Ibu Kalbu

Cerpen

Ibu Kalbu

Ibu Kalbu

 

   Ini kisah seorang Ibu. Dia bernama Kalbu. Dia mempunyai anak yang gagu. Anak itu bernama Syahdu. Setiap hari Ibu bekerja. Karena sang suami sudah tiada. Hidup hanya berdua. Dalam rumah sederhana. Terkadang Sang Ibu bersedih. Karena harus menerima kenyataan pedih. Anaknya hanya bisa berucap lirih. Dan sang Ibu hanya merasakan perih.

 

   Sudah 10 tahun sejak mereka hidup hanya berdua. Tadinya sang suami masih ada. Tiba-tiba tanpa dinyana. Sang suami hilang rimbanya. Sudah dilaporkan ke polisi. Untuk mereka mencari. Tapi tidak pernah ada solusi. Sang suami tidak kembali. Sang Ibu tidak bisa berlama-lama nelangsa. Dia mulai mencari-cari kerja. Akhirnya didapatlah pekerjaan di rumah sakit jiwa. Tempat dia menemukan lagi belahan hatinya.

 

   Dia berkenalan dengan seorang dokter. Dokter itu bernama Piter. Dan kabar itu sudah sangat santer. Dan ini membuat Kalbu keder. Bukan kenapa-kenapa. Karena dia takut dikeluarkan dari kerja. Padahal dia sangat membutuhkannya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi dokter Piter sangat baik. Dia adalah oase di tengah matahari yang terik. Ditambah rupanya yang ciamik. Membuat semua wanita melirik.

 

   Piter selalu mengantarnya pulang. Kadang dia bertemu anak semata wayang. Setelah melihat anaknya dia tidak langsung menghilang. Itu tandanya dia benar-benar sayang. Kalbu merasa dunianya mulai kembali. Dia tidak lagi sendiri. Karena ada Piter yang menemani. Dan berharap kesedihan tidak datang lagi.

 

   Syahdu yang melihat sang Ibu bahagia, merasa senang hatinya. Karena selama ini yang dilihat hanya air mata, kini berubah jadi tawa. Kini Syahdu bisa fokus di lukisan. Yang telah lama dia lakukan. Walau dia suaranya tidak bisa dikeluarkan. Setidaknya masih ada tangan. Di tangan itu bakatnya muncul. Berkat ibunya yang memberi usul. Agar dia mencari kesibukan supaya otaknya tidak tumpul. Setidaknya beban keluarga kini bisa dia pikul.

 

   Dia melukis sebelum ayahnya pergi. “apakah aku membuat ayah marah lagi? Apa ayah tidak suka melihat aku menggapai mimpi?”. Begitu teriakan Syahdu di hati. Tetapi semua tidak akan pernah terjawab. Karena sang Ayah sudah pergi tanpa sebab. Kini tinggal dirinya dan Ibunya yang sembab. Dia pun berdoa agar ayahnya mendapat azab. Tetapi Sang Ibu selalu berpikir positif. Dia selalu memberikan nasihat yang informatif. Agar Syahdu tidak sensitif dan kepada sang ayah tidak diskriminatif.

 

   Tapi masa itu sudah lewat. Kini bayangan ayahnya hanya sekelebat. Syahdu sudah tidak ingin berdebat. Mendengar nama ayahnya saja dia tidak ingin terlibat. Kini Syahdu sudah menjadi pelukis yang berbakat. Lukisannya membuat banyak orang terpikat. Itu semua tidak lepas dari peran orang terdekat. Kesedihan dia sang Ibulah yang selalu mengangkat. Dan kini Dia sudah mendapatkan banyak uang. Dan disitulah dia melihat peluang. Untuk dapat membahagiakan ibu tersayang. Dan membuat kesedihan itu menjadi riang.

 

   Sekarang sudah ada Pak Dokter yang memberi Sang Ibu kebahagiaan. Syahdu selalu tidak pernah berhenti mendoakan. Agar Sang Ibu bisa kembali merasakan. Sebuah perasaan bahagia yang dulu pernah Sang Ibu dapatkan. Pernah suatu kali Sang Ibu membawa Sang Dokter ke rumah. Sang Ibu terlihat berubah. Penampilannya kini lebih cerah. Seperti orang yang kini terarah. Mereka bertiga makan bersama. Seperti keluarga yang sebenarnya. Syahdu selalu melirik ke Ibunya. Yang di pipinya selalu merah merona.

 

   Setelah makan malam udahan, Sang Ibu kemudian membereskan. Lalu Sang Dokter melihat Syahdu seolah mengirim pesan. Dia mengajak Syahdu ke depan. Kemudian di depan rumah Sang Dokter memberikan isyarat. Kalau dia meminta uangnya agar keluar cepat. Semua sudah dia lakukan dengan tepat. Seperti permintaan Syahdu di dalam surat. Sang dokter menggerakkan tangannya, mencoba berbicara dengannya. Tetapi Syahdu berpura-pura, tidak bisa mengerti bahasanya. 

 

   Syahdu tahu kalau Sang Dokter meminta uangnya. Uang atas rekayasa Sang Dokter terhadap Ibunya. Sang Dokter pura-pura mendekati Ibunya. Dengan imbalan uang atas jasanya. Tadinya Sang Dokter tidak mau. Karena menganggap Sang Ibu Kalbu. Bukan tipe wanita yang dia mau. Cuma Syahdu mendekatinya tanpa gusar. Dan menawarkan uang dalam jumlah yang besar. Agar Sang Dokter dapat mendekati Ibunya dengan benar. Tanpa Sang Ibu tahu kalau Sang Dokter dibayar.

 

   Sang Dokter sedang ada kebutuhan. Makanya dia minta dibayar duluan. Tetapi Syahdu tetap bertahan. Dia tidak mau memberikan. Sang Dokter naik pitam. Ditamparnya Syahdu sampai lebam. Sang Ibu mendengar keributan dari dalam. Dia pun langsung menghambur keluar melihat sang anak mengeram. Lalu dia bertanya ke si pria, “Mengapa anakku lebam-lebam dan terluka?” Sang Dokter menjawab seenaknya, “Aku sedang menagih uangku yang ada di dia.”

 

   Lalu sang Ibu terpaku. Karena dia tidak tahu menahu. Anaknya berhutang padahal dia gagu. Dan membuat Sang Ibu ragu. Dia lalu bertanya ke Syahdu. Dengan bahasa isyarat yang menggebu. Dia bertanya Apakah benar tuduhan itu. Syahdu membalasnya dengan tenang. Dia bilang. Kalau si dokter cuma mengarang. Karena Syahdu tidak punya uang.

 

   Penjelasan Syahdu sangat pintar. Penjelasan dokter di luar nalar. Sang Kalbu memandang dokter dengan nanar. Ternyata sang dokter tidak benar. Yang selama ini Kalbu telah jatuh hati. Kini dunianya pun kembali terhenti. Sang pujaan sanubari. Berani memukul anaknya dengan ngeri. Lalu dia memukul kembali Piter. Sang dokter tidak tahu kalau Kalbu juara tinju kelas welter. 

 

   Sang Dokter langsung pergi. Dia tidak berani. Kalbu hanya melihat Sang Dokter berlari. Setelah itu Kalbu menjadi seperti orang mati. Kekasih yang dia harapkan. Ternyata hanyalah seorang preman. Yang kini harus dia lupakan. Walau di hati masih punya perasaan. Sang anak hanya melihat kasihan. Karena dia tidak menyangka sang dokter bertindak keterlaluan. Sebenarnya sang anak akan membalas pukulan. Tapi rupanya sang Ibu sudah keluar ruangan. Kini jejak rekayasa harus ditutupi. Sang anak memutar otak agar sang dokter harus dihukum asosiasi. Agar semua izin prakteknya dihabisi. Dia pun tidak bisa lagi menjadi Dokter disini. 

 

   Tiga bulan sudah berlalu. Tidak ada lagi Dokter Piter yang mengganggu. Kini hanya Sang Kalbu yang ingin  fokus membantu. Membantu Rumah Sakit agar menjadi rumah sakit yang terpadu. Tetapi tidak lama. Sang Kalbu kembali menemukan cinta. Kini  dirinya pun menjadi bahagia. Tetapi disatu sisi dia juga sengsara. Segala ketakutan dan juga bayangan kalau dia akan dipermainkan dan dimanfaatkan.

 

   Tepatnya terjadilah pertemuan ketika hendak membeli coklat. Saat dia mencari benda itu di pasar rakyat. Dia bertemu mantan pacar yang dulu pernah dekat. Dan masih membuatnya terpikat, Sang mantan menanyakan nomor HP nya  yang sekarang, Sang Kalbu berdebar-debar bukan kepayang. Karena mantan ini merupakan yang paling bikin dia melayang. Karena mantan ini yang paling dia  sayang. Setelah bertukar nomor telepon. Sang Kalbu pergi meninggalkan. Dia berharap dapat bertemu di lain kesempatan. Dengan mantannya yang rupawan.

 

   Setelah itu sang Mantan pergi keluar. Dia berjalan keluar supermarket dengan sabar. Dia bertemu Syahdu yang menunggunya dengan gusar. Dia memberikan bahasa isyarat kalau semuanya lancar. Syahdu yang melihat pergerakan tangan mantan ibunya. Kembali tersenyum bahagia. Kini mungkin sang Ibu akan kembali merasa. Kembali merasa sempurna.