Harum Melati Ibu

Harum Melati Ibu
Rr Moertinah Selatjaroko. Koleksi Pribadi.

Ah harum melati. Ibu selalu berbau harum melati. Mungkin parfumnya atau bunga melati segar yang ada di sanggul ibu. 

Harum melati selalu membuat rasa nyaman, aman, cinta. Tidak ada bunga melati di sekitar rumahku. Tapi sering harum melati ini menusuk hidungku. Ibu selalu hadir di sini, di rumahku yang sangat jauh dari kampung halaman. 

Ketika rasa rindu itu menyesak di dada, harum melati itu tiba-tiba datang. Ibu tahu aku rindu.

Ibu juga suka datang dalam mimpiku. Kami berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ibu suka bercerita tentang saudara-saudara ibu, keluarga trah ibu. Ramai cerita ibu. Atau cerita ibu tentang adiknya, yang selalu menjemputnya di sekolah.

Ibu dulu Tentara Pelajar jaman perang tahun seribu sembilan ratus empat puluhan. Adik-adik ibu juga Tentara Pelajar. Satu adik ibu meninggal pada pertempuran di Rejodani Yogyakarta, 29 Mei 1949, almarhum Supanoto.

Ibu wanita Jawa yang luwes berkebaya dan bersanggul dengan satu kuntum melati disanggulnya. Ibu pandai membuat asesori sendiri untuk melengkapi kebayanya.

Terkadang ibu mengumpulkan perhiasan lama dan mendesain perhiasan baru. Ibu punya kenalan tukang emas yang bisa mewujudkan perhiasan baru berdasarkan gambar ibu.

Karena bapak dan ibuku guru, maka lebih mudah rasanya untuk berkomunikasi dengan mereka. Kami bebas mengemukakan pendapat kami di meja makan. Aku yang kutu buku, puas membaca buku-buku koleksi bapak di rumah. Kakak yang hobi menggambar mendapat meja gambar khusus beserta mesin gambarnya.

Disekeliling rumah kami, ibu menanam rumpun melati. Jadi setiap jendela kamar dibuka, harum melati selalu menyeruak ke dalam rumah. Ada juga beberapa pohon bunga mawar dan beberapa anggrek yang menempel pada pohon-pohon besar di depan dan di belakang rumah.

Ibu selalu membawa kuntum kuntum melati itu ke dalam rumah. Kadang ditebar di tempat tidur kami. Wangi melati itu selalu menenteramkanku dan mengantarku tidur.

Setelah aku lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, aku mudik sebulan dua kali. Kalau banyak pekerjaan, aku terpaksa hanya bisa mudik sebulan sekali. Aku tidak bisa mengerti ada satu kenalan yang belum pernah menjenguk orangtuanya meskipun dia sudah empat tahun di Jakarta. Orangtuanya tinggal di Solo.

Ah mudik, ngobrol dengan bapak ibu di kamar tidur. Aku ditengah-tengah diantara bapak dan ibu. Ibu dan aku cerita panjang lebar, bapak ternyata sudah mendengkur. Hahaha. 

Sewaktu aku mengontrak satu rumah sendiri dan ada asisten rumah tangga, Narti, gadis lugu yang saudaranya tinggal di Bekasi. Ibu sering berkunjung ke Jakarta. Tentu saja aku menanam bunga melati di pot, dan beberapa bunga mawar. Ibu sering membawa gudeg dan bakpia dari Yogya. 

Bahkan setelah aku menetap di Amerika,  ibu berkunjung ke sini. Anakku masih berusia dua tahun waktu ibu ke sini. Aku dan anakku pulang ke Yogya, kemudian ibu berangkat bersama kami ke Amerika. Kami berjalan-jalan ke air terjun Niagara, kami juga sempat menyeberang ke Kanada. Niagara cantik sekali dilihat dari Kanada. 

"Banyu kok semana akehe", kata ibu sembari geleng-geleng kepala.

Betapa indah dan dahsyat ciptaan Tuhan, kami bersyukur bisa menyaksikan panorama ini.

Selama dua bulan ibu berada di Ohio. Tiba saat ibu pulang ke Indonesia,  aku dan anakku mengantar ibu ke airport.  Aku sudah menitipkan ibu pada maskapai penerbangan China Air, ibu mendapatkan prioritas khusus karena usia ibu hampir delapan puluh tahun, bepergian sendiri dan hanya bisa sedikit bahasa Inggris. Ibu sampai di Yogya dengan selamat. Ibu yang tegar dan berani terbang selama 32 jam sendirian pada usia hampir delapan puluh tahun.

Ibu sudah meninggalkan kami sepuluh tahun yang lalu. Bapak meninggalkan kami dua tahun yang lalu. Tapi cerita-cerita indah bersama ibu selalu hadir mengiringi langkahku. Setiap saat aku panjatkan doa untuk kedua orangtuaku,  semoga Tuhan menempatkan mereka di tempat yang indah disisiNya.

Semerbak melati selalu menenteramkanku,  aku tahu ibu ada di sini, di hatiku.

 

 

***skc***