Ketika Tuhan Menitipkan Rezeki Lewat Kursi Bus

Kadang Tuhan tidak langsung memberi kepada yang membutuhkan. Ia menitipkannya lebih dulu kepada orang lain—dan memberi kita kehormatan untuk menyalurkannya

Ketika Tuhan Menitipkan Rezeki Lewat Kursi Bus
Diatas Bus. Banyak kisah banyak cerita. (Foto: Dokumen Pribadi)

Bus Eka langgananku berhenti di Terminal Tirtonadi, Solo. Libur Natal dan Tahun Baru. Bus penuh, wajah-wajah lelah bercampur sabar memenuhi setiap kursi.

Seorang pemuda naik dan duduk di sebelahku. Wajahnya kusut, matanya menyimpan beban yang belum selesai. Ia tidak banyak bicara, tapi kegelisahannya terasa.

Mas Agus Gundul, kondektur yang sudah lama kukenal,menghampirinya.
“Turun mana, Mas?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat pemuda tersebut terdiam.
“Kalau saya mau ke Serang, harus ganti bus di mana ya, Pak?”

Mas Agus berpikir sejenak.
“Kalau langsung ke Serang saya kurang tahu. Tapi kalau ke Jakarta, saya bisa bantu hubungi agen di Salatiga. Nanti turunnya di Pulo Gebang. Soal harga, saya belum tahu ya, Mas.”

Pemuda itu mengangguk pelan.
“Baik, Pak. Saya turun Salatiga saja.”

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Dari percakapan singkat yang terdengar, aku tahu yang menelepon adalah seseorang yang sangat mengkhawatirkannya. Suaranya ditahan, tapi kecemasan itu tak bisa disembunyikan. Ia menjawab dengan jujur: belum tahu ongkos bus selanjutnya.

Telepon ditutup. Ia menghela napas panjang.
“Ada-ada saja…” gumamnya.

Aku menoleh. “Kenapa, Mas?”

Ia tidak menjawab, hanya bertanya lirih,
“Pak, ongkos bus dari Salatiga ke Jakarta kira-kira berapa?”

“Sekitar dua ratus sampai tiga ratus ribu,” jawabku.

Kami berkenalan. Namanya Endi.

Endi bercerita bahwa hari itu seharusnya menjadi awal langkahnya. Ia seorang bas borong yang mendapat pekerjaan buat rumah di Solo. Enam tukang dari Jepara sudah disiapkan. Kepala tukangnya adalah rekan lama. Sebagai uang jalan dan makan, Endi mentransfer tiga juta rupiah.

Namun hari yang ditunggu tak pernah datang. Sejak siang, ponsel kepala tukang tak bisa dihubungi. Menjelang malam, pekerjaan dibatalkan. Uang tiga juta hilang. Harapan ikut runtuh.

Endi pulang dengan sisa uang yang pas-pasan. Bahkan untuk ongkos pun tak cukup.

Mendengar ceritanya, aku sadar: aku tidak duduk di kursi itu secara kebetulan.

“Nomor rekeningmu berapa?” tanyaku. “Biar saya bantu ongkos pulang.”

Ia menolak. Berkali-kali. Bukan karena tidak butuh, tapi karena tidak ingin merepotkan.

Aku bertanya pelan, “Sekarang pegang uang berapa?”

“Dua ratus ribu, Pak.”

Aku membuka dompet. Isinya seratus lima puluh ribu. Itulah seluruh uang tunai yang kupunya.

Aku serahkan semuanya.
“Ini, Mas. Semoga cukup.”

Matanya berkaca-kaca. Tanganku diraih, dicium, lalu dilepas dengan suara bergetar.
“Terima kasih banyak, Pak. Allah yang membalas.”

Sejam kemudian, pesan masuk di ponselku. Endi sudah mendapatkan tiket ke Jakarta. Uangnya cukup. Dari Jakarta, kakaknya membantu ongkos pulang ke Serang.

Kadang Tuhan tidak langsung memberi kepada yang membutuhkan. Ia menitipkannya lebih dulu kepada orang lain—dan memberi kita kehormatan untuk menyalurkannya.

Hari itu, aku tidak merasa kehilangan seratus lima puluh ribu.
Aku justru pulang dengan hati yang penuh.

Terminal Tirtonadi Solo

3 Januari 2026

 

 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.