NAWANG WULAN

NAWANG WULAN

Masih tergambar jelas dalam memoriku di suatu sore yang kurasa adalah sore tersibuk di hari itu. Lamat-lamat terdengar suara yang tertangkap oleh indra pendengarku begitu merdu. Seseorang sedang mengetuk pintu yang setengah terbuka dan aku bergegas menghampirinya.

 

"Permisi bu, nama saya Nawang Wulan. Saya dikirim ke sini untuk membantu ibu."

 

Sepersekian detik aku terpana menatapnya. Dunia seolah berhenti berputar pada satu sosok mungil yang teramat manis. Ia kembali menyunggingkan senyum. Aku terpaku pada sorot matanya. Ia seperti menyimpan banyak cerita didalam tatapan teduh nan syahdu tapi aku juga melihat ada sebentuk luka di sana.

 

"Nawang...," desisku. Entah mengapa aku tiba-tiba suka nama itu, bukan karena salah satu cerita rakyat yang tokoh utama wanitanya bernama Nawang Wulan tetapi entahlah ada sesuatu yang sulit aku lukiskan dengan kata-kata.

 

"Nawang, masuklah dan mari kita berbicara di dalam saja," ujarku sambil menuntunnya masuk. Nawang mengikuti langkahku dari belakang. 

 

"Nawang, pekerjaan ini tidak mudah apalagi bagi seseorang yang belum pernah berurusan dengan keperluan anak-anak. Ya Nawang, anak-anak bisa begitu membuat kita bahagia tetapi adakalanya emosi kita bisa terkuras habis untuk menghadapi seribu macam tingkah polah mereka. Kamu akan mengurusi anak orang lain. Anak-anak yang tak bertalian darah denganmu." Demikian penjelasanku panjang lebar pada Nawangku.

 

Ahhh Nawangku, dalam hati aku langsung melafalkan namanya dengan sebutan Nawangku. Nawang Wulan...

 

"Iya bu, saya mengerti. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik," jawabnya diikuti seulas senyum yang malu-malu.

 

Dan sejak hari itu Nawang Wulan bekerjasama denganku. Aku melihatnya begitu cekatan dengan pekerjaan yang dilakukannya. Aku tidak pernah melihatnya bertindak kasar atau menaikkan volume suaranya ketika berhadapan dengan anak-anak. Nawang juga tidak pernah mengeluh sebanyak apapun pekerjaan yang dilakukannya. Ia bahkan selalu berusaha tersenyum manis kepada anak-anak. Hatiku sungguh tersentuh dengan ketulusannya. Di dunia ini tidak banyak orang yang memberikan hatinya dengan iklas untuk melayani anak-anak dan dari sekian orang yang sedikit itu salah satunya adalah Nawang.

 

Suatu ketika, aku dan keluargaku menghabiskan liburan keluar kota selama kurang lebih dua minggu dan selama itu pula aku menitipkan tugasku sementara kepada Nawang. Aku menitipkan administrasi keuangan kepadanya. Bagi orang lain butuh waktu untuk mempercayai keuangan kepada orang lain demikian pula denganku tetapi hatiku yakin bahwa Nawang seorang yang jujur. Dengan kepercayaan penuh aku menitipkannya pada Nawang. Gadis itu memiliki aura yang membuat orang lain mudah untuk mempercayainya. Dan benar saja, sekembalinya dari luar kota aku mendapatkan tidak ada kejanggalan pada laporan keuangan. Sehingga setiap kali aku ke luar kota, aku tidak pernah ragu menitipkan administrasi keuangan pada Nawangku.

 

Suatu hari aku mendapati Nawangku sedang menangis, kudekati dia dan kupeluk tubuh mungilnya serta membelai rambut panjang sebahunya untuk memberi rasa nyaman padanya. Aku ingin dia tahu bahwa ia boleh menceritakan apa saja kepadaku. 

 

Orangtua kandung Nawang tinggal di desa yang amat jauh. Aku juga pernah merantau itu sebabnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya berada jauh dari orangtua tercinta dan di kotaku Nawang tinggal di rumah kost khusus putri.

 

"Bu, saya pernah tinggal dengan orang lain dan dididik dengan keras tapi saya tidak pernah diperlakukan seperti saat ini," ujar Nawang dengan uraian airmata. 

 

Ia kemudian menceritakan semua yang dialaminya. Hatiku seperti teriris sembilu mendengar penuturannya. Nawang tidak dilahirkan dari rahimku tetapi ia sudah kuanggap seperti darah dagingku sendiri. 

 

Yang aku kagumi dari gadis mungilku itu, dia begitu tegar dan bertekad akan melanjutkan pendidikannya demi masa depan yang lebih baik. Aku hanya bisa menasehatinya untuk lebih bersabar lagi dalam menghadapi persoalan meski aku sendiri bukan tipikal penyabar. 

 

Hari yang membahagiakan itupun tiba, Nawangku berhasil menyelesaikan program S1. Aku tahu Nawang tak akan selamanya ada bersamaku. Di lain waktu dia akan pergi jauh untuk menggapai cita-citanya yang lain. Saat itu tiba aku harus sudah bisa mempersiapkan hati untuk tinggal berbeda kota darinya. 

 

Kini aku mengerti mengapa Tuhan menghadirkan Nawang sejenak dalam hidupku. Belasan tahun yang lalu aku pernah kehilangan calon janinku. Hal ini membuatku dan suami merasa sedih meski beberapa bulan kemudian aku berhasil untuk mengandung lagi dan lahir dengan selamat dan sehat begitu pula dengan adik-adiknya yang lahir kemudian tetapi ada kerinduan yang amat sangat dengan yang pernah gugur. Konon kabarnya janin yang gugur akan tetap bertumbuh di alamnya sana. Kemudian aku berdoa agar Tuhan berkenan mempertemukanku dengan janinku yang gugur itu. 

 

Suatu malam aku memang bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil berambut panjang, lurus sepinggang. Parasnya sangat cantik, wajahnya bercahaya. Ia menggunakan gaun renda khas anak-anak. Kami seperti berada di taman. kami bermain kejar-kejaran mengelilingi sebuah bangku panjang tetapi aku tidak bisa menangkapnya. Ia tertawa begitu renyah dengan lesung yang menghias kedua pipinya.

 

"Sini nak, mama peluk," pintaku sambil mengembangkan kedua tangan berharap gadis kecil itu berlari ke arahku dan menyambut pelukanku. Ia menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum manis lalu memutar tubuh berlari ke arah sinar matahari pagi dan menjauhiku. Aku mengejarnya tetapi kemudian ia menghilang bersamaan dengan munculnya kemilau cahaya matahari.

 

Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru mata angin tetapi gadis kecil itu tidak ada yang tersisa hanya bangku panjang tempat kami bermain kejar-kejaran lalu aku terbangun dari mimpi yang indah itu.

 

Hanya sekali itu aku memimpikannya sampai ketika Nawang Wulan hadir, ia menggetarkan hatiku. Aku merasa Tuhan sedang mengobati rinduku dengan caraNya. Tuhan ingin aku mengerti bahwa janinku yang gugur itu berada dalam asuhan para malaikat dan berada di tempat yang paling damai maka Ia mengirimkan bidadari mungil lainnya agar aku lebih memperhatikan sesamaku.  

 

Nawang Wulan...

 

Terimakasih Tuhan karena Engkau menghadirkannya dalam hidupku. Aku tahu Nawang bukan milikku, dia milik kedua orangtuanya tetapi aku tetap bersyukur untuk cinta yang Tuhan letakkan pada dasar hatiku untuknya.

 

 

Catatan cinta untuk ananda....