MEMILIH AYAH

MEMILIH AYAH
Pick by google

MEMILIH AYAH
by. Agustina Kumala (The Writers Batch.3)

"Hidup ini sekarang menjadi milik kita, sayang." Itulah kata yang kuucapkan kepada diri sendiri dan kepadanya ketika memutuskan menjadi ibu tunggal untuknya.

Sungguh tak mudah menjalani hidup sebagai wanita single. Terlebih single serupa posisiku.  Sendiri bukan karena bercerai atau karena suami meninggal lebih dulu, bukan. Aku single original, bukan janda.

Sebagai single, aku sudah kenyang dengan pertanyaan menyudutkan kapan menikah? juga penghakiman orang lain atas diriku yang menurut mereka pemilih atau ketinggian dalam menetapkan kriteria calon suami. Terkadang aku bahkan sampai muak menerima simpati yang menyimpan cibiran atau peduli yang berbalut hinaan.

Apakah garis hidupku ini karena nasib atau pilihan? Entahlah. Intinya aku belum pernah menikah. Lagi pula, berada di usia ini membuatku nyaris tak memikirkan tentang pernikahan dan segala tetek bengeknya.

Jika di sebut nasib, berarti aku memang ditakdirkan melajang selamanya. Jika di sebut pilihan, aku juga tak menampiknya. Karena bagaimanapun juga inilah pilihanku. Bagiku, tak ada pilihan terbaik selain menjomlo, setelah berulang kali menjalani kisah cinta yang berakhir kandas tanpa muara.

Terkadang aku membatin, sebenarnya siapa yang pemilih? mereka para lelaki yang sempat dekat denganku atau orang tua mereka yang nyaris menjadi mertuaku atau diriku sendiri. Ah, lupakan. 

Hari ini adalah hari istimewa karena usiaku genap empat puluh tahun. Maka sebagai kado pada diri sendiri, kuputuskan untuk mengadopsi seorang gadis kecil berusia lima tahun yang cantik bernama Tania. Kuncir kuda dan mata sipitnya menarik perhatianku di perjumpaan pertama. Awalnya dia malu-malu ketika kudekati, namun tak lama kemudian, si kecil itu pun dengan sukarela mengiyakan ketika kuajak pulang ke rumah, antusias menggandeng jemariku manja, bahkan juga tanpa beban saat kuminta memanggilku mama. Sungguh hari yang sempurna.

Aku bahagia. Dia juga sepertinya lebih bahagia. Dia terlihat lega keluar dari panti asuhan. Aku jauh lebih lega terbebas dari bayangan bakal menua sendirian.

Semua berjalan lancar, indah dan menyenangkan. Sebab tentu saja, aku memiliki segalanya untuk membahagiakannya. Apapun yang dia minta aku turuti. Apapun yang dia mau, aku sanggupi. Kuhujani dia dengan cinta bertubi.

"Mama, ada undangan dari sekolah." Katanya padaku suatu hari sambil menyodorkan undangan biru muda bertabur bintang berwarna putih.

Aku mengernyitkan dahi. Seingatku tidak ada pemberitahuan maupun obrolan khusus yang membahas mengenai acara sekolah di grup whatsapp wali murid baru-baru ini.

Tania bergegas menghampiriku setelah membuka sepatu dan mengganti seragam merah putihnya. Dia menyusul naik sofa yang kududuki, mengambil posisi tepat disampingku dan memasang wajah imut menyiratkan rasa ingin tahu yang menggebu.

Undangan hari ayah. Dengan tema Ayahku Pahlawanku. Di sana tertulis setiap anak harus mengajak ayah mereka untuk menghadirinya.

Deg. Jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku menatapnya. Melihat undangan. Menatapnya lagi yang sedang tersenyum manis. Kembali melihat undangan. Begitu terus berulang kali sementara jantungku belum berdamai dengan degup kencang yang bertalu dan kebas menjalari seluruh tubuh.

"Apa isinya, Mama?"

Aku tak tahu harus menjawab apa.

Ayah?

Artinya suamiku, begitu kah? hmm.

Aduh. Kenapa harus ada acara seperti ini di sekolahnya. Membuat hidupku yang tenang berdua bersamanya menjadi terusik kembali.

Suami?

"Argh," Kupijat pelan pelipisku. Pusing tujuh keliling.

"Mama? Apa Mama baik-baik saja?" tanya Tania.

Aku hanya menatapnya gamang tanpa ekspresi. 

"Wah, undangan hari Ayah ya, Ma." 

Aku mengangguk lemah begitu kulihat matanya sendu.

Bagaimana menjelaskan padanya kalau dia hanya punya aku? Apakah dia mengerti kalau tidak memiliki ayah? pahamkah dia jika aku tak pernah menikah? yang itu berarti aku tak memiliki suami. Haruskah aku mencari ayah untuknya?

"Hm, Mama, apakah aku boleh memilih Ayah?"

"Heh? Coba ulangi sayang."

"Memilih ayah, Ma." Jawabnya polos.

Ya salam. Dia pikir seorang ayah bisa dipilih seenak udelnya. Aku mengulum senyum.

"Ma, aku mau Ayahku baik seperti Ayahnya Reni. Juga ganteng seperti Ayahnya Dio. Ramah seperti Ayahnya Dona. Suka menolong seperi Ayahnya Rasti. Murah senyum seperti Ayahnya Mike, " cercanya berapi-api.

Aku diam. Nyengir sekaligus merasa mengenaskan demi mendengar kriteria ayah yang anakku ungkapkan. Mau mencari di mana jika yang dimaui seperti itu.

"Masih ada lagi, Ma. Aku ingin Ayah mengantarku ke sekolah, menggandeng tanganku penuh sayang, melambaikan tangan padaku saat aku mencapai gerbang. Selalu ada untukku kapanpun aku butuhkan." 

Pandanganku semakin berkunang-kunang. 

***

Seminggu ini, berhari-hari  tidurku tak nyenyak. Aku lebih banyak merenung. Acara sekolah Tania yang mengharuskan membawa ayah para siswa semakin dekat sementara aku belum menemukan solusi yang tepat. 

Beberapa hari ini kuperhatikan Tania juga lebih banyak diam dan cenderung menghindariku. Tiap makan bersama atau saat menonton televisi di ruang keluarga, kami nyaris tak pernah membahas soal acara itu lagi. Meski begitu, aku tentu tak berharap Tania melupakannya.

Ah, tentu saja Tania tak akan lupa. Barangkali dia juga sama galaunya denganku. Terkadang diam-diam kuperhatikan geriknya. Terkadang pula kutunggu apa yang akan terucap dari bibir mungilnya. Tapi rupanya tak ada, malah membuatku semakin merana, bingung harus melakukan apa.

***

"Ma, aku sudah memilih Ayah." Kata anakku sehari sebelum hari ayah tiba.

"Hm?" Mataku membelalak penuh curiga. Aku khawatir dia mencomot ayahnya orang.

"Iya, Mama. Aku sudah memilih Ayah. Jadi Mama tenang saja. Besok, Ayah pilihanku akan ke sekolah menghadiri undangan itu. Mama tak perlu khawatir, ya Ma. Hanya tunggu saja." Matanya berbinar bahagia sementara tangannya menggelayut lenganku manja.

Aku nelangsa. Semua hal yang aku miliki, yang kupikir sudah sempurna. Ternyata hanya fatamorgana. Ayah, Tania butuh sosok ayah yang nyata.

***
Di sekolah, ketika tiba giliran Tania untuk memperkenalkan Ayahnya.

"Terimakasih Mama, karena telah memilihku menjadi bagian dari hidup Mama. Maafkan aku Mama, sebab telah membuat Mama berhari-hari sedih karena  mendengar kriteria Ayah yang kuinginkan. Hari ini, Mama. Inilah Ayah pilihanku." Katanya dengan mata lurus menatapku dan senyum yang tak pudar menghiasi wajahnya.

"Ayah pilihanku yang pertama adalah Opa," ucap Tania berapi. Sementara Aku menutup mulut saat ayahku sendiri yang maju ke depan. Aku duduk di kursi deretan paling depan. Tak memperhatikan kalau ada ayahku di ruangan ini.

"Opa baik, ramah, suka menolong, menyayangi Tania sebagai cucunya. Opa selalu mengajarkan kebaikan pada Tania dan selalu siap sedia untuk Tania." lanjutnya.

"Terima kasih, Opa." Tania memandang ayahku dengan mata berbinar.

"Ayah pilihanku yang kedua adalah Papa Rendy yang murah senyum serta tak membeda-bedakan aku dengan anak-anak kandungnya."

Kulihat kakak lelakiku maju ke depan. Ya Tuhan, aku bahkan juga tak memperhatikan jika ada Kak Rendy di sini.

"Terima kasih, Om Rendy. Telah hadir dalam hidup Tania." Kata Tania diiringi senyum tulusnya.

"Ayah pilihanku yang ketiga adalah Om Rico, yang ganteng, selalu sedia mengantarku ke sekolah kalau Mama sibuk. Om Rico juga selalu menggandengku serta melambaikan tangan begitu aku memasuki gerbang."

Aku celingukan mencari sosok adik lelakiku yang berjalan maju ke depan sambil menggigit bibir menahan tangis.

"Opa, Papa Rendy, Om Rico, adalah para Ayah pilihanku yang terhebat. mereka adalah pahlawanku. Terima kasih, telah menerimaku dengan tulus menjadi anggota keluarga."

Aku menghambur ke arah anakku. Anak yang empat tahun ini kuhujani cinta sederhana, balas menderasiku cinta istimewa berkali lipat jumlahnya.

-kumala-