Perempuan Langit Selatan

Perempuan Langit Selatan

 

Perempuan itu selalu berpikir dirinya adalah alien. Alien yang dilahirkan di bumi yang salah. Entah kenapa sejak kecil, jiwanya tidak merasakan kehangatan rumah di bumi. Ia selalu merindukan langit.

 

Setiap hari dipandanginya langit malam. Langit cerah ketika bulan purnama atau langit bulan sabit. Bahkan ketika langit begitu gelap dan bintang - bintang berkilauan terang sekali. Mereka seperti memanggil - manggil perempuan itu. Dengan mata telanjang ditatapnya bulat - bulat langit selatan. Ia mencintai langit lebih dari Ia mencintai orang tua dan kekasihnya.

 

Jika perempuan itu berbicara pada manusia bumi. Selalu saja yang manusia bicarakan adalah uang. Uang dan uang. Selalu tentang uang. Bagaimana mungkin mereka menjual pohon yang memberi napas kehidupan demi uang. Atau ketika mereka mengikis gunung. Padahal gunung lah yang menjadi pondasi kehidupan di bumi.

 

Atau ketika mereka mengambil kulit hewan liar demi sehelai pakaian yang bisa mereka pamerkan.

Perempuan itu benar - benar tak mengerti. Mengapa manusia bumi selalu saja membicarakan untung, untung dan untung. Padahal mereka telah menjual jiwa mereka tanpa tersisa. Sungguh ia tak habis pikir.

 

Suatu malam, ia pergi sendiri ke pantai. Langit selatan telah memanggilnya. Di lihat oleh kedua matanya langit biru tua itu sudah menyatu dengan laut. Samar - samar garis itu telah pudar. Perempuan itu pun menyeburkan diri. Berenang bersama lautan. Terasa ringan jiwanya. Dingin sekaligus hangat. Dingin di kulit beningnya. Hangat dihatinya yang murni. Sambil ia pandangi langit selatan berwarna biru tua.

 

Kumpulan bintang - bintang itu berbicara padanya dengan merdu, "Apakah kau siap pergi bersama kami wahai perempuan langit?"

 

"Ya, tentu saja langit biru," jawab sang perempuan sambil memejamkan mata.

 

Lalu tiba - tiba, dirinya terbangun. "Dimanakah aku?" Gumamnya sambil melihat sekeliling. Perahu, ternyata ia berada di sebuah perahu kayu. Perahu itu berukuran sedang, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Cukup untuk mengangkut hingga empat hingga enam orang. Di dalam perahu itu terdapat beberapa peralatan melaut dan hasil tangkapan ikan.

 

"Mengapa aku berada di sini Pak?" Perempuan itu bertanya pada seorang bapak tua yang sedang menyebar jalanya.

 

"Kami menemukanmu. Kau hampir saja hanyut tenggelam ditelan ombak lautan," sahut si bapak tua.

 

"Mengapa engkau menyelamatkanku?" Ia bertanya kembali.

 

Perempuan itu memikirkan kumpulan bintang di langit tadi pasti sudah menunggunya. Apakah mereka akan marah karena ia tak jadi berkumpul bersama mereka? Jangan - jangan mereka akan menghilang selamanya karena marah.

 

Bapak itu tetap sibuk dengan jalanya. Tangannya sedikit berdarah. Mungkin karena tergores jala. Mungkin juga darah itu ada karena telah menyelamatkannya. Dipandangi lekat - lekat bapak tua itu. Darah itu tidak lagi merah, melainkan hitam. Sehitam kopi yang ia minum tadi pagi. Sesaat perempuan itu merasa takut. Bapak ini pasti sangat kuat.

 

Apakah ia akan menjadi tawanannya. Apakah ia akan menjadi tak berdaya dan tak bebas lagi berkelana.

 

Ia bertanya kembali "Mengapa Bapak membawaku ke perahu ini?" Sambil tercekat ia paksakan bersuara.

 

"Karena kamu seperti anak laki - laki ku. Dia telah pergi. Pergi bersama lautan menuju langit berbintang. Kadang ku lihat mereka berdansa dan bernyanyi. Tapi tetap saja aku merasa sedih. Aku merasa sepi karena tidak bisa selalu bersamanya. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan di tengah malam." Matanya sendu menatap langit biru tua. "Kamu pasti dirindukan orang tuamu. Dan mungkin juga kekasihmu." Lanjutnya lagi sesekali memandang ke arah perempuan muda itu.

 

Perempuan itu memikirkan orang tuanya. Ya mereka pasti rindu padanya. Lalu ia memikirkan kekasihnya. Ya, mungkin saja kekasihnya juga rindu. Atau bisa jadi ia sedang bercengkrama dengan perempuan lain di ranjang merah muda tempat mereka biasa bercumbu. Tapi bukan itu yang perempuan itu khawatirkan.

 

Ia menatap langit selatan berwarna biru tua. Bintang - bintang masih bersinar terang. Mereka memang tampak sedang menari dengan seorang lelaki. Lelaki itu tersenyum padanya, ia tampak masih muda dan tampan sekali. Perempuan itu jatuh cinta sekali lagi.

 

"Baiklah bintang - bintang dan lelaki yang sedang berdansa. Aku akan menemui kalian lain kali. Ku harap kalian masih menungguku. Dan nanti aku akan ikut menari bersama kalian," batinnya.

 

Bintang hijau terang tiba - tiba jatuh melesat. "Tentu saja! Kami akan setia menunggu engkau wahai perempuan langit! Akan tiba saat kita melepas rindu dan menari bersama. Walau bukan malam ini."