Setahun di Atas Roda: Catatan Seorang Suami, Ayah, dan Penglajo

Sejatinya, dalam setiap putaran roda bus, ada kisah manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup

Setahun di Atas Roda: Catatan Seorang Suami, Ayah, dan Penglajo
Aku menunggu keberangkatan bus ke Surabaya. (Foto: Dokumen Pribadi)

Sudah genap setahun aku menjalani Long Distance Marriage (LDM).
Setahun belajar berdamai dengan jarak, waktu, dan rindu.

Aku menjalani peran baru: bekerja di kota baru, Probolinggo, Jawa Timur. Sementara itu, istriku bekerja di Ungaran, Kabupaten Semarang, menemani putri kami yang masih duduk di bangku SMA. Kami hidup di dua kota, di dua ritme, namun dengan satu tujuan yang sama: menjaga keluarga tetap padu.

Hampir setiap minggu aku bolak-balik Probolinggo–Semarang. Bukan untuk liburan, bukan pula untuk pelesiran. Aku pulang hanya untuk satu hal sederhana tapi paling berharga: kebersamaan.

Ini sebenarnya bukan LDM pertama dalam hidup kami.
Pada pertengahan 2019 hingga akhir 2021, aku pernah menjalani LDM yang jauh lebih ekstrem—saat perusahaan menugaskanku ke Ethiopia, Afrika. Selama hampir dua setengah tahun, aku tak pernah pulang. Yang tersisa kala itu hanyalah layar ponsel dan panggilan video.

Kini keadaannya berbeda.
Lelahnya mungkin lebih sering datang, tapi kesempatan untuk bertemu keluarga kini hadir hampir setiap pekan. Dan itu terasa seperti berkah besar.

 

Hidup di Akhir Pekan, di Atas Bus

Sejak bekerja di Probolinggo, praktis setiap akhir pekan hidupku berpindah ke atas roda bus. Sabtu aku bekerja setengah hari. Tepat pukul 12.00 siang, usai dari kantor, aku bergegas menuju Surabaya—sering menumpang mobil perusahaan. Aku turun di Terminal Purabaya, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Terminal Bungurasih.

Sekitar pukul 14.00 aku tiba di terminal. Tiket sudah kupesan sebelumnya: bus EKA Patas Eksekutif keberangkatan pukul 15.00, dengan estimasi tiba di Semarang sekitar pukul 20.15.

Minggu malam pukul 20.00, aku kembali berangkat dari Semarang menuju Probolinggo menggunakan Rosalia Indah. Senin subuh, sekitar pukul 04.30, aku tiba. Artinya, aku hanya benar-benar berada di rumah sekitar 24 jam, termasuk tidur.

Aku bukan PJKA—Pulang Jumat Kembali Ahad. Sabtu bukan hari libur bagiku. Maka, bagi kalian yang PJKA, barangkali masih ada ruang lebih untuk bersyukur.

Tanpa terasa, ritme ini sudah berjalan setahun penuh.

 

Lelah yang Disyukuri

Menjadi penglajo seminggu sekali tentu melelahkan. Namun anehnya, lelah ini selalu kusertai rasa syukur. Dulu, di Ethiopia, aku hanya bisa menatap wajah keluarga lewat layar. Sekarang, setiap Sabtu siang dalam perjalanan menuju terminal, hatiku justru sering berbunga. Aku tahu, beberapa jam lagi aku akan benar-benar pulang.

Bagi orang sepertiku, jalan tol adalah anugerah.
Jarak Probolinggo–Semarang sekitar 430 kilometer kini bisa ditempuh dalam tujuh jam. Dulu, sebelum tol tersambung, perjalanan bisa memakan waktu hingga 15 jam. Jarak yang sama, rasa yang jauh berbeda.

 

Mengapa Bus?

Setiap kali pulang, aku hampir selalu memilih bus. Alasannya sederhana.

Pertama, soal biaya.
Kereta api eksekutif Probolinggo–Semarang bisa mencapai sekitar lima ratus ribu rupiah sekali jalan. Pulang-pergi berarti satu juta. Dengan nominal yang sama, naik bus aku sudah bisa PP dengan kelas eksekutif. Selisih kenyamanan dengan kereta pun terasa tipis, namun frekuensi bertemu keluarga jauh lebih sering.

Kedua, soal waktu.
Jadwal kereta kurang bersahabat dengan ritmeku. Jika naik kereta dini hari, aku tiba terlalu pagi tanpa waktu istirahat sebelum bekerja. Jika naik kereta sore, aku harus meninggalkan rumah terlalu cepat—belum puas menatap wajah istri dan anak.

Bus memberiku ruang:
Berangkat Minggu malam, tiba Senin subuh, masih sempat tidur beberapa jam sebelum kembali mengenakan seragam kerja.

 

Kisah-Kisah di Sepanjang Jalan

Di setiap perjalanan, aku bertemu banyak orang. Dengan latar belakang, tujuan, dan perjuangan yang berbeda-beda. Di atas bus, aku belajar bahwa hidup berjalan dalam banyak versi.

Sejatinya, dalam setiap putaran roda bus, ada kisah manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Ada tawa dan air mata. Ada senyum dan wajah muram. Ada harapan, ada kelelahan.

Dan mungkin, di sanalah aku belajar menjadi lebih manusia.

Dalam tulisan-tulisan berikutnya, aku ingin mengisahkan mereka.
Tentang perjalanan. Tentang jarak. Tentang rindu. Dan tentang hidup yang terus bergerak, meski perlahan.

Terminal Purabaya, Sidoarjo
21 Februari 2026

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.