Persetan dengan Cinta

Persetan dengan Cinta
Image by pixabay.com

“Hahahahahah, eh Menul kamu kalau melamun jangan keterlaluan. Kamu pikir kamu secantik apa?. Boy mana mau dengan perempuan model seperti kamu.”
“Memang aku kurang cantik ya?”
“Yeeeee, ngaca tuh di WC!”

 

Ya ampun Menul betulan pergi ke WC. Padahal di tas dia selalu ada cermin seukuran tangan dewasa yang tak pernah ketinggalan kemanapun dia pergi.

Menul itu memiliki padanan yang sempurna. Kalau tidak mau terjebak dalam lingkaran pesona Menul, jangan bikin Menul tersenyum apalagi tertawa. Rentetan gigi putihnya ditambah lesung pipi yang tidak semua orang punya, semakin menyempurnakan keberadaan Menul di kelas ini.

Sayangnya, kepercayaan diri Menul sangat minim. Padahal sudah berulang kali aku sampaikan bahwa Menul itu cantik dan menawan, tapi dia tak pernah percaya. Buktinya aku bercanda Boy tidak suka saja, dia langsung berkaca.

 

“Eciiiii, tolong aku!”
“Kamu kenapa sih, suka bikin kaget?”
“Tolong aku, Ci. Aku takut. Ada mahluk besar di pojok WC. Dia mau menerkamku. Katanya darahku terlalu wangi untuk dia tinggalkan”
“Menul, ini masih siang. Kamu kalau ngantuk jangan pergi-pergi. Tidur sana!”
“Aku serius. Ada Mahluk bergigi tajam, sedikit darah ada di ujung taringnya lalu mata memerah dan kepala sedikit retak”

 

Aku peluk Menul, aku yakin dia teringat kembali dengan masa lalunya. Kasihan kamu Menul, betapa buruk perjalanan hidupmu.

 

Menul adalah sahabat terbaikku di kelas ini. Salah satu yang membuat Menul terpuruk dan sering tidak percaya diri adalah karena segaris luka di dekat dahinya merupakan masa lalu yang sulit untuk dilupakan.

 

“Aku takut. Aku marah!!!”
“Sabar Menul.”
“Kau tahu Ci. Saat itu aku yakin kalau Risma masih ada di ruangan. Kenapa dia tidak membantuku?”
“Risma sama ketakutan sepertimu.”
“Tidak, aku dengar Risma tertawa menyengaja. Aku tersakiti.” Menul bicara lirih.

 

“Hahahaha, aku puas sekarang. Habisi saja dia.”
“Yakin Ris, Menul boleh gue apa-apain?”
“Habiskan, aku benci sama dia. Dia pikir dia siapa, beraninya memporakporandakan kepopuleran gue.”
“Tapi kalau Menul sampai…”
“Ssssttt, udah. Lakukan saja sampai dia sadari bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melebihi Risma.”

 

“Aku dihabisi saat itu Ci. Sakit hatiku. Demi Tuhan aku tak pernah mau menyakiti Risma.”

“Kamu tahu, kamu salah apa Menul?”
“Sama sekali tidak. Aku tahu bahwa Risma membenciku saat Rio menemukanku”
“Rio selamatkanmu?”
“Tidak, ruang itu terlalu gelap untuk diketahui orang. Terlalu pengap untuk didengar orang.”
“Bagaimana cara Rio menemukanmu?”
“Aku panggil namanya dalam hati. Karena dia aku jadi seperti ini.”
“Rio mencintaimu, dia tidak punya salah bukan?”

 

Rupanya karena Rio mencintai Menul. Menjadi petaka kehidupan buruk untuk Menul. Pesona Rio terlalu menjadi magnet hebat untuk Risma. Hingga dengan pikiran sejengkal mampu membuat Risma gelap mata.

 

“Menul, aku harus bawa kamu ke rumah sakit.”
“Tidak, tidak perlu Yo. Bawa aku pergi saja dulu dari sini, bantu aku bersihkan badan. Aku mau pulang!”
“Menul, kamu terluka.”

“Yo, aku mau pulang.”

 

Kala itu Menul sudah kehilangan tenaganya. Mata sayu dengan sayatan di sebelah kanan dan kirinya. Rok dibuatnya compang camping, paha mulus Menul terpampang nyata. Rio menutupi dengan jaket basketnya.

Darah segar mengalir dari selangkangan Menul. Tidak ada pilihan lain, aku harus bersihkan Menul.

 

“Jangan Yo, biar aku saja. Aku sangat menjijikan.”
“Kali ini biarkan aku membantumu!”
“Yo, bawa aku pulang. Setelah itu tolong jangan kau perlihatkan lagi mukamu!”
“Kenapa begitu?. Kamu pikir aku mencintaimu karena darah segarmu?”

“Jangan terlalu mengagungkan hatiku Yo. Atas alasan apalagi seorang laki-laki mencintai wanitanya?”
“Aku mencintaimu sepenuhnya. Aku tahu kamu tidak menginginkan ini. Lantas aku harus sebedebah Risma dan Rai?”

“Aku terluka Riooooooooooooo.”

 

Dunia menutup telinganya. Teriakan Menul sangat membuat pengang telinga.
Luka yang menyayat hati juga luka yang menghilangkan kecantikan Menul meruntuhkan satu babak romantisme remaja saat itu.

 

Menul tidak perawan.

Perlu beberapa bulan untuk Menul sembuhkan lukanya. Perlu ribuan kesabaran Rio untuk meyakinkan Menul bahwa dia akan selalu ada untuk Menul.

 

Risma murka.

Rupanya keburukan muka Menul tak membuat Rio mundur. Bahkan Rio dengan telaten merawat jiwa dan raga Menul.

Dia bersihkan hati Menul.

Dia bersihkan wajah Menul

Dia bersihkan masa lalu Menul.

 

Perlahan tapi pasti, matahari kembali bercahaya, bunga kembali mekar.

Menul begitu semangat tertawa Bersama semesta.

 

“Yo, bawa aku pergi malam ini!”
“Kamu mau ke mana?”

“Ke taman kota. Aku mau habiskan malam ini untuk berkunjung ke kedai kopi kesukaanmu”
“Kamu serius?. Kamu mau pergi jalan-jalan denganku?”
“Perlu aku batalkan saja keinginanku?”
“Jangan dong, letsgo beib. Kamu siap-siap ya, aku cuci motorku dulu. Bidadari akan duduk di atas jok MT 25 ku. Harus aku cuci bersih dulu.”

 

Jam 7.25. Setelah isya.

Menul memeluk erat Rio. Sangat erat.

Tidak pernah ada sepatah kata Rio menyinggung soal Risma dan Rai. Rio begitu menghargai Menul. Baginya kesembuhan Menul adalah segalanya.

 

“Sayang, kamu tunggu di sini. Aku mau beli bunga untuk kamu!”
“Ngapain sih Yo. Aku Cuma mau berdua di sini sama kamu.”
“Hey, sebentar saja. Aku mau kamu mencium wangi bunga kesukaanmu. Kita simpan di antara kita. Biar malam milikmu semakin agung.

Rio pergi membeli bunga untuk Menul. Terlihat begitu semangat. Sesekali Rio membalikkan badannya dan melemparkan senyum manisnya pada Menul.

 

Woi, woi ….

Tiba-tiba taman kota begitu ramai bahkan sangat rebut. Sepertinya ada perkelahian. Aku gemetar, tiba-tiba trauma itu datang. Rupanya traumaku belum sembuh betul.

“Rio…rio kamu di mana?”

 

“Mas, ini ada apa ya, tampak sangat rebut sepertinya?”

“Itu Mba, di dekat tukang bunga Flores, ada laki-laki tinggi tegap terkapar.”
“Tinggi tegap?”
“Iya, sepertinya dia dibacok. Dari balik kemeja planelnya terlihat robekan yang sangat Panjang. Darahnya mengucur hingga ke ujung levis birunya.”

 

Planel…
Levis biru…

 

“Rioooooooooo….”

 

Menul kembali berduka. Rio yang menjanjikan kebahagiaan telah berpulang.

Dalam segala usaha yang sudah dilakukan Rio untuk menyembuhkan Menul, tidak ada satupun yang berjejak. Menul menyalahkan dirinya. Seandainya saja dia mampu menahan untuk tidak keluar malam dengan Rio. Semua tidak akan terjadi.

 

Bukan perkelahian. Tapi Rio sengaja dihujam oleh puluhan tikaman.

Tanpa CCTV, namun saksi bicara banyak.

Malam itu juga, pelaku langsung diitangkap.

 

Risma dan Rai adalah pelaku utamanya.

Dalam persidangan mereka bercerita tanpa ada instruksi dari siapapun. Keinginan Risma untuk mendekati Rio telah membuat nya menjadi gila.

 

Tepat saat palu hakim diketukkan. Risma terhuyung lalu roboh saat hakim menghukumnya 15 tahun penjara.

 

Risma tidak waras. Sejak itu Risma bolak balik penjara dan Rumah Sakit Jiwa. Dokter kejiwaan Risma menyatakan bahwa Risma harus dirawat, Dokter khawatir bila Risma melakukan kejahatan di dalam penjara.

 

#

 

“Menul, lihat itu Boy. Dia mau ke mana ya?”
“Tak mungkin Boy menuju aku. Dia akan menghampirimu Ci.”

“Kamu jauh lebih cantik dariku Menul. Aku ini hanya perempuan biasa yang sulit mendapatkan cinta laki-laki.”

 

“Hallo, para gadis manis. Duduk di sini yuk!” Dokter Boy mempersilakan kedua wanita tersebut.

“Ini minum untuk Eci dan ini minum untuk Menul”

“Boy, kamu bawa apa untuk aku?”
“Aku bawa boneka untuk Eci.”
“Asik, terima kasih ya. Eh tapi, bukannya kamu menyukai Menul. Kenapa kamu bawa boneka untuk aku?”
“Untuk Menul aku bawa setangkai Mawar. Ini kesukaan Menul kan?”

 

Menul tersipu malu. Dia rapikan rambut panjangnya. Dia berkaca kembali.

“Boy, aku dulu ya. Aku ingin cepat sehat.”
“Ah, aku dulu ya. Menul kamu bersabar lah sebentar.”

 

Terlihat Boy kesulitan. Dia harus bisa pastikan Menul dan Eci bahagia. Terlalu lama mereka di kelas. Rupanya kehadiran Rio sangat mengganggu pikiran Eci dan Menul.

Kami tak bisa gantikan perawat untuk Eci dan Menul. Hanya Boy yang bisa membuat mereka mau minum obat dan makan.

Untungnya Boy sangat sabar. Dan aku tak pernah cemburu pada mereka.

Aku tak mau cemburuku membabi buta, seperti yang dilakukan Eci pada Menul.

 

“Sebentar Dok, Eci itu sebetulnya siapa?”. Kenapa Eci cemburu pada Menul?”
 

Dokter Meli tertawa. Matanya dibiarkan memandang Eci, Boy dan Menul.

Ketelatenan Boy mampu menghipnotis Dokter Meli.

“Hey Dok….”
“Iyaaa, Eci adalah Risma. Risma terlalu membenci dirinya.”
“Lalu dia berganti nama?”

“Ya engga, mana bisa orang gila minta ganti nama.”
“Lantas?”

 

“Risma selalu menjerit, menabrakan kepala ke tembok setiap ada yang memanggilnya Risma. Hingga kami team dokter berkali-kali mengubah namanya. Dan ketika dipanggil Eci dia tersenyum.”

“Ya Allah sebegitu dahsyat cinta membuat mereka buta, sebegitu gila hingga membuat mereka sama-sama gila.

 

Dalam puisiku yang akan terbit, aku bubuhkan perjalanan cinta Risma dan Menul

 

Jika cinta membuat buta

Lepaskan dan ganti mahkota

Jika cinta membuat tersiksa

Pahami bahwa asa tak sekedar rasa

 

Teruntuk Risma dan Menul, dunia menunggu kalian berdua tertawa dalam realita
 

 

#Bandung, 25 April 2020