Terpupus Dalam Angan

Cinta monyet yang tak bernyali

Terpupus Dalam Angan
Masa galau

Deburan ombak yang keras membangunkan aku dari lamunan. Ternyata saat ini aku hanya sendiri duduk di sadel sepeda buntutku. Aku tak tahu sudah berapa lama ada di tempat itu. Yang kuingat terakhir aku hampir pingsan melihat kenyataan yang sulit aku bayangkan.

Gelisah membuatku tak bisa tidur malam ini. Hanya suara ranjang yang terdengar saat aku mengganti posisi tidurku. Melalang buana pikiranku seorang, tak mau untuk berlabuh pada suatu tempat sehingga aku dapat terlelap sejenak. Sinar rembulan yang menerobos melalui jendela yang sengaja kubuka kordennya menggodaku seolah mengejek sikap kekanakanku. 

"Teng... Teng... Teng..." Bel sekolah tanda akhir sekolah berbunyi. Suara riuh langsung terdengar. Suka cita karena sudah usai dari jam belajar. 

"Ni.. ayo kita pulang! Mau langsung pulang atau mo jalan dulu?" Tanyaku pada teman sebangkuku. 

"Aku ada janjian mau selesaikan tugas kelompok di rumah Ira. Setelah itu baru pulang. Tolong pamitkan ke ibu kos ya aku pulang terlambat," jawabnya sambil membereskan bukunya.

Nita dan aku kebetulan tinggal satu rumah kos. Hanya beda kamar. Kami sama-sama datang dari desa untuk melanjutkan sekolah di kota. Karena di desa kami belom ada sekolah lanjutan yang bagus.

Kami berjalan seiring menuju parkir sepeda. Dan keluar dari parkir. Kuayunkan sepedaku langsung pulang ke rumah kos.

Sesampainya di gerbang kulihat rumah masih sepi, meski ada 10 anak kos yang tinggal di sana selain keluarga yang menempati. Kusimpan sepeda di samping rumah seperti biasa aku langsung kekamar.

Mataku berbinar melihat surat yang tergelek di meja ruang tamu dan tertulis namaku di sampulnya.