Watashinoie (Bagian Akhir)

Watashinoie (Bagian Akhir)

Siang ini Amalia menerima paket besar dengan bungkus kado yang cantik sekali. Dengan bingung ia membaca pengirimnya, RIZALDI EFRANZA - OSAKA, JEPANG. Senyum langsung mengembang, dan tanpa sadar didekapnya bingkisan cantik itu. Dengan perlahan seolah takut merusak kertas kado pembungusnya dibukanya bingkisan paket itu.

Setelah pembungkus terbuka semua didapatinya sebuah kotak cantik terbuat dari kayu yang sangat khas negeri Jepang. Melihat kotak itu saja Lia sangat senang, lalu dibukanya kotak itu dan di dalamnya terdapat lipatan rapi kimono berwarna kuning cerah dengan motif bunga sakura kecil berwarna pink, dirabanya kimono itu, yang terasa sangat halus khas kain sutra.

Amalia menariknya hingga terbuka sempurna. Betapa takjubnya Amalia melihat kimono yang sangat cantik lengkap dengan obi yaitu sabuk besar berwarna orange cerah, serta kipas cantik sebagai aksesori pelengkap. Ada amplop cantik khas jepang yang terselip di dalamnya.

Segera dia buka dan dibacanya sebuah kertas kecil bermotif bunga sakura cerah yang bertulis, "Furisode, untuk dosen muda. Kalau di Jepang, furisode ini jenis kimono untuk wanita muda yang belum menikah. Ini pakaian formal dengan ciri khas lengan yang panjang menjuntai, biasanya dipakai untuk menghadiri resepsi, acara wisuda, perjamuan minum teh resmi, tapi boleh kok dipakai sesekali waktu mengajar ke kampus. Saya yakin, kamu pasti tambah cantik seperti wanita Jepang."  

Tak tahan, diambilnya ponsel lalu difotonya bingkisan yang baru saja diterimanya.

Dokter, kimononya sudah sampai, Lia suka :3

Ting. Pesan balasan didapatnya begitu cepat.

Dokter Rizal

Alhamdulillah, mana foto yang lagi pakai kimono?

Lia terkekeh kecil dan segera mengetikkan balasan.

Harus ya?

Dokter Rizal

Iyalah biar keliatan seperti cewek Jepang, haha.

 

Pokoknya Lia suka sekali, warnanya juga suka Dokter pintar pilih motif, terima kasih ya, Dok!

Dokter Rizal

Senang mendengar kalau Lia suka.

Jaga Ibu, ya?

Pesan itu membuatnya menyadari bahwa dokter Rizal masih sangat perduli dengan kondisi ibu. Perlahan pula disadarinya bahwa ia mulai bisa menghapus bayangan Danu yang masih hinggap di benaknya.

Insyaallah selalu, Dok.

September ini Lia wisuda semoga dokter sudah di Indonesia :p

Gadis itu bahkan tak mengerti mengapa ia menuliskan pesan seperti itu.

Dokter Rizal

September?

Waah, saya harus segera selesaikan semuanya biar bisa melihat Lia wisuda!

Traktir ya, Dok?

Hehe :D

Dokter Rizal

Lho, sekarang semua terbalik ya?

Yang wisuda yang ditraktir?

Haha! 'kan dokter bosnya!

Dokter Rizal

Ok, siap!

Kalau mau, nasi goreng bisa kita borong sama grobaknya sekalian

Obrolan malam ini sangat membuatnya lupa pada kesedihan, lupa pada air mata, dan meluap sudah rasa sepi. Amalia merasa memiliki kakak tempat dia berbagi cerita, bahwa mengharapkan seseorang yang tulus mendengarkannya berkeluh kesah adalah sesuatu yabg sudah di kubur dalam-dalam. Tak ada yang berlebihan dari obrolan ini, tetapi hal itu mampu memberi semangat dan energi baru.

Tak terasa 3 bulan yang sangat berat Amalia berusaha melupakan sedihnya dengan bekerja bagai robot, terus bergerak, bekerja tanpa henti hingga tubuhnya benar-benar lelah, barulah ia istirahat. Itu pilihannya agar bisa melupakan kesedihannya. Namun ternyata, malam ini melalui chat sederhana dengan dokter Rizal, Lia menyadari bahwa bahagianya ternyata sederhana.

 

****

"Lia, jahitlah kebaya baru untuk acara wisudamu nanti, Nak," bujuk tante Karin. Sebab hingga detik akan wisuda tak pernah dilihatnya Amalia mempersiapkan diri layaknya orang yang menyambut hari istimewanya.

"Sudah Tante, Lia sudah punya kebaya yang akan dipakai," jawabnya singkat.

"Mana? Tante pengen lihat," desak tante.

Dengan sedikit berlari, Amalia masuk kedalam kamar ibu. Pelan-pelan dibukanya lemari pakaian ibu karena takut ibu terbangun. Dipilihnya kebaya broken white dengan potongan sederhana yang tergantung rapi dan terbungkus plastik. Sejenak dipandanginya kebaya itu, lalu dibukanya bungkus plastiknya, setelah terbuka diusapnya bagian depan kebaya itu, ditelitinya detail manik yang menghiasi kebaya model encim di tangannya itu. Lalu dibawanya keluar kamar guna ditunjukkan pada tante Karin.

Di hadapan tante Karin, dipegangnya kebaya itu persis di depan badannya dan Amalia berputar dua kali seolah memamerkan kebaya yang akan dia pakai di hari wisuda itu.

"Taraaaa, cantik 'kan, Tante? Lia mau pakai kebaya Ibu ini," ujarnya dengan tersenyum.

"Kenapa kau memilih kebaya jadul itu? Kalau kau tidak mau repot memilih, pakai saja kebaya Tante, di lemari masih banyak yang modelnya lebih modern," ujar tante Karin.

"Tidak! Lia mau pakai kebaya pernikahan Ibu. Dulu Lia masih berkhayal ingin menggunakan kebaya ini di saat pernikahan seperti Ibu. Tapi sekarang Lia ingin memakainya saat wisuda karena Lia sudah tidak ingin memikirkan pernikahan lagi, Tante. Lia tak ingin menikah, Lia ingin sendiri dan bahagia bersama Tante dan Ibu," ujar Lia dengan tatapan nanar, ada kesedihan dan putus asa yang terwakilkan oleh ucapannya. Hingga tante Karin yang mendengarnya langsung memeluknya.

"Kamu tak boleh sembrono, jangan mendahului kehendak Tuhan, Nak." Ucapan lirih penuh kesedihan itu mengiang di telinga Amalia.

"Tidak akan Lia tukar pernikahan dengan menyembunyikan kenyataan bahwa Ibu Lia sakit jiwa," ujarnya tetap dengan nada geram.

"Lelaki bukan hanya Danu, masih banyak lelaki yang mungkin mau menerimamu dengan Ibu serta Tantemu ini, jadi jangan pernah berburuk sangka pada Tuhan." Nasihat itu terasa bagai kemustahilan untuk hati Amalia yang sudah hancur.

Ting!

Tiba-tiba ponsel Amalia berbunyi, tanda pesan masuk. Segera dibukanya, ternyata pesan dari dokter Rizal gambar ekor pesawat tapi tanpa tulisan keterangan apapun.

Jadwal pulang ya, Dok?

Dokter Rizal

Iya, dong!

'Kan mau traktir nasi goreng.

Lia tanpa sadar memekik lirih. Jemarinya bergerak cepat mengetik di atas layar ponsel.

Horeee! Lia tunggu, Dok!

 

****

Pagi ini sangat heboh, dimulai dari mengurus ibu, mempersiapkan segala keperluan ibu dan menyulap ibu menjadi cantik dengan baju yang paling nyaman yaitu rok terusan berwarna merah marun, sanggul cepol sederhana, dan riasan yang sederhana pula. Semua sudah siap, ibu duduk manis di ruang tengah dengan kipas di tangannya sambil santai menyeruput teh hangat. Tak ada pertanyaan dari ibu, sesekali tersenyum karena Lia bercanda dengannya. Lalu Amalia mempersiapkan diri di kamar, mandi dan memakai kebaya serta kain dengan rapi tanpa bantuan siapapun, membuat sanggul cepol sederhana yang sama persis dengan ibu, memberi hiasan bunga melati hidup di sanggulnya.

Hiasan ini khusus dipesannya pada pengrajin bunga, hiasan itu berbentuk melingkar untuk dipasang di sanggul, yang dipesan kembar tiga dengan tante Karin. Hiasan wajah sederhana justru membuatnya tampak segar. Pulasan lipstik warna pink itu membuat wajahnya tampak cantik natural. Amalia tak perlu merias wajahnya berlebihan karena sejatinya dia sudah cantik dan anggun, bahkan bila ia tak berhias pun akan tampak sangat menawan. Tetapi ini adalah hari istimewanya.

Ia ingat semalam adalah momen yang sangat melegakan untuk hidupnya ke depan. Setelah bergulat dengan perasaan dan batinnya, akhirnya dia putuskan untuk menelepon dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya selama ini. Pertama dia mengabarkan pada dokter Rizal bahwa besok adalah hari wisudanya, awalnya dia bertanya apakah aman bila esok saat ibu mendampinginya prosesi di dalam gedung tidak diberi obat? Karena Amalia sangat ingin ibu melihatnya berjalan ke podium dengan toga, dan tak ingin ibu dalam kondisi tertidur, tetapi mengingat ibu yang selalu gelisah melihat keramaian dan juga tempat asing Amalia menjadi ragu. Tetapi menurut saran dokter Rizal, ibu tak akan mengamuk, mungkin hanya gelisah tetapi bila ada didampingi tante Karin maka ibu akan bisa terkendali.

Dokter Rizal menawarkan diri untuk mendampingi ibu dan Amalia di acara wisuda itu. Tentu saja Amalia sangat senang karena dokter Rizal sangat dikenalnya, bahkan sudah dianggap sebagai kakaknya, maka akan sangat aman bila ada dokter Rizal yang mendampingi ibu.

Yang kedua, Amalia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Dikuatkan hatinya untuk menekan deretan nomer telepon sambungan ke Singapura untuk menghubungi ayah, akhirnya untuk pertama kalinya anak dan ayah ini mengobrol setelah puluhan tahun tak pernah berbicara.

"Halo, selamat malam? Apakah ini rumah Bapak Burhan?" ujar Amalia gugup.

"Halo, iya benar, ini dengan siapa?" balas suara perempuan di seberang telepon, dan Amalia bisa memastikan itu suara istri ayahnya.

"Saya Amalia dari Indonesia, bisakah saya bicara dengan Ayah?" sahut Amalia lembut tanpa emosi.

"Oh, Amalia? Iya, sebentar saya panggilkan." Dari suara gugup wanita itu, sepertinya dia tahu dengan siapa dia berbicara.

Tak lama kemudian suara di seberang berganti dengan suara serak lelaki yang sangat dirindukannya, dengan gugup lelaki itu menyapanya.

"Halo, Lia? Nak? Ada apa? Apakah ini tentang Ibumu?" Terdengar suara serak dan berat yang sayup-sayup masih diingatnya.

"Bukan Ayah, Lia dan Ibu sehat. Terapi ada kemajuan dan dia sudah lebih aktif dan banyak mengingat hal baru. Lia menelepon ayah karena ingin mengabarkan bahwa besok pagi Lia wisuda. Alhamdulillah Lia sudah selesai kuliah. Lia sekarang jadi asisten dosen, dan Lia sangat rindu Ayah," diucapkannya semua itu dengan terbata-bata tersela derai air mata.

Di ujung telepon yang berjarak jutaan kilometer, lelaki itu duduk dengan gagang telepon di telinga dan derai air mata.

Entah apa yang dibayangkan bahwa anaknya yang dulu dia tinggalkan dengan istri yang sedang sakit kini mengabarkan bahwa dia sudah akan diwisuda. Tak pernah dia bayangkan, anaknya akan memberi kabar bahagia ini, sebab dulu dia cuma meminta untuk dikabari tentang berita duka bila istrinya meninggal dunia.

"Anakku, selamat  Ayah sangat bahagia mendengar suaramu. Ayah sangat rindu kalian, Nak. Tolong peluk Ibumu, sampaikan bahwa Ayah sangat merindukan kalian," ujar lelaki itu dengan berurai air mata. Maka tahulah Amalia bahwa ayah tak.pernah berubah, ayah selalu menyayangi mereka dengan cara yang lain. Setelah dewasa Amalia bisa memahami bagaimana beratnya tanggung jawab seorang ayah.

Bertekad memulai semua dengan lembaran baru, maka pagi ini diambilnya ponsel dan di fotonya dirinya menggunakan toga lalu dikirimnya ke nomer WhatsApp ayah. Tak lupa Lia meminta doa restu untuk kelancaran acara wisuda hari ini. Berdamailah dengan waktu, berdamailah dengan semuanya, ujarnya dalam hati.

Lalu dia melangkah keluar kamar, menuju ruang tengah karena didengarnya suara orang bercakap-cakap dengan selingan derai tawa.

"Naah 'kan, kau cantik sekali, Lia" ujar tante Karin terkejut melihat dandanan Lia yang luar biasa. Sontak ibu dan dokter Rizal yang ternyata sudah ada di ruang tengah menoleh ke arahnya.

"Nah, pengantin wanitanya sudah siap, kamu cantik sekali, Nak, dengan kebaya itu," ujar ibu sambil berdiri menyambutnya.

"Ibu, ini acara wisuda Lia, bukan acara pernikahan," sahut Lia menjelaskan pada ibu.

"Dulu Ibu juga seperti kamu, cantik mengenakan kebaya itu. Ayahmu juga gagah seperti Dokter Rizal, mengenakan jas dan kami menikah di rumah Kakek," sahut ibu sambil tersenyum.

Dokter Rizal mengangguk ke arah Lia, memberi tanda untuk menurut saja pada apa yang diucapkan ibu.

"Ibu, apakah Ibu memberi restu bila saya menikah dengan Amalia?" ujar dokter Rizal tiba-tiba yang sontak membuat Amalia dan tante Karin terkejut.

"Tentu setuju, ini 'kan acara pernikahan kalian?" sahut ibu polos.

Dokter Rizal dengan lembut mencium tangan ibu, lalu melangkah sambil memberikan bingkisan besar pada Amalia dan meminta untuk segera dibuka. Dengan gugup dan masih bengong, Amalia membuka bingkisan itu yang berisikan kotak kayu dengan ukiran khas Jepang yang hampir sama dengan kado beberapa bulan lalu dikirim dari Jepang.

Ternyata di dalamnya terdapat kimono cantik berbahan sutra dengan warna dasar hitam dan bergambar bunga sakura serta serta ornamen Jepang, terbius dengan suasana pagi ini serta kado kimono cantik maka Amalia membuka amplop yang terselip di dalamnya. Perlahan dibukanya dan dibacanya dalam hati tulisan "Kimono KUROTOMOSODE yang berarti kimono hitam dengan lengan yang dikencangkan, sebab dalam tradisi Jepang wanita harus mengencangkan lengan bajunya setelah menikah, kimono ini dipakai di acara resmi resepsi pernikahan tradisi Jepang"

"Kali ini saya tidak ingin melepaskanmu, hari ini saya datang mendampingi wisudamu bukan sebagai pengganti siapapun, tetapi murni dari hati ingin menjadi pendamping hidupmu," ujar dokter Rizal dengan lembut. Tangannya perlahan menggenggam tangan Amalia.

Gadis itu tak mampu menjawab, hanya anggukan kepala dan juga air mata bahagia.l yang mewakili segala perasaannya saat ini.

"Kenapa harus pagi ini? Aku sudah susah berhias akhirnya luntur juga karena air mata," ujar Amalia lugu.

Pelukan dokter Rizal membuatnya kuat melangkah menuju mobil, raut bahagia tak bisa ditepis bahwa mereka yang di dalam mobil seolah siap menjemput bahagia. Perbedaan umur lima belas tahun menyadarkan Lia bahwa usia hanyalah angka.

Dengan langkah anggun dan senyum bahagia Amalia melangkah saat namanya dipanggil untuk maju ke depan, dengan predikat cumlaude karena memiliki nilai tertinggi, serta masa tempuh kuliah tercepat makan dia diminta menjadi wakil wisudawan untuk memberikan sambutan dalam prosesi istimewa itu.

"Amalia Kartika Sarjana Sosial, putri dari Ibu Siti Nurhasanah. Lahir di Selong, 11 April 1980. Lulus dengan predikat Cumlaude dengan IPK 3.98!" Sayup-sayup terdengar MC mengumumkan dan disambut riuh tepuk tangan para tamu dan wisudawan di auditorium megah itu.

Amalia mengawali pidatonya dengan salam, mengucapkan terima kasihnya pada Tuhan yang memberinya kemudahan jalan, serta semua nama yang berpengaruh dalam hidupnya.

"..... Dan semua kebahagian saya hari ini saya persembahkan untuk wanita tegar penyemangat hidup saya, yang selalu menjadi tujuan saya hidup setiap hari, yang saya tahu tak pernah lelah berdoa untuk saya walaupun dengan kondisi jiwa yang sakit, tetapi Tuhan maha segalanya. Hari ini saya tahu Ibu bisa merasakan bahagia dan saya bisa merasakan bahwa Ibu bangga memiliki saya sebagai anaknya. Semua saya persembahkan untuk Ibu ...."

Berusaha keras untuk tidak menangis, Amalia berjuang menyelesaikan pidato sambutannya. Walau semua yang hadir di situ terdiam dan menangis, tanpa disangka dari bangku tempatnya duduk ibu berdiri sambil melambaikan tangan pada Amalia yang jauh berada di panggung podium dan dengan lambaian tangan pula Amalia membalasnya maka semua pandangan tertuju pada mereka berdua.

Hari yang tak akan pernah terlupakan. Amalia kini menyadari, Ibu adalah rumahnya yang abadi, meski hari ini sebuah rumah baru menantinya dengan tersenyum, berdiri di samping sang ibu.

 

-Tamat-