Dialog

Percakapan warga masyarakat pentng diapresiasi karena juga merupakan bagian dari komunikasi

Dialog
Adakah komunikasi tanpa makna?

Lomba Menulis The Writers

“Semua Masalah dapat Diselesaikan dengan Komunikasi.”

 

 

D i a l o g

 

 

Udah, Dul, diem lu..”

“Bincang apa gerangan?”

Ana apa, yaa?”

Aya naon?”

“Entu si Dul dari kemaren-kemaren ngomong itu melulu..”

“Dia bilang apa?

“What’s wrong, my dear?”

“Kon ngomong opo, Dul?”

“Sik, sik. Mbok aja nesu. Diterang-ke, sik..”

“Ei, apa pasal, ni?!”

“ Kok tanya gua. Noh, tanya si Dul..!”

“Oo, okay. I ask him..”

“Kamu bicara apa sampai doi marah begitu?”

“Aku? Ngomong apa? Aku ora ngomong opo-opo. Deweke wae muring-muring. Ora jelas..”

“He he he, Ala mak jang, Kalo indak ada berada, masakan tempua bersarang rendah..”

“Apik tenan. Peribahasa kuwi pas..”

“Ya, peribahasa karya kakek-nenek kita nyaris dilupakan oleh sebagian warganegara Indonesia. Padahal maknanya dalam. Ada asap berarti ada api..”

Yee, kagak gitu-gitu amat, dah. Ada api kagak ada asap..”

“Masa?”

What?”

“Mano biso? Macam-macam sajo Uda nii..”

Ono, tho. Piye?”

“Kebakaran jenggot..Mikir !”

He he. Hi hii. Hoo hoo. Ha ha haa..”

Semua tertawa. Serempak. Seperti kompak. Ada yang terbahak.

 

Sesuatu yang lucu memiliki kecenderungan multi tafsir. Unik. Padahal masing-masing insan

memiliki latar belakang pengalaman dan pengetahuan berbeda, Apa, siapa, kapan, di mana, bagaimanapun warga masyarakat berkomunikasi, tanpa ataupun dengan makna tergantung persepsi – bahkan keluasan wawasan - pendengarnya

Satu di antara sekian penyebab – sebutlah begitu – umumnya dipengaruhi oleh pekerjaan yang dilakukan setiap hari, sehingga menjadi kebiasaan dan kebisaan, yang proporsinya dari yang biasa-biasa, sedang-sedang saja maupun yang luar biasa

.

Di lain sisi/tempat/lokasi, lain pula yang terjadi. Komunikasi tidak hanya dengan sesama manusia, namun dengan berbagai makhluk di alam semesta, nyata maupun ghaib, jasad renik maupun “raksasa.”

 

Filsuf              : memelihara dan suka mengelus-elus, senyum bangga..

Tukang cukur : ada yang memuji, ada yang membabat habis..

Anak-anak     : senang memainkan jenggot kakek, ada cerita bergantian..

Kaum Pria    : melirik. Ada yang manggut-manggut setuju, ada yang menjengek – mungkin : cemburu, sakit hati..

Kaum Hawa: Ada yang mainkan alis, ada yang melengos, ada yang picingkan mata seraya senyum malu-malu membayangkan sesuatu, ada..

 

Ada yang geleng-geleng kepala.

Ada yang sorot matanya tajam

Ada yang menggerutu :”Bagaimana mau komunikasi lancar, ini masker jadi penghalang!:

“Nah, Tuh. Itu tuh, masker..!”

“Maksudnya?”

“Masker? Why?”

Nganggo masker salah, tah? Iko nggo mencegah penyebaran covid 19, bung!”

“Nah, Tuh. Yang bikin budeg. Kopad, kopid, kopat ! Semua jadi khawatir. Pemerentah kok nakut-nakutin rakyat. Pada parno, psikopat, tau rasa !”

“Jadi mestinya bagaimana?”

“Yoo, cara-ne piye?”

“Nih, gua kasih tahu yaa. Kalo bikin pengumuman kudu lengkap. Bukan cuma pencegahan 3 M, tapi kasih tahu juga khasiat herbal. Mpon-mpon, jahe, kencur, jeruk nipis, madu..”

You’re good person. Thanks”

Joss tenan, Matur suwun.”

Sampeyan betul, Ji. Kita wong Nusantara punya warisan nenek moyang. Herbal kita lebih lengkap dibanding bangsa manapun..”

“Tah, eta. Kulan ge setuju. Pingpinan negara ulah nurut-nurut pisan ku orang asing..!”

 

Wong Nusantara lingkup budayanya sampai Madagaskar. Ratusan bahasa Ibu digunakan untuk berkomunikasi. Mau gunakan Bahasa Indonesia baku, baik dan benar, sila. Dan, tentu paham bahwa bahasa Ibu dari berbagai etnik Nusantara adalah bagian penting way of life kebangsaan Indonesia : Pancasila yang terpampang megah di lambang garuda, serta wewarah luhur mulia : Bhinneka Tunggal Ika = berbeda-beda satu jua.

 

Demikian. Sebagai warga negara Republik Indonesia yang memiliki pergaulan nasional, regional dan internasional, tentu kita semua acapkali mendengarkan cara-gaya tutur kata, diselingi Bahasa Ibu maupun Bahasa Asing di sana-sini ketika berkomunikasi. Termasuk:  The Writers. Ha? Kok?

O ya, benar. “The Writers” bisa di-Bahasa Indonesia-kan : para penulis. It’s okay.

Maaf, jadi, siapapun yang mengikuti lomba ini mesti paham Bahasa Inggris, ya?

Benarkah jika tidak bisa berbahasa Inggris berarti tak berkomunikasi?

Ini lomba yang unik, karena berbagai hal mestinya dikomunikasikan kepada publik.

Maaf, jika ada yang kurang dalam mengkomunikasikan lomba ini, berarti juri juga wajib

memahami bahkan memaklumi jika ada peserta yang tulisannya di luar dugaan mereka.

Usul: berbagai konsep/teori tentang komunikasi yang dikutip dari text-book, mestinya dikunyah/dimamah, dikuasai dengan baik, karena sudah diolah dengan berbagai kemungkinan

dalam kehidupan bermasyarakat di Nusantara kita.

May you?

 

Tangerang Selatan, 14 Desember 2020 – 5 Januari 2021

 

Ditulis-unggah oleh

 

N a m a        : Uki Bayu Sedjati.

Alamat         : Pamulang Permai 1, Blok B 22, no 8, Pamulang, Tangerang Selatan.

No.HP          : 0819-3284-1081