Terharu Biru di Desember Kelabu

Desember selalu membawa suasana sendu. Mendengarkan lagu dengan melodi merdu dan lirik indah nan romantis di bulan ini membuat hati terharu biru

Terharu Biru di Desember Kelabu
Photo by Arina Krasnikova from Pexels

 

 

“Bulan Desember selalu menimbulkan suasana sendu, dan perasaanku langsung mellow. Mungkin karena cuaca yang lebih sering mendung, mungkin karena ada suasana Natal yang syahdu, entahlah, yang jelas, aku jadi mellow…,” kata sahabatku  Dyah.

Aku  tersenyum mendengarkan celotehannya. Bukan sekali ini saja  Dyah menyampaikan perasaannya . Sudah beberapa kali Desember ia menyampaikan mengenai mellow dan sendu di bulan Desember.  Pada bulan ini lah, aku  bisa melihat sisi romantis sahabatku  ini, perempuan cerdas berintegritas yang aktif dalam berbagai kegiatan .  Dari Januari sampai November, Dyah yang berwajah oval dengan mata besar dan beralis tebal, tidak pernah memikirkan cuaca apalagi cuaca hati.

Jadi, pembicaraan mengenai sendu dan mellow di akhir tahun ini, bagiku  menjadi selingan yang menyenangkan. Sebagai seorang perempuan yang agak drama queen,  hobi nonton filem-filem romantis dengan happy ending dan senang mendengarkan lagul-lagu yang mengharu-biru, topik mengenai romantisme di akhir tahun tentu lah menyenangkan buatku.  Untuk meneguhkan pandangan Dyah, maka aku  bergegas mendengarkan beberapa lagu romantis yang legendaris.

“Ayok kita dengarkan lagu-lagu romantis” ajakku kepada Dyah. Tanpa menunggu responnya aku   menggapai gawai, dan mebuka play-list, langsung  menekan lagu pertama. Dan berkumandanglah  suara Billie Holiday (1915-1959), penyanyi jazz African American perempuan yang terkenal di era 30an-40an.  Suaranya yang khas, dan unik, memenuhi ruangan tamu melantunkan I’m A Fool to Love You

“ I'm a fool to want you,  I'm a fool to want you
To want a love that can't be true
A love that's there for others too

I'm a fool to hold you
Such a fool to hold you
To seek a kiss not mine alone….”

Pikiran dan perasaanku pun hanyut, larut dalam melodi yang mendayu merdu dan lirik yang mengiris hati, tentang cinta tulus  seorang perempuan  kepada seorang lelaki yang tidak bisa dimilikinya namun ia tak  tak kuasa meninggalkannya. Bagian refrain lagu yang dilantunkan Billie Holiday dengan segenap perasaan membuatku miris:

Time and time again I said I'd leave you
Time and time again I went away

But then would come the time when I would need you
And once again these words I'll have to say

I'm a fool to want you…..

Dahsyat bukan? Aku bisa menghayati perasaan tokoh dalam lagu itu yang jatuh bangun dengan cintanya, meski pun ia tahu bahwa hubungan mereka tidak bisa eksklusif. Indah dan sakitnya cinta menjadi satu dalam ramuan lagu jazz yang membuatku terhenyak, dan yah, seperti  Dyah mellow, di bulan Desember yang kelabu. Lagu-lagu romantis ini memang dahsyat, melodinya yang indah serta liriknya yang kuat bisa membuat kita tenggelam dengan berbagai perasaan.  Aku termenung setelah lagu ini selesai, dan mengagumi  penggubah lagu ini,  yang ternyata menurut  The Data Base of Popular Music adalah Frank Sinatra, Jack Herron dan Joe Wolf pada tahun 1951.  I’m A Fool to Love You, buatku adalah lagu yang sangat romantis. Bayangkan mengalami jatuh cinta pada seseorang sedemikian dalam, sampai rela melakukan apa pun, termasuk “disambi”* oleh kekasih untuk bercinta dengan yang lain, dan tetap mencintainya. Kalau dipikir dengan akal sehat sangat tidak masuk akal sikap seperti ini. Tetapi jangan-jangan cinta memang begitu, jatuh bangun, nggulung koming.* Meski pun tidak rasional, aku tetap sangat menyukai lagu itu. Aku melirik Dyah, ia tampak melamun, entah apa yang ada di pikirannya.

Karena mood sudah terbangun, aku melanjutkan ke lagu nomer 2. Aku menekan tombol play. Masih dari genre jazz-pop, dan ruangan santai di dalam rumah mungilku dipenuhi dengan lantunan Peggy Lee (1920-2002), dengan lagunya  I Love the Way You’re Breaking My Heart. Penyanyi jazz Amerika berkulit putih dari North Dakota yang terkenal pada tahun 40an, dengan karakter suara yang berbeda  dari Billie Holiday ini, kembali membuai kami  dengan cerita tentang cinta:

I love the way you're breaking my heart
It's terribly, terribly, terribly, terribly thrilling
I love the way you're breaking my heart

Although you're gonna ruin it
It's heaven while you're doin' it
I love the way I feel when we kiss
You're terribly, terribly, terribly irresistible

Sigh to me and lie to me
You really know how it's gonna hurt tomorrow
But it feels so good now

So darling, just keep playing your part
Take your time and really finish the things that you start
'Cause I love the way you're breaking my heart

Suara Peggy  Lee yang lembut, melantunkan kata demi kata, seolah bercerita dengan kebahagiaan dan sekaligus kepedihan tentang cintanya kepada kekasihnya , tentang ketidak berdayaannya berpisah meskipun si kekasih membuatnya patah hati berkali-kali.  Bahkan patah hatinya itu lah yang membuatnya makin mencintainya:  “ I love the way you’re breaking my heart ….  Duhhhh. Luar biasa penggubah lagu dan penulis lirik lagu ini: Milton Drake dan Peggy Lee, yang dengan indah, serta pedih menceritakan kekuatan cinta. Ya, aku menganggap lagu ini adalah tentang cinta, cinta model mabuk kepayang yang tidak lagi merasakan sakitnya ditinggal selingkuh. Apakah agak masochist ( senang menyakiti diri sendiri)? Mungkin saja. Bisa jadi itu salah satu interpretasi dari lagu Peggy Lee ini. Tapi mungkin ada orang-orang yang menganggap lagu ini romantis dan jujur.   Aku  memilih menganggap lagu ini, seperti juga lagu Billie Holiday  I’m A Fool to Love You, adalah lagu yang romantis dan jujur. Romantis karena menceritakan dengan indah perasaan jatuh cinta dan mencintai.  Jujur, karena tidak selalu cinta itu terjadi pada dua orang yang karakternya sama-sama baik, sama-sama setia. Kadang jatuh cinta terjadi antara perempuan yang baik, jujur setia, dengan laki-laki romantis, perayu, tukang selingkuh, dan bisa juga sebaliknya.  Seringkali cinta juga memanah laki-laki dan perempuan yang masing-masing sudah memiliki pasangan, atau salah satunya memiliki pasangan. Begitulah misteri cinta, kata orang bijak.

Namun sebagai orang yang romantis, aku  percaya bahwa cinta itu indah, dan bisa terjadi kapan saja, pada siapa saja. Aku  juga percaya cinta itu tulus, tidak sombong dan jujur. Bagiku, ini tergambarkan dengan baik di Arti Cinta, salah satu lagu Ari Lasso yang sangat populer di awal tahun 200an. Lagu itu digubah  oleh Ricky FM dan lirik oleh Ari Lasso. Aku raih gawai yang terletak di meja tamu, dan kutekan play list berikutnya.  Suara Ari Lasso berkumandang melantukan bait demi bait  yang sangat kuat tentang cinta:

Arti cinta yang sesungguhnya.

 Kan kau dapat dari diriku   

Meski aku bukanlah lelaki

 Yang kau impi-impikan

 

Bukan kata apalagi harta

Tubuh jiwa pasti untukmu

Yang ku punya sejuta cinta

Yang kan membuatmu Bahagia……

Kembali aku  terbuai dengan lantunan suara Ari Lasso yang dengan kuat mengumandangkan tentang cinta. Dengan nada tinggi Ari Lasso meneriakkan kesungguhan cintanya:

Selama jantungku masih berdetak

Selama itu pula engkau milikku 

Selama darahku masih mengalir

Cintaku pasti takkan pernah berakhir

Aku  pun tergetar mendengarnya.Luar biasa metafor yang digunakan  “selama jantung masih berdetak…. Selama darah mengalir,” artinya cintanya pada pujaan hatinya adalah selamanya, selama ia masih menghela dan menghembuskan nafas. Kalau lah ada laki-laki yang berteriak seperti ini kepadaku, aku  sudah lempar handuk putih, menyerah, ikut kemana pun dia pergi, meski pun dibawa masuk ke lubang semut. Dua bait terakhir Ati Cinta membuatku hatiku terasa dilumat:

Segalanya bisa kau punya

Tapi apa arti hidupmu

Tanpa cinta di dalam hati

Pasti hidupmu tak bermakna

   

Sambutlah aku 

dengar bisikan hatimu

Temukanlah arti cinta sejati 

di dalam cintaku

Lagu berakhir. Aku  tidak memutar lagu berikutnya. Ketiga lagu yang sudah  kudengarkan bagiku sangat dalam maknanya. Membuatku merasa penuh dan bahagia serta optimis. Selama ada cinta, di situ ada kasih, dan kemampuan mencintai dapat membuat kita bisa lebih menghargai sesama. Aku menoleh ke arah Dyah, yang kelihatan masih tercenung. “Gimana Dyah, suka nggak dengan ketiga lagu itu,?” tanyaku. “Suka sih” jawab Dyah dengan senyum manis.  “Terutama melodinya. Kalau liriknya, terutam  2 lagu pertama, kok aku agak gimana ya. Masak sih gara-gara cinta, kita sampai mau disakiti seperti itu. Aku sih ogah ah, biar pun suka mellow tapi semoga gak ngalamin cinta kayak gitu,” katanya. Aku pun tersenyum. Ternyata Dyah lebih mengutamakan rasionalitasnya, ketimbang suasana hatinya, dalam keadaan mellow sekali pun. Dyah bukanlah seorang drama queen. Akulah si ratu drama sepanjang tahun.

 

*Disambi (Bahasa Jawa) = disisihkan, tidak diprioritaskan

*Nggulung koming (Bahasa Jawa) =  jatuh berguling-guling