LAGU JAMAN SEKARANG GAK ADA YANG ENAK

LAGU JAMAN SEKARANG GAK ADA YANG ENAK

Kemarin sore saya lagi nongkrong sama temen-temen lama. Biar suasana lebih hidup, saya putar playlist random berisi lagu-lagu baru progresif. Sebagai mantan pemusik, saya selalu tertarik mengeksplorasi warna-warna baru dalam musik.

Di tengah asyiknya lagu mengalun, seorang teman nyeletuk sambil mencibir, “Om Bud, kok lo bisa sih suka lagu begituan?”

Saya menoleh. “Emang kenapa?”

“Lagu zaman sekarang gak ada yang enak. Buat gue, lagu jaman dulu lebih berkualitas. Liriknya lebih dalem. Melodinya lebih dapet.”

Saya cuma mesem mendengar pernyataannya. Itu kalimat yang sudah saya dengar ratusan kali, dari ortu, abang, temen sebaya dan masih banyak lagi.

“Yakin lo lagu jaman dulu lebih enak?” tanya saya pelan. “Atau jangan-jangan elo cuma lagi di-prank sama otak lo sendiri.”

Dia melongo. “Di-prank sama otak sendiri? Maksud lo?”

Saya ketawa kecil karena saya pun dulu begitu. Sampai akhirnya saya belajar neurosains dan memaham bahwa bukan lagunya yang lebih bagus, tapi memory yang terpanggil oleh lagu itu.

Otak kita tidak pernah memisahkan lagu dari momen-momen hidup yang kita jalani. Misalnya waktu kita kemping. Di sana ada tenda. Ada canda penuh tawa. Ada aroma tanah lembab. Dan di antara semua itu, ada lagu yang dinyanyikan bersama dengan iringan gitar di api unggun. Suasananya sangat menyenangkan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika lagu yang sama kita dengar kembali, maka yang datang satu paket. Bukan cuma lagunya tapi ada tendanya, ada api unggun, tawa teman. Udara dingin. Semua memori itu terpanggil sekaligus. Semua kebahagiaan masa lalu tiba-tiba hadir kembali.

Waktu masih remaja, sistem limbik yang mengatur emosi, lagi hiperaktif. Jatuh cinta terasa dahsyat, patah hati lebih menyayat. Dan kebahagiaan lebih mudah meledak. Otak menempelkan lagu tersebut ke pusat emosi sebagai bagian integral dari pengalaman manis tersebut.

Belum lagi dopamin. Hormon kecil biadab yang bikin kita ngerasa “enak banget”. Di masa muda, dopamin mengalir lebih deras. Hidup terasa penuh kejutan. Jadi perlu dicatat bahwa kita memang gak bisa mengulang pengalaman indah masa lampau tapi kebahagiaannya bisa hadir kembali melalui elemen pengalaman masa itu dan salah satunya adalah lagu.

Ketika sebuah lagu diputar, otak mencatatnya bersama ledakan dopamin itu. Jadilah lagu tersebut terasa lebih indah, lebih dalam, lebih bercahaya. Padahal bisa jadi, kalau lagu itu baru dibuat hari ini, kita juga akan bilang jelek.

Otak di masa muda menciptakan jalan tol kenangan. Begitu satu nada terdengar, file-file lama terbuka. Kita tiba-tiba ingat siapa yang kita cintai dulu, siapa yang nyebelin, siapa yang dulu naksir kita. Lagu itu seperti mesin waktu yang tidak pernah gagal membawa kita kembali.

Sementara ketika kita mendengar lagu baru di usia sekarang, otak cuma mencatatnya sebagai suara yang lewat. Tidak ada momen dramatis yang menempel. Tidak ada hormon yang meledak. Tidak ada cerita yang merayap masuk ke dalamnya. Itu sebabnya lagu baru terasa hambar.

Lagu zaman dulu bukan lebih bagus. Hidup kitalah yang dulu lebih indah. Makanya semuanya terasa lebih enak. Dan ini bukan cuma soal lagu. Film juga begitu. Novel juga begitu. Tempat nongkrong juga begitu. Begitu indahnya masa muda sehingga membuat sebagian orang terjebak di dalamnya. Biasanya mereka sering berkata, "Jaman dulu lebih enak dari jaman sekarang."

Jadi bisa disimpulkan bahwa yang kita rindukan sebenarnya bukan lagu. Yang kita rindukan adalah diri kita sendiri, Versi muda kita yang pernah merasa hidup begitu menyenangkan. Itulah yang selama ini kita cari dalam lagu-lagu lama. Bukan melodi. Bukan lirik. Tapi diri kita yang sudah hilang di perjalanan.

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.