Kopi Atim

Sebuah catatan sejarah di rumah tangga keluarga kami…

Kopi Atim
Foto: Teppy Maaroef
Anak laki-laki itu namanya Atim. Satu hari, entah siapa yang membawanya, dia datang ke rumah kami. Untuk menjadi pembantu. Umurnya mungkin sekitar 15-16 tahun. Atau, 17 tahun. Entahlah…
 
Anak itu rajin. Cepat belajar dengan mengamati, dan segera memahami rutinitas di rumah. Namun, kadang-kadang suka-suka saja dia berperilaku. Anak yang lumayan keras kepala, yang dalam ukuran Ibu cenderung kurang ajar. Karenanya, hal itu yang bikin Ibu tak begitu senang padanya. Ibu lebih suka dengan anak yang menuruti aturan main di rumah kami.
 
Tiap sore, Atim membuatkan kopi untuk Ayah. Salah satu tugas yang dengan cepat dia pahami. Akan tetapi, entah kenapa, ia selalu menyeduh dengan air yang kebanyakan. Tidak menjadi luber saat dituangkan, tapi selalu kopi jadi pas di garis bibir mug. Akibatnya, saat dibawa dari dapur, selalu ada tumpahan kopi di pisin (piring kecil) alas mug. Repot kan. Ayah lalu menyelipkan tisu di antara mug dan pisin, supaya ceceran kopi tidak blepetan ke mana-mana saat diminum. Dilipat empat agar agak tebal, sehingga ceceran kopi di pisin mantap meresap.
 
Tadi saya sebut bahwa Atim cepat belajar dengan mengamati, bukan? Nah, di hari kedua membuatkan kopi untuk ayah, dia langsung menyelipkan tisu di tempat yang sama. Dilipat empat juga. Tapi, dilakukannya sebelum kopi diseduh dengan air yang kebanyakan itu. Akibatnya, sesampainya kopi di hadapan Ayah, tisu tersebut sudah menjadi basah kuyub tersiram tumpahan kopi. Tanpa protes, Ayah yang pragmatis mengganti saja tisu-nya. Sambil berkomentar yang lucu-lucu.
 
"Mungkin dia pikir tisu harus ada sebagai syarat aja. Nggak paham maksudnya. Yang penting kasih tisu. Nggak apa-apa deh," demikian salah satu komentar Ayah sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.
 
Ayah memang suka membawa segala hal jadi lucu. Sambil menciptakan istilah-istilah baru yang tak kalah kocaknya dari situasi dan kondidi yang ada. Kali ini, terciptalah istilah 'kopi atim'. Maksudnya adalah, kopi dengan tumpahan akibat luber. Persis seperti kopi bikinan Atim. Meski kejadiannya berlangsung bisa di mana saja dan kapan saja.
 
“Kenapa nggak kasih tau dia saja?” seorang teman pernah bertanya. “Biar dia belajar juga, kan”.
 
Nah! Tak semudah itu. Sudah berkali-kali sebenarnya Ibu memberi tahu Atim, agar air seduhan dikurangi. Supaya tak jadi luber. Dengan keras kepala, tetap saja dia lakukan dengan caranya. Ibu jadi semakin sering sebal.
 
Atim tidak terlalu lama kerja di rumah kami. Pada suatu hari, ketika Ibu memanggil Atim yang sedang santai di kamarnya, untuk menyerahkan gaji bulanan, ia pamitan.
 
"Begini, Bu, ada yang hendak saya bicarakan," katanya santai sambil mengisap rokok di tangan kirinya.
 
Tangan kanannya mengelus-elus bagian belakang kepalanya, dengan siku yang menempel di tembok. Berdiri dengan satu kaki menyilang di depan kaki yang lain. Dipandangnya Ibu dengan, mungkin bisa saya katakan, angkuh. Bisa jadi karena dia sudah kesal tak tertahankan karena sering dimarahi Ibu. Atau, itu mungkin upayanya dalam  memberanikan diri karena dia pikir jangan-jangan Ibu akan marah. Entah juga...
 
"Ada apa, ya?" tanya Ibu dengan agak sebal sambil melipat kedua tangan di dada.
 
"Besok saya mau pulang," katanya tegas.
 
"Oh? Berapa lama?" Ibu bertanya kaget.
 
"Saya nggak akan kembali. Benaran, saya pulang buat nggak balik lagi," ujarnya lagi.
 
"Oh, ya sudah, makasih ya," kata Ibu sambil berjalan ke ruang depan.
 
Ibu pergi ke depan, Atim beranjak ke kamarnya. Saya yang menyaksikan pembicaraan itu, bengong di tempat yang sama. Rasanya seperti baru melihat kilasan panggung Srimulat. Absurd tak jelas. Kepergian Atim ditanggapi ibu dengan hati yang terbelah. Separo lega, separuh jengkel.
 
Meski hanya sebentar bekerja di rumah, cukup tebal tinta yang ditorehkan Atim di sejarah rumah tangga keluarga kami. Berkat dia, kosa kata keluarga kami bertambah dengan istilah Kopi Atim.
 
Istilah yang terus kami pakai bahkan bertahun-tahun setelah Atim berlalu. Sampai sekarang, saya sendiri kadang masih suka memakainya. Barangkali, semua sekandung saya juga begitu. Kalau bertemu, akan saya tanyakan ah…   =^.^=