Teledor

Teledor
Ilustrasi sepatu by pixabay.com

"Coba diinget sekali lagi nduk.. di mana terakhir kau pake sepatumu?"

  Mbah Sumirah menatap wajah Minah cucunya. Mencoba membantunya mengingat kembali di mana sepatunya hilang.

   Wajah bulat berwarna sawo matang itu sudah mulai terlihat pucat. Sepasang mata bulatnya pun terlihat sembab habis menangis. Sorot matanya memperlihatkan rasa takut dan bingung yang campur aduk.

   Melihat kondisi cucunya seperti orang linglung Mbah Sumirah pun akhirnya pasrah. Ada rasa iba dan sedih menggelayuti pikirannya. Anak ini pasti kelelahan dan lapar, tapi dia takut pulang.

"Ya sudah nduk, Mbah ambilin makan dulu ya, istirahatlah dulu baru nanti kita cari sama-sama ya?"

   Gadis kecil itu mengangguk pelan. Mbah Sumirah mengganti seragam SDnya yang lusuh dan agak basah itu dengan kaos dan celana pendek milik Darto, sepupu minah yang tinggal serumah dengan Mbah Sumirah. Disuapinya gadis berumur 9 tahun itu dengan telaten dan dibiarkan istirahat di kamarnya.

  Di atas kasur milik neneknya, Minah tidak bisa tidur. Pikirannya masih mengganjal. Dia tau saat ini ibunya mengkhawatirkannya karena tak kunjung pulang. Namun dia juga tahu kalau ibunya juga pasti marah mengetahui apa yang terjadi.

********************************************

"Yeiii sepatu baruu...!" 

Mata Minah berbinar-binar menatap sepasang sepatu hitam yang dibawa ayahnya malam itu. Akhirnya setelah sebulan dia bertahan dengan sepatu lamanya yang ujungnya sudah bolong, kini dia mendapat sepatu yang diidam-idamkannya.

  Bahkan saking senangnya waktu tidur pun dipeluknya sepasang sepatu barunya itu sambil tersenyum. Besok tidak ada lagi yang mengejeknya karena memakai sepatu bolong.

 

"Yaaah becek jalannya Rin... gimana nih? Bisa rusak sepatuku nanti." 

Sepulang sekolah melihat jalanan yang becek sehabis hujan, Minah pun khawatir akan sepatunya.

"Ya sudah... kita lepas aja, nyeker (bertelanjang kaki) aja kita, sepatunya kita bawa saja," sahut Rini, sepupu yang juga adik kelasnya.

  Mereka berdua pun melepas sepatu yang mereka pakai. Dan berjalan pulang dengan bertelanjang kaki. Area jalanan yang becek malah justru membuat mereka senang. Bermain ciprat-ciprat air dan kejar-kejaran, mengobrol dan bersenda gurau menikmati pemandangan pasca hujan. Mereka pun sengaja memilih jalan memutar agar tak segera sampai di rumah.

  Sampai di depan gang rumah Rini, Minah baru sadar kalau tangannya kosong. Lalu kemana sepasang sepatu yang tadi ditentengnya dari sekolah? Dia melihat kembali ke jalan arah ke sekolahnya dan hendak menyusurinya lagi, mungkin bisa ditemukan sepasang sepatunya. Namun tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Minah pun berlari ke rumah Mbah Sumirah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

********************************************

  Tangis Minah pun pecah. Betapa dia menyesali keteledorannya. Kebahagiaanya semalam ternyata harus berakhir secepat ini. Dia menutup wajahnya dengan bantal dan menangis sejadi jadinya. Terbayang dengan jelas wajah ibunya yang marah dan kecewa. Betapa sulitnya bagi orang tua Minah membeli sepatu itu. Mengingat ada 9 anak manusia yang menjadi tanggung jawab orang tuanya.

  Setelah tangisnya mereda, Minah keluar dari kamar neneknya. Dicarinya ke seluruh ruangan tapi tak ditemukannya wanita berusia 70an tahun itu. Minah melihat ke luar, hujan masih begitu deras. Dari ujung jalan dilihatnya sosok yang dicarinya. Tangan kanannya memegang payung dan tangan kirinya menaikkan ujung jaritnya. Berjalan pelan-pelan sambil mengamati setiap jengkal tanah yang dilewatinya. Sampai akhirnya dia tiba di rumah dengan wajah sedih.

"Mbah Sum dari mana saja?"

Tanya Minah


"Anu nduk... mbah tadi nyari sepatumu, sudah mbah telusuri dari sini sampai ke sekolah, terus balik lagi tapi nggak ketemu"

jawab mbah sumirah dengan tatapan iba ke cucu kesayangannya.

  Minah terharu, matanya berkaca kaca. Betapa dia sudah merepotkan wanita sepuh itu. Keteledorannya sudah membuat orang lain jadi susah.

"Sudah Mbah, ndak usah dicari lagi, biar Minah pulang saja. Paling dicubit ibuk sebentar, rasa sakitnya nanti sebentar juga ilang"

kata Minah sambil berkaca-kaca.

"Ndak nduk.. kamu ndak akan diapa apain sama ibumu, ada mbah Sum, ibumu mana berani nyubit kamu" .
Mbah Sumirah memeluk dan mencium kening Minah yang sudah mulai menangis.

"Sudah.. main saja dulu sama Darto, nanti kalo hujannya sudah reda mbah antar kamu pulang ya.."

Minah hanya mengangguk.

 

"Bagaimana bisa kamu hilangkan sepatumu hah? Kamu pikir bapakmu gampang dapet uang buat beli sepatu itu?" 
   Muntamah tidak bisa menahan emosi menghadapi anaknya. Nafasnya naik turun, matanya merah karna amarah. Seharian dia khawatir karena minah tak kunjung pulang, ternyata setelah pulang, berita buruk yang didapatnya.

  Minah bersembunyi di balik punggung neneknya. Tak berani dia menatap mata ibunya. Dia hanya menangis sambil memeluk punggung mbah Sumirah.

"Sini buk, biar aku cubit pahanya sampai gosong, biar dia kapok!!"

Muntamah mencoba menarik tangan minah namun dihalau oleh mbah Sumirah.

"Kamu mau apalagi? Sepatu nanti bisa dibeli lagi, tapi bagaimana jika kamu kehilangan anakmu?"

Mbah Sumirah tetap berusaha melindungi cucunya.

"Dia harus diberi pelajaran Buk, biar dia tahu kesalahannya." 

"Dia sudah tahu kesalahannya. Seharian dia ndak berani pulang, merasa bersalah, apa masih kurang? Apa kamu mau jika anakmu benar2 tidak akan pulang?hah?"

Mbah Sumirah mencoba mengingatkan keponakannya. Suaranya pun semakin meninggi.

  Mbah Sumirah mengajak Muntamah berbicara empat mata. Dia tau betul watak keponakannya itu sebenarnya baik. Namun tekanan hidup yang membuat dia menjadi mudah marah. Apalagi mengingat suaminya mati matian mencari uang untuk kehidupan keluarga mereka. Dan pengorbanan suaminya tidak kecil demi mendapat sepasang sepatu itu.

   Setelah hampir 1 jam mengobrol dengan mbah Sumirah akhirnya emosi Muntamah mereda. Bagaimanapun anaknya jauh lebih berharga dari apapun. Dan dia melihat Minah sudah menyesali perbuatannya.

 

"Sudah makan?" 
  Muntamah menghampiri Minah yang duduk memeluk lutut di lantai kamarnya. Minah hanya mengangguk. Muntamah meletakkan sepasang sepatu di depan minah. Ada lubang kecil di ujung sepatu sebelah kanan, namun tidak terlalu terlihat.

"Itu punya masmu, sudah kekecilan. Pakailah itu dulu sampai bapak punya uang lagi untuk beli yang baru."

  Minah menoleh menatap wajah ibunya. Lalu dia peluk erat wanita yang telah melahirkannya itu.

"Maaf Buk... Minah janji ndak akan teledor lagi." 
Minah pun menangis sambil meluk ibunya.

"Ibuk juga minta maaf," jawab ibunya seraya mengecup kening anak gadisnya itu.