Donat dan Jamur Ajaib

Salah satu cerita tidak pentingku.

Donat dan Jamur Ajaib
Donat dan Jamur Ajaib

 

Cerita ini dimulai pada saat Aku, Diah pacarku, dan Adji temanku, bergegas pergi meninggalkan teman-teman kami lainnya dari sebuah pesta di Bali, karena mereka gak mau diajak pulang ke hotel. Aku mengajak mereka segera pulang karena punya firasat akan ada sesuatu yang bakal terjadi.

Jam tanganku menunjukkan pukul 00:15, walau angkanya seperti melayang membentuk ilusi hologram tiga dimensi, tapi tampak sangat jelas, sudah tiga jam persis setelah kami berenam selesai makan malam di sebuah restoran di daerah Seminyak. Di akhir jamuan makan malam, salah seorang teman mengeluarkan sebuah toples strawberry jam, pada masa itu jamur ajaib masih legal di Bali dan kami semua sepakat untuk mencobanya.

“Tiga sendok aja, cobain ya..” kata Tia.

Langsung kuambil sendok sup di depanku, dan langsung aku coba tiga sendok selai jamur ajaib itu sesuai anjuran.

“Tiga sendok teh… bukan sendok yang ituuuu!!” teriak Tia, salah satu dari kami yang tahu banget takarannya.

Sementara itu sudah tiga sendok sup kulahap tanpa ragu, yang berarti tiga kali lebih banyak dari yang disarankan.

“OMG!” gumamku pelan sambil mikirin apa yang akan terjadi kemudian.

“Kamu?” saya menoleh ke samping kiri bertanya pada Diah.

“Samaaa!” katanya, sambil kaget juga waswas dan gak tahu mau ngomong apa lagi kayaknya.

Singkat cerita, Aku, Diah, dan Adji segera meninggalkan acara itu.

“Di sebelah sini mas mobilnya..” tiba-tiba terdengar suara orang berpakaian seperti seorang Jedi dalam film Star Wars lengkap dengan lightsaber merah menunjukan tempat dimana mobil kami parkir.

“Terima kasih” jawabku

Kemudian segera aku masuk mobil dan duduk di sebelah kiri, karena Adji yang rencananya mau nyetir.

Aku ragu mau cerita, kalau tadi lihat Jedi tapi kok lightsabernya warna merah, bukannya para Jedi biasanya lightsabernya berwarna biru atau hijau? Ya sudahlah, gak usah diceritain dulu, pikirku.

Di sepanjang perjalanan mulai dari Petitenget, Kayu Aya, Seminyak, sampai ke Legian menuju hotel tempat kita menginap, berderet pertokoan dan butik-butik yang biasanya sudah tutup pada jam itu, malam ini terlihat ramai dan berbeda.

“Banyak toko sepertinya masih buka ya?” kataku memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi dalam mobil.

“Kenapa babe?” tanya Diah.

“Hahaha..” sementara Adji cuma tertawa.

“Banyak toko masih buka...” jawabku, sambil akhirnya aku urungkan niat untuk bercerita lebih jauh lagi, karena aku lihat boneka-boneka manekinnya bergerak berlenggak-lenggok bak peragawati di atas catwalk. Mereka juga bercengkrama satu sama lainnya, dan terkadang bertukar sapa dengan para pejalan kaki. Walaupun semua adegan itu tidak bersuara, terasa hening banget seperti dalam ruang kedap.

Sinar cahaya lampu dari dalam toko-tokopun tampak lebih jelas, dengan intesitas lebih kuat, warna yang beragam, dan arahnya membentuk garis-garis sinar artistik bersilangan dengan garis-garis sinar lampu jalanan. Persis seperti lampu-lampu yang ditata untuk sebuah pertunjukan kolosal.

“Keren ya” kata Adji.

“Apanya yang keren Dji?” saya tanya balik sama dia.

“Lampunya” balas Adji, “Kenapa si Adji bisa tahu kalo saya lagi mengamati lampu-lampu itu ya, gila juga dia…” kataku dalam hati.

Kulihat di sebelah kiri, ada papan reklame sebuah merek baju surfing yang menurutku keren banget. Sepertinya dibuat menggunakan teknologi visual holografik yang mendahului zamannya. Menggambarkan ombak raksasa kelas dunia dalam ilusi tiga dimensi, bergulung-gulung dengan indahnya, dan seorang surfer yang sangat piawai berselancar di atasnya.

“Wow! Incredible...” celotehku.

“Kenapa babe?” terdengar Diah mengulang pertanyaan yang sama.

Dan entah kenapa aku berasa sudah pernah menjawabnya, jadi aku gak ngomong apa-apa lagi. Dan suasananya kembali hening seketika.

Pasti ini pengaruh jamur ajaib tadi. Selain bisa membuat fokus berlebih dan kadang tetap logis bagi sebagian orang, pengaruh jamur ajaib katanya juga bisa membawanya ke alam ilusi visual yang kompleks dan tidak biasa.

Dengan sangat sadar kulihat tampak muka mobil jip mambo yang sedang terparkir. Dengan dua bola mata besar dan senyum grillnya yang lebar seperti sedang menertawakanku.

“Lihat mobil itu nyengir geli nontonin kita Dji”  kataku pada Adji.

Tetapi tidak terdengar Adji merespon, Aku menoleh ke sebelah kananku, Dia sedang asik fokus menyetir mobil seperti tidak mendengarkan ucapanku tadi. Walau kadang kuperhatikan dia senyum-senyum sendiri, namun semuanya tampak normal-normal saja.

“Tenang, ini semua hanya ilusi..” aku membatin, mencoba menengkan diri. Semakin mencoba untuk tenang, di luar tampak semakin tambah heboh, seperti sedang melihat sebuah karnaval jalanan. Kulihat orang-orang berkostum unik menari-nari di jalanan, mulai dari sirkus api, badut, kepala suku indian, cowboy berkuda, penabuh genderang, marching band, sampai ya Tuhan… bukannya itu Michael Jackson, dan rasanya waktu seperti sedang berhenti sesaat. Suasana kembali hening luar biasa.

Tiba-tiba, kurasakan sakit luar biasa di pundak sebelah kananku, seperti digigit semacam vampir haus darah yang sadis tak berperasaan. Karena kaget dan juga sedikit parno, aku berteriak kenceng banget, ”Arrrgh…apaan sih!!”.

Kemudian secepat kilat Aku balik badan ke arah jok belakang, kulihat muka pacarku bengong, kaget, sambil berkata, “Maaf babe, aku pikir kamu donat”.

Hah? Donat? Hahaha.. tidak akan pernah aku lupakan muka tanpa rasa bersalahnya itu.

Sejak saat itu, kami memasuki babak baru. Ha ha ha.. kami bertiga kayaknya sudah gak bisa nahan ketawa lagi.. lepas, syaraf ketawa kami sepertinya baru saja terpicu, apapun jadi lucu. Padahal mungkin gak lucu-Lulu amat kejadiannya.

Ini baru salah satu cerita dari sekian banyak cerita yang terjadi selama enam jam pada waktu itu. Kapan-kapan aku sambung lagi dengan cerita lainnya.