WANITA KE DUA

WANITA KE DUA
Sumber Unsplash.com

       Menjadi wanita ke dua bukanlah pilihannya. Sejak dulu Lila enggan meladeni lelaki yang menawarinya untuk menjadi istri ke dua. Sudah menjadi tekadnya meskipun harus menjanda lebih lama lagi akan dijalaninya dari pada menjadi yang ke dua. Barangkali karena ia melihat apa yang dialami Ibunya. Walaupun Ibu tak pernah mengatakannya secara langsung, Lila tahu betapa sakitnya diduakan  Sewaktu  anak-anak, ia sering mendapati Ibu menangis diam-diam di kamarnya kalau beberapa hari Bapak tidak pulang ke rumah.

            Berbagi suami bukanlah hal yang mudah.  Perempuan mana yang  rela menerima kehadiran perempuan lain dalam kehidupan pernikahannya?   Tidak ada.   Kalau  itu sampai terjadi  pasti karena terpaksa atau dipaksa keadaan. Lila tak ingin melukai hati  sesama perempuan. Itu  membuatnya merasa sangat berdosa.  Seperti melukai hati Ibunya sendiri.

Sungguh kesal menghadapi kenyataan. Sampai saat  ini sudah empat laki-laki yang memintanya menjadi istri ke dua. Liandaru, laki-laki pertama yang memberi tawaran itu.  Padahal mereka belum pernah bertemu. Liandaru mendapatkan nomor HP Lila dari salah seorang temannya beberapa tahun yang lalu. Sesekali ia menelpon. Mengajak ngobrol hal-hal ringan sehari-hari.  Sebenarnya lebih sering bercanda. Sekedar mengusir penat atau jenuh ketika sedang menempuh perjalanan di pedalaman Banjarmasin. Di sana Liandaru bekerja pada salah satu provider GSM.  Entah kenapa tiba-tiba  ia menyampaikan keinginannya menikahi Lila.  Padahal ia sudah beranak  tiga. Umurnya pun lebih muda dua tahun dari Lila. Katanya dari mendengar suara Lila, ia sudah tahu bagaimana sifat dan karakternya.

“Aku akan minta ijin istriku. Kalau diijinkan, aku  akan menikahimu. Kalau tidak, kita tetap berteman,”  begitulah Liandaru menyampaikan niatnya.

“Tidak usah repot-repot minta ijin istri. Aku nggak mau jadi istrimu. Kita berteman saja,” Lila langsung menampik keinginan Liandaru.

Tiga lelaki lain yang pernah menyampaikan niat yang sama adalah Pak Al-Katiri , Aristya, dan Rudy.  Pak Al Katiri seorang produser salah satu acara berita di  sebuah stasiun televisi swasta nasional. Aristya, mantan pacarnya sewaktu SMA.  Rudy,  mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Namun Lila tak tergoyahkan sedikit pun menghadapi bujuk rayu mereka.

Tak habis pikir, kenapa mereka  seolah ingin menjadi dewa penolong. Berdalih  ingin  membahagiakan Lila lahir batin.  Apakah  itu mungkin dilakukan  dengan menjadikannya sebagai  wanita ke dua dalam kehidupan mereka ? Terbayang bagaimana pedih  perihnya hati istri mereka jika mengetahui suaminya mempunyai wanita lain.  Lila ngeri membayangkan kalau sampai para istri sah itu  tidak terima lalu melabraknya. Memakinya habis-habisan. Menyuruhnya enyah dari kehidupan suaminya.

Mereka tak mungkin meninggalkan istrinya.  Perempuan yang sudah bertahun-tahun dinikahinya. Pendamping hidup yang telah memberinya anak-anak  yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga.  Tapi mereka terus mencoba membuat Lila menyerah. Menawarkan diri sebagai pelindung yang mampu mencukupi kebutuhan lahir batinnya. Mereka sama-sama merasa bersalah membiarkan Lila menjanda terlalu lama. Tak tega melihat Lila sendirian mengatasi semua beban hidupnya.

Semua itu  ternyata omong kosong belaka. Pak Al Katiri tak pernah berani menghadapi istrinya.  Sementara di depan Lila dia selalu menjelek-jelekkannya. Menampilkan diri sebagai lelaki yang menderita dalam pernikahan.  Lila sudah hapal betul dengan gaya rayuan lelaki seperti itu. Tak mempan lagi. Aristya dan Rudy yang  selalu  bertutur kata manis itu pun ternyata tak mampu berbuat apa-apa. Ketika Lila sedang kesulitan dan membutuhkan uang, mereka tidak bisa meminjami.  Bahkan Aristya menceramahi lewat  telpon agar Lila pandai berhemat. Bekerja lebih giat  lagi.  Rudy hanya berjanji  tapi sulit dihubungi.. Apakah menjadi wanita ke dua dari salah satu di antara mereka akan memperbaiki kehidupan Lila? Ah, rasanya tak ada gunanya menyerahkan diri kepada lelaki seperti mereka.

Pelan-pelan Lila menjauhi mereka. Mengurangi frekuensi berhubungan lewat WA atau telpon. Pak Al Katiri  malah sudah berhenti menghubunginya. Aristya sesekali masih mengirim WA. Hanya sekedar berbasa-basi. Tak ada lagi rayuan manis seperti yang dulu sering diekspresikan lewat WA. Beberapa kali Rudy menelpon tak pernah lagi diangkat. WA-nya juga tak pernah dibalas. Sewaktu ada kesempatan bertemu dengan Aristya di Semarang, Lila menegaskan kalau dirinya bisa hidup sendiri. Tak perlu belas kasihan lelaki. Rupanya penegasan itu  berhasil menyurutkan niat Aristya untuk memperistrinya.

Cukup sudah menghadapi lelaki yang hanya bisa mengobral janji. Mereka mengira perempuan betul-betul lemah pada telinganya. Pasrah berserah hanya karena janji-janji manis lelaki. Ah, Lila bukan gadis kemarin sore yang mudah diperdaya lelaki. Bujuk rayu tak akan melemahkannya.  Ia pernah menjadi korban. Tak akan lagi tertipu oleh lelaki.

 Adi,  mantan suaminya dulu  adalah pembual ulung yang berhasil melunakkan kekerasan hati Ibu Lila. Sampai-sampai Lila dipaksa cepat menikah dengannya. Padahal Adi  dan Lila masih kuliah waktu itu.  Adi tak punya apa-apa.  Orangtuanya miskin. Tapi ia membual seolah anak pejabat kaya. Ibu  mempercayainya. Terlambat mengetahuinya  lantas kecewa berkepanjangan.

  Adi  menikahi Lila  hanya untuk  numpang hidup. Orangtua Lila yang membiayai kuliahnya sampai selesai. Setiap bulan  Bapak Ibu Lila  membiayai kehidupan mereka.  Setelah menjadi sarjana, Adi  masih terus menggantungkan diri kepada Lila dan keluarganya. Tidak seperti umumnya laki-laki yang sudah berkeluarga. Adi tak pernah serius mencari pekerjaan. Sebentar-sebentar ia keluar dari pekerjaannya. Lebih suka berkumpul dengan pemuda pengangguran di sekitar rumah kontrakan mereka. Berjudi, mabuk-mabukan dan mulai mencari perempuan lain karena Lila terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tak tahan dengan semua itu, Lila menggugatnya. Mereka bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Dina, anak satu-satunya, tinggal bersama Lila dan tak pernah tahu  di mana Ayahnya sekarang. Meski sudah tujuh belas tahun usianya, tak sekali pun ia ingin bertemu Ayahnya.

Lila berharap tak lagi bertemu dengan lelaki yang ingin menjadikannya sebagai wanita ke dua.  Tapi harapan itu ternyata tidak terpenuhi.  Aryo datang kepadanya..

            “Akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu Lila,” kalimat yang keluar dari mulut  Aryo terdengar  bagai angin lalu di telinga Lila. Seluruh kulit tubuhnya seperti menebal menangkap gelombang suara lelaki yang mencoba bermanis-manis kata.

            Lila pernah  dekat dengan Aryo  ketika lelaki itu sedang mempunyai masalah dengan istrinya.  Sayangnya  setelah mereka bercerai, Aryo malah menjauhinya. Beberapa lama mereka tidak pernah lagi bertemu. Tidak juga berhubungan lewat telpon. Hubungan itu putus begitu saja. Keduanya sama-sama mengganti nomor HP. Ketika tanpa sengaja mereka bertemu lagi,  ternyata Aryo sudah menikah lagi.

            “Aku harus mempercayaimu?”  sinis tanggapan Lila. Tatapannya menghujam langsung ke mata Aryo. Mata yang  mampu bertahan menangkap hujaman itu.

            “Aku terpikir untuk menikahimu,”   suaranya tegas  mengabaikan perasaan Lila.

            “Kamu sudah beristri, Yo. Kamu tahu  prinsipku kan ? Tidak akan menjadi wanita ke dua. Kamu tahu alasannya kan?”

            Sesaat Aryo terdiam. Menunduk beberapa detik lalu mengangkat kembali wajahnya. Sorot matanya seperti anak kecil yang  kecewa   menyambut  Ibunya pulang  tanpa membawa oleh-oleh. Sekejap kemudian berubah menjadi mata lelaki yang menawarkan kasih sayang kepada kekasihnya. Lila tak tahan melihatnya. Dipalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari mata Aryo yang  mampu membuka seluruh isi hati kepadanya. Ia teringat bagaimana Dina membenci kedekatannya dengan Aryo setelah tahu lelaki itu  sembilan tahun  di bawah Lila.

            “Rasa sayangku kepadamu begitu kuat,” gumamnya hampir ditelan angin.

            “Kalau begitu, kenapa kamu meninggalkanku waktu itu ?” Lila merasakan lagi  kekecewaannya. Aryo tak bisa lagi dihubunginya waktu itu.  Hampir setahun lebih. Hilang bagai ditelan bumi.  

            “Maafkan aku La. Aku terlalu lemah dan pengecut waktu itu,” Aryo menatapnya lembut ketika mengakui kesalahannya. “ Ibuku tak setuju aku menikah denganmu.  Katanya kamu terlalu tua untukku.   Penyakitmu itu  juga menghalangimu untuk bisa punya keturunan padahal Ibu menginginkan aku bisa memberinya cucu.”

            Myom itu penyakit Lila yang  dulu bersarang di rahimnya. Ia rajin menjalani terapi dengan pengobatan alternatif dan kini sudah terbebas dari penderitaannya. Kenapa Aryo meninggalkannya ketika ia sakit ?  Seperti itukah seharusnya seorang kekasih?   Datang kembali  kepadanya  setelah ia terlepas dari penyakitnya. 

            “Sekarang kamu sudah punya anak istri. Ibumu sudah mendapatkan cucu. Apa lagi yang kamu inginkan?” Lila menahan perih di ulu hatinya. Teringat bagaimana dulu Aryo mengabaikannya ketika ia sakit. Sungguh ia tak rela diabaikan seperti itu.

“Aku menginginkanmu menjadi istriku,” tak gentar juga Aryo menghadapi Lila.

“Istri ke dua ? Dinikah siri ?” kejar Lila meradang. Suaranya seperti ingin mengalahkan deru kendaraan yang lalu lalang di depan rumah makan tempat mereka janji bertemu siang itu. Untungnya belum ada pengunjung selain mereka berdua.

Tak ada suara kecuali desahan napas mereka berdua. Gelas di depan mereka sudah berembun. Nasi di bakul  bambu dan gurame goreng yang disajikan pelayan setengah jam tadi belum disentuhnya. Aryo mendahului mengisi piringnya dengan nasi. Lila mengikutinya dengan malas. Sekilas ia memandang sosok lelaki berpostur  atletis itu. Kedua lengannya yang kokoh itu pernah begitu menentramkan saat memeluknya..

 Pertemuan keduanya  di rumah makan itu  tak  memberikan  keputusan apapun. Bagi Aryo, Lila belum memberikan jawaban yang memuaskan. Tidak benar-benar menolaknya. Tidak juga menerimanya. Cukup membingungkan.  Bagi Lila, Aryo sepertinya tak mau mendengarkan jawabannya. Masih berharap Lila berubah pikiran. Mengijinkannya menjadi suami.

“ Terima aja  La,” kata Tata, teman terdekatnya setelah mendengar penuturan Lila. “ Enak  lho punya suami. Ada  teman tidur. Ada yang meluk. “

            “Kamu berubah Ta?” Lila kaget mendengar komentar Tata sekarang.          “Aku mencoba realistis  La. Kalau kamu punya suami setidaknya ada yang menjagamu dan melindungimu. Kalau kamu sakit ada yang merawatmu. Kalau kamu kekurangan uang ada yang bisa membantumu. Anakmu juga bisa mempunyai Bapak lagi. Ada yang menjaganya dan memberikan kebanggaan,”  Tata melanjutkan kalimatnya.   Tak peduli  meski wajah Lila berubah masam.

            “Kebanggaan macam apa Ta ? Menjadi istri ke dua. Istri tidak sah, “ balasnya  sengit.

            “Kamu tidak bisa sendiri terus. Terlalu berat buatmu. Banyak godaan yang mengganggumu.  Banyak kesulitan yang harus kamu atasi sendiri. Kamu butuh pendamping hidup meskipun  tidak  bisa kamu miliki sepenuhnya. Tapi ia akan tetap menjalankan peran sebagai suami.  Selalu siap membantumu, mendukungmu dan menyayangimu,”  hati-hati Tata mengungkapkan pendapatnya.

            Selama ini Aryo  tak  pernah enggan membantunya. Waktu  kran di rumah rusak, Aryo buru-buru datang memperbaikinya. Begitu juga ketika TV tak bisa hidup dan telpon rumah mengalami gangguan. Aryo yang memanggil tukang servis TV dan meminta pegawai Telkom memperbaiki kerusakan jaringan telponnya.  Setiap kali Lila  perlu uang, dengan segera ia  bisa memenuhinya. Ia tak mau menerima uangnya ketika  Lila bermaksud mengembalikannya. Ia bilang sebaiknya uang itu ditabung untuk jaga-jaga kalau butuh sesuatu nanti atau  digunakan untuk  keperluan Dina.

            Lila mulai meragukan prinsipnya sendiri.  Ia  lantas ingat pada  usaha keras Aryo  untuk mempertahankan perkawinannya dulu karena tak ingin bercerai seperti ke dua orangtuanya. Namun perceraian itu tak bisa dihindari. Harus terjadi kalau memang sudah sampai waktunya. Apakah Lila juga harus menyerah pada keadaan?   Mau mengubah prinsipnya? Merelakan dirinya menjadi wanita ke dua ?  Sungguh ia hanya ingin  bersuamikan lelaki yang  menjadikannya sebagai satu-satunya istri.  Tak ingin merampas kebahagiaan seorang istri. Tak akan  minta belas kasihan  dari perempuan lain  agar sudi berbagi suami dengannya. Betapa rendahnya dirinya kalau  sampai melakukan itu.

            Cinta adalah energi  kehidupan. Energi yang begitu dahsyat. Lila juga ingin memilikinya.   Sebenarnya ia tak perlu bersusah payah menemukannya. Banyak lelaki yang menawarkan cinta. Ah, benarkah mereka menawarkan cinta ? Jangan-jangan hanya  ingin menunjukkan kekuasaan lelaki atas perempuan.  Bagi sebagian lelaki, mempunyai dua istri  membuatnya terlihat begitu hebat.  Seperti seorang pemimpin yang berwibawa dan  penuh karisma. Menjadi tuntunan  bagi istri-istrinya.

Menjadi wanita ke dua bukanlah impiannya. Ia  hanya inginkan cinta seutuhnya.  Cinta yang hanya untuknya.  Bukan cinta  yang terbagi di antara dua wanita. Ia  ragu  apakah ia membutuhkan Aryo. Seperti keraguannya pada Dina yang mungkin masih tak mengijinkannya  berhubungan dengan Aryo.   Lila  tak mengangkat HP-nya ketika Aryo menelpon malam itu.  Namun tanpa disadarinya sudut matanya  basah