Hatiku Terpaku Di Negeri Tirai Bambu

Hatiku Terpaku Di Negeri Tirai Bambu
Mutianyu, 2012

 

2003, Badaling

Bulan Oktober setiap tahun selalu menjadi bulan yang penat bagiku. Bussiness Plan tahun depan harus aku kirimkan ke kantor pusat kami di Hong Kong karena sudah tenggat waktu. Minggu ini sudah harus dipresentasikan dan aku harus siap berjibaku untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan dilemparkan padaku.

Penerbangan CX718 selama lima jam ke Hong Kong biasanya aku nikmati dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaanku atau menonton film-film yang tak sempat aku lakukan dalam keseharianku. Tapi pagi ini dalam perjalanan tugasku kali ini, atasanku duduk di sampingku. Tak ada pilihan lagi karena semua kursi sudah penuh. Lima jam penerbangan itu menjelma menjadi diskusi panjang lebar tentang antisipasi menjawab berbagai pertanyaan dari kantor pusat dengan strategi jitu. Itu menurut atasanku, tapi bagiku: mengurangi waktu istirahatku!

Penat sekali rasanya. Tapi tak mengapa, satu hari lagi saja. Iya, tinggal satu hari lagi saja. Setelah presentasi ini selesai aku sudah memutuskan untuk melepaskan kepenatanku  sendiri saja. 

Tembok Cina! Betul aku pilih Tembok Cina. Ini bakal kali pertama aku menginjakkan kakiku di Negeri Tirai Bambu. Ide gila? Tidak juga. Terkadang kita butuh waktu untuk sendiri saja, di tempat yang indah agar kembali bisa menemukan jati diri kita. Escape and breath the air of new places, begitu yang pernah kubaca.

***
 “There are many Great Wall sections you may take. Badaling, Mutianyu, Juyonguan, Jinshanling and Simatai. Or the wild Jiankou and Gubeiku.” Miss Jiang Ying Yue, concierge hotel, menjelaskan padaku beberapa titik tujuan menuju The Great Wall.

“Ok, in that case you may take Badaling by train. Very easy” usulnya setelah aku jelaskan bahwa aku tidak mau ikut tour karena aku ingin jalan sendiri. Kemudian Miss Jiang menjelaskan padaku cara menuju Badaling.

“Great. You’d better start early to avoid the tourist crowd. It’s autum, favourite season.” Lanjut Miss Jiang dengan senyumnya yang ramah.

“Thank you Miss Jiang,” kataku sambil segera beranjak mendorong koper kecilku menuju kamar untuk segera beristirahat.

***
Sudah kuniatkan untuk berangkat pagi, jadi selesai subuh aku langsung bersiap-siap untuk sarapan pagi. Perjalanan dengan kereta butuh paling tidak dua jam. Aku tak mau kehilangan banyak waktu hanya untuk tidur di sini. Musim gugur terlalu indah untuk ditinggal tidur.

Udara sejuk menggiring langkahku  ke stasiun Metro menuju Huoying. Dari sini aku harus keluar ke stasiun lain, Huangtudion agar aku bisa naik kereta jalur S2 menuju Badaling. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menikmati seluruh perjalananku serumit apapun itu.

Tipikal stasiun kereta di Cina, di Huangtudion penumpang harus melalui pengecekan sinar X untuk barang yang dibawa sebelum masuk. Antrian sudah lumayan panjang ketika aku tiba. Boarding dilakukan sekitar sepuluh menit sebelum keberangkatan. Karena masih ada waktu lima belas menit aku memutuskan untuk ke toilet karena perjalanan akan lumayan panjang, sekitar satu setengah jam.

Hanya ada satu kelas tiket yang dijual, tapi kalau beruntung kita bisa duduk di kursi kelas utama yang dulu pernah ada. Atau kalau malas duduk, kita bisa ke gerbong café yang menjual makanan dan minuman. Bisa sambil ngobrol juga. Tapi aku memilih duduk untuk menghemat tenaga.

Kereta sudah bergerak, terus meluncur melalui daerah pinggiran kota ke arah utara. Mataku terus membelalak pada sajian pemandangan indah musim gugur sepanjang jalur.  Menanjaki lembah Guan yang sudah mulai memamerkan warna kuning kemerahan dari daun-daun yang sudah berganti warna. Liukan gagah dari Tembok Raksasa yang sudah mulai terlihat, semakin membuat degupan kencang di dadaku, ingin segera tiba menginjakkan kaki di sana.

Tiba di Stasiun Badaling, aku keluar mengarah ke kiri. Terus kulangkahkan kakiku menuju gerbang masuk yang berada di kaki bukit. Kurapatkan mantel dan syal penutup leherku karena udara masih dingin. Sebenarnya disediakan Cable Car, namun kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Aku bener-benar ingin menikmati luntang lantungku sendiri ini. 

Sajian panorama musim gugur yang mempesona dengan daun-daun merah, kuning dan jingga menarik banyak wisatawan yang ingin memanjakan mata. Kupanjat satu satu anak tangga menuju menara pengintai yang berada di puncak Tembok. Semakin ke atas kemiringannya semakin curam, namun padatnya pengunjung kecuraman itu jadi tak terlihat. Aku berhasil mencapai puncak walau dengan nafas terengah-engah. Mataku segera menelusuri setiap sudut mencari tempat yang bisa kunikmati sendiri. Ah itu, di pojok kiri bisa kuhampiri.

Kubentangkan tangan seluas-luasnya, kuhirup udara sejuk musim gugur di atas Tembok Cina sebebas-bebasnya dan kupejamkan mata. Tuhan, begitu indahnya Yang Kau Cipta. Enerji baru pelan-pelan meresap ke seluruh aliran darahku, segar luar biasa. Ketika kubuka mata, pesona hamparan bukit berwarna merah, kuning, jingga di Badaling makin bertambah keelokannya. 

Ada yang menarik perhatianku di ujung pinggir sebelah kiri tembok, seorang gadis cantik dengan rambut lurus panjang bermata sipit. Bisa kupastikan dia berasal dari Negeri ini. Ditangan kirinya kulihat ada buku sketsa dan pensil charcoal yang hitam legam. Dia tersenyum manis ketika melihat ke arahku, mungkin dia merasa karena aku memandanginya cukup lama. Sambil membalas senyumannya  aku dekati dia.

“Your sketch is amazing,” aku langsung memuji sketsanya yang indah dan sangat detil, sebuah potret seorang laki-laki tampan.

Dia kembali tersenyum sambil terus menyelesaikan sketsanya.

“Huiliang was very kind..we used to come here a lot….” Katanya sambil memandangi sketsanya lagi-lagi tersenyum. Cantik sekali. Aku mendengarkan saja.

“His favourite was this corner.” Aku terus mendengarkan ceritanya dengan sepenuh hati melihat senyum yang selalu menghiasi wajahnya. 

Katanya Huiliang adalah kekasihnya yang piawai memainkan biola. Melukis dan bermusik yang menyatukan mereka dalam karya. Indah sekali aku membayangkan mereka berdua, Huiliang bermain biola dan si Cantik dengan sketsanya.

“I never stop coming here to celebrate our love…… Now he is in heaven.” Lanjutnya dengan wajah yang tiba-tiba berubah penuh duka.

‘Duh, Tuhan…betapa cepatnya kau renggut bahagia itu darinya.’ Tak sadar aku bergumam sendiri dan mulutku ternganga memandangi wajahnya.

“Very sorry to ruin your day…I’m Hui Yin.” Si Cantik kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

Aku yang masih terpaku hanya membalas menjabat tangannya tanpa berkata-kata.

“Very sorry, I need to go now.” Lanjutnya sambil beranjak pergi dan meninggalkan senyumnya.

Aku terpana.

***
2012, Mutianyu

Di awal musim dingin yang beku untuk kedua kalinya kupijakkan kakiku di Negeri Tirai Bambu, namun kali ini aku tak sendiri, aku bersama buah hatiku. Niatku ingin bernapak tilas menuju Badaling yang kutempuh hampir sepuluh tahun lalu. Sedikit kecewa pada awalnya karena perjalanan tak dapat dilakukan karena tertutup badai salju.

“But you still can visit The Great Wall. You can go to Mutianyu. It’s  also beautiful, fully restored and family friendly. They have cable car.” Staf concierge mengusulkan gerbang Tembok Cina yang berada di Timur Laut kota Beijing.

Beberapa saat kemudian kami sekeluarga memutuskan untuk menyewa mobil dari hotel ke Mutianyu karena cuaca sangat dingin yang menembus minus 8 derajat, dan mengingat si bungsu yang baru berusia 6 tahun, khawatir masih rentan cuaca ekstrim. Perjalanan satu setengah jam hampir tak terasa karena keempat anakku sibuk bercanda dan tertawa-tawa, menertawai tepatnya karena supir yang membawa kami botak kepalanya. Ada-ada saja yang mereka celetukan karena mereka tahu pak supir tak paham.

“Naik cable car aja, Ma ke atasnya.” Sulungku mengusulkan ketika kami tiba di Mutianyu karena udara yang membuat beku semua jari-jari.

Walau tak ada antrian panjang seperti saat musim gugur, namun Tembok Cina tetap menarik banyak pengunjung dengan pesonanya. Pohon-pohon sudah mulai tak kelihatan daunnya. Hamparan salju putih bertebaran dimana-mana, terlihat dari atas cable car yang kami naiki. Di dekat jalan menuju menara pengintai cable car berhenti untuk menurunkan kami.

Pelan-pelan kami menelusuri jalan yang licin karena salju yang beku.  Jalan terus menanjak dengan kemiringan yang semakin curam sehingga kami harus ke pinggir untuk berpegang pada tembok agar tidak terpeleset jatuh. Hampir semua pengunjung tak mampu berjalan dengan cepat karena licinnya jalan yang tertutup salju tebal. Kami tiba di puncak dengan sajian panorama putih yang memanjakan mata. Tiba-tiba si Bungsu memanggilku.

“Maa aku mau main prosotan ya” katanya sambil bersiap-siap duduk untuk merosot dari puncak jalan yang miring curam seperti prosotan salju. 

Aku tak menyangka dia begitu berani dan menikmati cuaca seperti ini. Tak berapa lama bergabunglah sang kakak yang tengah serta anak-anak lain dengan kulit berbagai warna. Terciptalah sebuah taman bermain yang indah penuh tawa ria mereka. Si sulungku yang mulai beranjak dewasa memisahkan dirinya dan berjalan sendiri ke arah yang dia suka. 

Udara semakin dingin dan titik-titik salju mulai kelihatan turun satu persatu. Kami harus segera bersiap-siap untuk turun kembali. Sulungku sudah berjalan ke arah kami dan mengikuti dari belakang. Pelan-pelan kami kembali menyusuri jalan yang licin. Ternyata berjalan turun lebih sulit dari berjalan saat naik karena kaki terasa lebih berat menahan beban tubuh agar tak jatuh. 

“Ma, tadi ada yang kasih ini. Katanya buat mama.” Kata Sulungku sambil memberikan sebuah amplop berukuran sedang berwarna merah padaku saat kami sudah tiba kembali di stasiun pemberhentian cable car.

Aku bingung, aku tak mengenal siapapun di sini. Tak sabar segera kubuka amplop itu saat kami sudah duduk di dalam cable car. Aku terpana ketika kulihat sketsa wajahku di sana. Sebuah goresan tangan indah yang pernah aku lihat sebelumnya, sangat detil. Dan aku tercekat sangat ketika kulihat di balik sketsa itu tertulis:

“Thank you for our chats in Badaling.”
-Hui Yin-

“Kak, tadi yang kasih ini kayak apa orangnya?” tanyaku pada si Sulung yang terlihat bingung.

“Ya cewek cantik, sipit, rambutnya lurus, panjang. Suka aja liatnya senyum terus.” Sulungku menjelaskan yang membuatku makin tercekat.

‘Hui Yin, kau kah itu…?’ Aku hanya bisa diam terpaku.

Bassura, 5 Mei 2020