UTOPIA, Too Good To Be True

Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!-John Fitzgerald Kennedy

UTOPIA, Too Good To Be True
das sollen dan das sein

 

UTOPIA, Too Good To Be True

 

Pada tahun 1516 Sir Thomas More memperkenalkan istilah ‘Utopia’ di dalam novelnya dengan judul yang sama. Utopia adalah kondisi ideal dari semua hal, tidak ada diskriminasi, tidak ada pertengkaran, kesehatan yang memadai untuk seluruh umat manusia, pemerintah yang jujur dan adil, tidak ada kelaparan diluar sana, semua orang memiliki kesetaraan dan tentunya tidak ada kejahatan.
Tulisan oleh: Sultan Faishal Bustomi

Kutipan diatas, sangat menarik untuk direnungkan oleh kita semua sebagai warga negara, dimana kondisi ideal tersebut tentu diidamkan semua orang, mari kita sama-sama mencoba berandai-andai, seandainya hal itu nyata tentu takkan ada hukum dan sanksinya, penjara, polisi, KPK, Komnas HAM dan berbagai lembaga atau organisasi lainnya. 

Hidup mungkin akan flat, pemerintahan dan aparat serta lembaga lainnya mungkin tidak diperlukan, masyarakat akan homogen tanpa emosi hanya afeksi. Apakah kita akan puas dengan semua ini? Akankah kondisi ini bertahan dan dunia tetap sama seperti itu?

Kisah penciptaan harusnya menyadarkan kita bahwa manusia diciptakan sangat kompleks dan mendekati sempurna, sehingga terbersit keinginan menyetarakan kedudukan dan kekuasaan dengan Sang Pencipta, terlepas adanya godaan dari luar, animo dan ego adalah penguasa dominan otak manusia.

Kembali ke dunia nyata, kondisi pandemi yang berlangsung hampir dua tahun, ternyata membawa dampak yang cukup mengguncangkan sendi-sendi kehidupan manusia, yang mempengaruhi kejiwaan dan ekonomi, sosial, budaya bahkan agama(iman).
Media massa dan sosial memegang peranan terbesar menyebar informasi berupa berbagai macam berita, data, tips yang mengandung kebenaran, setengah kebenaran bahkan hoaks. Tidak dapat dipungkiri berita tidak selalu bisa disaring dengan baik, karena tiap orang dengan otaknya yang unik menelaah berita/peristiwa yang sama dengan cara yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan serta reaksi yang beragam pula.

Berita terbaru dan cukup menggemparkan   Indonesia adalah ‘Sumbangan 2 triliun‘  dari almarhum Akidi Tio, seorang pengusaha asal Langsa Aceh yang pernah tinggal di Palembang. Sumbangan ini diserahkan secara simbolis oleh putri bungsunya Heriyanti kepada Kapolda Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Eko Indra Heri, pada tanggal 26 July 2021. Sebagian besar orang menanggapi dengan reaksi positif  berupa pujian dan doa bagi keluarga dermawan tersebut. Hari ini, Selasa 3 Agustus 2021 segala puja puji berbalik menjadi hujatan dan makian serta cibiran ketika beredar kabar bahwa sumbangan itu adalah hoaks bahkan prank. Di satu sisi pengaruh instant positif yang terjadi adalah banyak orang lain merasa terinspirasi hingga ikut tergerak dan bahkan berdonasi membantu dengan cara mereka sendiri.

Saya tidak akan membahas lebih jauh berita itu, karena masih dalam proses pemeriksaan. Saya memperhatikan ego saya ikut melambung saat mendengar kabar sumbangan itu, dana sebesar itu akan sangat membantu pemerintah setempat meringankan beban pemerintah pusat bahkan negara dalam menanggulangi pandemi. Perasaan  kecewa mendominasi ketika  mendengar konfirmasi bahwa dana tersebut tidak dapat dicairkan.  

Tapi saya, mencoba mengambil hikmah, bahwa sebenarnya dari setiap peristiwa kita bisa mendapat, kebaikan berupa keuntungan, pengalaman bahkan pelajaran. Coba kita kalkulasikan, jumlah penduduk berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tahun  2021 yang dirilis Kemendagri, hingga Desember 2020 adalah 271.349.889 orang. Bayangkan, dengan asumsi penduduk usia produktif  sebanyak 50% saja, berarti ada sekitar 135.674.944 orang. Ide egois yang terbersit adalah, seandainya setiap orang menyumbang minimal Rp. 22.222 saja, maka hanya membutuhkan 90.000.901 orang, kita sudah bisa mengumpulkan 2 triliun yang bisa digunakan untuk membantu pemerintah menanggulangi kekurangan biaya dalam masa pandemi ini. Jika ini terealisasi (prediksi saya pribadi, jumlahnya bahkan mungkin bisa melampaui target) karena orang Indonesia terkenal sangat murah hati dan cepat berempati. 

PR buat kita semua, seandainya ide tersebut direalisasikan, diperlukan rencana dan pengelolaan yang transparan karena itu adalah wujud kepercayaan seluruh rakyat dan sepantasnyalah dikembalikan dalam bentuk fasilitas dan berbagai kebaikan seperti, pemenuhan kebutuhan pokok, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan memadai kepada rakyat. Adakah LSM atau platform berbasis online yang sanggup menghandle tanggung jawab sebesar ini?  Atau, ide ini too good to be true?  

Utopia mungkin terlalu ideal, hingga akan sulit diwujudkan dalam keragaman pemikiran, tapi selama bermimpi masih bebas dan berhayal tidak melanggar hukum, serta beramal masih gratis, tetaplah bermimpi. Saat bangun, sebarkan kebaikan semampu kita, seandainya tidak bisa membantu-tidak menyusahkan saja sudah sangat membantu.Tetaplah bersyukur, tetaplah bersemangat positif dan berusaha, tetaplah hidup.Jangan menunda bahkan menahan kebaikan, kalau bukan kita siapa lagi? kalau tidak sekarang kapan lagi? mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal kecil.  Percayalah, this too shall pass.