Puasa itu usaha mendekati Mati

Puasa itu usaha mendekati Mati
https://media.suara.com/pictures/480x260/2018/05/24/19175-buka-puasa-ramadan.jpg

"Nak, Puasa itu usaha mendekati mati" ujarnya setengah berbisik.

"Maksudnya, Pak?" Tanyaku penasaran.

Bapak tua itu tersenyum kecil. Ia tak langsung menjawabnya. Mungkin mencari jawaban atas lontaran argumen yang terasa hambar di sore itu.


..............


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Puasa hari pertama tahun ini. Tahun di masa pandemi. Tidak ada pasar ramadhan yang buka terang-terangan. Hanya saja, ibu PKK di komplekku berinisiatif membuat lapak Pasar Sore Berskala Kecil, disingkat PSBK. Hehe.

Lokasinya di lapangan serba guna depan posyandu. Ada kurang lebih 15 lapak yang diatur agak tak berdekatan. Jualannya tidak boleh seragam. Bila ada yang sama, diminta untuk menjual penganan yang lain. Selain di lapak, jualan juga dilakukan via daring, melalui WA grup ibu PKK dan pengajian.

Aku memilih untuk mendatangi lapak itu, tidak jauh, hanya berkisar 500meter. Sekalian jalan sore. Ajakan tetap di rumah jadi buat badan malas bergerak. Sesekali jalan tidak masalahlah, yang penting kan tetap pakai masker.

Sore itu aneka pilihan makanan buka puasa sudah berputar di kepalaku. Kolak pisang, tahu isi, risol mayo, lalu beli lauk ayam bakar bumbu kuning, dan tidak lupa minuman es kelapa kopyor. "Ah, bakal nikmat sekali buka puasa hari ini"pikirku.

"masih ada lauk sahur tadi, lho, Bang, tinggal kupanaskan lagi" kata istriku.

"Ah, Biar abang beli lagi, ya, masak makan makanan sahur lagi" kataku.

Di Jalan aku bertemu Pak Tris, ia sepertinya ke arah yang sama.

 "Beli bukaan, Mas?"

"Iya, Pak"

"Ayo, barengan aja, sekalian jalan-jalan, sebentar mampir ke Pos Kamling dulu ya" ajaknya sembari jalan.

Di Pos Kamling kami bertemu dengan seorang bapak tua. Usianya kutaksir sekira 50 tahun, badannya ceking. Rambut agak gondrong, dan acak-acakan. Pipinya sudah mulai kempot. Kumis tipisnya mulai beruban.


"Assalamualaikum, Pak" kataku sembari mulai mendekat.

"Waalaikumussalam" ujarnya tersenyum menampilkan gigi kuningnya.

"Ini namanya, Pak Yok, Mas" kata Pak Tris memperkenalkan.

"Sebentar ya, Mas, saya mau cari berkas dulu di dalam" kata Pak Tris.

Pos Kamling ini tidak terlalu besar, ukurannya hanya 4 × 5 meter. Di depan ada pos jaga, dan di dalam ada ruangan yang bersekat, tempat menyimpan perlengkapan RT.

"Mau kemana, mas?" tanya Pak Yok membuka percakapan.

"Biasa, Pak, cari bukaan puasa" ujarku sambil duduk di dipan depan pos jaga.

"Bapak gak cari bukaan, Pak?" Tanyaku balik.

"Engga, Mas, puasa itu kan usaha mendekati mati" ujarnya pelan, nyaris tak terdengar.

"Hah, maksudnya, Pak?" Saya kembali bertanya memastikan apa yang ia ucapkan.

"Iya, Puasa itu usaha mendekati mati" ujarnya seakan berbisik padaku.

"Ayok, Mas, berkasnya udah ketemu nih, kita jalan, yok!" Ajakan Pak Tris membuyarkan obrolanku dengan Pak Yok.

"Eh, Iya, Pak, lagi asik ngobrol sama Pak Yok Nih, bapak duluan aja, ya" kata saya ke Pak Tris.

Pak Tris nampak agak kaget, tapi mungkin ia diburu waktu "Ya sudah, saya tunggu di lapangan ya, Mas" ujarnya sembari berlalu.

"Maksudnya gimana, pak, kalo puasa itu mendekati mati?"

Saya tidak pernah mendapatkan argumen ini sebelumnya, biasanya ustadz menjelaskan banyak menjelaskan bahwa puasa itu menahan makan, minum dan hal yang membatalkan dari fajar hingga maghrib. Itu saja. Tapi puasa mendekati mati? Apa itu. Yang benar saja.

Ia tersenyum, tak segera menjawab pertanyaanku. Aku menebak ia hanya asal ucap. Ya buat ger-geran.

"Puasa itu kan amal yang pahalanya langsung dibalas Allah, kan mas?" Belum menjawab pertanyaanku, Ia malah bertanya.

"Aduh, pertanyaanku gak dijawab, bapak malah balik tanya, gimana sih?" Jawabku agak jengkel.

"Hehe, ya gak papa, mas, namanya ngobrol" ujarnya tersenyum.

"Ya jawab dulu, pak, kenapa bapak bisa bilang kalo puasa itu mendekati mati?"

"Ya karna puasa meninggalkan apa-apa yang membuat kita hidup, Mas"

"Iya, tapi kan sementara, Pak, karena itu kita buka puasa, Pak" kata saya meyakinkan.

"Tapi bukan itu inti puasa, kalau hanya berfikir waktu kapan berbuka" jawabnya kembali tersenyum.

"Kita diwajibkan berpuasa untuk mendekati sifatNya. Yang tidak bergantung pada aktivitas esensial yang menghidupkan, seperti makan, dan minum. Kita belajar untuk mati sebelum mati."

"Bila kita masih memikirkan kita akan berbuka apa sore ini, berarti kita meninggalkan arti sebenarnya puasa, sebagaimananya mati, kita menihilkan keinginan keingingan yang tidak tidak perlu. dengan itu kita akan dapat mendekatiNnya. karena itu untuk puasa pahalanya langsung diganjar olehNya. Karna ini ibadah tak biasa". Ia kembali tersenyum.

"Saya sepertinya terlalu banyak bicara, Mas, silahkan kalo mau beli bukaan" ujarnya.

Aku terdiam, mengucap salam, lantas beranjak pergi pulang.

"Lho, kok gak bawa apa-apa, Bang, pada abis ya jualannya?" Tanya istriku.

"Kita makan apa yang ada saja, seadanya" kataku singkat.