Imagine there's No Countries

Tujuh sahabat hobi ngumpul dan ngobrol di Klub Musang, yaitu kedai kopi yang dimiliki dan dikelola oleh Muss. Tujuh sahabat itu adalah Muss, Toddy, Rase, Bintu, Arcto, Cyno, dan Guma. Kesemuanya adalah jenis musang.

Imagine there's No Countries
Sumber gambar: toistudent.timesofindia.indiatimes.com

Imagine there's no countries, it isn't hard to do ... I hope someday you'll join us. And the world will be as one... 

Arcto mendentingkan piano mengiringi suaranya. Ia begitu menghayati lagu Imagine-nya John Lennon, sampai entah berapa kali ia menyanyikannya. Jika terasa capek, hanya jemarinya yang menari di deretan tuts hitam putih.

Tengah malam sudah lewat, jadi sudah masuk pagi. Tamu-tamu di Klub Musang bukan berkurang, malah terus bertambah. Luber! Wajah-wajah asing terlihat di antara tamu. Kemungkinan para pengelana yang datang entah dari mana. Beberapa tamu yang tak kebagian tempat duduk, berdiri dengan menggenggam cangkir kopinya, di dekat piano. 

Tak hanya tamu-tamu kedai yang terpesona dengan nyanyian Arcto, keenam sobatnya juga termasuk. Empat sahabat berhimpitan duduk di pojok favorit mereka. Mereka duduk berdua-dua di satu kursi, karena beberapa kursi direlakan untuk tamu. Muss, wira-wiri sejak tadi meladeni pesanan tamu kedai. Rase ada di belakang meja bar, jadi asisten dadakan, meracik minuman. Menu makanan sudah sold out sejak tadi, termasuk kue-kue kering di stoples.

"Gila, ya? Ga nyangka Ato bisa nyanyi sekeren itu," ujar Bintu pada Toddy.

"Iya, loh. Aku tau Ato bisa nyanyi dan maen musik, tapi belum pernah beneran lihat dia live gini," sahut Toddy.

Akhirnya Arcto, yang biasa dipanggil Ato oleh sahabat dan kerabat terdekatnya, kelelahan dan mengakhiri pertunjukan. Ia berdiri, membungkukkan badan, memberi hormat pada tamu-tamu kedai dan menyelinap kembali ke gerombolan sahabatnya. Tepuk tangan meriah mengiringi langkahnya.

"Kamu keren banget, To! Kenapa cuma Imagine yang kamu mainkan? Cuma bisa lagu itu?" Toddy memuji sekaligus meledek Arcto. Si Toddy emang gitu gayanya.

"Aku prihatin dengan kaum manusia, Tod," jawab Arcto pendek.

"Lha? Sejak kapan kamu peduli sama manusia?" tanya Toddy. Toddy melanjutkan dengan banyak fakta. Bahwa Arcto sangat menghindar dari manusia, bahkan agak takut. Arcto menjadi yatim piatu sejak kecil ketika ayah ibunya ditangkap manusia. Bahwa banyak yang lain juga malas, menghindar, bahkan takut ketemu manusia.

"Aku pilih Imagine, karena menurutku itu solusi buat manusia," ujar Arcto seakan tak memedulikan kata-kata Toddy.

"Manusia tidak boleh egois. Tak boleh mengeksklusifkan diri atau kelompok atas nama negara, ras, bahkan agama," sambung Arcto. "Itu kan yang dibilang di lirik Imagine? Menurutku, John Lennon ga keberatan dan malah senang kalo aku tambahkan juga soal spesies."

Arcto yang biasanya pendiam dan hanya berbicara seperlunya, tiba-tiba jadi banyak omong. Giliran Toddy yang diam mendengarkan dan merenungkan kata-kata Arcto.

"Mungkin kamu benar, To," Bintu menimpali. "Tetapi aku jujur senang sekali dengan kondisi sekarang ini. Ketika manusia di seluruh dunia sepakat untuk mengurangi aktivitas dan berdiam di rumah, karena COVID 19, ini kesempatan buat bumi dan kita untuk bernapas lega barang sejenak." 

Bintu memandang kerumunan tamu di kedai, yang rela ngopi sambil berdiri karena tempat duduk terisi semua.

"Lihat, sudah seminggu ini kedai dibanjiri tamu-tamu dari jauh. Bahkan tetangga-tetangga kita di dekat sini yang sebelumnya ga pernah mampir. Mereka jadi lebih leluasa untuk jalan-jalan, atau hanya untuk sekadar hang out bersama teman. Dulu? Boro-boro mo hang out. Mo keluar cari makan saja mikir seribu satu kali, gimana kalo ketemu manusia. Kita nekat karena kita memang harus cari makan, bukan seperti manusia yang kerja dulu baru dapat uang untuk beli makan."


"Iya. Di mana-mana kudengar begitu. Di pekarangan rumah orang dan kebun, kini terdengar berbagai cuitan aneka burung. Polusi berkurang, alam menjadi sedikit tenang. Ini macam Nyepi di Bali. Kalo di Bali cuma 24 jam, setahun sekali. Kalo sekarang kita di sini hampir seminggu, di negara lain sudah duluan sejak kapan hari." Cyno yang pemalu, ikut bicara. 

"Kupikir yang namanya manusia juga dibutuhkan, kok, di bumi ini," ujar Arcto.

"Buat apa? Selama ini manusia bisanya mengeruk, memanipulasi dan ngerusak alam," Bintu menentang.

"Kalo kita bersikap begitu, berarti kita ga ada bedanya dengan manusia, dong? Mereka pikir mereka yang paling hebat dan ga butuh yang lain. Padahal, kan ga gitu?" kata Guma.

Guma jarang bisa ikut ngumpul dengan sahabat-sahabatnya. Tampang Guma yang paling cute dan menggemaskan. Hari itu tujuh sahabat lengkap ngumpul di Klub Musang.

"Ya .... Poin ini kamu bener, deh, Gum," Bintu mengakui.

"Ato, main piano lagi, dong. Banyak tamu yang pengen denger suara dan permainan pianomu," tiba-tiba Muss datang menyela pembicaraan. Dengan satu tangan, Muss menyangga baki bulat dengan dua affogato pesanan tamu. 

"Kamu harus luangkan waktumu sekali seminggu main piano di sini, ya? Ga sopan, kamu, tuh! Sudah sebulan aku nyari pemain piano dan kamu diem saja," omel Muss. Tanpa menunggu jawaban Arcto, Muss bergegas pergi mengantarkan pesanan kopi itu.

"Ayo, To. Mainkan lagi Imagine, ya. Sekitar sepuluh kali bolehlah. Tapi setelah itu, ganti ya? Kalo engga, ntar kubawakan kutu busuk buatmu. Hahaha." Toddy menepuk pundak Arcto dan mendorongnya untuk memainkan lagunya.

Dini hari itu, Klub Musang meriah sekali. Arcto akhirnya mengabulkan permintaan tamu-tamu untuk menyanyikan lagu selain Imagine.

... Nature's got me high and it's so beautiful, yeah yeah. I'm with this deep eternal universe from death until rebirth ...

(rase)