Yang Penting Pesannya, Bukan Maksudnya

Apakah pesan yang Anda sampaikan ditangkap oleh orang lain?

Yang Penting Pesannya, Bukan Maksudnya
Ilustrasi oleh Ndaruwanti Hilda

Komunikasi menjadi syarat terpenting terjadinya interaksi. Dari interaksi itulah akan menentukan kualitas dari suatu hubungan atau keterikatan. Hubungan yang paling umum dibahas dalam komunikasi adalah hubungan antarmanusia. Namun, hubungan antara manusia dengan Tuhan juga tidak kalah penting, praktik komunikasi dengan Tuhan misalnya adalah ibadah.

Komunikasi tidak serta-merta secara lisan saja. Secara tulisan pun ada. Misalnya, yang marak ditemui di era serba teknologi sekarang ini adalah chatting. Surat dalam bentuk apapun juga termasuk bentuk komunikasi. Pada tunanetra, ada sebuah buku khusus yang menggunakan sistem penulisan braille. Kaum disabilitas lain yang menggunakan komunikasi khusus adalah teman tuli. Mereka menggunakan BISINDO dan/atau SIBI dalam berkomunikasi. Selain itu, tidak verbal saja, secara non-verbal pun ada. Misalnya, ekspresi wajah, gestur, tatapan mata, sentuhan, dan sebagainya.

Pada dasarnya, komunikasi merupakan penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan (orang yang menerima pesan), dengan catatan makna yang ditangkap adalah sama dengan yang disampaikan. Penangkapan makna yang kurang tepat atau lebih sering dikenal dengan miskomunikasi seringkali membawa kerugian bagi antarpihak. Salah satu tujuan komunikasi adalah agar antarmanusia lebih dapat saling memahami keinginannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penyampaian pesan saat berkomunikasi tidak bisa diremehkan begitu saja. Diperlukan minimalnya merenungi apakah kata-kata yang akan diucap/ditulis pantas atau tidak. Menyesuaikan lawan bicara pun diperlukan. Misalnya, ketika berkomunikasi dengan orang tua akan berbeda ketika dengan anak usia dini dan berkomunikasi dalam kondisi formal akan berbeda ketika dalam kondisi non-formal.

Komunikasi adalah hal mendasar bagi kehidupan. Sebab mendasar itulah kita semua perlu mempelajarinya lebih dalam. Hal yang mendasar bukanlah hal yang kecil. Justru menjadi fondasi untuk peristiwa-peristiwa lain ke depannya. Jika dianalogikan sebagai lautan, komunikasi berada di dasar laut paling dalam. Kapal HMS Challenger menemukan dasar laut paling dalam yaitu Palung Mariana sedalam 11 meter. Anggap saja bahwa komunikasi adalah ilmu dasar sedalam Palung Mariana tersebut. Merupakan hal luar biasa yang tidak dapat dianggap remeh, bukan?

Jika suatu bangunan memiliki fondasi yang kuat, maka dapat meminimalkan kemungkinan bangunan tersebut roboh. Begitu pula dengan komunikasi yang baik dan tepat akan meminimalkan terjadinya konflik akibat mispersepsi. Komunikasi yang baik kuncinya ada pada penyampaian pesan. Apa yang disampaikan sama dengan yang diterima. Di sisi lain, apa yang dipikirkan sama dengan yang disampaikan. Dengan kata lain, yang akan seseorang sampaikan bersumber dari pikiran. Itulah mengapa ada istilah “Lebih baik berkata baik atau diam”. Istilah ini cukup menyinggung mereka yang kurang memikirkan sebab-akibat dari ucapan atau tulisan yang akan dikeluarkan.

Mari ambil contoh keluarga sebagai lembaga terkecil dalam masyarakat. Sudah banyakkah antara orang tua dan anak yang melakukan komunikasi dengan baik?  Makna komunikasi dapat lebih mendalam lagi, komunikasi dalam hal ini adalah ruang diskusi dengan segudang toleransi. Contoh konflik keluarga yang berkaitan dengan komunikasi adalah ketika terjadi perbedaan pendapat. Menyatukan isi dua kepala bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu dibutuhkan sarana komunikasi berupa ruang diskusi. Perbedaan pendapat umumnya dapat diselesaikan ketika dua pihak saling mengutarakan maksud dan tujuannya dengan baik, termasuk penggunaan tata krama. Dengan diskusi tepat yang dilakukan 2 pihak, diharap dapat mengurangi lontaran kata “anak kurangajar” ketika berselisih dengan orang tuanya dan konflik lebih memungkinkan untuk diselesaikan.

Seseorang tidak bisa berlindung dengan alasan “Apapun kata-katanya, yang penting maksudnya. Kan sama saja”. Jangan pernah lupakan bahwa kata-kata memiliki peran yang penting. Kalau “Yang penting maksudnya” saja maka tidak akan terpenuhi syarat yang disampaikan sama dengan yang diterima. Istilah yang lebih tepat adalah “Yang penting pesannya diterima benar”.

Perihal lain yang membuktikan komunikasi dapat menyelesaikan perselisihan adalah mediasi. Ketika ada dua pihak yang berselisih lalu menggunakan seorang mediator, apa yang dilakukan? Tentu komunikasi di dalamnya. Selain itu, ketika ada perbedaan pendapat yang melibatkan banyak orang, ada yang akan menggunakan metode musyawarah. Apa yang dilakukan ketika bermusyawarah? Tentu komunikasi. Praktik lain ketika terjadi perselisihan adalah penerapan negosiasi. Apa yang dilakukan ketika dua pihak bernegosiasi? Berkomunikasi pula.

Ketika terjadi perselisihan, kita perlu mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan, kemudian tanyakan apabila ada yang mengganjal serta perbaiki kekeliruan dari semua yang disampaikan. Terjadi kekeliruan tersebut bisa jadi merupakan dampak dari miskomunikasi. Memang komunikasi bukanlah ilmu yang dapat dianalogikan 1 + 1 = 2. Setiap orang pasti memiliki persepsinya masing-masing dan antarmanusia pasti berbeda. Tapi paling tidak, pesan yang kita sampaikan tidak ditangkap salah oleh orang lain. Ketika terjadi miskomunikasi, tidak mutlak komunikator yang kurang tepat dalam penyampaian sesuatu. Sebagai komunikan, kita pun sudah seharusnya menelaah setiap pembicaraan atau tulisan seseorang. Itulah pentingnya komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah merupakan kondisi ketika komunikator telah menyampaikan pesan, lalu komunikan menanggapi atau meresponsnya kembali. Jadi, keseimbangan peran antara kedua pihak sangat diharapkan untuk menentukan kualitas suatu hubungan yang tentu bermula dari komunikasi.

Komunikasi itu ibarat mata pisau. Jika terjadi kekeliruan, komunikasi dapat menjadi awal mula konflik. Namun,  jika dilakukan dengan tepat, komunikasi dapat menghindari konflik bahkan menyelesaikannya.