WANITA KE DUA
![WANITA KE DUA](https://thewriters.id/uploads/images/image_750x_5e46106559829.jpg)
Menjadi wanita ke dua bukanlah pilihannya. Sejak dulu Lila enggan meladeni lelaki yang menawarinya untuk menjadi istri ke dua. Sudah menjadi tekadnya meskipun harus menjanda lebih lama lagi akan dijalaninya dari pada menjadi yang ke dua. Barangkali karena ia melihat apa yang dialami Ibunya. Walaupun Ibu tak pernah mengatakannya secara langsung, Lila tahu betapa sakitnya diduakan Sewaktu anak-anak, ia sering mendapati Ibu menangis diam-diam di kamarnya kalau beberapa hari Bapak tidak pulang ke rumah.
Berbagi suami bukanlah hal yang mudah. Perempuan mana yang rela menerima kehadiran perempuan lain dalam kehidupan pernikahannya? Tidak ada. Kalau itu sampai terjadi pasti karena terpaksa atau dipaksa keadaan. Lila tak ingin melukai hati sesama perempuan. Itu membuatnya merasa sangat berdosa. Seperti melukai hati Ibunya sendiri.
Sungguh kesal menghadapi kenyataan. Sampai saat ini sudah empat laki-laki yang memintanya menjadi istri ke dua. Liandaru, laki-laki pertama yang memberi tawaran itu. Padahal mereka belum pernah bertemu. Liandaru mendapatkan nomor HP Lila dari salah seorang temannya beberapa tahun yang lalu. Sesekali ia menelpon. Mengajak ngobrol hal-hal ringan sehari-hari. Sebenarnya lebih sering bercanda. Sekedar mengusir penat atau jenuh ketika sedang menempuh perjalanan di pedalaman Banjarmasin. Di sana Liandaru bekerja pada salah satu provider GSM. Entah kenapa tiba-tiba ia menyampaikan keinginannya menikahi Lila. Padahal ia sudah beranak tiga. Umurnya pun lebih muda dua tahun dari Lila. Katanya dari mendengar suara Lila, ia sudah tahu bagaimana sifat dan karakternya.
“Aku akan minta ijin istriku. Kalau diijinkan, aku akan menikahimu. Kalau tidak, kita tetap berteman,” begitulah Liandaru menyampaikan niatnya.
“Tidak usah repot-repot minta ijin istri. Aku nggak mau jadi istrimu. Kita berteman saja,” Lila langsung menampik keinginan Liandaru.
Tiga lelaki lain yang pernah menyampaikan niat yang sama adalah Pak Al-Katiri , Aristya, dan Rudy. Pak Al Katiri seorang produser salah satu acara berita di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Aristya, mantan pacarnya sewaktu SMA. Rudy, mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Namun Lila tak tergoyahkan sedikit pun menghadapi bujuk rayu mereka.
Tak habis pikir, kenapa mereka seolah ingin menjadi dewa penolong. Berdalih ingin membahagiakan Lila lahir batin. Apakah itu mungkin dilakukan dengan menjadikannya sebagai wanita ke dua dalam kehidupan mereka ? Terbayang bagaimana pedih perihnya hati istri mereka jika mengetahui suaminya mempunyai wanita lain. Lila ngeri membayangkan kalau sampai para istri sah itu tidak terima lalu melabraknya. Memakinya habis-habisan. Menyuruhnya enyah dari kehidupan suaminya.
Mereka tak mungkin meninggalkan istrinya. Perempuan yang sudah bertahun-tahun dinikahinya. Pendamping hidup yang telah memberinya anak-anak yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga. Tapi mereka terus mencoba membuat Lila menyerah. Menawarkan diri sebagai pelindung yang mampu mencukupi kebutuhan lahir batinnya. Mereka sama-sama merasa bersalah membiarkan Lila menjanda terlalu lama. Tak tega melihat Lila sendirian mengatasi semua beban hidupnya.
Semua itu ternyata omong kosong belaka. Pak Al Katiri tak pernah berani menghadapi istrinya. Sementara di depan Lila dia selalu menjelek-jelekkannya. Menampilkan diri sebagai lelaki yang menderita dalam pernikahan. Lila sudah hapal betul dengan gaya rayuan lelaki seperti itu. Tak mempan lagi. Aristya dan Rudy yang selalu bertutur kata manis itu pun ternyata tak mampu berbuat apa-apa. Ketika Lila sedang kesulitan dan membutuhkan uang, mereka tidak bisa meminjami. Bahkan Aristya menceramahi lewat telpon agar Lila pandai berhemat. Bekerja lebih giat lagi. Rudy hanya berjanji tapi sulit dihubungi.. Apakah menjadi wanita ke dua dari salah satu di antara mereka akan memperbaiki kehidupan Lila? Ah, rasanya tak ada gunanya menyerahkan diri kepada lelaki seperti mereka.
Pelan-pelan Lila menjauhi mereka. Mengurangi frekuensi berhubungan lewat WA atau telpon. Pak Al Katiri malah sudah berhenti menghubunginya. Aristya sesekali masih mengirim WA. Hanya sekedar berbasa-basi. Tak ada lagi rayuan manis seperti yang dulu sering diekspresikan lewat WA. Beberapa kali Rudy menelpon tak pernah lagi diangkat. WA-nya juga tak pernah dibalas. Sewaktu ada kesempatan bertemu dengan Aristya di Semarang, Lila menegaskan kalau dirinya bisa hidup sendiri. Tak perlu belas kasihan lelaki. Rupanya penegasan itu berhasil menyurutkan niat Aristya untuk memperistrinya.
Cukup sudah menghadapi lelaki yang hanya bisa mengobral janji. Mereka mengira perempuan betul-betul lemah pada telinganya. Pasrah berserah hanya karena janji-janji manis lelaki. Ah, Lila bukan gadis kemarin sore yang mudah diperdaya lelaki. Bujuk rayu tak akan melemahkannya. Ia pernah menjadi korban. Tak akan lagi tertipu oleh lelaki.
Adi, mantan suaminya dulu adalah pembual ulung yang berhasil melunakkan kekerasan hati Ibu Lila. Sampai-sampai Lila dipaksa cepat menikah dengannya. Padahal Adi dan Lila masih kuliah waktu itu. Adi tak punya apa-apa. Orangtuanya miskin. Tapi ia membual seolah anak pejabat kaya. Ibu mempercayainya. Terlambat mengetahuinya lantas kecewa berkepanjangan.
Adi menikahi Lila hanya untuk numpang hidup. Orangtua Lila yang membiayai kuliahnya sampai selesai. Setiap bulan Bapak Ibu Lila membiayai kehidupan mereka. Setelah menjadi sarjana, Adi masih terus menggantungkan diri kepada Lila dan keluarganya. Tidak seperti umumnya laki-laki yang sudah berkeluarga. Adi tak pernah serius mencari pekerjaan. Sebentar-sebentar ia keluar dari pekerjaannya. Lebih suka berkumpul dengan pemuda pengangguran di sekitar rumah kontrakan mereka. Berjudi, mabuk-mabukan dan mulai mencari perempuan lain karena Lila terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tak tahan dengan semua itu, Lila menggugatnya. Mereka bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Dina, anak satu-satunya, tinggal bersama Lila dan tak pernah tahu di mana Ayahnya sekarang. Meski sudah tujuh belas tahun usianya, tak sekali pun ia ingin bertemu Ayahnya.
Lila berharap tak lagi bertemu dengan lelaki yang ingin menjadikannya sebagai wanita ke dua. Tapi harapan itu ternyata tidak terpenuhi. Aryo datang kepadanya..
“Akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu Lila,” kalimat yang keluar dari mulut Aryo terdengar bagai angin lalu di telinga Lila. Seluruh kulit tubuhnya seperti menebal menangkap gelombang suara lelaki yang mencoba bermanis-manis kata.
Lila pernah dekat dengan Aryo ketika lelaki itu sedang mempunyai masalah dengan istrinya. Sayangnya setelah mereka bercerai, Aryo malah menjauhinya. Beberapa lama mereka tidak pernah lagi bertemu. Tidak juga berhubungan lewat telpon. Hubungan itu putus begitu saja. Keduanya sama-sama mengganti nomor HP. Ketika tanpa sengaja mereka bertemu lagi, ternyata Aryo sudah menikah lagi.
“Aku harus mempercayaimu?” sinis tanggapan Lila. Tatapannya menghujam langsung ke mata Aryo. Mata yang mampu bertahan menangkap hujaman itu.
“Aku terpikir untuk menikahimu,” suaranya tegas mengabaikan perasaan Lila.
“Kamu sudah beristri, Yo. Kamu tahu prinsipku kan ? Tidak akan menjadi wanita ke dua. Kamu tahu alasannya kan?”
Sesaat Aryo terdiam. Menunduk beberapa detik lalu mengangkat kembali wajahnya. Sorot matanya seperti anak kecil yang kecewa menyambut Ibunya pulang tanpa membawa oleh-oleh. Sekejap kemudian berubah menjadi mata lelaki yang menawarkan kasih sayang kepada kekasihnya. Lila tak tahan melihatnya. Dipalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari mata Aryo yang mampu membuka seluruh isi hati kepadanya. Ia teringat bagaimana Dina membenci kedekatannya dengan Aryo setelah tahu lelaki itu sembilan tahun di bawah Lila.
“Rasa sayangku kepadamu begitu kuat,” gumamnya hampir ditelan angin.
“Kalau begitu, kenapa kamu meninggalkanku waktu itu ?” Lila merasakan lagi kekecewaannya. Aryo tak bisa lagi dihubunginya waktu itu. Hampir setahun lebih. Hilang bagai ditelan bumi.
“Maafkan aku La. Aku terlalu lemah dan pengecut waktu itu,” Aryo menatapnya lembut ketika mengakui kesalahannya. “ Ibuku tak setuju aku menikah denganmu. Katanya kamu terlalu tua untukku. Penyakitmu itu juga menghalangimu untuk bisa punya keturunan padahal Ibu menginginkan aku bisa memberinya cucu.”
Myom itu penyakit Lila yang dulu bersarang di rahimnya. Ia rajin menjalani terapi dengan pengobatan alternatif dan kini sudah terbebas dari penderitaannya. Kenapa Aryo meninggalkannya ketika ia sakit ? Seperti itukah seharusnya seorang kekasih? Datang kembali kepadanya setelah ia terlepas dari penyakitnya.
“Sekarang kamu sudah punya anak istri. Ibumu sudah mendapatkan cucu. Apa lagi yang kamu inginkan?” Lila menahan perih di ulu hatinya. Teringat bagaimana dulu Aryo mengabaikannya ketika ia sakit. Sungguh ia tak rela diabaikan seperti itu.
“Aku menginginkanmu menjadi istriku,” tak gentar juga Aryo menghadapi Lila.
“Istri ke dua ? Dinikah siri ?” kejar Lila meradang. Suaranya seperti ingin mengalahkan deru kendaraan yang lalu lalang di depan rumah makan tempat mereka janji bertemu siang itu. Untungnya belum ada pengunjung selain mereka berdua.
Tak ada suara kecuali desahan napas mereka berdua. Gelas di depan mereka sudah berembun. Nasi di bakul bambu dan gurame goreng yang disajikan pelayan setengah jam tadi belum disentuhnya. Aryo mendahului mengisi piringnya dengan nasi. Lila mengikutinya dengan malas. Sekilas ia memandang sosok lelaki berpostur atletis itu. Kedua lengannya yang kokoh itu pernah begitu menentramkan saat memeluknya..
Pertemuan keduanya di rumah makan itu tak memberikan keputusan apapun. Bagi Aryo, Lila belum memberikan jawaban yang memuaskan. Tidak benar-benar menolaknya. Tidak juga menerimanya. Cukup membingungkan. Bagi Lila, Aryo sepertinya tak mau mendengarkan jawabannya. Masih berharap Lila berubah pikiran. Mengijinkannya menjadi suami.
“ Terima aja La,” kata Tata, teman terdekatnya setelah mendengar penuturan Lila. “ Enak lho punya suami. Ada teman tidur. Ada yang meluk. “
“Kamu berubah Ta?” Lila kaget mendengar komentar Tata sekarang. “Aku mencoba realistis La. Kalau kamu punya suami setidaknya ada yang menjagamu dan melindungimu. Kalau kamu sakit ada yang merawatmu. Kalau kamu kekurangan uang ada yang bisa membantumu. Anakmu juga bisa mempunyai Bapak lagi. Ada yang menjaganya dan memberikan kebanggaan,” Tata melanjutkan kalimatnya. Tak peduli meski wajah Lila berubah masam.
“Kebanggaan macam apa Ta ? Menjadi istri ke dua. Istri tidak sah, “ balasnya sengit.
“Kamu tidak bisa sendiri terus. Terlalu berat buatmu. Banyak godaan yang mengganggumu. Banyak kesulitan yang harus kamu atasi sendiri. Kamu butuh pendamping hidup meskipun tidak bisa kamu miliki sepenuhnya. Tapi ia akan tetap menjalankan peran sebagai suami. Selalu siap membantumu, mendukungmu dan menyayangimu,” hati-hati Tata mengungkapkan pendapatnya.
Selama ini Aryo tak pernah enggan membantunya. Waktu kran di rumah rusak, Aryo buru-buru datang memperbaikinya. Begitu juga ketika TV tak bisa hidup dan telpon rumah mengalami gangguan. Aryo yang memanggil tukang servis TV dan meminta pegawai Telkom memperbaiki kerusakan jaringan telponnya. Setiap kali Lila perlu uang, dengan segera ia bisa memenuhinya. Ia tak mau menerima uangnya ketika Lila bermaksud mengembalikannya. Ia bilang sebaiknya uang itu ditabung untuk jaga-jaga kalau butuh sesuatu nanti atau digunakan untuk keperluan Dina.
Lila mulai meragukan prinsipnya sendiri. Ia lantas ingat pada usaha keras Aryo untuk mempertahankan perkawinannya dulu karena tak ingin bercerai seperti ke dua orangtuanya. Namun perceraian itu tak bisa dihindari. Harus terjadi kalau memang sudah sampai waktunya. Apakah Lila juga harus menyerah pada keadaan? Mau mengubah prinsipnya? Merelakan dirinya menjadi wanita ke dua ? Sungguh ia hanya ingin bersuamikan lelaki yang menjadikannya sebagai satu-satunya istri. Tak ingin merampas kebahagiaan seorang istri. Tak akan minta belas kasihan dari perempuan lain agar sudi berbagi suami dengannya. Betapa rendahnya dirinya kalau sampai melakukan itu.
Cinta adalah energi kehidupan. Energi yang begitu dahsyat. Lila juga ingin memilikinya. Sebenarnya ia tak perlu bersusah payah menemukannya. Banyak lelaki yang menawarkan cinta. Ah, benarkah mereka menawarkan cinta ? Jangan-jangan hanya ingin menunjukkan kekuasaan lelaki atas perempuan. Bagi sebagian lelaki, mempunyai dua istri membuatnya terlihat begitu hebat. Seperti seorang pemimpin yang berwibawa dan penuh karisma. Menjadi tuntunan bagi istri-istrinya.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.