Ada yang bilang, belum lengkap rasanya ke Jambi kalau tak mampir ke Pasar Paduka. Lokasinya di Desa Muarojambi, yang berjarak sekitar 26 kilometer ke arah timur dari Kota Jambi. Paduka namanya, bukan Paduko seperti yang kadang orang salahkaprahkan. Karena, Paduka merupakan singkatan dari Pasar Dusun Karet.
Setelah disingkat menjadi nama Paduka, lalu ditambahkan lagi kata pasar di depannya sehingga nama lengkapnya menjadi Pasar Paduka. Tak usah bingung karena nama ini mengandung dua kata pasar, kita terima saja kenyataan ini.
Eka Amiyani yang akrab dipanggil Cik Eka, seorang penggiat Pasar Paduka, menceritakan bahwa nama ini dipilih saat organisasi pasar ini dibentuk. Cik Eka juga yang menceritakan asal usul penamaan Pasar Paduka. Meski ada nama Dusun Karet di sini, tapi bukan karena pasar ini berada di sebuah dusun yang bernama Karet. Kata karet dipilih karena lokasinya berada di bawah naungan pepohonan karet.
Meski bernama pasar, Pasar Paduko bukan pasar biasa. Ia hanya buka pada hari Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur lainnya. Dari pukul 09.00 sampai 17.00. Yang dijajakan pun bukan komoditi pada pasar umumnya. Kalau kita hendak mencari sayuran segar atau ikan mentah dari Sungai Batanghari, Pasar Paduka bukan tempatnya. Tapi, kalau kita mencari kenikmatan kuliner lokal, nah, kita berada di tempat yang pas!
Ada makanan berat seperti laksa atau rujak tahu. Ada pula berbagai makanan kecil macam brugo yang terbuat dari tepung beras, ketan jando, serta ketan bakar yang dimakan dengan dicocol ke kuah srikaya, dan lainnya. Mau cari minuman khas? Tentu ada! Ada minuman yang berasal dari tanaman pecah piring, ada pula yang disebut air sepang yang terutama cocok untuk mereka yang sedang panas dalam dan menderita sariawan. Dan lainnya. Tak hanya enak, namun juga menyehatkan. Catat ya, segala penganan itu hanya dapat dinikmati di tempat, tidak bisa dibawa pulang.
Sejak dibuka kembali pada akhir Juli 2025 setelah revitalisasi, sistem pembayaran untuk jajan-jajan di sana memakai sejenis token. Terbuat dari kayu bulat, disebut ‘koin paduka’, dengan variasi nominal rupiah 20 ribu, 10 ribu, 5 ribu, 2 ribu, dan seribu. Bila pasar usai dan koin paduka masih di tangan pebelanja, sila ditukar kembali ke petugas. Mau dibawa pulang ke kota asal boleh juga, sebagai kenang-kenangan akan pengalaman yang menyenangkan di Pasar Paduka.
Ada lagi yang penting dengan Pasar Paduka. Di sana segalanya diselaraskan dengan alam. Tidak ada peralatan makan plastik yang digunakan. Kios-kios secara maksimal dibuat dari apa yang disediakan alam. Saat jajan di sana, mata pembeli dimanjakan juga oleh kuluk, penutup kepala khas Jambi warisan leluhur yang cantik. Ya, tak hanya alam, tradisi juga mewarnai arena Pasar Paduka.
Tapi, di manakah tepatnya lokasi dari Pasar Paduka ini? Ia berada di seberang Candi Astano, salah satu candi di KCBN (Kawasan Cagar Budaya Nasional) Muarajambi. Di antara Pasar Paduka dan Candi Astano, mengalir sebatang kanal kuno, yang dibuat pada masa yang sama dengan masa candi-candi di KCBN Muarajambi dibangun.
KCBN Muarajambi merupakan kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara, yang jauh lebih luas daripada Candi Borobudur di Jawa Tengah. Ada yang pernah menyebutnya bahwa luasanya sampai sekitar enam belas kali Borobudur. KCBN Muarajambi luasnya sekitar 3.981 hektar. Tidak seperti Candi Borobudur yang merupakan bangunan tunggal, tapi lebih mirip dengan Kompleks Percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat. Menghampar di keluasan muka bumi.
Seperti juga percandian di Batujaya, candi-candi di KCBN Muarajambi terbangun dari batu bata. Selain dari beberapa artefak yang pernah ditemukan yang terbuat dari batu andesit, semisal makara di Candi Gumpung, dan arca Dwarapala berwajah senyum di Candi Gedong II.
Apabila Batujaya terhampar di daerah persawahan, KCBN Muarajambi meluas di antara peopohonan buah-buahan lokal dan hutan-hutan kecil. Di hamparan itu, masih bertebaran banyak manapo, alias gundukan-gundukan tanah seperti bukit kecil, yang diduga mengandung atau mengubur reruntuhan candi. KCBN Muarajambi diduga merupakan peninggalan yang berasal dari abad ke-7-12 Masehi. Dugaan ini didasarkan pada kesimpulan epigraf Boechari, dari pembacaannya beberapa lempeng prasasti yang ditemukan di sana.
Keberadaan KCBN Muarajambi pertama kali dilaporkan oleh Letnan S.C. Crooke pada 1824. Crooke adalah seorang tentara Inggris, yang menemukan kawasan ini saat melakukan pemetaan daerah aliran sungai demi kepentingan militer. Kemudian, pada 1975, barulah Indonesia, dengan dipimpin oleh arkeolog Indonesia pertama, R. Soekmono, melakukan penelitian dan pemugaran.
Penelitian, pemugaran, pendokumentasian, dan revitalisasi KCBN Muarajambi masih terus berlangsung sampai sekarang. Revitalisasi terakhir tak hanya melingkup tinggalan arkeologi atau cagar budaya saja, tetapi juga unsur-unsur pendukung lainnya. Salah satu yang direvitalisasi di KCBN Muarajambi adalah keberadaan Pasar Paduko.
Pasar Paduko secara diresmikan didirikan pada akhir 2023. Sebelumnya, para ibu yang kemudian menjadi anggota, pegiat, dan penggiat Pasar Paduko; berjualan begitu saja di kawasan secara sembarangan dan tanpa aturan. Pasar khas memang ini dirancang untuk merepresentasikan kehidupan perdagangan tradisional masyarakat setempat di masa lampau. Cerita dari seorang penggerak kebudayaan setempat, Abdul Haviz yang akrab disapa Ahok, para ibu pedagang dan anggota Pasar Paduko lainnya berjumlah 30 orang. Tak semua merupakan pedagang, tapi masing-masing memiliki perannya untuk keberlangsungan Pasar Paduka.
Ahok juga bercerita bahwa, para ibu Pasar Paduka melewati berbagai pelatihan dan penggemblengan untuk terus mematangkan usaha mereka. Termasuk melatih mental. Untuk itu, Pasar Paduka bekerja sama dengan berbagai badan atau organisasi yang berhubungan dengan makanan. Ibu-ibu Pasar Paduka dilatih pengetahuannya tentang gastronomi, table manners, pengetahuan menyajikan makanan, dan sejenisnya. Agar Pasar Paduka dapat menjadi salah satu daya tarik unggulan bagi orang yang hendak berkunjungan ke KCBN Muarajambi. Dan, sebaliknya.
Pasar Paduka menjadi bukti bahwa keberadaan KCBN Muarajambi telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat setempat. Memang, adalah hak masyarakat setempat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari sebuah kawasan cagar budaya di tempatnya. Sebagaimana yang dulu selalu ditekankan oleh senior dan pembimbing kita di arkeologi yang juga merupakan arkeolog pelestari, Mundardjito. Beliau kerap menyatakan betapa pentingnya bila penduduk di sekitar sebuah situs arkeologi dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari keberadaan sebuah situs tersebut. Tentunya, dengan cara yang baik dan tertib. Pasar Paduka adalah contohnya.
Sumber Data:
Ahmadi, Ali. Pasar Paduko: Perdagangan Tradisional Berwajah Modern dengan QRIS BRI di Jantung Candi Muaro Jambi
https://www.jambione.com/features/1365318131/pasar-paduko-perdagangan-tradisional-berwajah-modern-dengan-qris-bri-di-jantung-candi-muaro-jambi
Diakses 4 November 2025
Ahmadi, Ali. Progres Revitalisasi KCBN Muarajambi Terus Utamakan Pelindungan Alam dan Lingkungan.
https://www.jambione.com/news/1364928784/progres-revitalisasi-kcbn-muarajambi-terus-utamakan-pelindungan-alam-dan-lingkungan
Diakses 5 November 2025
Amiyani, Eka. Konversasi melalui WhatsApp pada 5 November 2025.
Fitri, Rahmadani. Mengenal Arca Makara di Candi Muara Jambi.
https://www.kompasiana.com/rahmadanifitri9987/664f023dc925c44b8737e872/mengenal-arca-makara-di-candi-muaro-jambi
Diakses 5 November 2025
Haviz, Abdul. Wawancara di KCBN Muarajambi pada 22 November 2024.
Iswinarni. Peran Pasar Paduka dalam Menjaga Kearifan Lokal dan Tradisi
https://rri.co.id/daerah/1128036/peran-pasar-paduka-dalam-menjaga-kearifan-lokal-dan-tradisi
Diakses 5 November 2025
Masjhur, Nina. Balada Sepeda Listrik, BWCF 2024.
https://borobudurwriters.id/kronik-budaya-dan-sejarah/balada-sepeda-listrik-pengalaman-peserta-the-13th-bwcf-2024/
Diakses 5 November 2025
Mundardjito. Ketika Arkeolog Menata Kawasan Muarajambi, dalam Pemikiran, Tindakan Harapan Mundaardjito bagi Arkeologi Indonesia Buku III, 200—207. Jakarta: UI Publishing, 2024.
Mundardjito. Konsep Kawasan Purbakala, dalam Pemikiran, Tindakan Harapan Mundaardjito bagi Arkeologi Indonesia Buku III, 28—32. Jakarta: UI Publishing, 2024.
Mundardjito. Menyikapi Pelestarian Kawasan Percandian Muarajambi, dalam Pemikiran, Tindakan Harapan Mundaardjito bagi Arkeologi Indonesia Buku III, 195—199. Jakarta: UI Publishing, 2024.
Museum Muarajambi
https://www.muarajambi.com/en
Diakses 6 November 2025
Pasar Dusun Karet. Akun Instagram.
https://www.instagram.com/pasarpaduka?igsh=dWxsd2xkdDdrMzly
Diakses 4 November 2025
Plasmanto, Gresi. Sosok Dwarapala Candi Muarajambi Berwajah Imut nan Jenaka.
https://www.liputan6.com/regional/read/4178477/sosok-dwarapala-candi-muarajambi-berwajah-imut-nan-jenaka
Diakses 6 November 2025
Septiawan, Wahdi. Kanal Kuno Kawasan Percandian Muarajambi.
https://jambi.antaranews.com/foto/450314/kanal-kuno-kawasan-percandian-muarajambi
Diakses 5 November 2025
Wikipedia. Kompleks Candi Muaro Jambi.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kompleks_Candi_Muaro_Jambi
Diakses 5 November 2025
Wikipedia. Percandian Batujaya.
https://id.wikipedia.org/wiki/Percandian_Batujaya
Diakses 5 November 2025