Aku Mencintaimu Hari ini

Aku Mencintaimu Hari ini
Image by pixabay.com

Kedai masih lengang, kuambil spot dilantai  atas di ujung dekat rak majalah usang yang bagian kertasnya sudah berwarna coklat, yang beritanya sudah tak layak baca namun mata masih diperkenankan melihat-lihat model majalahnya yang tinggi semampai, leher jenjang dengan lipstick merah merona. Saat ini sang model tentu sudah ikut usang pula, keriput, gigi tak lengkap dan rambut tak hitam lagi.

 

Niatku hari ini bukan untuk ngopi, tapi untuk melepas kesal yang semakin tebal.

Entah apa namanya, namun kali ini aku harus ambil keputusan bahwa kisahku dan Bram selesai sampai di sini.

 

“Dru, gue tinggal sebentar ya, Mei sudah siapkan kopi tubruk buatmu. Tunggu saja !”.

“Oke Koh. Mei ada kan di bawah?”

 

Aku tak pesan apapun, tapi memang kebiasaan Koh Leo kalau pelanggannya belum sempat apapun, maka menu kebiasaan akan cepat meluncur di depan hidung.

 

“Mei, aku sedang mau sendiri. Kalau seandainya ada Bram tolong jangan sampaikan aku ada di atas!”
“Loh kenapa Dru, hmm lagi ribut ya?”. Mei meledek.

“Engga, aku lagi sibuk kelarin kerjaan.”
“Dru, ini weekend, masih saja kerja?”
“Ya namanya juga buruh Mei, kalau tidak begini, gaji dipotong.”

 

Kubuka Mac, lima menit pertama aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Keinginanku untuk membenci Bram rupanya terlalu sulit.

 

“Kampret lu Bram. Konsen gue berantakan gegara lu.”

 

Pejamkan mata, menarik nafas dan kunyalakan Zippo.

Ah Esse lupa kubawa. Lalu aku harus bakar apa untuk mengembalikan konsentrasiku?.

 

Call dari Sisil semalam sangat mengganggu pikiran Dru.

“Sorry Dru, gue harusnya sih ga bilang sama lu, tapi lu harus tahu.”
“Tahu apa ya Sil?”
“Tadi di PIM, gue lihat Bram sama cewe.”
“Oh, oke”
“Kok oke sih Dru. Pegangan tangan Dru, dia ngopi di Sagaleh. Gue lihat banget mereka bercandanya lain deh.”
“Oh oke.”
“Ih Gila lu ya Dru. Gue kasih kabar hebat begini lu cuma respon oh oke doang?. Sableng”

 

Kututup Whatsapp Call dari Sisil.

 

Lu yang gila Sil. Lu kira gue cacat dengar kabar begitu sedingin ini. Gue cuma lagi kumpulin emosi buat Bram besok.

 

Pagi sekali aku beri kabar ke Bram untuk bertemu di Kedai Koh Leo.

Kalau Bram jawab oke, artinya Bram baik-baik saja. Tapi kalau Bram jawab sorry artinya Bram memang sudah punya janji dengan yang lain.

Bram menjawab oke.

 

“Hai Dru, tumben kamu yang ajak aku ketemu di sini. Biasanya aku yang duluan beri kabar.”

 

Mei ini, dibilang jangan sampai Bram ke atas, nih kecoa kenapa tiba-tiba ada depan mata.

“Meeeiii…..”
“Hey, jangan marah sama Mei. Dia sudah larang aku, tapi aku tahu kamu di atas.”

 

Emosiku telanjur bergejolak. Perlakuan Bram dua minggu terakhir ini telah bikin aku uring-uringan. Bram sering matikan Handphone, banyak alasan untuk segera mengakhiri pembicaraan denganku.

 

“Bram, aku sibuk. Tolong jangan ganggu!”
“Loh, kan kamu yang bikin janji. Maunya apa sih?”

“Itu kan pagi, sekarang aku berubah pikiran.”
“Dru, aku sudah bela-belain ke sini lo. Aku batalkan janji cuma buat ketemu kamu lo.”

“Janji sama siapa?. Ya sudah ada Handphone kan? Tinggal bilang bahwa batalnya batal, bisa?”

“Kamu kenapa sih, judes banget.”

 

Plak…

Tanganku tak tahan. Kutampar Bram.

Muka Bram memerah, hidung kembang kempis dan bola mata sedikit membesar.

 

“Ini kali pertama aku ditampar perempuan. Kurang ajar kamu Dru.”

“Kenapa?. Benci sama aku?. Bagus.”

Dasar hobinya pelihara ketololan.

Tidak cukup sampai di situ. Kuambil gelas tubruk yang sudah mulai hangat. Dari jarak satu meter aku siramkan ke muka Bram.

 

Muka Bram belepotan, kaos putih bertuliskan Tommy Hilfiger berubah coklat menuju hitam.

 

“Dru, kamu boleh benci aku. Aku tidak tahu salahku dimana, tapi yang sudah kamu lakukan aku tak bisa lagi tolerir.”

“Bagus dong, maumu itu kan?. Biar aku benci sama kamu?.”
“Maksudmu apa sih Dru?”
“Sudah, aku tahu kamu hanya kasihan sama aku. Kamu sungkan untuk pisah sama aku kan?”
“Aku tidak mengerti Dru. Aku menyesal temui kamu hari ini. Aku duluan.”

 

Entah apa yang menambah tingkat ketololan Dru, dalam sekejap Dru raih tangan Bram lalu ditarik mendekat.

“Aku tahu kamu hanya emosi, sini aku kecup keningmu”. Bram sekejap memaafkan Dru.

 

Dru mendorong Bram dengan sekuat tenaga. Bram terjungkal diikuti sofa kecil yang tersangkut di kaki Bram. Bram tersungkur dengan posisi kepala lebih dulu mengenai ubin.

 

“Kamu gila ya?”
“Hey Bram, kamu pikir aku akan tiba-tiba minta maaf sama kamu?. Jangan mimpi kamu.!”

“Apa sih Dru?”

“Dengar ya, cukup Bram. Aku benci sama kamu. Aku mencintaimu hari ini. Hanya hari ini. Besok dan seterusnya tak sudi aku menebar cinta buatmu”

 

Koh Leo tiba di kedai. Kali pertama ada rebut-ribut di kedai. Koh Leo tergopoh-gopoh menuju tempat Dru.

 

“Dru, Bram…Ini apa-apaan sih. Kalian bikin kedaiku berantakan?. Rugi oweh kalau begini.”
“Sorry Koh, jangankan Koh Leo, aku saja tidak paham dengan Dru hari ini.”

“Mandi Bram!” Koh Leo minta Bram bersihkan badan.
“Aku ga bawa baju ganti lah Koh.”
“Pakai merchandise di bawah, ga suka oweh liat you punya badan.”

 

Dru menangis, dipeluk badannya sendiri, berlari menuju pojok kedai.


“Dru, bukan maksud oweh ikut campur urusan lu sama Bram. Lu orang kenapa hah?”

“Bram jahat Koh. Lihat ini.”

“Apa ini?. Oweh ga paham”
“Ini Bram sedang di tempat berlian koh.”
“Terus?”
“Dia sama perempuan lain Koh. Dua minggu ini dia beda sama aku. Sudah tak pernah nyapa, tidak pernah ajak makan siang bahkan call ku sering dia reject.”

“Lalu harus kamu sekasar itu?”
“Aku cuma tidak mau Bram terus-terusan sandiwara sama aku Koh. Setidaknya dia sekarang benar-benar benci sama aku. Dia punya alasan kuat untuk pisah sama aku Koh.”
“Dih bego”

 

Koh Leo meninggalkan Dru yang sedang kalut. Koh Leo tak paham kegilaan Dru kali ini.

 

Mei datang, dia bersihkan meja sambil dumel.
“Dru, gajiku tidak ditambah lo. Ngapain sih pakai acara ngotorin kedai segala?”

“Lu ga sukaaaaa?”
“Ih Dru kamu kok kasar sih. Ada apa sih?.  Aku kan bercanda Dru.”

 

Mei pun tinggalkan Dru sendiri.

Dru tundukkan kepala, dia ambil obat penenang. Tak satupun tahu kalau Dru punya ketergantungan obat. Sudah lama Dru tidak minum obat ini.

Sudah lama Dru tenang, semenjak dengan Bram bipolar Dru tak pernah kambuh.

 

Diambilnya kunci mobil di atas meja. Berlari keluar sampai-sampai tas, dompet, iphone yang baru Dru cicil dan Mac Dru tinggal.

 

“Hey Dru mau kemana?. Koh Leo berteriak.

“Mei kau gedor kamar mandi, minta Bram segera susul Dru!”

 

 

Koh Leo, Mei dan Bram menunggu Dru.

Bram tidak bawa mobil, dan tidak tahu pula harus susul Dru kemana.

 

“Koh, lihat sini deh!.” Mei sedikit berteriak.
“Apa Mei, sudah kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalu sudah cepat saja kau ke bawah biar area atas steril.”

“Duh, Koh sini sebentar dong. Lihat ini dulu!”

 

Bram dan Koh Leo mengalah, mereka mendekati Mei.

 

“Lihat ini, resep apa ya?”

“Kamu temukan ini di mana?”
“Di bawah meja, sepertinya Dru buru-buru meminumnya lalu dia geletakkan begitu saja.”

 

Valproat.

Baik Bram atau Koh Leo tidak tahu jenis obat apa yang ditemukan Mei.

Segera dia browsing. Tak lama kaget pula mimik muka Bram dan Koh Leo.

 

“Ya Tuhan Dru. Kamu tak pernah cerita. Kamu dimana Dru, aku khawatir.”
“Bram, ini berbahaya. Dru pergi saat mood dia sangat tidak baik. Semoga Dru baik-baik saja.”

 

Handphone Dru berbunyi. Ada pesan masuk dari Sisil. Muncul di Push Notif, sehingga tanpa membuka password, Bram dapat membaca jelas pesan dari Sisil.

 

“Dru kamu dimana?. Cepat dong. Kamu lama sih, aku sudah pindah tempat. Aku tunggu di Sagaleh ya. Baru saja aku lihat Bram gandeng perempuan lagi. “

 

Bram saling bertatapan dengan Koh Leo.

“Ini dia penyakitnya. Apa maksud Sisil bikin cerita?. Ayo pakai mobil oweh Bram. Kita cari Dru.”

 

Jarak Simatupang PIM tidak terlalu jauh, dalam hitungan menit akan cepat mereka sampai PIM.

 

Alam sedang bercanda. Tiba-tiba hujan deras, jalanan sedikit macet dan tepat di depan Rumah Sakit Pasar Minggu ada pemandangan yang tidak biasa.

 

“Maaf Pak, silahkan berbalik arah ambil kea rah Tol saja.” Petugas kepolisian menghadang mobil Koh Leo.
“Ada apa sih Pak, kan jalanan kosong?”
“Betul sekali Pak, tapi ada kecelakaan tunggal di dekat pintu keluar Rumah Sakit dan mobilnya melintang. Saat ini sedang dievakuasi tapi untuk kendaraan roda empat tidak bisa lewat pak.”

 

Hati Bram bergetar.

“Koh, aku lihat sebentar ya barangkali aku kenal. Feelingku ga enak.”

 

Bram keluar dari mobil, lalu meminta Koh Leo tepikan mobil.

CRV Putih B 2875 BF, terbalik dengan kondisi rusak parah.

“Druuuuuuu….”

 

Koh Leo mendengar teriakan Bram.

“Pak, boleh saya tahu korbannya siapa dan dibawa kemana?”
“Korban perempuan, mengalami patah tulang dan informasi yang saya dapat, korban tidak dapat diselamatkan..”
“Mobil yang dia pakai?”
“CRV Putih B 2875 BF”

“Tuhan, Dru.”

 

Koh Leo parkirkan mobilnya, dia temani Bram menuju ruang jenazah Rumah Sakit.

Sebelumnya dia sempatkan mengubungi Mei.

 

“Mei, rapikan kedai lalu tutup!”
“Loh pesta untuk Dru bagaimana?”
“Tak ada pesta, Dru tidak ada.”

 

Muka Bram memerah, penyesalan begitu luar biasa.

Semua surprise berantakan. Seandainya saja Bram tak membawa teman kantornya Nadia, untuk membeli kado cincin berlian Dru, ceritanya tidak begini.

Sisil tidak akan menemukan Bram, Sisil tidak akan kirim foto Bram pasangkan cincin di jari Nadia. Dan Sisil tidak akan bikin cerita palsu mengenai Bram. Entah apa maksud Sisil?.

 

“Aaaahhhhhh, siaaaaaal.”
“Bram ini rumah sakit. Kau tahan emosimu!”
“Aku menyesal Koh. Aku mencintai Dru. Hari ini seharusnya aku melamar Dru.”

Bram perlihatkan cincin berlian yang diidamkan Dru.

Bram perlihatkan design undangan pernikahan yang sudah dia buat berbulan-bulan lamanya.

Bram perlihatkan puisi terindah yang akan dia sampaikan malam ini di Kedai Koh Leo.

 

“Bram, jadi laki-laki jangan tolol. Kau terlambat. Percuma kau meraung, semua sudah terjadi. “
“Kalau aku jadi kau, aku tinggal kira-kira saja jari Dru, bukannya hobimu cium jemari Dru?. Tak cukup kau untuk mengetahui ukurannya sampai kau harus bawa Nadia mencobanya?. Kalau mencintai seseorang jangan kau pura-pura tak cinta!. Kau gila sebentar lagi”. Koh Leo gemas lihat Bram.

 

Bram tak menjawab.

Terngiang ucapan Dru.

“Aku mencintaimu hari ini. Hanya hari ini. Besok dan seterusnya tak sudi aku menebar cinta buatmu”

 

 

#Bandung, 14 Juni 2020