CINTA LAMA

CINTA LAMA
pixabay

 

Alex menepis sisa puntung rokok yang tergeletak di jalan dengan ujung sepatu barunya. "Ah," keluhnya, sambil mengelap sepatunya lagi hingga mengilap. Dia memandang sekeliling. Sudah hampir pukul setengah tujuh malam, tetapi Toni masih belum kelihatan batang hidungnya. Lampu-lampu di depan rumah-rumah tetangga mulai menyala satu per satu. Dari kejauhan, tampak Neno, kucing tetangga berbulu belang kelabu, yang suka bertandang ke dapur mencari makanan sisa, berjalan berlenggak-lenggok dengan santai di depan rumah Bu Harun. Aroma martabak lezat dari gerobak yang berjualan di ujung jalan mulai menggelitik hidung Alex.  Mendadak perutnya jadi lapar.

 

"Alex! Sorii, macet!!" seru Toni dari mobilnya yang merapat ke trotoar. Alex buru-buru membuka pintu depan dan masuk.

"Telat nggak kita nih?" ujar Alex.

"Telat kalii, tapi nggak apa-apa lah, paling yang lain juga telat. Namanya juga Jakarta, hari gini lagi..." sahut Toni dengan enteng.

Toni melirik sahabatnya, "Jiee, dandan ni cuy... Biasanya kucel kayak cucian gue." godanya sambil tertawa kecil. Alex cuma tersenyum, tak menjawab, walau hatinya berdebar tak karuan.

 

Ini reuni SMP pertama di Jakarta yang dihadiri Alex, setelah lulus SMP 17 tahun yang lalu dan pindah ke Manila. Mata Alex menerawang memandangi gedung perkantoran di deretan jalan besar yang dia tak tahu namanya. Seperti nasib anak diplomat pada umumnya, Alex selalu tinggal berpindah-pindah di luar negeri. Satu-satunya teman dari Jakarta yang menjaga hubungan pertemanan dengannya hanya Toni, sahabat karib SMP-nya, yang kini jadi salah satu direktur di perusahaan minyak terkenal. Setelah mendapat gelar S2 di Strasbourg, Prancis, dan bekerja 10 tahun di Quebec, Kanada, beberapa bulan lalu Alex ditugaskan di Jakarta oleh perusahaannya sebagai direktur ekspor impor.

 

Alex menghela napas panjang. Dua puluh tahun sudah berlalu, namun, kenangannya yang paling berkesan pada masa remajanya tetap ketika di SMP, karena saat itulah dia bertemu cinta pertamanya, Nina. Alex tak pernah lupa dengan gadis rupawan yang ditaksirnya selama tiga tahun itu. Nina memang cantik, periang, juara kelas, jago main gitar dan pandai bernyanyi. Alex, Nina, dan Toni termasuk siswa kelas percobaan di SMP, jadi murid-muridnya tetap berada di kelas yang sama selama tiga tahun.

Alex dan Toni duduk persis di belakang Susi dan Nina, deretan ketiga, baris kedua. Kadang, rambut Nina yang panjang tergerai menutupi ujung buku Alex, dan diam-diam Alex memainkannya dari belakang. Toni sering menggodanya soal itu, tetapi Alex tak peduli, asalkan Nina tak tahu.

Jangan sampai Nina tahu dia naksir, sebab dia tahu betul hati Nina untuk siapa. Dimas, anak paling tenar di kelas, bahkan di seluruh angkatan, namanya selalu ditulis di dalam gambar berbentuk hati di buku Nina. Sebenarnya bukan Nina saja, hampir semua cewek di kelas mereka terpincut dengan Dimas yang luar biasa ganteng dan pemain basket andal tumpuan kelas mereka.

Walau Alex berparas lumayan, dia selalu minder jika Dimas ada di dekatnya. Ketampanan Dimas begitu populer dan sering diganggu para gadis, hingga dia membentuk geng, Phoenix, untuk melindungi dirinya. Mereka berenam begitu kompak hingga anggota geng ini membuat tato burung kecil di pinggang belakang sebagai tanda setia.

 

"Loe masih kontak temen-temen SMP lainnya, Ton?" sahut Alex saat mobil mereka mandek di tengah macetnya Jakarta.

"Ya masih lah, kan Rika bini gue kupu-kupu sosial, mati gaya dia kalo sebulan nggak ketemu temen-temennya. Ini karena dia muntah-muntah dari pagi, jadinya nggak bisa ikut hari ini. Jangan-jangan hamil lagi..." Toni mendesah, khawatir.

"Rika suka ketemuan ama Nina juga?" "Ya iya." "Nina udah kawin?"

Toni meledak tertawa. "Hahaha! Kok nanya-nanya Nina? Emang masih kesengsem loe sama dia? Makanya loe masih jomblo? Gilee... CLBK juga loe ya?"

"Bukan CLBK, cuma nanya doang," jawab Alex malu.  "Bukan CLBK, tapi masih cinta..." ujarnya dalam hati. Alex memang beberapa kali punya pacar, tetapi Nina, cinta pertamanya, masih belum bisa dia lupakan sepenuhnya.

"Nina cerai tahun lalu, lakinya selingkuh ama pramugari," jelas Toni. "Tapi mereka nggak punya anak sih." Alex mengembuskan napas, lega.

"Kalau Dimas? Tahu kabarnya?" pancing Alex.

"Wah, Dimas gue nggak tahu kabarnya lagi setelah lulus SMA. Katanya dia juga tinggal di luar. Tau deh dia bakal dateng apa nggak nanti. Lagian ini reuni seangkatan, bukan kelas kita doang, jadi bakalan rame banget. Mukanya udah pada berubah..." Toni menjelaskan sambil membelokkan mobilnya.

 

Toni melambat saat memasuki jalanan depan gedung SMP Budi Pekerti. Kali ini reuni 20 tahun angkatan mereka disetujui kepala sekolah untuk diadakan di gedung SMP, karena istri kepala sekolah itu juga salah satu siswa angkatan. Sederetan mobil rapi diparkir di tepi jalan. Toni mencari-cari tempat kosong beberapa menit, sebelum menemukan satu di depan rumah berpagar biru.

 

Dengan santai, Toni dan Alex mulai memasuki gerbang gedung. Sekolah itu tampak tak terlalu berubah, walaupun dinding, pintu dan jendelanya dipugar. Setelah melewati lorong kelas, mereka tiba di auditorium, ruang besar yang disulap apik jadi ruang pesta untuk satu malam dan tampak meriah. Balon berwarna-warni dan pita kertas menghiasi seluruh dinding. Di ujung ruangan terpampang spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang Angkatan 2000" berwarna emas dan jingga tua. Meja panjang prasmanan berisi berbagai makanan ditata di sepanjang ruangan, dan barisan orang yang mengantre mulai panjang.

Di meja depan, Alex dan Toni mengambil label nama mereka masing-masing yang sudah disiapkan untuk setiap tamu yang hadir.

Di tengah ruangan, ada beberapa meja bundar yang tinggi dengan dihias bunga kecil agar para hadirin bisa menaruh piring mereka sambil mengobrol. Alex mulai mendekati meja prasmanan tanpa rasa percaya diri, tak yakin bisa bertemu orang-orang yang dikenalnya.

 

"Alex?" seorang wanita berbaju hijau toska memanggil. Alex melirik label namanya, dia meringis. "Santi? Yang suka nimpukin gue pake kertas kalau minta nyontek, ya?" ujar Alex riang. Santi tertawa lebar. "Aduh, masih inget aja loe! Kan gue duduknya di baris sebelah loe. Apa kabar, Lex? Sekarang di mana? Udah punya keluarga? Kerja di mana sekarang? Gue kadang denger kabar loe dari Toni, katanya loe lama di luar ya? Di mana aja? Ayo cerita dong!" pertanyaan Santi beruntun bertubi-tubi seperti tembakan senjata otomatis.

"Rame amat sih loe nanyanya, kayak konser BTS!" Alex cekakakan, lega akhirnya bertemu wajah yang tak asing. Tak lama, Santi memanggil beberapa teman lain. Vina, Susi, Herman, dan Amarta mulai bergabung di sekitar mereka dan mengobrol asyik.

 

"Nina datang nggak, Ta?" sahut Alex sok cuek sambil melahap cah kangkung tahunya.

"Ada tuh, di sana," jawab Amarta, dagunya diacungkan ke meja bundar sebelah kiri. Alex menoleh. Ada beberapa wanita di yang merumpi di meja itu, tetapi Alex hanya mengenali satu orang. Nina. Dia tampak tak berubah, makin cantik malah. Rambutnya tak sepanjang saat SMP, tetapi masih hitam kelam berkilau. Tubuhnya langsing dan seksi. Gaun merah bercorak bunga kecil dengan bentuk rok melebar setinggi di atas lutut menonjolkan bentuk kakinya yang ramping.

 

Tanpa terlalu menarik perhatian yang lain, Alex beranjak menghampiri Nina.

"Nin, masih inget gue, nggak?" ujarnya lirih. Nina berpaling, kaget campur senang.

"Ya ampun, Alex? Apa kabar? Kok makin ganteng?" celetuknya. Alex tersenyum, tetapi hatinya makin berbunga-bunga dan berdebar keras.

"Ah, tetep aja gue nggak seganteng Dimas."

Nina tertawa. "Kalau nggak ada Dimas, loe pilihan kedua gue, hahaha..." tukasnya genit. Alex makin salah tingkah. "Eeh, loe... Loe udah ketemu Dimas?" sahutnya gugup.

"Beluum! Padahal gue tungguin dari tadi. Kabarnya dia mau dateng, tapi gue cariin dari tadi nggak ketemu." Nina menjawab ringan.

"Gue penasaran pengin lihat dia kayak apa sekarang, hihi... kegenitan ya gue, udah umur segini!!" Nina nyerocos sambil sesekali menyeruput teh manisnya.

Alex cuma tersenyum, dan melanjutkan obrolan lain.

 

"Udah punya keluarga, Lex? Anak loe berapa?" tanya Nina.

"Belum, masih jomblo gue, nungguin elu..." sahutnya sok bercanda, padahal hatinya mengangguk-angguk.

Nina memekik kecil. "Aih, bisa aja loe. Masa cowok ganteng dan pinter begini belum ada yang punya?"

"Serius, Nin! Gue nungguin elo. Kalo loe mau ama gue, abis ini gue langsung pesen gedung buat kawinan kita, nih!" tegas Alex cengar-cengir.

"Hahaha! Tunggu dulu, gue mau lihat Dimas kayak apa sekarang." sahut Nina.

"Nin, zaman sekarang, cari pasangan tuh yang penting hatinya, bukan tampangnya. Haha... Tapi kalo dia makin jelek, loe mau ya, ama gue. Janji, lho!" Alex mendesak.

"Kemungkinan Dimas tambah jelek tuh kayaknya kecil deh, soalnya dari dulu dia keren banget sih, hihihi... Tapi oke lah, gue janji." Nina senyum-senyum.

"Bener ya, gue pegang janji loe. Tapi sementara, nomor telepon loe dulu deh yang gue minta." Alex mulai bersiasat. Nina mencubit lengan Alex sambil tertawa.

 

Jarum jam makin merayap mendekati pukul setengah sembilan malam. Ruangan pesta semakin ramai, dan terdengar tawa yang pecah berselingan di setiap penjuru ruangan.

Penata musik di ujung panggung sibuk sendiri memutar lagu-lagu tahun 2000-an yang melantun tanpa henti.

Entah kenapa, Alex semakin resah. Tanpa disadarinya, kakinya melangkah ke arah meja penerima tamu untuk memeriksa label. Matanya mencari nama Dimas. Tak ada. Jarinya menelusuri daftar tamu yang hadir, dan nama Dimas dicentang.

"Dia datang," keluhnya lirih. Kakinya langsung lemas dan dahinya berkeringat.

Mata Alex jelalatan mencari pria tampan di ruangan yang mirip Dimas, tanpa hasil.

Dia bergerak mengitari meja-meja di tengah ruangan sambil memeriksa wajah para tamu.

 

"Eh, maaf!" Seorang wanita bersosok tinggi, memakai celana hitam dengan atasan kuning pendek tak sengaja menabraknya dari belakang. Alex berpaling. Wanita itu tersenyum. Cantik sekali.

"Hai," sapa Alex. "Nggak apa-apa kok." "Saya Alex. Kamu kelas berapa?"

"Gue Aneke." jawab wanita itu dengan tenang. "Apa kabar, Lex? Loe makin ganteng, deh." goda Aneke sambil mengedipkan mata.

"Lho, loe kenal gue?" tanya Alex bingung.

"Iya kenal dong, kita kan sekelas." "Masa sih? Gue kok nggak ingat nama Aneke di kelas?

Duduk di mana waktu itu?"

"Gue duduk di belakang, agak jauh sih dari tempat loe."

Alex makin salah tingkah. Masa sih cewek secantik ini dia tak ingat? Otaknya berputar cepat, mengingat keras siapa saja yang duduk di belakang.

"Loe duduk sebangku sama siapa?"

Aneke cuma tersenyum menggodanya. "Ayo tebak, gue duduk sama siapa waktu itu?"

Alex makin bingung dan penasaran. Dia mengabsen satu-satu murid yang diingatnya duduk di belakang. "Eka, Rusdi, Maya, Lina, Rika, Dewi, Edi, Wawan, Dimas, Joko..."

"Eh, ini pulpen loe ya? Jatuh, tuh." Aneke membungkuk mengambilnya. Atasannya yang pendek agak terkuak, bagian pinggangnya terbuka, dan tampak gambar tato yang menyerupai burung.

"Loe anak Phoenix?" Aneke tak menjawab, tetapi dia menggenggam tangan Alex sambil menaruh pulpen itu di telapaknya.  Pikiran Alex makin berputar sangat cepat bagai mesin turbo. Seingatnya, anggota geng Phoenix cuma berenam, dan itu lelaki semua.

 Aneke bangkit di depan Alex, jarak antara wajah mereka begitu dekat hingga Alex bisa menatapnya baik-baik.

"Loe... Dimas?" Alex terhenyak mundur, kaget luar biasa.

Aneke tertawa kecil.

"Sekarang gue jadi Aneke, Lex. Gue seneng deh ketemu loe lagi. Kapan-kapan kita makan bareng, yuk?" Aneke menyahut ringan.

Alex menatap mata Aneke, kegirangan. "Eeh...  Iya, boleh! Eh, gue permisi bentar ya?" Alex gagap menjawab sambil mundur.

Segera, Alex berlari menuju Nina yang memandangnya dengan keheranan.

"Ada apa?" tanya Nina dari jauh.

"Nina! Gue udah ketemu Dimas! Gue pesen gedung sekarang ya!" seru Alex sambil mengacungkan ponselnya.