BAPAK....

Aku cukup tahu diri aku cuma istri siri,dan yang lebih penting aku sangat bahagia jika bapak bersamaku.

BAPAK....
Pic taken from shopify,com

Jangan kirim pesan apapun lewat wa ya,kirim pesan lewat email aja.

 

Kenapa pak,tanyaku..

 

Biar aman aja,ibu suka baca wa Bapak.

Bapak khawatir ibu tahu, bisa rame entar dunia percintaan eh persilatan he...he..

Tertawa Bapak  sambil memakai kaus dan celana dalamnya.

 

Oh begitu ya,jawabku sambil tersenyum manja,siap bapak,apapun perintah Bapak laksanakan.

 

kemudian kutarik selimut yang menjuntai ke lantai agar menutupi sebagian tubuhku yang tak terbungkus sehelai benangpun.

 

Sambil membetulkan celananya yang belum rapi kulihat Bapak mematut diri didepan cermin,setelah rapi,semprot sedikit parfum lalu beliau menghampiriku.

 

Bapak pulang dulu ya,jangan lupa belajar yang rajin,kerjain PR yang bener,sambil tangannya membelai lembut rambutku yang sedikit basah oleh keringat.

 

Sebelum melangkah pergi, 

salim dulu sambil kucium punggung tangan Bapak.

 

Bapak pulang dulu ya.

 

Iya pak,jangan lama lama,nanti aku kangen

Kalau kangen suka nggak konsen belajarnya.

 

oh ya kunci pintu dari luar,kataku pelan.

 

Bapak memang punya kunci pintu kontrakanku,sengaja biar beliau bisa datang kapan saja tanpa perlu mengetuk pintu.

 

Iya tenang aja,besok juga kesini lagi,sekarang kan giliran Ibu yang harus dilayani,biar semua aman terkendali.

 

Iya jawabku pelan dan mesra.

 

Mataku berat sekali,seiring pintu ditutup,lalu terdengar suara klik tanda pintu telah dikunci.

 

Aku mulai terlena kealam mimpi melepas semua lelah dan nikmat yang baru saja kuarungi.

 

Setelah mandi,sholat subuh aku segera bersiap untuk sekolah,ku cek sekali lagi semua peralatan sekolah.

Takut ada yang ketinggalan, bisa berabe karena jarak sekolah cukup jauh dari kontrakan.

 

Perlahan, suap demi suap bubur ayam mang kumis langganan mulai mengisi lambungku.

 

Buburnya enak dan murah,bubur mang kumis juga menjadi langganan seluruh penghuni rumah petak dikampung sukasari.

 

Neng, mau berangkat sekolah, tanya  Bi Eni sesaat aku mulai mengunci pintu kamar kontrakan.

 

Iya bi,jawabku, 

Hayu bareng ajakku, saat kulihat Bi Eni  juga mau berangkat kerja.

 

Kerja pagi Bi,sapaku sambil kujajari langkahnya menuju jalan raya, 

kebetulan pabrik tempatnya menjadi buruh jahit searah dengan sekolahanku.

Iya kebetulan lagi shif pagi,

eh si Uwa udah udah pulang neng?

Oh Uwa Adin,iya kemarin malam langsung pulang.

Nggak nginep neng,biasanya suka nginep.

Nggak bi,ada kerjaan pagi katanya,jadi langsung pulang.

Semua penghuni rumah petak memang sudah hafal dengan kami,

Aku sengaja mengenalkan Bapak sebagai Wa Adin,karena nggak mungkin kan, kalau dikenalkan sebagai suami siri.

Bisa ramai entar dunia pergibahan.. he.. he....

 

Mungkin hubungan kami berdua agak sedikit aneh dan diluar kewajaran.

 

Seorang pria gagah paruh baya yang seumuran dengan ayah si gadis 

Menikahi seorang gadis yang baru enam bulan sekolah SMK.

tapi inilah kenyatan yang terjadi,

Dan aku bahagia menjalaninya.

 

Meski aku tahu bakal mengecewakan beberapa pihak,terutama istri dan keluarga Bapak.

 

kami berkenalan tiga bulan yang lalu,saat itu Bapak sedang membutuhkan admin untuk yayasan yang dimilikinya.

 

Karena setiap bulan ada berapa puluh panti yang harus dibantu oleh yayasan yang dimilikinya.

 

Dan kebetulan aku sedang butuh kesibukkan untuk melupakan kesedihan setelah ibu meninggal.

 

Ya ibu meninggal kurang lebih setelah ayah meninggal,meninggalkan aku anak semata wayangnya.

 

Rasanya hancur sekali saat itu 

Sepertinya dunia menjadi gelap, sunyi ,sepi,sedih tanpa berkesudahan.

 

Tak ada lagi tempat untuk bercerita,bercanda,bersandar dan bermanja manja.

 

Hampir aja aku bunuh diri,karena peristiwa itu.

 

Dulu sewaktu ayah meninggal aku sangat terpuruk

karena Ayah sangat mencintaiku,semua keinginanku pasti Ayah akan berusaha memenuhinya

tak pernah sedikitpun dia memarahiku.

Beliau benar benar cinta pertamaku.

 

Tapi saat itu masih ada ibu,jadi kesedihan itu masih bisa terobati oleh kehadiran ibu.

 

Dan saat ibu meninggal itulah kesedihan yang sesungguhnya,karena hilang sudah semuanya,

Tak ada lagi tempat untuk berbagi dan bersandar.

 

Aku memang termasuk anak yang tidak banyak bergaul,temanku hanya bisa dihitung dengan jari.

 

Dan pertolongan Tuhan itu datang,ketika suatu siang aku melihat di papan pengumuman sekolah,ada lowongan pekerjaan sampingan menjadi admin.

 

Tadinya ada beberapa temanku yang juga mendaftar dan sama sama diterima,tapi mereka tidak bertahan lama karena merasa gajinya terlalu kecil.

 

Tapi aku tetap bertahan karena meski gajinya kecil,tapi pekerjaan ini begitu menyenangkan,dan perlahan aku mulai bangkit melupakan semua kesedihan.

 

Kesan pertama bapak itu sangat baik.

Karena dari hasil bisnisnya yang beragam,

beliau rutin memberi sumbangan kepada puluhan panti  asuhan dan panti jompo.

 

Lagi pula pekerjaan ini bisa dikerjakan

dimana saja dan kapan saja. 

Juga sekaligus bisa mengasah keahlianku sebagai seorang admin.

 

Hampir setiap minggu aku pasti diajak jalan sama bapak untuk mengecek semua panti yang disumbangnya.

 

Dari situlah semangat hidupku mulai tumbuh lagi.

Seperti pagi diakhir musim penghujan 

Ketika matahari bersinar begitu terang

Dan cahayanya yang menelusup kesetiap sudut ruangan.

 

Dan perlahan tapi pasti aku mulai menemukan sosok Ayah pada diri Bapak

 

Aku mulai ketagihan untuk bertemu dengannya.

Ada yang hilang saat beliau lama tidak berkunjung.

Ada getaran getaran lembut yang menghentak di dalam dada setiap kali melihatnya berbicara.

Perasaan yang entah disebut apa 

atau inikah yang disebut jatuh cinta,entahlah

 

Aku mulai merasakan kangen, wajahnya senyumnya,harum bau tubuhnya 

Selalu terbayang disetiap waktu 

Dan ini terus terjadi

setiap kali kami berjauhan.

 

Padahal aku tahu jika Bapak tidak mengunjungiku berarti beliau sedang bersama Ibu dan keluarganya.

 

Hingga suatu hari saking kangennya

Saat bapak datang kerumah

aku memeluknya erat sekali.

 

Begitupun beliau,beberapa kali beliau mencium dahiku,sambil berkata

 

Kenapa neng,kangen sama bapak ya

Bapak juga kangen,katanya sambil mengusap pipiku yang tiba tiba menjadi merah jambu.

 

Kemudian aku disuruh pindah dari rumah untuk kos didaerah sukasari yang cukup jauh dari sekolah dan rumah.

 

Kata Bapak biar tidak terlalu mencolok jika beliau sering datang mengunjungi.

 

Entahlah setiap kali kunjungan perasaan kangen dan sayang itu makin bertambah. Dan gayung pun bersambut ternyata perasaan Bapak pun sama terhadapku.

 

Hingga suatu hari bapak menawarkan pilihan

 

Neng kita nggak bisa begini terus,bapak takut keblabasan 

Bapak takut dosa

Bagaimana kalau kita menikah siri saja.

 

Menikah...siri...sesuatu yang belum pernah terbayangkan tapi aku langsung menye

tujuinya,aku tahu ini keputusan terbaik.

 

Maka hari itu setelah dua bulan bersama bapak,aku resmi menjadi istri sirinya

Aku bahagia sekali saat itu, dan kebahagiaan itu makin bertambah sampai sekarang.

 

Meskipun ada syarat yang harus selalu di ingatkan oleh beliau untuk selalu menjaga rahasia ini dari keluarga besarnya,terutama istri dan anak anaknya.

 

Aku cukup tahu diri aku cuma istri siri,dan yang lebih penting aku sangat bahagia jika bapak bersamaku.

Melayaninya, berbagi tawa canda bersama

Dan aku yakin kebahagian itu bisa terjadi jika bapak juga bahagia bersama keluarganya.

 

To be continue......