Waktu Pulang
Sekelumit kisah para pejuang untuk kembali pulang
Waktu Pulang
"Yah, besok aku masuk kantor. ASIP buat dedek sudah aku bawa buat dititip ke Daycare. Nanti di kantor aku sempetin buat merah ASI lagi. Ayah berangkat online jam berapa?" tanyaku pada suamiku
Sambil menatapku miris, dia menyahut, "Besok biar Ayah antar Bunda pagi-pagi ke stasiun, sekalian titip dedek ke Daycare, mereka bisa buka jam 5 untuk orangtua pekerja seperti kita"
Aku tersenyum kepadanya, "Ayah yang semangat ya, meskipun kita harus melalui masa sulit sekarang ini, Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk mencari nafkah meskipun dengan bersusah payah. Tidak usah dipikirkan lagi masalah perumahan karyawan pabrik."
Suamiku membelai kepala ini dengan lembut, dan berucap sendu, "Iya, Alhamdulillah, meskipun Ayah mesti harus banyak belajar dan beradaptasi. Istirahat sudah, besok harus berangkat pagi kereta pertama kan, supaya tidak terlambat sampai di kantor".
Keesokan harinya kami menaiki kendaraan online yang dipercayakan kepada suamiku, bersama bayi kami yang masih terlelap untuk dititipkan ke daycare. Setelahnya, suamiku mengantarku ke stasiun dan berjanji akan menjemputku selepas Maghrib.
Perjalananku menuju kantor menggunakan kereta menghabiskan waktu sekitar 2 jam sekali jalan, 4 jam pulang pergi. Dengan waktu kerja dari jam 8 sampai jam 4, aku menghabiskan waktu di luar rumah selama 12 jam. Oleh karenanya, aku memang membawa alat pumping untuk memerah ASI. Meski harus menyewa mahal, tapi inilah yang bisa kulakukan untuk putraku tercinta.
Entah mengapa, waktu berjalan begitu lama, dan cuaca pun sangat panas mendera sehingga aku semakin ingin cepat pulang dan berbaring di samping putraku. Sampai jam menunjukkan pukul 4 aku bersegera menekankan jariku ke alat absensi otomatis, dan berjalan cepat menuju kendaraan yang akan membawaku ke stasiun terdekat.
Lagi-lagi kereta berjalan terasa lambat, sementara dadaku mulai sesak dan berat karena ASI yang mulai penuh kembali setelah tadi sore sempat diperah sebelum pulang. Putraku pasti sedang kehausan dan rindu akan keberadaanku. Hatiku semakin gelisah dan dadaku mulai terasa basah.
Menjelang Maghrib, suamiku mengirimkan pesan, "Ayah sudah di jalan, sebentar lagi sampai menjemput kamu di stasiun". Senyumku merekah dan aku merasa kereta semakin melaju mencapai stasiun tujuanku. Tidak berapa lama, masuk lagi sebuah pesan darinya, "Astaghfirullah, Bun, Astaghfirullah!"
Aku langsung menekan tombol sambung pada layanan pesanku. Suara suamiku bertubi-tubi mengucapkan istighfar sembari berujar, "Bagaimana aku bisa mengganti kerugian, Bun?" Aku termangu, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Sayup-sayup terdengar di belakangnya, "Yang sabar, Pak, yang penting selamat Bapaknya."
Lantas aku bertanya kepada suamiku, "Ayah, kamu di mana?" Suamiku tidak menjawab, hanya sedu sedan tertahannya yang terdengar membuatku semakin kalut. Stasiun tujuanku sudah terlihat di jendela kereta. Kepadatan kereta membuatku sulit bergerak dari posisi dudukku. Terasa lama prosesi untuk keluar dari kereta, sampai kemudian suara berderit kencang mengoyak telingaku. Cooler bag tempat ASIP untuk putraku terhempas entah kemana.
Dan akupun pulang, tapi bukan untuk bertemu putraku yang kusayang.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



