Aku, Kau, Senja dan Kopi

Sebuah cerita yang lahir dari secangkir kopi dan senja.

Aku, Kau, Senja dan Kopi

AKU, KAU, SENJA DAN KOPI

Aku selalu suka menikmati senja dengan warna jingga keunguan di garis katulistiwa. Aku selalu jatuh cinta dengan petang pada tepian karang yang menanti kunjungan air laut membentur dan bernyanyi gemerisik. Tapi saat kau padukan dengan secangkir kopi, ceritanya menjadi tidak sama lagi.

Secangkir kopi hitam pekat tidak pernah menarik hasratku. Ia sama denganmu. Hanya menghadirkan pahit di indra pengecapku. Hitamnya mengingatkan pada torehan manis janji yang tidak pernah terbukti. Asam yang ada padanya sama seperti asamnya masa depan bersamamu. Kafein yang membuat candu juga mirip dengan aroma tubuhmu yang selalu berhasil membuatku rindu dan selalu ingin kembali ke dalam dekapmu. Meski kau dan aku akan saling menyakiti lagi dan lagi.

Bayang-bayang kau meminta secangkir kopi hitam buatanku selalu saja hadir. Kau telah terlalu menjadi penikmat kopi yang aku tidak pernah bisa larut menikmati.

“Dua sendok kopi dengan satu sendok gula,” pintamu. Entah rasa apa yang tertuang di sana, aku tidak pernah mau mencicipi. Tapi aku setia di sampingmu, memandangi menyesap kopi itu dan tersentuh melihat raut wajah kepuasan saat hidungmu menghirup aroma dan lidahmu mengecap rasa kopi.

Waktu seperti itulah aku berusaha untuk mengajakmu berbicara. Merancang masa depan untuk kita. satu per satu hal yang harus kita lakukan nanti mengalir lancar dan terlihat begitu indah dan sempurna. Kata-katamu begitu meyakinkan membuatku semakin bergairah berjalan menapaki masa demi masa bergandengan denganmu

“Maukah kau menemaniku menikmati senja?” pertanyaanku yang selalu kau jawab dengan mimik terheran. 

Kau selalu beralasan bahwa apa asyiknya duduk diam menatap kaki langit, menunggu jingga berganti gelap. Apa yang bisa kurasai dari suara deburan ombak yang tidak berhenti bersamaan dengan dinginnya bayu berhembus? Kau pun enggan duduk di sampingku menikmati turunnya mentari. Waktu seperti itu juga akhirnya kau akan menunjukkan secara tersirat, betapa muram dan remangnya besok lusa untuk kita. Kau tidak bisa membawa kita ke kata bahagia. Hanya ada luka dan air mata di sana.

Tidakkah kau tahu aku pun tidak bisa menyukai kopi tapi bersedia setia bersamamu dan kopi. Karena aku yakin akan kata-katamu. Kau akan menyenangkanku. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama kepadaku? Meski tidak berkenan terhadap senja tapi tetap ada di sisiku? Tidakkah kau yakin akanku? Kenapa tidak sekali pun kau coba melakukan itu demi membahagiakanku?

Sama seperti aku dan kau yang tidak bisa mempertemukan senja dengan secangkir kopi, aku dan kau pun tidak bisa mencapai kata sepakat demi kebersamaan. Mungkin kopi dan senja hanya untuk orang-orang. Demikian juga bahagia mungkin hanya milik mereka.

***
.
Medan, 9 Mei 2020
.
#cermin #senjadankopi