Mencintai Kebodohan

Mencintai Kebodohan
filosofilagu.com

Aku perempuan angkuh, tak perlu pendamping. Kehidupanku yang diputar secara paksa telah membuatku dapat berdiri di atas kakiku sendiri bahkan sebelah kakinya sambil mengerjakan yang lain pun aku sangatlah sanggup. Bukan polesan Raja pun Ratu. Hanya saja pangeran yang datang berasal dari kerajaan antah berantah yang terlalu lama menyaji tirai pelangi sementara di belakangnya panggung tak laik naik.

Rupanya Tuhan Maha baik, untukku. Ya untukku, yang kelak untuknya juga dalam versi yang berbeda.

Sang Sutradara menyiapkan skenario yang berbeda, tiba-tiba aku manggut lalu tanpa alasan apapun dan memang tak perlu lagi alasan, bagiku sampai pada akhirnya aku di sini adalah skenario tak berbayar yang penuh sukacita aku syukuri, namun entah olehmu.

Bukan angin pun bukan udara. Hembusan hawa buatan meneduhkan isi kepalaku dan kebodohan pertama aku biarkan terjadi, yaitu mengagumimu. Brengsek, seketika hiruk pikuk kepala perlahan teratur berbaris keluar dari gerbang benang kusut yang sulit kutemukan antara ujung dan pangkalnya. Seketika aku pandai menata hati hingga segala gundah dan amarah aku keluarkan yang kelak dinamakan kelegaan.

Persetan orang bicara apa, toh mereka tak pernah tahu bahwa menyimpan segala ketidaksenangan adalah hal yang tidak mengenakkan. Aku mampu bertahan di balik kesendirian namun tak sendiri. Aku mampu merenda tawa di balik syair nada yang terpacu aroma antagonis. Aku mampu berbahagia di hadapan orang picik namun mereka yang tulus melihat kelicikan yang menutupi pengaburan arti.

Saat itu, mengumpulan segala poin dari Tuhan sangat aku jaga. Konon katanya bila sudah banyak bintangnya maka pintu surga pasti akan terbuka. Namun rupanya ada firman yang sedikit terlupa bahwa mengindahkan mahluk berbentuk gitar adalah satu diantara timbal balik yang seharusnya.

Ah, entahlah...

Aku lelah. Saat dunia sedikit mengenalkan pada sapuan pelangi. Bukan mejikuhibiniu bukan pula merupa balon yang melagu riang. Hanya satu warna yang ada di jemari, merah.

Gila, akulah sang penggila yang sudah menjadi gila melebihi orang gila yang dikumpulkan di tempat yang gila penuh tawa tanpa canda.

Hey, Libra...

Mencintaimu adalah kesalahan, namun sungguh terlalu indah karena dari kesalahan aku mendapatkan sebentuk rasa yang tak tahu namanya hingga aku bukan mengagumimu namun lebih dari yang kau duga. 

Menyayangimu adalah hal terlarang, namun sungguh dari yang terlarang aku temukan bayang yang hilang. Kelak bukan bayang yang aku harap namun genggam nyata terpampang.

Mengasihimu adalah kebodohan, namun sungguh aku tak mau mengenal kepintaran karena bagiku dengan bodoh aku dapat bersoloroh bahwa kelak aku mampu memilikimu dari mulai kau pejamkan mata hingga buat kau terlelap lalu membuka mata dengan penuh pegharapan.

 

Kelak, bukan gelak tawa drama bukan pula babak baru seni peran.

Kelak, pengharapanku adalah memintamu dengan segala ketulusan 

 

Aku Mencintaimu...

 

#Manado, 25 Februari 2020