Komunikasi, Pandemi dan Cara Menangkal Hoaks di Grup Whatsapp Famili

Komunikasi, Pandemi dan Cara Menangkal Hoaks di Grup Whatsapp Famili
Sumber: Pixabay.com

Handphone terus berbunyi dan notifikasi sudah menumpuk. Saya sengaja tidak membukanya karena yakin isinya pasti tidak jauh soal pandemi. Beberapa minggu ini grup  Whatsapp keluarga diramaikan dengan pembahasan soal vaksin yang akan masuk ke Indonesia. Keluargaku mungkin bukan berasal dari kalangan akademisi, tapi lagaknya sudah melebihi seorang peneliti.

Saya mendiamkan saja hiruk pikuk yang ada di dalam grup Whatsapp tersebut. Bukannya bersifat apatis tapi lebih ke arah realistis. Bagaimana mungkin seorang bau kencur, tidak kencur-kencur amat sih saya sudah umur 28, mau menasehati member grup Whatsapp keluarga yang mayoritas berusia di atas kepala empat.

Dalam perebatan grup tersebut terbagi dua kubu yang bersebrangan. Satu sisi ada yang menyetujui adanya vaksin, sisi lain menyatakan penolakanya. Kubu penerima vaksin beranggapan bahwa vaksin merupakan cara satu-satunya agar Indonesia segera keluar dari pandemi. “Biar bisa jalan-jalan sama kumpul-kumpul lagi. Emang nggak kepingin ta?” ujar salah satu pihak yang menyetujui.

Kubu kontra vaksin menganggap bahwa kedatangan satu juta vaksin asal Cina itu dianggap akal-akalan elit global. Beragam pembenaran mulai dicari untuk mendukung teori bahwa vaksin merupakan agenda konspirasi elit global. Beberapa pihak kontra vaksin menyatakan bahwa vaksin itu disusupun chip, barang dagangan yang menguntungkan pihak tertentu, dan beberapa meragukan ke-halal-an vaksin.

Hiruk pikuk ini sudah jadi makanan sehari-hari bagiku, dan sekaligus hiburan. Sejujurnya, Saya sudah pernah urun rembuk membahas soal vaksin ini di grup, dan Saya bisa dibilang salah satu yang pro dengan adanya vaksin sebagai solusi.

Tapi, apa daya suaraku hanya dianggap angin lalu. Saya berargumen bahwa wabah ini layaknya penyakit pada umumnya, hanya saja obatnya belum ditemukan jadi proses pengananya lama. Dengan hadirnya vaksin ini kan, bisa menjadi tanda bahwa wabah ini sudah mulai bisa tertangani. Toh, kita tinggal mengikuti anjuran pemerintah.

Masalah seperti konspirasi elit global sampai ke-halal-an produk, bagi Saya bukan ranahnya kita berkomentar karena kita bukan seorang pakar.

“Lah meskipun kita bukan pakar, bukan berarti kita langsung percaya dong. Masa kamu yang lulusan perguruan tinggi nggak paham,” ujar salah satu member keluarga yang kontra.

Nah, untuk percakapan selanjutnya saya sudah malas membahasnya. Saya menganggap, pada saat itu, mendebat orang yang notabene keluarga dekat dan usianya lebih tua dari saya adalah tindakan percuma. Sebenarnya saya dalam posisi yang sangat dilematis. Tidak diberi tahu salah, diberi tahu terkesan menggurui dan kurang sopan.

Selama masa cuek, Saya hanya menikmati keseruan debat antar kedua kubu tanpa ikut campur. Tapi semakin lama debat berlangsung arah pembahasanya semakin liar. Bak bola panas yang terus bergulir, pembahasan sudah mulai nyrempet ke arah politik.

Saya khawatir perbedaan pendapat soal vaksin yang belum tentu benar atau salah bisa menimbulkan perpecahan di tubuh keluarga. Untuk mengatasi rumitnya perdebatan di grup Whatsapp keluarga ini, saya mulai mencari informasi agar bisa keluar dari debat kusir berujung konflik ini. Berikut beberapa informasi yang saya kumpulkan, dan saya harap bisa berguna bagi Pembaca:

Take Action, Lawan Dengan Berita Terpercaya

Awal mula kenapa hoaks mudah menyebar dan kemudian dikonsumsi sebagian masyarakat adalah rendahnya tingkat literasi. Tingkat literasi yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya soal aktivitas membaca dan menulis secara umum, tapi pemahaman bagaimana artikel disusun dan seberapa pentingnya berita atau News Literacy.

Di negara maju pendidikan literasi berita sudah mulai diajarkan sejak dini. Salah satunya gerakan bernama News Wise, diinisiasi oleh Google dan Guardian memberikan pendidikan literasi berita pada anak sekolah dasar (Jakarta Post, 9 Januari 2020).

Pemahaman ini diperlukan agar masyarakat, khususnya member Whatsapp keluarga kita, tidak mudah membagikan tulisan yang belum terbukti kebenaranya. Kebanyakan masyarakat kita sekadar share berita yang menurut mereka menarik, judul boombastis, mendukung pemebanaranya tanpa mengetahui bagaimana dan dalam rangka apa tulisan dibuat.

Dalam hal mengatasi permasalahan hoaks yang menyebar di grup keluarga, mau tidak mau, harus ada sosok pelopor penyampai “kebenaran” yang siap dengan segala konsekuensinya salah satunya dikucilkan sampai dimusuhi. Saya rasa susah, atau bahkan tidak mungkin, untuk memberi kuliah soal Literasi Berita kepada keluarga kita yang berusia lebih tua.

Cara praktis yang bisa digunakan adalah meng-counter berita hoaks dengan cara membagikan berita yang sudah tervalidasi kebenaranya dan bersumber dari media terpercaya. Meskipun sederhana, tapi saya yakin langkah kecil dan kongkrit ini bisa mengantisipasi kabar hoaks yang menyebar di grup Whatsapp keluarga. 

Gunakan Bahasa Sopan dan Mudah Dipahami

Saya anggap pembaca sekalian ada dalam posisi paham soal cara mendeteksi mana berita yang terpercaya dan mana yang hoaks. Dikutip dari laman Theconversation.com, langkah mudah membedakan berita hoaks dan tidak di antaranya; Pertama, berita terpercaya bisa didapatkan dari media mainstream, seperti Kompas, Detik, The Jakarta Post dan media mainstream lainya; Kedua, periksa identitas penulis berita apakah terverifikasi atau tidak; Ketiga, jika ada berita yang menyertakan gambar dengan judul mencurigakan silahkan akses Google Reverse Image Search untuk mengecek keabsahan gambar.

Saat menghadapi hoaks yang menyebar di grup Whatsapp dan pembaca ingin memberi tahu kebenaran sementara terkendalan usia yang relatif muda, saran saya satu: tetap katakan kebenaranya.

Ada istilah “sampaikan kebenaran meskipun itu pahit.” Supaya kebenaran tidak terasa begitu pahit campurkan sedikit "madu". Dan madu itu adalah bahasa dan tutur kata yang sopan. Saya yakin kultur ketimuran bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kesopanan saat berkomunikasi kepada sosok yang lebih tua bisa ampuh diterapkan dalam menyampaikan kebenaran dan menangkal hoaks.

Selain tutur kata yang sopan gunakan juga kata-kata yang mudah dipahami. Tinggalkan istilah-istilah canggih semacam distorsi, validasi, verifikasi, dan istilah yang terdengar asing. Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi penggunaan istilah yang ilmiah atau “terlalu canggih” justru terkadang menghambat terjadinya komunikasi yang baik.

Jika ada member keluarga yang mengatakan bahwa vaksin tidak bisa menyembuhkan malah membuat badan sakit jangan menjawab “vaksin sudah diuji oleh ilmuwan dan pakar epidemolog juga mendukung. Meskipun tidak bisa menyembuhkan 100% ada potensi herd immunity akan tercapai dan kita bisa bebas dari Corona.” Coba ganti dengan kalimat sederhana seperti ini, “Maaf Pak/Bu/Bude/Pakde/Om/Tante ini obatnya yang buat sudah ahli, dan pemerintah sudah menyetujui. Supaya kita semua sembuh dari Corona yuk ikuti aturan pemerintah. Toh, masalah sembuh tidaknya kembali lagi kepada Sang Pencipta. Kewajiban kita hanya usaha. Ini loh aku ada beritanya.”

Mengembalikan Marwah Grup Whatsapp Keluarga

Beberapa poin di awal penjelasan Saya tujukan bagi pembaca pada posisi netral saat ada perdebatan akibat adanya hoaks yang menyebar di grup Whatsapp keluarga, lantas bagaimana dengan Pembaca yang sudah terseret pusara konflik akibat hoaks di grup Whatsapp keluarga? Dalam hal ini Saya menyarankan berkomunikasi.

Komunikasi dalam hal ini bukan komunikasi dengan orang lain tapi kepada diri sendiri. Tanyakan pada diri sendiri apa dan kenapa grup Whatsapp ini dibuat? Apakah grup Whatsapp ini memang jadi ajang mencari pembenaran bukan kebenaran? Apakah grup Whatsapp keluarga memang digunakan untuk mendekatkan atau menjauhkan? Dan, apakah grup Whatsapp keluarga digunakan untuk menjalin tali silaturahmi atau justru membenarkan golongan kami?

Jawabanya ada pada diri Pembaca. Sekian.

 

Sumber

Jakartapost.com. (2020, 9 Januari). Why media education in schools needs to be about much more than 'fake news'. Diakses pada 10 Desember 2020, dari https://www.thejakartapost.com/life/2020/01/09/why-media-education-in-schools-needs-to-be-about-much-more-than-fake-news.html.

Theconversation.com. (2017, 8 Desember). How to spot fake news – an expert’s guide for young people. Diakses pada 10 Desember 2020, dari https://theconversation.com/how-to-spot-fake-news-an-experts-guide-for-young-people-88887