Menyemarakkan kesunyian

Menyemarakkan kesunyian

Belum genap seminggu, suasana ramadhan malam hari di kampungku begitu ramai. 

Selepas maghrib, isya, tarawih dan khutbahnya, geliat religi malam dilanjutkan dengan lantunan tadarus. Tidak itu saja, sayup-sayup mulai terdengar suara petasan saling bersahutan. Entah ingin ikut menyemarakkan apa? tapi mungkin ikut larut pada bagian dari menghidupkan malam. 

Sayapun mencoba larut dalam semarak itu, ingin sekali mengaji nyaring tapi dengan tajwid seadanya, tapi kok malu rasanya dengan tetangga. Takut mengganggu. Walaupun tentu saja ingin mengajak menebar pahala walau dengan satu ayat.

Tapi, bila kemudian mengaji dengan suara perlahan, saya ragu, apakah saya tetap menjadi bagian dari yang menghidupkan malam? 

Ah, saya tidak tahu, yang jelas volume suara dari film netflix harus saya mulai kecilkan malam ini