Menikah adalah Koenci

Menikah adalah Koenci

“Pada akhirnya, semua akan berurusan dengan kredit.”

 

Pesan itu pernah saya dengar dari seorang pesohor yang mengawali karir rumahtangganya dari berhutang hingga akhirnya mencapai kesuksesan di kemudian hari.

 

Harus saya akui, ada keajaiban luar biasa dalam pernikahan, yaitu meningkatnya andrenalin dan keberanian yang di luar nalar.  Seumur hidup, saya tidak pernah berani berhubungan dengan urusan kredit dan hutang dengan nilai besar. Tapi pernikahan telah merubah jalan hidup dan pikiran saya menjadi lebih realistis, optimis sekaligus punya rasa percaya diri tak terhingga.

 

Apa dan siapa yang memengaruhi semua perubahan itu ? Istri dan semua peran yang dilakukan dalam rumahtangga. Meski secara fisik lebih lemah dari kaum adam, kekuatan perempuan jauh melebihi kemampuan rata-rata lelaki dalam berbagai hal.

 

_______________

 

Ini awal kisah kami 12 tahun lalu. Beberapa minggu setelah menikah, kami mulai kesulitan dengan masalah transportasi. Tanpa sepeda motor, jelas mobilitas menjadi kendala besar. Akhirnya pilihan membeli motor seken tak terelakkan, dan itupun harus kami cicil selama dua tahun. Semua juga karena istri yang ingin segera punya kesibukan, setelah memutuskan resign dari pekerjaan di tempat asalnya.

 

Tiga bulan lebih kami berkeliling, dari satu sekolah ke sekolah yang lain, mencari peruntungan demi memberi keseimbangan dan kebutuhan hidup yang tak cukup ditopang sendiri. 

 

Setelah pekerjaan didapat, bukan berarti masalah selesai. Selalu ada hal yang harus diselesaikan dengan cara berhutang atau kredit, dan itu menjadi solusi paling realistis untuk sebuah keluarga yang benar-benar dibangun dari nol, tanpa bergantung kepada orangtua.

 

Adakah yang salah dengan solusi hutang atau kredit? Semua kembali pada cara pandang setiap orang yang berbeda, juga seberapa kebutuhan dan gaya hidup kita. Asal bijak dan memiliki skala prioritas demi pemenuhan  kebutuhan primer, tak ada yang salah dengan keputusan mengambil kredit atau berhutang. Kesalahan terbesarnya, apabila hutang hanya sekadar memenuhi keinginan dan gaya hidup yang tak seimbang dengan kemampuan finansial kita.

 

Jadi, kalau Anda bermasalah dengan urusan keuangan dalam rumahtangga, hutang menjadi pilihan obyektif dengan tetap memerhatikan tingkat kemampuan kita melunasi.

 

Dan hari ini, saya hutang deresan Qur’an tiga juz yang harusnya saya baca kemarin.

 

“Hutanglah sebelum kamu diutangi.. “