Pelayan Surga

Pelayan Surga

"Ayah ibu yang kuat ya!, ini semua dari Allah. semua ada karena Allah cinta sama kita. jangan bersedih. adik ada di sini bersama kalian"

----------------------------------------------------------------------

Angin berhembus menyentuh wajah ayunya sore ini. Seperti biasa, ia selalu membuat mata Wahyu tak pernah lepas sedetikpun. Bahkan, tepukan keras Toni dipundak Wahyu tidak menyulutkan pandangan terhadap gadis yang ada di bawah pohon.

"woiiii, woiiiii, ngelamuuunn" ujar Toni keras.

Belasan pasang mata melihat mereka berdua dan terbahak. Termasuk gadis berambut panjang, yang sejak lama menghipnotis Wahyu. Suci namanya, seorang gadis fakultas ilmu administrasi yang cukup terpandang dimata para mahasiswa kampus tersebut.

Kemeja yang casual, selalu bergelayut manja dipundaknya. Lengan yang ditekuk dibawah siku membuatnya semakin fashionable diantara teman-teman wanita yang lain. Terlebih dengan kalimat yang bersahabat selalu terucap dalam bibir merahnya. Tidak hanya kepada teman disekitar Suci, tapi juga kepada Wahyu yang baru dikenalnya.

Wahyu tidak sadar, bahwa saat ini ia sudah berjarak hanya satu meter dengan Suci. ini semua gara-gara Toni, yang menarik legan Wahyu mendekat kepada gerombolan bidadari di bawah pohon.

"Halo suci, kenalkan ini temanku Wahyu, dari tadi ngliatin kamu terus. hahahaa" Tawa toni menghenyak banyak orang disekitar, dilanjut dengan senyum ringan Suci dan kedua teman yang lain.

"Eh, eh, eh..." Wahyu tergagap, ia tak sanggup berkata kata.

Bidadari yang selama ini ia kagumi ada di depan mata. Kulitnya yang mampu membuat nyamuk terpeleset terlihat jelas. Degup jantung semakin seperti dikejar anjing gila. Ya, anjing gila yang terinveksi virus corona. Seperti kebanyakan orang yang tersebar di 64 negara. Kini, virus itu sepertinya sudah melambai-lambai di depan Wahyu. Berterbangan seperti hantu casper melingkari jasad Wahyu. Buktinya, ia tidak bisa menyanggah tubuhnya sendiri.

"Aku...wah..wah..wahyu..."

"Ia, tahu, tadi Toni sudah bilang. hehee" 

Jalannya sempoyongan, Ia tak lagi kuat berjalan kembali menuju kelas. harus dibopong oleh Toni yang tawanya semakin keras. Belasan mata memandang penuh tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Wahyu seperti itu. Seperti zombi dalam film Resident Evil, yang tentu persis terinveksi corona. Perbedaanya hati Wahyu tetiba berlukiskan bunga-bunga. Keduanya melenggang menjahui Suci dan teman-temannya yang sepertinya masih asik dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

Sebuah momen yang begitu menegangkan, menyenangkan sekaligus memalukan. namun, menjadi titik balik seorang Wahyu. Ia menjadi punya arah hidup, visinya terbentuk secara tiba-tiba, hingga ia menyusun masa depan dengan langkah-langkah konkret. semacam main maiping untuk sepanjang hayat. Hanya bersama satu wanita, dialah Suci.

Terbukti. apa yang ia lakukan berhasil secara bertahap. seperti pembicara di seminar-seminar.

"susunlah impianmu diatas kertas, dan tunggulah saat itu kertas akan terbuang, karena semua mimpimu sudah tercapai"

Suci, adalah mimpi terbesar Wahyu. Ia bahagia berdua. Merasakan panas dinginnya kehidupan. Saling support dalam segala hal. Saling berbagi setiap waktu. Terutama dalam satu tahun terakhir, Andika putra satu-satunya, kini mengidap kanker getah bening yang ada di usus. 

"Ayah ibu yang kuat ya!, ini semua dari Allah. semua ada karena Allah cinta sama kita. jangan bersedih. aku ada di sini bersama kalian"

Ia yang sakit malah menguatkan yang sehat. 

"Besok andika mau bagikan buku-buku ke sekolah andika dan tempat mengaji, biar nanti kalau teman-teman andika baca buku, mereka akan ingat sama andika"

Tangis kedua orang tuanya semakin pecah. Andika adalah anak semata wayang Wahyu dan Suci. Ia hadir di dunia setelah 10 tahun pernikahan. Kini terbaring lemah, meski ia masih merasa kuat dan sehat.

 

"Andika kuat ya, andika hebat, andika anak soleh" 

Suci tak kuat lagi. Ia harus menyandar pada tubuh Wahyu. Melihat jasad anaknya sudah diantar menuju tempat terbaik.

"yang kuat.." bisik Wahyu ditelinga istrinya

"Andika, tak lagi sakit. Ia sudah bahagia"

"Nanti, diakhirat ia akan berlarian mencarimu. Anak yang belum baligh akan menjadi wildan. Ia akan menjadi pelayan surga. Setelah bertemu denganmu, Ia akan menuntunmu masuk kepada JannahNya, semetara orang yang lain akan bertaburan mencari perlindungan"

 

(di dedikasikan untuk Alqa. Wafat 11 maret 2020)