[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung - Epilog (Tamat)

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung - Epilog (Tamat)

 

Epilog

 

 

Pinasti menutup album foto besar yang ada di pangkuannya. Tangannya kemudian merengkuh dua orang anak perempuan yang duduk di sisi kanan dan kirinya. Satu berusia sepuluh tahun, satu lagi berusia tujuh tahun.

 

“Nah, begitulah kisah bahagia Bude Alma dan Pakde Kresna,” ucapnya lembut.

 

“Ah..., seperti dongeng peri yang biasa Ibu bacakan untuk kami,” ucap Arin, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun, dengan mata dipenuhi binar.

 

“Aku suka sekali kisah ini, Bu,” timpal Ralle, gadis kecil yang lebih muda.

 

“Ibu sendiri juga sangat menyukainya.” Senyum di bibir Pinasti melebar.

 

Bersamaan dengan itu, terdengar suara mobil yang menderum masuk ke dalam garasi. Kedua gadis kecil itu segera meloncat dari sofa sambil berteriak, “Ayah pulang!”

 

Senja sudah menggelap sempurna. Kedua gadis kecil itu sudah tak sabar lagi menunggu kedatangan ayah mereka. Sang ayah harus menyelesaikan beberapa pekerjaan hari ini, hingga pulang agak terlambat.

 

Laki-laki itu tertawa lebar ketika mengunci pintu mobil dan mendapati dua orang bidadari kecilnya sudah datang menyerbu dengan wajah ceria. Diberinya masing-masing satu kecupan hangat di kening, dan... satu mahkota bunga di puncak kepala. Kedua gadis kecil itu pun bersorak gembira dan kembali ke dalam.

 

Setelah itu, giliran sang ibu mendapatkan tanda cinta. Tiga kecupan mesra di kening dan kedua pipi, juga sebuah mahkota bunga di puncak kepala.

 

“Terima kasih, Yah,” bisiknya dengan kehangatan bersemburat di wajahnya.

 

“Bagaimana kantor hari ini?” tanya Alto sembari menggandeng Pinasti, masuk ke dalam.

 

“Baik,” angguk Pinasti. “Mas Kresna sudah deal dengan customer dari Belanda yang tempo hari aku ceritakan. Jadi kami harus menyiapkan shipping enam kontainer mebel bambu per triwulan, mulai akhir bulan depan. Belum lagi Kanada minta tambahan pasokan mebel rotan. Sibuk!”

 

Alto mengangguk-angguk.

 

“Ayah!” seru Ralle tiba-tiba. “Habis ini cepat mandinya! Kakak dan aku sudah lapar.”

 

Alto tertawa mendengar seruan itu.

 

“Iya, Ayah,” dukung Arin. “Tadi dapat kiriman tumis pakis dari Bude Alma. Aku sudah ngiler sekali!”

 

“Oke! Oke!” Alto pun buru-buru menyelinap ke kamar mandi di dalam kamarnya dan Pinasti.

 

Seusai mandi, Alto bergabung dengan keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan. Segera saja kehangatan makin menyelimuti ruangan itu. Apalagi ketika Pinasti menyampaikan kabar kejutan di tengah acara makan malam bersama mereka.

 

“Mm.... Tadi Ibu dapat kabar dari Paman Saijan, Yah,” ucap Pinasti dengan mata berbinar. “Kita dapat undangan dari Bawono Kinayung untuk berkunjung bulan depan, saat anak-anak libur sekolah. Bagaimana?”

 

“Wah!” Alto mengangkat alisnya. “Kita harus sisihkan waktu untuk itu, Bu!”

 

“Bawono Kinayung, Bu?” Arin menyeletuk, dengan mata terbelalak.

 

“Ibu sudah cerita pada mereka?” Alto menatap Pinasti.

 

Perempuan itu yang masih mengenakan mahkota bunga di kepalanya itu mengangguk.

 

“Itu tempat yang tadi Ibu ceritakan, bukan?” Ralle ikut menyahut.

 

Pinasti kembali mengangguk. Kedua gadis kecil itu bersorak gembira. Keduanya kemudian berceloteh tentang ‘betapa indahnya Bawono Kinayung yang tadi sudah diceritakan Ibu!’.

 

“Tahu, tidak, Ibu dan Ayah juga punya kisah indah tentang Bawono Kinayung,” bisik Alto dengan nada penuh rahasia.

 

“Bagaimana ceritanya, Ayah?!” seru Ralle.

 

“Iya, Ayah, ayo, cerita!” Arin pun menatap dengan mata dipenuhi pendar bintang.

 

“Nanti,” ucap Alto tegas. “Kita habiskan dulu makan malam kita.”

 

“Setelah itu?” kejar Arin.

 

Alto mengedipkan sebelah mata sambil tersenyum lebar. Kedua gadis kecil itu memahami isyarat sang ayah. Keduanya kemudian makan dengan lahap. Tak sabar menunggu waktu bercerita tiba.

 

Setelah makan, Alto pindah duduk ke sofa ruang tengah. Kedua gadis kecil kesayangannya membuntuti dengan setia. Didudukkannya Arin di sisi kanan, dan Ralle di sisi kiri. Hening sejenak, sebelum suara Alto menggema dengan nada lembut.

 

“Jadi, begini ceritanya....”

 

 

* * * * *

 

S.E.L.E.S.A.I

 

 

Cerbung ini sudah pernah diterbitkan sebelumnya di blog FiksiLizz.

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)