Setelah selesai berpetualang yang menyenangkan sejak pagi, malamnya aku dan teman-temanku menutup pertemuan dengan makan di sebuah restoran hamburger ala-ala Amerika. Begitu masuk, satu orang kawan, Lily, langsung ke counter pemesanan. Sementara aku dengan santai dan pelan-pelan melepaskan tote bag isi macam-macam, ransel, dan jaket; sebelum duduk di kumpulan teman-teman lain yang kulihat perhatiannya semua terpusat pada sebuah paper bag.
Paper bag itu kecil saja. Mungkin berukuran sekitar 10×15 cm—perkiraan kasarku. Warnanya putih sedikit off, logo dan nama toko yang entah apa tertera pada dua sisi lebarnya. Sepertinya terbuat dari kertas yang cukup tebal, karena terlihat berdiri kokoh di meja di depan teman-temanku.
“Habis beli apa, tuh?” tanyaku santai.
Kuduga itu belanjaan salah satu teman, yang tadi sempat putar-putar di mall besar tempat kami berkegiatan sambil menghabiskan waktu duduk-duduk bersama. Yang puasa tentunya sambil merindukan datangnya waktu untuk berbuka.
“Bukan belanjaan, kami menemukannya,” salah satu atau dua dari temanku menanggapi pertanyaanku.
“Di mana?” tanyaku dengan masih tetap santai.
“Di………..,” jawaban ini terlibas oleh suara Lily yang baru selesai memesan di counter.
“WOI UDAH PADA MESEN BELUM?” demikian seruan Lily yang melibas jawaban di atas.
Oh, dia bukan marah. Suaranya saja yang selalu keras menggelegar. Di LRT Jakarta tadi kami sempat ditegur petugas sampai dua kali, karena rombongan kami terlalu riuh rendah. Salah satunya adalah karena kawan yang satu ini heboh sangat. Memang sih, dia kalau berbicara seolah kalimatnya huruf besar semua.
Sambil tertawa aku lalu berdiri dan memesan makan malamku di counter. Kembali di meja, teman-teman yang masih memusatkan perhatian pada paper bag mungil itu, telah membedah isi si paper bag. Dari dalamnya keluar sebuah kotak yang disimpulkan sebagai sebuah kotak gelang, yang sudah kosong. Bahwa isi dari kotak itu adalah gelang, semula kuduga mereka simpulkan berdasarkan logika, tapi lalu diperkuat dengan ditemukannya selembar tanda bukti pembelian. Lembar bon itu menunjukkan harga sebentuk gelang yang tidak murah meski belum mencapai satu juta rupiah.
Bagus juga bahwa isinya yang penting itu sudah tak ada. Kalau masih ada, kami pasti jadi repot. Harus lapor entah ke mana, dan pasti jadi ribed. Sementara, hari sudah malam. Bawa pulang? Ih, itu bukan rejeki. Jadi, syukurlah kotaknya kosong.
Tapi, yang paling membuat kami semua kaget adalah, terdapatnya sebuah surat tanpa amplop. Terlipat rapih dalam dua tekukan, ditulis dengan tulisan tangan. Kertasnya bergaris seukuran A5—ukuran ini adalah dugaan kasarku, yang melihatnya agak dari kejauhan karena aku duduk paling di pinggir. Kertas itu berwarna nuansa jambon penuh cinta.
Beberapa dari temanku menyempatkan diri membaca surat itu karena penasaran, dan siapa tahu ada nomor yang bisa dihubungi. Surat itu tampaknya ditulis oleh seorang laki-laki muda kepada gadisnya. Isinya kurang lebih menyatakan bahwa gelang tersebut merupakan hadiah khusus. Karena, sekali lagi mereka harus berpisah dan mempertahankan LDR (long distance relationship). LDR antara tempat tinggal si gadis yang mungkin di Jakarta, dan tempat bekerja si pemuda di salah satu negara di Eropa—tepatnya di mana ada disebutkan sih dalam surat itu, tapi aku tak merasa perlu menyebutkannya di sini.
Emosi tampak terpancar dari setiap teman yang membaca surat itu. Beberapa tampak khawatir. Tampaknya, ada semacam permintaan maaf dari si pemuda penulis surat, karena mereka harus LDR lagi.
“Aduh, jangan-jangan si gadis marah karena harus LDR lagi,” satu teman, biasa kupanggil Suz, berucap dengan sedikit cemas.
“Iya, jangan-jangan begitu. Gelangnya diambil, tapi surat cintanya dibuang,” kata Rita, teman yang lain yang juga ikut cemas.
“Ketemunya di mana sih barang ini,” aku bertanya sekali lagi.
“Di sini, di meja kita ini,” kata Ren, teman yang duduk di sebelah kananku.
Ooooooh…
“Mungkin ketinggalan ya, entah kenapa,” aku ikut menyumbang suara tapi mencoba untuk tak berpikir lebih dalam.
Ketika giliran Lily membaca, kulihat seorang gadis muda masuk ke dalam restoran. Terlihat cemas dan matanya melirik ke kiri dan ke kanan, sambil sesekali memandang ke ponselnya.
“Pssst…, Lily, hati-hati, jangan-jangan itu gadis yang punya tu barang,” aku berkata pelan memperingatinya.
Lily terkejut, tapi, dasar deh, bukannya merespon dengan berbisik, suara besarnya seperti biasa yang lantang keluar,”ADUH, SIAPA? KENAPA? KENAPA?”
Namun, ternyata aku salah kira. Gadis itu ternyata hanya hendak memesan hamburger secara take away.
Kami gerombolan yang menemukan benda itu adalah gerombolan junk journaling. Salah satu kebiasaan kami adalah, mengumpulkan kertas-kertas yang sudah tidak dipakai sebagai bahan untuk journaling. Jadi, kuperkirakan teman-temanku akan mengakuisisi paper bag mungil itu beserta isinya, untuk menambah koleksi kertas sampahnya. Secara liar aku berpikir, seru juga kalo setiap dari kami membawa pulang sesobek surat itu. Duh, maafkan pikiran jahatku ini…
Ternyata tidak demikian yang terjadi. Setelah yang terakhir selesai membaca surat cinta itu, semua dirapikan dan dimasukkan kembali ke dalam paper bag. Ren meraihnya, dan memintaku untuk meletakkan si paper bag malang itu di manalah. Di bagian lain dari restoran ini. Kuletakkan saja di tempat duduk yang tersambung dengan tempat kami duduk, namun pada meja yang berbeda. Jaraknya sekitar 2 meter di sebelah kiri dari kami.
Kami pun selesai dengan persoalan paper bag, dan kembali riuh dengan segala macam urusan yang lain, sambil menunggu pesanan datang. Kami ngobrol tentang teh terenak di mall ini, tentang Zita yang ponselnya sempat habis batere hingga 0% sampai-sampai tak bisa bayar air minum botolan yang hendak dibelinya, tentang segala rupa yang jelas-tak-jelas. Suasana restoran tak terlalu ramai, separo kosong. Jadi, keriuhan kami tak ada yang protes.
Kalau harus kujelaskan, bagian yang ramai pengunjung pada restoran ini adalah yang berada di sebelah kanan kami. Sementara, di sebelah kiri kosong. Karena itu, ketika ada kelebatan gerakan ke arah kiri yang kosong melompong, mataku dengan cepat menangkapnya. Kebetulan juga posisiku di pinggir kiri.
Secara otomatis mataku menatap sosok yang berkelebat itu. Ia pemuda yang cukup tinggi, tampak melangkah dengan pasti ke arah mana ia harus menuju. Ia langsung menuju tempat paper bag kecil berwarna putih yang tadi aku letakan di tempat duduk berwarna merah. Dengan sigap, si pemuda menyambar si paper bag. Dengan gerakan yang mengalir bagai air, ia langsung berbalik dan bergegas keluar dari retoran. Wajahnya terihat tegang, tapi tampak ada kelegaan.
Sungguh aku terperangah dan sedikit ternganga karena pikiranku tiba-tiba berkecamuk. Bisa merasakan apa yang dirasakan pemuda tadi.
“Itu yang punya sudah ambil paper bag-nya tuh,” kataku pada Ren yang duduk di kananku.
Kutunjuk si pemuda yang sudah keluar dari restoran. Sosoknya yang bergegas di luar masih terlihat karena restoran ini berdinding kaca.
“Eeeh…, itu cowoqnya,” Ren menginfokan kepada teman-teman yang lain.
Teman-temanku semua ikutan lega hati. Aku sendiri tahu rasanya ketinggalan dan kehilangan barang, yang belum tentu bisa kutemukan lagi meski kembali ke tempat di mana barang itu terakhir kuletakan. Karenanya, aku bersyukur bahwa pasangan itu pada akhirnya bisa mendapatkan kembali barang yang tertinggal. Memang hanya kertas-kertas saja, tak ada lagi perhiasan mahal seperti yang tercantum dalam bon-nya, tapi nilainya secara emosional sangatlah penting. Apalagi surat itu, yang isinya mewakilkan emosi penuh kasih dua sejoli.
Di lain sisi, aku juga bersyukur bahwa, ketika si pemuda datang untung memungut barangnya, pemeriksaan dari kami sudah selesai. Semua sudah rapih masuk kembali ke dalam paper bag. Bayangkan bila dia sempat melihat kami membaca suratnya. Suasananya pasti bakal canggung banget. Meski tak ada niat jahat dari kami, namun sudut pandang tiap manusia kan berbeda-beda ya… =^.^=