Mabuk Loa ?

Mabuk Loa ?

Dia tak lagi sama. Sekarang dia lebih sering terongok dihalaman. Berselimut parasut. Larinya yang kencang setiap hari kini tertahan oleh pandemi. Meskipun telah terbungkus rapi kadang angin dengan jahil menyikap selimutnya. Mengotorinya dengan butiran debu. Belum lagi hujan yang membasuhnya. Selimut parasutpun usang diterjang teriknya mentari dan guyuran hujan. Tampak beberapa koyakan bahkan jahitan disatu dua tempat lainnya. 

Entah seperti apa perasaannya . Apakah dia bahagia beristirahat ? Ataukah sebenarnya dia lebih menikmati hiruk pikuk lalu lintas ? Diduduki beragam orang dengan berbagai cerita ? Apakah dia punya harap yang sama dengan ku ? Menanti pandemi berlalu ? Bilapun berlalu apakah kembali seperti dulu ?

Apa aku juga termasuk dalam kelompok orang- orang yang menyalahkan pemerintah atas apa terjadi pada dunia ini ? Konon orang yang sibuk menyalahkan orang lain tak pernah ,mencari solusi kedalam dirinya. Bukankah rejeki sudah ada yang mengatur ? Tapi apakah aku mau diatur ? Dan taukah aturannya ? Jika ya maka mau seperti apapun dunia rejeki ku harusnya tetap sama atau lebih baik. 

Mumet ndasku kebanyakan nonton youtube, apa aku ini jadi mabuk LOA ? Apa- apa loa, dikit- dikit loa, namun lemah action dan mengharap- harap sesuatu yang diluar kendali ? Sebenarnya aku hanya perlu melihat kedalam dan bertanya pada diriku " harus bagaimana nih disaat dunia sudah berubah". Bukan berharap pada dunia yang akan kembali seperti dulu lagi. Karena tak mungkin yang lalu akan sama kembali.