KLARA

KLARA

Klara turun dari mobil sewaan berwarna biru itu. Ini sebenarnya bukan mobil rentalan yang nyaman ditumpangi. Mobil yang diisi speaker besar untuk memutar lagu-lagu dangdut ini adalah sebuah angkot pasar yang sedang ngetem. Klara tidak punya pilihan lagi, ia ingin segera sampai di dermaga.

Setelah turun dan membayar, Klara segera mengayunkan langkah ke arah kapal-kapal yang sedang sandar. Udara panas pantai timur Jakarta dengan aroma khas desa nelayan menusuk indra penciumannya. Tak dipedulikannya tatapan aneh gerombolan lelaki di warung makan yang ia lewati.

Wanita berkulit kuning langsat dengan rambut sebahu itu terus berjalan cepat di gang sempit perumahan nelayan yang kumuh. Tujuannya pasti: naik kapal sebelum jam sebelas. Diliriknya jam tangannya. Pukul 10.30. Berarti masih ada waktu setengah jam sebelum kapal berangkat.

Di dermaga, tak ada kapal yang kelihatan mau berangkat ataupun orang-orang yang mau bepergian seperti dirinya. Yang ada hanyalah orang-orang hilir mudik membawa ikan hasil tangkapan yang akan di jual di rumah lelang ikan di dekat situ.

“Pak, mana kapal yang mau berangkat ke Pulau Pari?”, Klara mendekati seorang lelaki yang berdiri di dekat tiang sandar. Mata bulat Klara agak menyipit lantaran cahaya matahari siang yang terus naik. Tak dihiraukannya bau amis ikan di sekitarnya. Bau yang paling kubenci, batin wanita langsing itu, yang menyebabkan mual.

“Sudah berangkat, Teh, jam sepuluh tadi” jawab lelaki yang ia tanya.

“Hah!”, panik yang melanda langsung terasa di usus Klara, mualnya kini makin kuat. Ia harus segera tiba di pulau itu, apapun keadaannya.

“Bukannya biasanya jam setengah sebelas?”, tegasnya. Setengah protes tetapi tidak tahu protes kepada siapa.

“Sudah seminggu ini angin kencang dan banyak kapal tidak berangkat ke pulau. Hari ini yang berangkat hanya satu kapal besar. Tapi kalau Teteh mau, bisa ikut kapal sayuran”, lanjut lelaki itu.  Tangannya mengambil handuk lusuh yang dikalungkan di lehernya. Ia menyeka keringat.

Waduh. Ikut kapal sayur? (BERSAMBUNG)