NOAM
Noam Bagian 14: “TRAITOR!”
Kilas baik (Noam Bagian 13): Setelah rumah orang tuanya diteror dengan tulisan "Jew Lover", Layla makin mendapatkan tekanan dari keluarganya untuk memutuskan hubungan yang telah ia jalin kembali dengan Noam. Sepertinya, keluarganya lebih mendukung keberadaan Jimmy. Meski menghadapi masyarakat kota London yang kian terkotak-kotak dan sarat permusuhan, Layla tidak takut menentukan pilihannya.
_________________
Untuk pertama kalinya aku duduk di meja kerja Layla. Aku tersenyum sambil duduk bersandar ke belakang, kedua tanganku menopang bagian bawah kepalaku.
Aku sedang melihat foto masa kecil Layla yang menghiasi rak mejanya. Layla kecil memakai topi, kaos, dan jin duduk di pangkuan bapaknya sambil tersenyum. Sebelah kanan, tampak ibunya yang berhijab dan dua kakak perempuan Layla dengan rok terusan dan pita pada rambut mereka, berdiri sambil bersandar manja pada ibunya. Bagiku, foto ini adalah cerita tersendiri tentang Layla.
Mendengar pintu apartemen terbuka, wajahku menengok ke kanan. Dan itulah dia, Laylaku!
“Hi Noam!” ucap Layla dengan senyum lebar. Setelah melempar tas kerja dan jaketnya ke kursi, ia langsung berjalan ke arahku dan memelukku serta mencium dahiku. “Lagi ngapain kamu?” tanyanya, masih tersenyum manis.
“Ini … aku lagi melihat fotomu waktu kecil … lucu amat … kamu tomboy dulu ya?” tanyaku sambil tersenyum juga.
“Oh itu … iya memang, aku dulu jarang pakai rok, mungkin karena keluargaku mengharapkan anak laki-laki … eh, jadi aku sering dibiarkan pakai celana panjang, sementara kakak-kakakku pada manis-manis pakai rok … hahaha,” celoteh Layla.
Tetapi mimik wajah Layla tiba-tiba berubah. “Noam …,” ia menyebut namaku dengan pelan, sepertinya akan dilanjutkan oleh suatu pembicaraan yang serius. Hmmmm.
Aku angkat dagu mungil Layla dengan telunjukku. “Lantas apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku, Layla?”
“Aku sebenarnya sudah lama ingin cerita tentang hal ini … tapi aku tidak ingin merusak suasana,” ungkap Layla.
“Suasana apa?” tanyaku, gak paham.
“Yaa … kita lagi senang sekali karena acara manggungmu belakangan ini lumayan sukses, rame dan banyak penonton baru. Bahkan sempat diliput media segala. Aku tidak ingin merusak suasana dengan menceritakan sesuatu yang terjadi,” jelas Layla dengan sedikit menunduk.
Aku angkat dagu mungil Layla dengan telunjukku. “Lantas apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku, Layla?”
“Kan pernah kamu teleponku sebelum berangkat ke klub dan aku lagi di rumah orang tuaku. … Sebenarnya, aku disuruh ke sana karena … keluargaku diteror … Di tangga depan rumah ada coretan “Jew lover” … Bapakku melapor kepada polisi …”
Aku terperangah mendengar kata-kata yang keluar dari bibir lembut Layla … kaget, marah, kedua tanganku memegang erat kepalaku yang sepertinya akan meledak.
“Those pricks!” ucapku pelan tetapi penuh dendam.
“Sudahlah Noam.” Layla menarik dan menggenggam kedua tanganku … “Don’t worry about it, mereka tidak akan berhasil mematahkan kami!” kata Layla dengan suara lantang.
***
Malam itu di apartemen Layla, aku sulit tertidur. Untuk memejamkan mata saja susah, saya terpikir terus tentang teror yang dialami keluarga Layla. Aku khawatir kalau itu bisa berdampak pada keamanan Layla atau anggota keluarganya.
Entah berapa jam kemudian, saat mataku yang kupaksa terpejam merasakan adanya cahaya matahari dari jendela, aku dikejutkan oleh gerak tubuh Layla di sampingku yang tiba-tiba terbangun dan duduk dengan suara seperti menangis atau kesakitan.
“Layla sayang, kenapa?” Aku memeluknya, tetapi ia malah langsung beranjak dari tempat tidur. “Kamu mimpi buruk, Layla?”
“Bukan … bukan,” kata Layla, setengah menangis. Auntie Fat … ia datang untuk pamit.
“Siapa?” tanyaku bingung.
Aku bingung melihat perilaku Layla. “Hey, itu hanya mimpi, Layla … Memangnya …?
“Auntie Fat, bibiku yang tinggal di Southport. Ia bilang sudah tiba saatnya baginya dan ia menasihatiku, 'be strong, Layla.' … Aduh, aku dan keluargaku harus segera ke sana,” Layla lantas mengambil pakaiannya dari lemari.
Aku bingung melihat perilaku Layla. “Hey, itu hanya mimpi, Layla … Memangnya …?
Lalu ponsel Layla berbunyi. We’re Traaash, you and ….
“Hello, Papa. Oh … Oh my God … oh begitu. Okay Pa.” Layla mengakhir percakapannya dan memasukkan pakaian yang sudah ia kumpulkan ke dalam tas ransal.
Aku pun bangun dari tempat tidur. “Mau ke mana kamu, Layla?” tanyaku heran.
“Mau ke rumah Auntie Fat … eh, maksudnya, mau ke rumah orang tuaku dulu terus dari sana baru kami naik kereta bersama ke Southport untuk mengurus pemakaman bibiku,” jelas Layla sambil sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam ransal.
“Oh, jadi benar, bibimu itu meninggal?” Aku masih belum yakin.
“Ya, benar, Papaku barusan mengabariku bahwa Auntie Fat ditemukan petugas kesehatan di kamarnya sudah meninggal.”
“Oh.” Aku langsung memeluk Layla. “I’m so sorry to hear that.”
Layla menciumku. “Aku akan kembali besok pagi. Kamu di sini saja juga gak apa-apa, Noam.”
“Cepat juga baliknya, kamu yakin?” tanyaku.
“Ya, memang harus cepat, kan jasad seorang Muslim harus segera dikubur,” Layla terdengar kesal harus menjelaskannya kepadaku.
“Oh iya ya,” tanggapku sedikit malu.
“Bye Noam,” ucap Layla, membuka pintu dengan wajah amat sedih.
Hey wait! Suaraku sedikit teriak sambil sibuk mengenakan baju dan jaketku. “Aku antar sampai rumah. Kita memesan Uber saja,” kataku sambil menggengam tangan Layla.
***
“Noam … orang tuaku …,” Layla tidak menyelesaikan kalimatnya itu saat sampai di depan rumah orang tuanya, tetapi tatapannya yang berbicara.
“Ya, aku tahu, Layla.”
Layla turun dari mobil dan aku pun meneruskan perjalanan kembali ke apartemennya.
***
Aku pikir apartemen Layla perlu sedikit dibersihkan, maka aku mulai merapikan beberapa bagian. Sekitar lemari pakaian Layla berantakan sekali. Ada barang-barang yang ia jatuhkan dan tinggalkan begitu saja saat ia buru-buru mengemas pakaiannya.
Aku memungutnya satu per satu dan mengembalikannya ke dalam laci. Sebuah kaos kaki hitam yang tidak kelihatan pasangannya … jepit rambut … pembalut …. Ketika mau menutup lacinya, ternyata macet. Terpaksa aku tarik keluar lacinya sampai habis untuk memosisikannya kembali.
Ya, aku memang cepat emosi dan cemburu.
Saat itulah aku bisa melihat barang-barang yang sepertinya didorong ke belakang agar tidak tampak. Ehmmm, aku jadi menyesal. Tampak di situ sebuah foto lama, photo booth mesra Layla dan Jimmy. Ada beberapa … entah kenapa aku malah mengambil semuanya dan melihat setiap fotonya.
Jimmy, si hot shot tengik itu, memeluk Layla begitu ketat. Norak sih, menurutku.
Layla tampak tersenyum ceria di hadapan kamera. Ah, apa iya, Layla bahagia waktu masih bersama Jimmy? pikirku.
Pada foto terakhir, Layla sedang mencium pipi Jimmy dan mulut Jimmy tersenyum selebar-lebarnya. Jelek rupa lelaki itu, menurutku.
Aku masukkan semuanya kembali ke belakang laci dan menutup laci tersebut, mungkin dengan sedikit dibanting. Hahaha. Ya, aku memang cepat emosi dan cemburu. Ah, sudah cukuplah semuanya untuk membuatku merasa mual. Aku putuskan untuk pulang saja ke apartemenku. Di sini vibes-nya lagi kurang bersahabat.
***
Langit kota London tampak cerah. Turun dari bus, awan-awan putih bersih seperti mengawalku dalam perjalananku, meski sejenak.
Menaiki tangga menuju apartemenku, aku merogoh kantong celanaku untuk mengambil kunci. Sampai di anak tangga paling atas, aku melihat seorang sedang berjalan di koridor ke arah keluar gedung. Ia mengenakan hoodie hitam yang menutup kepalanya. Anehnya, ia berjalan agak terlalu cepat dan makin cepat ketika mendengar suara langkah kakiku dari belakang. Memang mencurigakan.
Adrenalinku terasa memuncak, tubuhku serasa melayang di atas tangga hingga sampai di bawah.
Sampai di depan pintu, ternyata pada pintukku ada coretan “TRAITOR!”. Aku langsung menegok ke arah sosok yang tadi berjalan, tetapi ia sudah tidak tampak lagi. Ia pasti sedang menuruni tangga pada sudut gedung apartemen, pikirku. Refleks, aku langsung lari, hendak mengejarnya.
Ketika melaju menuruni tangga, dari sisi kanan aku bisa melihat ke bawah. Tampak kepalanya yang tertutup hoodie. “Hey dickhead!” teriakku. Sadar aku mengejarnya, ia pun berlari kencang.
Adrenalinku terasa memuncak, tubuhku serasa melayang di atas tangga hingga sampai di bawah. Aku berlari cepat hingga keluar gedung.
Di luar gedung, aku tengok ke kiri dan ke kanan, pengecut itu sudah tidak tampak. Napasku terengah-terangah, keringatku bercucuran pada dahi dan sepanjang pungguku. Setan!
***
“Hey traitors!”
“Oh look, there’s one of those self-hating Jews … haha”
“Jangan nengok, biarkan saja,” kataku kepada Layla yang baru mau mengarahkan wajahnya ke suara-suara ribut itu. Aku pun terus berjalan pelan, memegang karton bertuliskan “Jews for Palestine”.
Suasana protest march dalam rangka peringatan 78 tahun Nakba yang dihadiri ribuan warga London ini kian menegang. Pada saat bersamaan kelompok kanan melangsungkan protes anti-imigrasi. Saat kedua kelompok berpapasan sejenak, terjadi saling mengumpat dan rupanya beberapa orang dari kaum nasionalis itu tidak melewatkan kesempatan untuk mengolok-olok Yahudi yang bersatu dengan kaum Muslim.
Mataku mencari-cari sosok yang memakai hoodie itu di dalam keramaian, apa dia menguntitku?
Beberapa jam kemudian, suasana sempat menjadi sulit dikendalikan hingga terjadi konfrontasi fisik antara polisi dengan kelompok pendukung Palestina. Aku dengar hal yang sama pun terjadi pada protes kelompok kanan. Entah sudah berapa pemerotes ditangkap polisi, untunglah aku, Layla, Lara, ataupun Linh aman.
Namun, kejadian kemarin membuatku jadi paranoid. Mataku mencari-cari sosok yang memakai hoodie itu di dalam keramaian, apa dia menguntitku?
“Ayo kita pulang saja, Layla.” Layla tampak lelah dan masih sedih sepulangnya dari Southport tadi pagi. Aku pun lagi merasa agak down.
***
Di halte bus, aku tidak banyak bicara.
“O iya, Noam.” Layla tiba-tiba merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu.
“Look!” kata Layla. Senyum manisnya menghiasi wajah eloknya yang tadi bersedih.
“Wow …” mataku hampir tak percaya apa yang kusaksikan. Sebuah Sony Walkman tahun 2000-an, lengkap dengan penyuara telinganya. “Where did you get that?” tanyaku sambil meraba barang antik itu dengan takjub.
“Ini dari rumah Auntie Fat. Punya Adam–kakak supupuku, anaknya Auntie.” Melihat aku begitu senang dengan Walkman itu, ia memberikannya kepadaku. “’It’s yours now’, begitu kata Adam,” cerita Layla, diikuti tawa cantiknya itu. “Ada kasetnya loh di dalam, masih bagus,” lanjut Layla sambil memencet tombol play dan memasang penyuara telinga sebelah kiri ke kuping kiriku dan yang sebelah kanan ia tempelkan pada kuping kanannya.
“Wow … lagunya grup The Tears! Sepupumu punya selera musik yang keren,” pujiku.
“Iya, ternyata,” tanggap Layla, lagi-lagi dengan senyumnya yang membuatku takluk.
Di dalam bus kami lanjut mendengarkan musik dari Walkman itu. Berbagi penyuara telinga membuat wajah kami saling berdekatan sepanjang jalan. Ah, cocok sekali lagunya, Break Away.
And this world is an apple, rotting slowly
Other people are cattle, dying lonely
But they're giving us rules to follow
And they're giving us shit to swallow
Let's break away tonight
There's a place where we can meet
Let's slip into the night
The planet's at our feet
Let's break away tonight
You and me*
Ah, Layla memang bisa saja menenteram jiwaku. Aku genggam erat tangan kekasihku, Laylaku.
*Butler and Anderson, 2005
Gambar: Canva
Bersambung
Baca Noam 13
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



