Terbang Menembus Batas

Sahabat ayahku, kakak Ibuku. Kehilangan besar bagi kami semua.

Terbang Menembus Batas
Oom Dick Tamimi di studio rekaman Dimita. Foto koleksi keluarga.
"APAAA!!!"
 
Yang berteriak adalah Ayah saya. Kedua belah tangannya yang memegang kartu, terhenti di udara—di rumah Ayah memang selalu main kartu solitaire. Bahkan ketika menonton televisi seperti saat itu.
 
Mata ayah nanar menatap siaran berita jam delapan malam yang sedang berlangsung. Tak hanya Ayah, tapi kami semua nanar menatap siaran berita di televisi itu. Kami semua terkejut.
 
Masa itu, 1978, siaran berita malam TVRI menjadi acara televisi yang selalu dinanti-nanti. Maka, tak heran bila kami sekeluarga malam itu berkumpul bersama di depan TV. Bersama-sama pula kami menyaksikan siaran berita tentang hilangnya sebuah pesawat terbang kecil jenis Piper Cherokee Archer, di daerah Sumatra Selatan.
 
Pesawat itu dipiloti oleh Mohammad Sidik Tamimi. Lebih akrab kami panggil/sebut Oom Dick Tamimi. Beliau kakak tertua Ibu saya.
 
Di rumah kami ada telepon, yang bersentral di pangkalan angkatan udara Halim Perdanakusuma. Namun, rumah Oom Dick belum ada telepon. Sehingga, kami tak dapat segera mengontak Tante Mini, istri Oom Dick, untuk menanyakan kebenaran kabar tersebut. Tak bisa mengecek secara jarak jauh. Tak ada pilihan, kami sekeluarga lalu segera berangkat ke rumah Oom Dick di Jl. Gandaria Tengah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 
Masa itu, Jakarta belum jadi raja macet. Waktu tempuh ke Kebayoran Baru dari rumah kami di Polonia, Jakarta Timur, pun tidak memakan waktu terlalu lama.
 
Setibanya kami di rumah Oom Dick, suasana sudah heboh. Tante Mini dan anak-anaknya menangis semua. Terkejut. Shock. Betapa tidak!? Berita hilangnya pesawat yang dipiloti oleh Oom Dick tersebut, baru mereka ketahui juga dengan cara seperti kami. Melalui berita TVRI.
 
Tak lama, para oom dan tante lainnya berdatangan termasuk yang dari Bandung. Aneh rasanya. Karena, beberapa hari lalu, 13 Februari 1978, kami juga berkumpul di rumah itu. Dalam rangka ulang tahun Oom Dick yang ke-56 tahun.
 
Di keluarga Ibu saya, keluarga Tamimi, tradisi pesta ulang tahun keluarga adalah hal yang umum. Tapi, tak selalu juga dirayakan. Pada 13 Februari itu tak ada rencana merayakan ulang tahun Oom Dick.
 
Secara spontan, pada tanggal itu semua adik-adik Oom Dick dan keluarganya masing-masing, datang. Dengan membawa makanan. Surprise! Tak ada janjian sama sekali, tanpa rencana apapun juga. Semua pun saling mendapat surprise.
 
Jadilah ulang tahun Oom Dick malam itu kami rayakan juga. Dadakan, pot luck, seru. Tanpa kami sadari, dengan berkumpul malam itu, kami semua seperti melepas kepergian Oom Dick ke keabadian.
 
Dua malam kemudian, 15 Februrai 1978, Oom Dick dengan santai memberitahu Tante Mini.
 
"Besok mau turun mesin ke Singapura".
 
Yang akan dibawa untuk turun mesin ke Singapura adalah pesawat Piper Cherokee Archer. Pesawat kecil pegangan Oom Dick, yang dipakai untuk melatih murid terbang secara hobi.
 
Menanggapi Oom Dick, dengan santai juga Tante Mini mempersiapkan kopor dan paspor Oom Dick. Turun mesin biasanya memerlukan Oom Dick menginap di Singapura. Tante Mini sudah terbiasa.
 
Besok paginya, 16 Februari 1978, Oom Dick berangkat. Turut bersamanya adalah petugas radio dan salah satu murid terbangnya. Malamnya, kami semua di keluarga besar Tamimi mendapat kabar tentang hilangnya pesawat Oom Dick melalui siaran berita TVRI pada pukul 8 malam.
 
Mulailah kami memasuki hari-hari yang menegangkan. Hari-hari yang penuh dengan ketakpastian. Hanya lima hari saja sebetulnya, tapi rasanya sungguh lama sekali. Seperti tak ada akhirnya. Mungkin juga, karena setelah pemakaman pun kami masih pergi-pulang ke Gandaria. Menengok Tante Mini, dan mengurus berbagai hal lainnya.
 
Keesokan harinya, Al, anak ketiga Oom Dick yang merupakan anak laki-laki pertama, bersama dengan tunangan salah satu anak perempuan Oom Dick dan Ayah saya; berangkat ke Palembang. Bergabung dengan tim SAR.
 
Komunikasi telepon antara Palembang dan Jakarta dibuka dengan bantuan tetangga Oom Dick yang rumahnya mempunyai pesawat telepon. Pada waktu itu, telepon antarkota masih berupa hubungan antaroperator, belum SLJJ {sambungan langsung jawar jauh). Saya yang sering menjadi penerima kabar telepon, apabila si tetangga mengabarkan ada telepon dari Palembang.
 
Ayah saya ke Palembang atas permintaan Al. Ayah adalah adik ipar Oom Dick, tapi mereka berdua sebenarnya teman lama. Banyak kudengar cerita dari Ayah tentang kejadian-kejadian lucu antara Oom Dick dan Ayah. Yang berlangsung bahkan sejak masa revolusi.
 
"Sana pergi ke pasar, cari dan kumpulkan kulit-kulit manggis," kata Oom Dick suatu saat.
 
Dengan patuh Ayah melakukannya. Mengorek-ngorek tempat sampah di pasar.
 
"Kulit manggis itu untuk bahan tinta mencetak ORI," cerita Ayah.
 
ORI adalah Oeang Republik Indonesia. Cari tahu sendiri ya, buat yang belum tahu.
 
Cerita ini disampaikan Ayah pada suatu masa, ketika saya sedang riset mengenai bahan pewarna alam. Seru juga. Selain mendapat tambahan info untuk riset, saya juga mendapat cerita keluarga yang ada sedikit sangkutan dengan sejarah Republik Indonesia. Cerita yang cukup lucu pula.
 
Kuduga, Oom Dick sedikit mengancam Ayah di situ. Atau, mungkin juga di banyak kesempatan.
 
"Kalau tidak menurut, kamu tidak saya perkenankan berhubungan dengan adik saya". Mungkin begitu ancaman Oom Dick ke Ayah. Hahaha…
 
Entah apa lagi yang dilakukan Ayah karena disuruh Oom Dick. Satu hal lagi yang pasti adalah, bergabungnya Ayah ke AURI (sekarang TNI-AU). Oom Dick bukan saja duluan di AURI, tapi juga merupakan salah satu dari pendiri AURI.
 
Mungkin, karena kedekatan Ayah dengan Oom Dick itulah yang membuat Al minta Ayah ikut ke Palembang untuk mendampinginya. Al saat itu masih terhitung remaja. Baru lulus SMA dan masuk ke perguruan tinggi. Pasti merasa lebih nyaman ditemani Ayah yang kebetulan juga pensiunan TNI-AU, karena mereka bergabung bersama dengan tim SAR TNI-AU.
 
Tim SAR ini dikomandoi oleh seorang perwira yang merupakan putra dari tokoh AURI dan pahlawan nasional, Komodor Udara A. Halim Perdanakusuma (karena alasan tertentu, saya tidak akan detil dengan nama tokoh ini).
 
Pada jaman revolusi dulu, sejarah mencatat bahwa masyarakat Minangkabau mengumpulkan emas. Demi membeli pesawat terbang, untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah pesawat Avro Anson milik mantan penerbang Angkatan Udara Australia menjadi pilihan untuk dibeli.
 
Pada awal Desember 1947, Avro Anson tersebut mendarat di Lapangan Terbang Gadut, Bukittinggi. Namun, pemilik pesawat menginginkan pembayaran—harga yang disepakati adalah 12 kg emas—dilaksanakan di Songklha, Thailand.
 
Oom Dick yang sudah sejak awal aktif mencari penjual dan broker pesawat ini, ikut dalam rombongan tim yang berangkat ke Thailand. Komodor udara Halim Perdanakusuma ada juga dalam rombongan, dengan tujuan utama untuk mencari bantuan dari Angkatan Udara Thailand.
 
Di Thailand, rombongan dituding sebagai penyelundup. Oom Dick dan kawan-kawannya melarikan diri via jalan darat. Sementara pesawat Avro Anson dilarikan oleh Halim Perdanakusumah dan Komodor Udara R. Iswahyudi. Kalau tak salah, dua rombongan tersebut rencananya akan berjumpa di Singapura.
 
Apa daya, tak lama tiba di Singapura, tim darat yang terdiri dari Oom Dick dan kawan-kawan, menerima telegram dengan kabar duka. Bahwa, Avro Anson yang dipiloti oleh Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi, jatuh di Pantai Selat Malaka, dekat Tanjung Hantu, Malaysia.
 
Dalam pencarian, jenazah Halim Perdanakusuma berhasil diketemukan. Sedangkan jenazah Iswahyudi tidak pernah diketahui keberadaannya sampai saat ini. Yang tak juga pernah diketahui adalah, penyebab jatuhnya Avro Anson tersebut. Apakah karena kecelakaan biasa, ataukah akibat dari adanya sabotase.
 
"Dulu, Oom Dick ikut mencari pesawat Bapak saya yang hilang di Tanjung Hantu. Sekarang, gantian saya yang mencari pesawat Oom Dick," kata anak almarhum Halim Perdanakusuma kepada Al dan  Ayah saya.
 
Pada 21 Februari 1978, lima hari sejak pesawat Piper Cherokee Archer yang dipiloti oleh Oom Dick hilang, reruntuhannya ditemukan di Padamaran, Ogan Komering Ulu, Palembang. Pesawat hancur berkeping-keping. Tak ada yang selamat.
 
Jenazah Oom Dick tiba di rumah duka di Gandaria Selatan, pada keesokan harinya. Ayah membawa pesan bahwa peti mati tidak boleh dibuka sama sekali. Langsung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta selatan.
 
Tajam terpatri dalam ingatanku, bagaimana Ibu menyambut kedatangan Ayah. Memeluk ayah dengan erat sambil tersedu-sedu. Bulu-bulu di sepanjang kedua lengan Ibu berdiri semua. Beliau merinding.
 
Kehilangan itu, sangat terasa di keluarga besar kami. Sejak itu, bila ada acara keluarga, bukan hanya Opa kami yang sudah tak ada—papanya Ibu, meninggal 1972. Oom Dick si oom tertua kami juga sudah tak bersama kami lagi.
 
Opa kami tersebut adalah Opa Tamimi. Yang bersama Oom Dick dan seorang teman Oom Dick; pada 1956 mendirikan PT Dimita Moulding Industries. Dalam perjalanannya, Dimita menjadi perusahaan piringan hitam dengan label Mesra Records dan Melody Records. Label-label yang antara lain mengeluarkan piringan hitam grup-grup band Koes Bersaudara, Koes Plus, dan Panbers.
 
Sampai sekarang, bila ada kabar tentang hilangnya pesawat, kenangan buruk itu akan kembali berputar di benak saya bagaikan film. Dengan segala kengerian di dalamnya. Bahkan pun, ketika Indonesia dikejutkan oleh kabar hilangnya Kapal Selam KRI Nanggala-402, tak saya sangka saya ingat lagi dengan kejadian yang menimpa keluarga besar kami pada Februari 1978 itu. Kesedihannya, horornya, kecemasannya. Semua sangat jelas terasa.   =^.^=