[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #8

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #8

 

 

Delapan

Rangkaian Benang Merah

 

 

Pinasti tersenyum samar ketika melihat Kresna makan dengan lahap hasil masakannya. Nasi merah hangat berlaukkan ikan goreng dan tumis pakis yang diberinya tambahan sedikit bunga krisan. Tampaknya, Kresna merasakan tatapan Pinasti. Pemuda itu mengangkat wajah dan tatapan keduanya bertemu. Hanya sedetik, karena Pinasti buru-buru menunduk, kembali menatap piringnya. Paitun dan Wilujeng yang memergoki kejadian itu saling bertukar tatapan penuh arti, disertai senyum lebar.

 

Wilujeng ingat percakapan tertutupnya dengan Kresna semalam. Setelah pembicaraan mereka dengan Paitun selesai, ia dan Kresna masih bertahan duduk-duduk di beranda. Menanti pulangnya Pinasti dan Janggo dari danau. Paitun sendiri mengundurkan diri ke belakang untuk mengurusi berbagai jenis tanaman obat yang siang harinya sudah dipanen Randu dan Kriswo.

 

 

 

‘Jadi yang mendorongmu sampai jatuh ke dalam jurang itu teman perempuanmu?’ Wilujeng menatap Kresna.

 

Pemuda itu mengangguk lemah.

 

‘Pacarmukah?’

 

Seketika Kresna membantah, ‘Bukan, Bu! Aku belum punya pacar. Alex itu salah satu sahabatku. Kami bertujuh bersahabat. Seta, Alex, Yopie, Sagan, Aksan, Rizal, dan aku. Alex satu-satunya perempuan dalam grup kami. Dia memang tomboi. Dengar-dengar, dia penyuka sesama jenis pula. Tapi kami nggak pernah menanyakan hal itu padanya. Terlalu pribadi.’

 

Wilujeng menghela napas panjang. Tapi, suara Kresna yang menembus pikirannya kemudian membuatnya hampir lupa bernapas.

 

‘Bu, aku rasa... aku menyukai Pinasti....’ Kresna tertunduk. ‘Tapi entahlah, mungkin perasaanku memang sedang kacau. Lagipula Pinasti masih kecil. Aku....’ Kresna menggeleng samar.

 

Tangan kanan Wilujeng terulur. Dengan hangat menggenggam tangan Kresna.

 

‘Kres, Pinasti sudah tumbuh jadi gadis muda yang cantik. Cerdas pula. Pribadinya juga baik. Ibu tahu karena Ibu yang mengurusnya sejak bayi. Bagi Ibu, Pinasti benar-benar anak Ibu. Tapi bagaimanapun, memang darah yang mengalir dalam tubuh kalian tidak sama. Ibu tak menyalahkan perasaanmu.’

 

Kresna terdiam. Suara lembut Wilujeng kembali menembus benaknya. Ada aura kesedihan yang cukup kental di dalamnya.

 

‘Sayangnya, Ibu tak boleh membawanya pulang bersama kita. Dan, mungkin juga dia akan terhapus dari ingatan Ibu. Soal ke depan bagaimana nasib kita bertiga, Ibu belum tahu.’

 

Kresna menghela napas panjang. Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, Pinasti dan Janggo sudah muncul kembali dengan wajah cerah. Dan, Wilujeng bisa melihat dengan jelas, ada cahaya yang berpendar indah dalam mata Kresna ketika menatap Pinasti. Pun sebaliknya.

 

 

 

Suara dengking pendek-pendek di luar menyentakkan Wilujeng dari lamunan. Ia mengerjapkan mata bersamaan dengan Paitun berdiri dari duduknya dan keluar dari pondok melalui pintu belakang. Tak lama kemudian terdengar suara bagai dengung lebah di benaknya. Pembicaraan yang tidak jelas walaupun tak tertutup seluruhnya. Tapi ia masih mengenali salah satu suara itu. Suara Sumpil.

 

* * *

 

Sumpil menghela napas lega ketika melihat Paitun muncul. Ia mendekati perempuan itu.

 

‘Ada apa, Pil?’ sambut Paitun, tanpa basa-basi.

 

‘Ni, aku baru saja dapat kabar dari Kulukulu, ada kecelakaan di kaki Bukit Seribu Kembang Goyang semalam. Kulukulu lapor pada Nyai Combrang. Dia kemudian disuruh mencariku untuk menyampaikan kabar ini pada Nini. Pesan Nyai Combrang, kejadian ini ada hubungannya dengan orang yang Nini selamatkan beberapa hari lalu.’

 

‘Oh, ya....’ Paitun manggut-manggut. Jadi benar petir itu....

 

Kulukulu yang disebutkan Sumpil adalah ajak penjaga Bawono Kecik di perut Gunung Julang yang bersebelahan dengan Bukit Seribu Kembang Goyang. Dan, setelah menyampaikan kabar penting itu, Sumpil pun berpamitan pada Paitun.

 

Perempuan itu kemudian masuk kembali ke dalam pondok. Meneruskan makan paginya yang tertunda.

 

“Sumpil, Mak?” tanya Wilujeng.

 

Paitun mengangguk sembari duduk.

 

“Ada kabar apa?”

 

“Cuma memberi tahu, semalam ada yang celaka di kaki Bukit Seribu Kembang Goyang.”

 

Secara tersamar, Paitun mengayunkan tangannya di udara, berlagak mengusir sesuatu yang mengganggu. Sebenarnya, ia sedang menutup pembicaraan hanya untuk dirinya dan Wilujeng saja.

 

‘Itu gadis yang mencelakaan Kresna, Jeng,’ ucap Paitun dalam hening. ‘Sudah menerima ganjarannya. Dan, Kresna secepatnya bisa kembali ke ‘atas’.’

 

Ah, perpisahan itu.... Wilujeng mendegut ludah.

 

Sungguh, ia tak keberatan ada perpisahan lagi dengan Kresna. Karena ia tahu perpisahan itu tak akan lama. Ia juga akan kembali ke ‘atas’ setelahnya.

 

Tapi Pinasti?

 

Pelan-pelan, mendung itu pun turun menyelimuti wajah Wilujeng. Tapi ia berusaha menahan rasa sedih itu.

 

‘Nanti kita bicara lagi dengan Kresna, Jeng. Aku akan meminta Janggo untuk bawa Pinasti main di luar agar kita bisa bicara dengan bebas bertiga.’

 

Wilujeng mengangguk samar.

 

Seusai makan pagi, dengan pikirannya Wilujeng memanggil Janggo. Ajak itu pun datang dengan berlari-lari kecil ke pondok Paitun. Ketika Wilujeng memintanya untuk mengajak Pinasti ‘bermain’ di luar, ia menyambutnya dengan senang hati.

 

“Boleh mengajak Mas Kresna, Bu?” tanya Pinasti dengan tatapan penuh harap.

 

Tapi Wilujeng menggeleng.

 

“Besok kamu masih bisa ‘main’ dengan Mas Kresna, Pin,” celetuk Paitun. “Sekarang sama Janggo saja, ya?”

 

“Baiklah.” Pinasti mengangguk patuh walaupun dengan wajah sedikit kecewa.

 

“Pin,” panggil Kresna tiba-tiba ketika Pinasti hendak beranjak.

 

“Ya?” Perawan sunti itu berbalik.

 

“Cari bunga yang bagus-bagus, ya,” senyum Kresna. “Nanti kubuatkan mahkota bunga lagi.”

 

Seketika ekspresi kecewa sirna dari wajah Pinasti. Perawan sunti cantik itu mengangguk dengan antusias, kemudian berpamitan. Tak lupa Wilujeng membekalinya dengan beberapa buku, makanan, dan minuman dalam keranjang rotan.

 

* * *

 

Janggo mengajak Pinasti ke padang bunga di tenggara Bawono Kinayung. Wajah perawan sunti itu tampak berseri-seri ketika memetik bunga beraneka warna, bentuk, dan ukuran yang terhampar di sana. Sudah terbayang di benaknya, mahkota bunga cantik yang nanti akan dibuatkan Kresna untuknya. Tanpa bisa dicegah, semu kemerahan mewarnai pipinya.

 

‘Duh... Yang lagi jatuh cinta....’ suara berat Janggo yang menyeruak masuk ke dalam benak Pinasti sarat nada sindiran.

 

Seketika Pinasti tersipu.

 

“Apa, sih, Janggooo...,” elaknya, dengan warna merah makin bersemburat di pipi.

.

Janggo mendengking. Tertawa. Ajak itu kemudian berbaring malas di atas rerumputan yang terbentang bagai permadani mengalasi padang bunga. Pinasti yang sudah selesai memetik bunga kemudian duduk di sebelahnya.

 

‘Mm... Tapi aku merasa bahwa kami akan berpisah tak lama lagi.’ Ada kesedihan dalam gema suara hening Pinasti.

 

Janggo menghela napas panjang. Sesungguhnya ia tahu itu. Ia juga sudah tahu bahwa keberadaan Kresna di Bawono Kinayung akan segera berakhir. Diulurkannya salah satu kaki depannya. Menjangkau pangkuan Pinasti. Perawan sunti itu pun menanggapi dengan menggenggam cakar Janggo.

 

‘Pin, semua akan baik-baik saja,’ ucap Janggo. ‘Kehidupan kita sudah ada garisnya sendiri-sendiri.’

 

Pinasti menghela napas panjang.

 

‘Dan, kalau benar aku harus pindah ke ‘atas’, berarti kita akan berpisah, Janggo.’

 

Tapi Janggo hanya mendengking pendek sekali. Tersenyum simpul dalam benaknya. Senyum yang penuh rahasia.

 

* * *

 

Seta berdiri mematung di ruang tengah begitu kabar itu menggema di telinganya melalui ponsel. Dari ayah Alex. Mengabarkan bahwa Alex sudah diketemukan. Tapi dalam kondisi koma di salah satu rumah sakit di Rimas karena semalam mengalami kecelakaan. Dihelanya napas panjang. Dengan pasrah digelengkannya kepala. Kesedihan diam-diam merayapi hatinya.

 

Belum ada pengakuan dari Alex, keluhnya dalam hati. Kresna belum bisa kembali.

 

Mahesa yang tengah melangkah turun dari lantai atas, hendak ke ruang makan, berhenti sejenak ketika melihat anaknya menatap taman belakang dengan sorot mata kosong. Ia kemudian memutuskan untuk menghampiri pemuda itu. Seta tersentak ketika sebuah tepukan lembut mampir di bahunya.

 

“Melamun, Set?” tegur Mahesa, halus.

 

Seta menoleh. Tatapannya terlihat kelam. Pemuda itu menggeleng samar.

 

“Alex sudah ketemu, Yah,” bisiknya. “Sekarang ada di salah satu rumah sakit di Rimas. Semalam dia kecelakaan, mobilnya menabrak warung di pinggir jalan, di kaki Bukit Seribu Kembang Goyang. Mesin mobilnya meledak, lalu terbakar. Alex masih hidup, tapi luka parah. Koma.”

 

Mahesa ternganga. Laki-laki itu pun terduduk di sofa terdekat.

 

“Padahal Ayah harapkan dia cepat mengaku,” gumamnya dengan wajah murung, “supaya Kresna cepat kembali. Tapi nyatanya?”

 

Seta ikut duduk di sebelah Mahesa. Dihelanya napas panjang. Ia tak punya kata-kata lagi untuk diucapkan. Sampai beberapa detik kemudian keheningan itu pecah dengan suara lirih Mahesa.

 

“Bagaimanapun Kresna dalam kondisi baik di luar sana. Walaupun entah di mana. Suatu saat dia akan kembali, Set. Entah bagaimana pula caranya.”

 

Seta hanya bisa mengangguk walaupun hatinya digayuti perasaan pesimis.

 

“Ya, sudah,” Mahesa berdiri. “Sekarang sarapan dulu. Kita bisa terlambat ke kantor.”

 

Seta pun mengikuti gerakan ayahnya. Sudah hampir setahun ini ia dan Kresna dilibatkan dalam perusahaan mebel yang didirikan ayah dan ibu mereka. Tapi kelihatannya Kresna kurang tertarik. Jadi Seta-lah yang lebih diharapkan ayahnya untuk kelak menjalankan usaha itu.

 

Kresna sudah pernah mengungkapkan pada ayahnya, bahwa pemuda itu kelak ingin menjadi seorang pengajar. Secara akademis, Kresna memang lebih baik daripada Seta. Seta sendiri lebih menonjol dalam hal kreativitas. Beberapa rancangan mebelnya sudah diproduksi dan disambut baik oleh pasar. Ialah kini yang menjadi tumpuan harapan Mahesa untuk menjadi penerusnya.

 

* * *

 

Sepeninggal Pinasti dan Janggo, Paitun memanggil Kresna untuk membicarakan ‘sebuah hal penting’. Kresna pun duduk dengan sikap takzim di balai-balai, di dekat Paitun. Wilujeng masih membereskan bekas sarapan mereka. Ia akan menyusul kemudian.

 

Paitun menatap Kresna dalam-dalam. Diam-diam, ia mengagumi pemuda itu. Pemuda yang begitu sopan dan kelihatan sangat penyayang. Ia juga kagum pada Wilujeng yang sudah begitu baik meletakkan dasar kepribadian Kresna. Begitu pula yang perempuan cantik itu lakukan pada Pinasti. Pun pada sosok seorang Mahesa yang begitu setia terhadap belahan jiwanya. Tak mau menggantikan sosok Wilujeng dengan siapa pun dalam kehidupannya.

 

“Kres...,” ucap Paitun lembut. “Sesungguhnya aku sudah mengirim pesan melalui Bondet pada ayahmu, dengan perantara orang yang tempo hari turun ke jurang untuk mencarimu.”

 

Seketika Kresna menatap Paitun.

 

“Ayahmu sudah tahu bahwa kamu selamat dan akan kembali,” lanjut Paitun. “Syaratnya cuma satu, tersebutnya nama orang yang mencoba membunuhmu. Dan, kamu sudah menyebutkannya.”

 

Oh.... Kresna mengangguk samar.

 

“Sekarang, keputusan ada padamu. Kapan pun kamu siap untuk kembali ke ‘atas’, maka kamu bisa kembali. Ibumu akan menyusul kemudian. Tapi, dengan sangat menyesal, aku akan menghapus ingatanmu akan tempat ini.”

 

Seketika raut wajah Kresna terlihat murung. Ia sama sekali tak mengkhawatirkan perpisahannya dengan Wilujeng.

 

Tapi Pinasti? Kresna mendegut ludah.

 

Betapa hatinya sudah sedemikian tertambat pada perawan sunti cantik itu. Ia belum pernah merasakan hatinya sedemikian terguncang seperti ini. Dan, tampaknya Pinasti pun memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, Pinasti masih terlalu muda. Sayangnya pula, tampaknya mereka akan berpisah segera.

 

Bisakah aku? Kresna mengerjapkan mata.

 

Paitun tersenyum mengetahui kelebat-kelebat pikiran yang berlompatan dalam benak Kresna. Ia mengulurkan tangan, menepuk lembut punggung tangan Kresna.

 

“Jangan khawatir,” senyum Paitun melebar. “Takdir kalian sudah digariskan oleh Gusti. Kalian adalah belahan jiwa. Kamu dan Pinasti. Kehidupan akan menuntun kalian sehingga kelak bertemu lagi. Nanti, kalau Pinasti sudah cukup usianya.”

 

“Benarkah, Ni?” Ada harapan yang melompat keluar dalam mata Kresna.

 

Paitun mengangguk. “Benar. Aku tak pernah bohong soal ini, Kres.”

 

Seulas senyum kini terbit di wajah tampan Kresna. Berpisah untuk kelak bertemu lagi. Hm... aku tak akan apa-apa. Semoga Pinasti juga.

 

“Sepeninggalmu nanti, aku juga akan menghapus ingatan ibumu dan Pinasti tentangmu,” ujar Paitun lagi. “Supaya kalian tetap bisa melanjutkan hidup seperti biasa. Begitu juga aku akan menghapus kenangan Pinasti akan ibumu saat ibumu kembali ke ‘atas’.”

 

“Lalu?” Kening Kresna berkerut. Nada bicaranya terdengar mengambang dan ragu-ragu. “Bagaimana kami bisa bertemu lagi dan saling mengingat kalau ingatan kami sama-sama terhapus, Ni? Maksudku, Pinasti dan aku.”

 

Paitun tersenyum simpul. “Hati kalian yang akan menuntun kalian pada pertemuan itu kelak. Hati kalian akan mengerti dan memahami. Jangan khawatirkan hal itu.”

 

Kresna hanya bisa ternganga.

 

* * *

 

Menjelang siang, Paitun berpamitan untuk ke ‘atas’ menyetorkan dedaunan bahan obat bersama Randu. Tak lama setelah kepergian Paitun, Tirto muncul. Laki-laki itu menawarkan pada Kresna apakah ia mau ikut memancing. Tanpa ragu-ragu Kresna mengangguk. Wilujeng pun membekali keduanya makanan dan minuman yang ditaruhnya dalam sebuah keranjang rotan.

 

“Kang, tolong, nanti sekalian ambilkan rebung, ya,” ucap Wilujeng ketika melepas keduanya.

 

“Berapa, Mbak?”

 

“Satu saja, Kang. Yang besar. Besok sekalian saja aku masakkan buat kita semua di sini. Kalau adanya yang kecil, dua juga boleh.”

 

“Kelapanya masih ada?”

 

“Masih.”

 

Tirto mengangguk dan berpamitan. Laki-laki itu kemudian mengajak Kresna melalui jalan setapak di belakang pondok Paitun, hingga berujung di sungai. Di samping bilik mandi, ternyata ada jalan setapak lain yang mengarah ke kanan. Di ujung belokan itu ada jembatan kecil terbuat dari bambu yang menghubungkan kedua sisi sungai. Melalui jembatan itu, keduanya menyeberang dan masuk ke dalam sebuah hutan yang penuh dengan bambu kuning.

 

“Nanti saja kita ambil rebungnya, Mas,” celetuk Tirto. “Kita mancing dulu.”

 

Seketika Kresna merasa rikuh dengan panggilan itu. Sekilas ia menatap laki-laki yang melangkah di sebelahnya.

 

“Panggil Kresna saja, Paman, nggak usah pakai ‘mas’,” ujarnya.

 

“Kenapa?” Tirto menoleh. Tersenyum.

 

“Nggak apa-apa, Paman,” Kresna juga tersenyum. “Kan, Paman lebih tua daripada aku.”

 

“Hm.... Kamu sopan juga, Kres,” Tirto menyimpulkan senyumnya. Memang benar-benar cocok untuk Pinasti.

 

Tak lama berjalan, mereka pun sampai di tepi lainnya hutan bambu kuning itu. Kresna seketika ternganga.

 

Ada danau kecil di sana. Tidak terlalu luas, tapi bagian atasnya langsung membuka ke arah langit. Kresna mendongak. Menatap langit biru bersih dan cahaya matahari yang menyorot hangat. Seketika ia merasa bahwa ia benar-benar merindukan cahaya matahari dan sapaan langit biru.

 

Tirto dengan cekatan menyiapkan alat pancingnya. Ia kemudian duduk di tepi danau yang beralaskan rumput hijau pendek bagai permadani. Kresna pun duduk di sebelah laki-laki pendiam itu. Tapi, ia ternganga lagi.

 

Danau bening yang tidak terlalu dalam itu nyaris penuh dengan ikan mas besar-besar yang kelihatannya tinggal meraupnya dengan serok saja. Tak perlu dipancing. Tirto yang mengetahui isi benak Kresna tersenyum lebar.

 

“Mancing itu lebih berseni, Kres,” celetuknya.

 

Kresna tertawa mendengarnya. “Apalagi mancing perkara, Paman.”

 

Tirto terbahak.

 

Tirto hanya membawa satu alat pancing saja, sehingga Kresna hanya bisa menunggui. Pemuda itu kemudian berbaring di rerumputan. Tatapannya menerawang ke atas. Segumpal besar awan putih kini menutupi sinar matahari. Suasana jadi sedikit teduh.

 

“Tempat ini belum pernah ada yang menemukan, Paman?”

 

“Maksudmu?” Tirto menoleh sekilas. “Orang-orang dari ‘atas’?”

 

Kresna mengangguk.

 

“Bagi kita di bawah sini, tempat ini memang terbuka ke atas,” jawab Tirto. “Tapi orang di ‘atas’ tak akan bisa melihat tempat ini, karena tempat ini tertutup.”

 

Seketika Kresna ingat sekat tak terlihat yang pernah membuatnya terpental di padang rumput. Jadi begitu?

 

“Kamu sebentar lagi kembali ke ‘atas’, ya?” gumam Tirto.

 

“Iya, Paman.” Kresna menjawab lirih. “Entah apakah aku masih akan bisa mengingat tempat indah ini atau tidak.”

 

“Ingatanmu pasti akan terhapus. Tapi tidak hatimu.”

 

“Maksud Paman?” Kresna seketika bangun.

 

“Kelak kamu akan tahu sendiri.” Tirto tersenyum simpul.

 

Kresna terbengong.

 

Tirto cukup lama memancing. Kresna pun sempat tertidur ketika angin sepoi dengan ramah menyapanya. Apalagi perutnya cukup kenyang dengan segala makanan yang tadi dijejalkan Wilujeng ke dalam keranjang rotan.

 

Ketika tiba waktunya untuk pulang kembali ke Bawono Kinayung, Tirto mengajak Kresna sejenak berbelok masuk ke dalam hutan bambu kuning untuk mengambil rebung pesanan Wilujeng. Sebuah hutan bambu kuning dengan suasana yang sangat mengesankan indahnya. Kresna berusaha mengendapkan dan menyimpan semua pengalamannya itu dalam lipatan-lipatan hati. Tirto tersenyum ketika mendapati hal itu.

 

Kamu memang selalu tahu caranya, Kres.

 

* * *

 

Menjelang sore, Pinasti muncul bersama Janggo. Janggo tampak mengantuk. Ajak raksasa itu segera pulang ke pondok Tirto setelah mengantar Pinasti. Pendar cahaya kembali terbit di mata Kresna begitu melihat kembali Pinasti. Disambutnya perawan sunti cantik itu.

 

“Bunganya dapat, Pin?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

Pinasti mengangguk dengan wajah cerah sambil mengeluarkan aneka bunga dari keranjang yang ditentengnya. Sejenak kemudian Kresna sudah asyik merangkai bebungaan itu sambil duduk bersila di balai-balai di beranda depan. Pinasti sendiri menghilang ke dalam untuk membersihkan diri.

 

Bebungaan yang dibawa Pinasti cukup banyak untuk dijadikan tiga buah mahkota yang semuanya cantik. Yang satu bernuansa merah dan biru, yang satunya lagi bernuansa kuning, putih, dan hijau, sedangkan yang terakhir berwarna-warni. Dengan puas, Kresna menatap hasil kerja tangannya.

 

Bersamaan dengan itu, Pinasti sudah selesai mandi. Gadis itu mengenakan daster batik tanpa lengan dengan corak parang rusak berwarna coklat. Kresna segera mengulurkan mahkota bernuansa kuning-putih-hijau padanya.

 

“Nih, sudah jadi,” senyum Kresna.

 

Pinasti menerimanya dengan senang hati. Wajahnya tampak segar dengan sedikit rona tersipu yang menghiasi dengan sangat manis. Kresna membantu mengenakan mahkota itu di puncak kepala Pinasti.

 

“Terima kasih,” bisik Pinasti.

 

“Sama-sama,” balas Kresna, halus. “Aku mandi dulu, ya.”

 

Pinasti mengangguk. “Mm... Mas....”

 

“Ya?” Kresna menghentikan langkahnya.

 

“Aku ingin mengajak Mas Kresna untuk melihat matahari terbenam. Boleh, kok, sama Nini dan Ibu. Mas mau?”

 

“Wah, boleh!” Kresna menyambutnya dengan antusias.

 

Pemuda itu kemudian menghilang ke arah belakang pondok untuk mandi.

 

Matahari terbenam? Di mana?

 

Keingintahuan itu seketika membuatnya sangat bersemangat.

 

* * *

 

Kresna menurut ketika Pinasti mengajaknya menyeberangi sungai di belakang pondok. Bagian sungai tepat di ujung jalan setapak itu ternyata sangat dangkal. Hanya setinggi betis. Setibanya di seberang, Pinasti menyibakkan dedaunan keladi besar yang menyambut mereka. Ada jalan setapak lain di balik rerimbunan keladi itu. Jalan setapak yang menanjak.

 

Suasana di sepanjang jalan setapak itu sedikit remang karena ada di bawah naungan berbagai pohon besar. Tapi Kresna dapat melihat secercah suasana terang yang berada di atas, di ujung jalan setapak.

 

Setelah beberapa lama berjalan, keduanya pun sampai di ujung jalan setapak. Letaknya ada di puncak bukit kecil. Dan, pemandangan yang terbentang di depan mereka membuat Kresna hampir lupa bernapas.

 

Ada danau besar terbentang di bawah. Penuh dengan teratai yang mekar indah. Ia ingat, ia pernah melihat pemandangan itu dari puncak Gunung Nawonggo saat mendaki dulu. Danau teratai di kejauhan yang entah bisa dicapai atau tidak oleh orang ‘luar’. Ketika ia melangkah setapak lagi, keluar dari ujung jalur jalan, tubuhnya terasa menabrak dinding keras. Seketika Kresna mengerti dan tak mencoba lagi untuk mengulangi perbuatannya. Maka, ia pun berdiri diam dan menatap kejauhan.

 

Matahari mulai menggelincir ke arah kaki langit, tepat berbatasan dengan danau teratai yang seolah tak bertepi. Sinar jingganya tak lagi terasa hangat dan menyilaukan mata. Di tengah keheningan yang membungkus tempat itu, lagi-lagi Kresna berusaha menyimpan pemandangan itu di dalam hati. Dan, matahari pun kini sudah bersembunyi sempurna di tempat peraduannya. Kresna menggeleng samar.

 

Seandainya aku bisa mengabadikan keindahan ini dalam bingkai foto....

 

Tapi hal itu hanyalah tinggal ‘seandainya’. Ponselnya masih utuh ada di dalam ransel. Diam tak berkutik dalam kondisi mati total. Dihelanya napas panjang. Pelan-pelan, kelam mulai menyelimuti tempat itu.

 

“Kita pulang, Mas?” usik Pinasti lembut.

 

Kresna mengangguk. Keduanya kemudian berbalik. Bergandengan tangan, kembali menyusuri jalan setapak berpasir halus seperti jalan setapak lainnya di tempat itu.

 

Remang sudah berganti jadi gelap pekat ketika mereka melangkah di bawah jajaran pohon-pohon besar. Suasana yang sungguh-sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Tapi entah kenapa, Kresna merasa aman bersama Pinasti.

 

“Pin....” Suara lirih Kresna memecah keheningan itu.

 

“Ya?”

 

“Aku... nggak lama lagi... harus kembali ke atas.”

 

Sunyi. Tak ada sahutan dari Pinasti. Kresna menghela napas panjang.

 

“Kita akan berpisah,” lanjut Kresna dengan suara berbalut kesedihan. “Aku ingin selalu mengingatmu. Mungkin tidak bisa. Tapi...”

 

Kresna merasa genggaman tangan Pinasti mengetat di telapak tangannya. Ia balas meremas telapak tangan mungil Pinasti.

 

“Aku merasa... hati kita akan saling mengingat,” gumam Pinasti. “Walaupun mungkin ingatan dalam benak kita akan terhapus tanpa bekas.”

 

“Ya.” Kresna mendegut ludah. “Aku harap begitu.”

 

“Mm.... Besok aku akan mengajak Mas ke padang bunga,” ucap Pinasti. “Mas mau?”

 

“Mau! Mau!” Kresna menyahut dengan nada antusias.

 

Pinasti tersenyum. Satu hal lagi yang ia suka dari diri Kresna. Antusiasme yang begitu murni dan jujur.

 

* * *

 

Seusai makan, Wilujeng masuk ke dalam bilik Kresna. Pemuda itu tengah ada di dalam. Merapikan beberapa baju bersihnya. Dimasukkannya baju-baju itu ke dalam ransel. Wilujeng duduk di tepi pembaringan. Ditatapnya Kresna.

 

“Ibu selalu merindukanmu,” bisik Wilujeng dengan mata mengaca. “Merindukan kalian.”

 

Pelan-pelan Kresna duduk di sebelah Wilujeng. Sebelah lengan kukuhnya merengkuh sekeliling bahu Wilujeng.

 

“Aku harap kita segera berkumpul kembali, Bu.” Lirih suara Kresna. “Aku tak bisa membayangkan betapa bahagianya Ayah bila melihat Ibu lagi. Begitu juga Seta.”

 

“Seandainya Ibu bisa membawa serta Pinasti....” Wilujeng tertunduk.

 

“Bu.... Kan, Nini sudah bilang kalau takdir kita sudah digariskan,” hibur Kresna. “Kelak, semoga kita semua bisa bertemu lagi. Seutuhnya aku percaya ucapan Nini Paitun.”

 

Wilujeng tertunduk. Berusaha mengukir seulas senyum di wajahnya. Ditepuknya lembut paha Kresna.

 

“Jadi, kapan kamu siap untuk kembali ke ‘atas’?”

 

“Kapan pun aku siap, Bu. Tapi besok Pinasti masih mau mengajakku ke padang bunga yang ada entah di mana lagi,” Kresna menyambung ucapannya dengan gelak ringan. “Tempat ini benar-benar sangat menakjubkan. Aku sungguh beruntung bisa sejenak menikmatinya, Bu. Walaupun awalnya sangat menyakitkan.”

 

Wilujeng kembali menepuk lembut paha Kresna sambil berdiri.

 

“Ya, sudah, kamu tidurlah. Sepertinya besok kamu akan menghabiskan waktu seharian bersama Pinasti. Nikmatilah selagi masih ada waktu.”

 

Kresna mengangguk. Wilujeng mengecup lembut keningnya. Kemudian berlalu. Keluar dari bilik.

 

* * *

 

Ia seperti terjebak dalam sebuah lorong gelap. Mengapung dalam kelam yang terasa begitu kosong.

 

Apa yang terjadi?

 

Secara samar ingatannya berlabuh pada kejadian yang serasa baru sedetik berlalu. Ketika sebuah hantaman yang begitu keras dan menyakitkan melanda tubuhnya. Lalu, selebihnya gelap.

 

Ya, Tuhan... Apa yang terjadi?

 

Secara samar pula telinganya menangkap bebunyian dalam ritme teratur. Terasa dekat, sekaligus jauh. Terasa sedikit mengganggu, tapi entah bagaimana caranya ia tahu bahwa ia membutuhkan bebunyian itu.

 

Tak ada rasa sakit. Tak ada cahaya.

 

Sekali lagi, ya, Tuhaaan... APA YANG SUDAH TERJADI PADAKU???

 

* * *

 

(Bersambung hari Selasa)

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi