa memperhatikan mereka berdua ngobrol.

"Hendak kemana, Kita?" tanya nenek tetangga lagi.

Dengan wajah bingung omaku menjawab, " kita nentau ngana mo pigi ke mana, masa kwa ngana tanya pa kita." (artinya: aku tidak tahu kamu mau pergi kemana, kenapa tanya aku).

Mendengar jawaban omaku, nenek tetangga sebelah gantian memasang raut wajah bingung, lalu mengulangi pertanyaannya : "hendak kemana, Kita?."

Omaku masih menjawab dengan jawaban yang sama, "kita nentau ngana mo pigi kemana." 

Akhirnya, kedua oma-oma ini pun terus berlajut berdebat tentang masalah per'kita'an ini, dan aku dengan wajah bingung memperhatikan mereka berdua.

Tak lama papaku datang dan bertanya ada apa, akupun menjelaskan, dan papaku tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasanku. Papa mulai mengajak ngobrol kedua oma-oma itu.

"Begini lho, mama, ini nenek tetangga tanya hendak kemana kita, itu artinya kalian mau kemana, Jadi "kita" dalam bahasa Kutai artinya "kalian"." jelas papaku ke oma.

"lalu, "kita" dalam bahasa Manado itu artinya "aku", Nek." jelas papaku ke nenek tetangga sebelah.

Mendengar penjelasan papa, akhirnya kami semua ikut tertawa terbahak-bahak. Luar biasa ya keragaman bahasa daerah di Indonesia. Bayangkan, itu baru satu kata yaitu "KITA", bisa bikin komunikasi gak nyambung. Masih banyak lagi kata-kata yang sama tapi beda arti tergantung suku dan asalnya. Untung, kita semua ada bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia. Kalau tidak, bisa ambyar dah.

 


TAMAT