The Writers, Keluarga Digitalku

The Writers, Keluarga Digitalku

"Nanti ada keluarga dari Surabaya bakalan mampir," pesan WA dari suami.

"Itu abang atau oom?" responku. Aku memang selalu memastikan status keluarga dari suami, karena keluarganya banyak banget. Maksudku, supaya tidak salah pakai sapaan. Lagipula, antar keluarga dari masyarakat asal Indonesia bagian lebih timur, kayaknya ga bisa asal nyapa dengan pak, bu, apalagi pakai mbak, mas. Hehe.

Sejak kecil, kita diperkenalkan dengan konsep keluarga. Ada keluarga inti, yaitu ayah, ibu, dan anak. Ada Extended Family, atau keluarga besar, yang beranggotakan keluarga inti, plus saudara sedarah. Ada aa, teteh, kakek, nenek, .... Hahaha, jadi seperti iklan jadul!

Menurut wikipedia, keluarga besar ini seringnya mencakup tiga generasi, atau lebih. Nyambung banget sama budaya orang Indonesia yang menjaga kekerabatan. Contohnya, ada ikatan marga di Sumatera, trah kalo di Jawa, serta ada kesatuan rumah besar di masyarakat di Flores. Kalo dirunut, ikatan trah di Jawa bisa mencakup keluarga dalam lima keturunan, bahkan lebih jika punya sistem dokumentasi yang baik. Nah ....

Di acara-acara keluarga, sudah bisa dipastikan, kita punya kesempatan bertemu keluarga besar. Ketika ada lelayu, berita duka menyebar dan tanpa undangan pun keluarga berusaha berkumpul dan bertemu. Saling dukung, saling bantu, saling menyemangati.

Kecuali, ya sekarang ini. Pandemi memang sangat membatasi pertemuan fisik. Ini sedikit banyak mengubah perilaku kita. Kita berpikir sekian kali untuk bertemu dengan bahkan keluarga. Tidak bisa sesering dan sebanyak yang kita mau dan biasa lakukan dulu.

Jika dipikir, teknologi digital sangat membantu kehidupan kita. Tidak bisa bertemu langsung, kita bisa pakai Zoom, Google Meet, atau video call. Meskipun tidak bisa seratus persen menggantikan pertemuan fisik, tetapi lumayanlah. Daripada tidak bisa saling sapa dan bertemu sama sekali, kan?

Sebenarnya, sebelum pandemi, yang namanya teknologi digital ini sudah memengaruhi kehidupan kita. Ada yang berjodoh karena kenal lewat internet. Ada digital nomad yang sempat jadi tren dalam dunia kerja. Yang jelas, sudah sangat biasa kita mendapatkan teman dari dunia maya. Bahkan teman-teman yang asyik, yang nyambung, dan yang kemudian jadi keluarga.

Sekitar Juni 2019, aku ikut sebuah pelatihan menulis. Sebuah pelatihan yang, entah kenapa, berbuntut panjang. Usai pelatihan, eh ... janjian dengan beberapa temen sekelas bikin sebuah buku antologi. Eh, selesai satu buku, bersama teman alumni yang lain, bikin lagi buku. Trus, sang guru membuatkan sebuah website tempat memajang tulisan-tulisan. Selain itu, sudah tak terhitung lagi pertemuan via IG live, Zoom, FB live, serta Youtube live. Belum lagi ketika teman dan guru juga menulis buku, yang lain ramai-ramai jadi cheerleader alias penyemangat Trus .... Tak terasa, kami jadi sebuah keluarga!

The Writers, itu namanya. Nama pelatihannya. Nama websitenya. Nama semangatnya. Nama keluarganya. Jujur, aku hanya pernah bertemu langsung dengan tujuh orang saja dari mereka. Tetapi aku merasa dekat dengan semua.

Konsep keluarga besar konvensional mengandalkan ikatan darah sebagai pemersatunya. Keluarga The Writers mengandalkan creative attitude sebagai pengikatnya. Sebuah sikap yang berhasil ditanamkan di benak alumni pelatihan. Ajaibnya, ikatan itu juga menarik banyak orang menulis di The Writers, dan menjadikan mereka bagian yang tak terpisahkan.

Selamat Ulang Tahun ke-1 website The Writers. Terima kasih Om Bud, Kang Asep, Kak Dev, Mas Wicak dan semua teman di The Writers yang jadi keluarga digitalku.

Maaf, aku lupa persisnya tanggal berapa website dimulai, tetapi aku registrasi dan menulis di The Writers 31 Januari 2020, tepat setahun lalu.